Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Archmage dan Dewi Tanah Leluhur

Archmage dan Dewi Tanah Leluhur

van hallen sama | Bersambung
Jumlah kata
67.2K
Popular
218
Subscribe
30
Novel / Archmage dan Dewi Tanah Leluhur
Archmage dan Dewi Tanah Leluhur

Archmage dan Dewi Tanah Leluhur

van hallen sama| Bersambung
Jumlah Kata
67.2K
Popular
218
Subscribe
30
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiHaremDewa & Iblis
Prajna Suito Adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang hidup di desa Gaxyam, dulunya Desa itu terkenal dengan ajaran agama Autromerta, yang mengajarkan mereka kebaikan dan kebijaksanaan serta dilindungi oleh 5 dewi pelindung. Para pemujanya sering beribadah ke desa Gaxyam dari berbagai negara sehingga kehidupan disana menjadi ramai dan Sejahtera. Namun setelah perang Prajna harus berjuang dengan pahitnya kehidupan dengan harus mencari kakaknya yang di culik para pencari makam Prajna pun berusaha menghentikan perang tersebut yang ternyata harus melawan Iblis juga.
Bab 1 Gaxyam Desa awal

Prajna Suito Adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang hidup di desa Gaxyam, dulunya Desa itu terkenal dengan ajaran agama Autromerta, yang mengajarkan mereka kebaikan dan kebijaksanaan serta dilindungi oleh 5 dewi pelindung.

Para pemujanya sering beribadah ke desa Gaxyam dari berbagai negara sehingga kehidupan disana menjadi ramai dan Sejahtera.

Para penganut Agama Autromerta selalu di berkahi tubuh yang sehat dan berbagai jenis bela diri yang berbeda tergantung dari Negara mana mereka berasal.

Sedang Desa Gaxyam Adalah desa netral yang berada di Tengah Tengah lima negara tersebut.

Setiap 10 tahun sekali diadakanlah gaboosha atau Festival adu bela diri yang mempertandingkan keahlian dan kekuatan para rakyat dari lima negara tersebut.

Pemenangnya mendapatkan hadiah berupa di kabulkannya 1 buah permintaan dari negara-negara yang kalah.

Hanya saja 20 tahun yang lalu putri mahkota Negara Zakuni memenangkan pertandingan ini dan meminta 4 Negara lainnya tunduk pada kekuasaan negara Zakuni.

Hal ini di tentang oleh 4 negara tersebut. Negara Pareli, Negara Usysi, Negara Fahawani dan Negara Mutatuli.

Akibatnya terjadilah Perang antar negara berkepanjangan.

Tidak terasa Prajna Suito dan Ajni Suito sudah hidup dalam Teror mencekam ke lima negara ini selama 20 tahun tetap bertahan di Desa Gaxyam.

Ketika perang ini berlangsung tidak ada lagi kehidupan damai dari lima negara tersebut bahkan desa mereka yang tadinya netral dan damaipun kini menjadi salah satu wilayah sengketa bagi kelima Negara tersebut.

Banyak penduduk desa ini memilih untuk pergi dari desa ini untuk mencari kehidupan baru yang lebih layak berlindung pada ke lima Negara tersebut atau memilih mengarungi lautan dan menemukan daratan baru.

Tapi bagi Prajna Suito dan Ajni Suito desa ini Adalah tempat kenangan yang Mereka miliki.

Orang tua Mereka telah meninggal 8 tahun lalu awalnya ibu mereka yang meninggal karena sakit lalu disusul ayah Mereka 3 tahun setelahnya.

Hidup Prajna dan Ajni bisa dibilang sederhana dengan Prajna yang selalu mencari kayu bakar dan Ikan dari Sungai Hasbi hingga ke muara laut timur.

Sampai di mulailah munculnya para penjarah makam dan kuil yang beroprasi untuk menjarah emas di makam raja-raja terdahulu dan kuil-kuil agung.

Tidak hanya menjarah emas dan harta lainnya mereka juga dikabarkan berlaku kejam pada setiap penduduk yang mereka temui.

Prajna dan agnipun terkena imbasnya karena mereka tinggal di dekat Kuil Hagoro Agama Autromerta yang dulu di puja banyak orang dan menyimpan banyak harta persembahan.

“nggukk…nguukk…” Seekor ganggarangan yang selalu menemani Prajna meminta jatah ikan pada Prajna.

“Hahaha…Kamu sudah lapar ya…?” ucap Prajna sambil mengelus ganggarangan tersebut.

“Ayo kita lihat tangkapan ikan kita hari ini” Prajna berkata sambil mengajak ganggarangan tersebut ke tepian Sungai Hasbi yang besar dan deras.

Disana Prajna sudah menyiapkan belasan ‘cagneg’ anyaman bambu untuk menjebak ikan.

Biasanya Cagneg-cagneg yang di siapkan Prajna di letakkan pada pagi hari dan menjebak sekitar 5 sampai 7 ikan saat siang, lalu Ketika siang di letakkkan maka akan menjebak 4 sampai 5 ikan pada malam hari.

Siang itu Prajna sangat bersemangat karena tadi malam hujan turun sangat deras sehingga Sungai Hasbi meluap, yang berarti ikan disana pun melimpah.

Prajna menyusuri Sungai siang itu menggunakan Ruksag, Keranjang bambu besar yang bisa panggul di punggung seperti Ransel besar yang dapat menampung banyak ikan.

Parjna menelusuri Sungai Hasbi sepanjang siang. Satu persatu Cagneg yang di tebar Prajna di periksa, setiap kali mendapatkan tangkapan ikan pasti Prajna memberikan pada sahabat kecilnya itu Ganggarangan air yang setia menemaninya.

Hari itu sesuai dugaan Ruksag milik Prajna pun penuh dengan ikan-ikan dari Sungai sementara ganggarangannya sepertinya berjalan mengikutinya dengan gontai karena kenyang.

Tiba-tiba dari arah belakang Prajna ada yang menarik Ruksag nya.

“Permisi….apa kamu bersedia membagi ikan-ikanmu pada ku” Suara lembut seorang gadis menyapa Prajna.

Prajna menoleh,

“kaamuu siapa? Tttentuu saja…aku mendapatkan banyak hari ini” jawab Prajna terpana oleh kecantikan gadis itu dan menurunkan Ruksagnya.

Gadis itu perparas cantik yang hanya mengenakan kain biru dari dada hingga lutut, kain tersebut hanya di semat-lilitkan di dekat ketiak gadis itu. Dengan berkulit putih merona dengan rambut bergelombang yang halus.

Tubuhnya berlekuk indah dengan ‘dua gunung’ kembar yang sangat bulat dan terlihat padat berdesakkan menyembul di dari balik lilitan kain birunya.

“silahkan kamu bisa pilih ikan apapun yang kamu mau dan seberapa banyakpun boleh” ucap Prajna yang mulai kehilangan konsenterasi saat sang gadis berjongkok memilah ikan yang juga pandangan prajna tertuju pada bawah kain gadis itu yang menyingkap dan terlihatlah paha yang padat serta sangat mulus.

“oh..iya aku Nirina…Rumahku di dekat sini aku tinggal Bersama 5 saudariku” ucapnya sambil berjongkok menggadahkan tangan mengajak prajna bersalaman.

Namun focus prajna Adalah tubuh indah Nirina yang putih mulus dengan ‘dua gunung’ besar yang saling berhimpitan dengan padatnya yang meronta keluar dari kain.

“eeh…maaf aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini…baiklah kamu mau berapa ikan?” Tanya Prajna.

“Nguuukk…nguuk…ngguuuk..” ganggarangan yang bersama Prajna berbunyi sambil berdiri tegak dengan ke dua kakinya.

“sebenarnya aku butuh banyak…Tapi apa tidak apa-apa? Dan aku tidak membawa sesuatu untuk membawanya” Nirina bingung.

“aah…Sebentar aku akan mengambilkan ilalang” kata Prajna berbalik dan mengambil beberapa utas ilalang kemudian memotong selembar daun pisang.

“letakkan ikan yang kamu pilih disini dan aku akan membuatkan temalinya dengan mengaitkan pada insang dalam mereka” ucap prajna sambil berjongkok menggelar daun pisang yang diletakkan di tanah.

Kembali kainnya tersingkap dan terlihat lepitan paha serta betisnya yang amat padat dan putih membuat prajna hampir hilang akal menahan Nafsunya, bilah ‘senjatanya’ prajna sudah tegak berdiri sedari tadi melihat pemandangan yang sangat penuh didepannya.

Prajna menggantung sekitar delapan ilalang dengan delapan ikan setiap ilalangnya.

“jika boleh apakah aku bisa mengantarmu ke rumah, ikan-ikan ini sangat berat” ucap prajna pada Nirina.

“terima kasih” jawab nirina sambil menunduk

Prajna dan Nirina berjalan melewati jalan setapak yang di penuhi ilalang hingga berhadapan dengan sebuah reruntuhan sebuah kuil yang di tumbuhi Pohon Jati yang besar dan mengikat batunya.

“Terima Kasih sudah mengantarku Sampai sini” ucap Nirina sambil menenteng ilalang yang berisi ikan, dia berbalik lalu masuk kedalam reruntuhan tersebut.

Ini sangat aneh, Prajna ingin tahu dan masuk kesana namun ada kabut yang menutupi area tersebut hingga Menutupi penglihatan Prajna.

Prajna tetap berjalan kedepan berharap bisa memasuki Reruntuhan tersebut.

“HHaaahhh…..”

Lanjut membaca
Lanjut membaca