Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Berani Memulai

Berani Memulai

ERI IRAWAN | Bersambung
Jumlah kata
32.7K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Berani Memulai
Berani Memulai

Berani Memulai

ERI IRAWAN| Bersambung
Jumlah Kata
32.7K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
PerkotaanSekolahCinta SekolahCinta PertamaBela Diri
Mencoba melarikan diri dari masa lalu yang kelam, Rangga melangkah ke SMA Garuda sebagai siswa pindahan yang dingin, pendiam, dan tak tersentuh. Bagi Rangga, kesendirian adalah benteng teraman agar rahasia kelam di sekolah lamanya tidak terbongkar. Namun, dinding pertahanannya perlahan retak saat Fira sekretaris kelas yang ceria dan pantang menyerah hadir membawa kehangatan yang tak pernah ia duga. Sayangnya, takdir tak membiarkan Rangga tenang begitu saja. Saat benih-benih cinta dan persahabatan baru mulai tumbuh, tuduhan pembawa keonaran menyebar bagai wabah. Puncaknya, musuh bebuyutannya datang membawa dendam membara untuk meremukkan hidup Rangga sampai ke akarnya. Terperangkap di antara jebakan licik, nama baik yang dipertaruhkan, dan keselamatan orang-orang yang mulai ia cintai, akankah Rangga kembali menggunakan kekerasan yang menghancurkan masa lalunya? Atau ia mampu menemukan keberanian sejati untuk berdiri, melawan, dan membuktikan arti dari berani memulai? Sebuah kisah penuh drama, ketegangan, dan kehangatan cinta yang membakar semangat!
Langkah Pertama dan Senyum di Sudut Kelas

Langkah kaki Rangga berbunyi pelan, beradu ritmis dengan ubin koridor lantai dua SMA Garuda. Setiap pijakannya terasa berat, seolah sepatu kets hitam yang dikenakannya terbuat dari timah. Seragam putih-abu-abu yang melekat di tubuhnya masih terasa sangat kaku khas pakaian baru yang belum tersentuh kehangatan kulit pemiliknya.

Udara di sekolah baru ini berbau asing. Ada campuran aroma pembersih lantai pinus yang menyengat, keringat samar anak-anak yang baru selesai berolahraga, dan wangi tanah basah dari halaman tengah sekolah yang tertimpa sinar matahari pagi. Bagi orang lain, ini mungkin hanya aroma sekolah pada umumnya.

Menjadi anak baru bukanlah sebuah pilihan baginya. Mengikuti kepindahan kedua orang tuanya demi tuntutan pekerjaan berarti harus siap memotong akar kehidupan yang sudah susah payah dia bangun. Itu artinya dia harus mengemas seluruh hidupnya ke dalam kardus-kardus cokelat, meninggalkan kenyamanan kota lama, mengucapkan selamat tinggal pada sudut-sudut jalanan yang familier, dan memulai semuanya dari titik nol.

Dan Rangga seorang cowok yang lebih suka menenggelamkan diri di balik buku, mendengarkan musik lewat earphone yang terpasang sebelah, dan membiarkan dunianya berjalan tanpa suara mulai dari nol adalah sebuah mimpi buruk yang menjelma menjadi kenyataan.

Rangga menarik tali tas punggungnya erat-erat. Tangannya yang dingin sedikit gemetar di dalam saku celana. Bayangan percakapan di meja makan tadi pagi mendadak berputar kembali di benaknya.

“Rangga, Papa tahu ini enggak mudah buat kamu. Pindah sekolah di pertengahan masa SMA itu berat. Tapi ingat... kadang kamu cuma perlu berani untuk sekadar melangkah. Selebihnya, biarkan waktu yang menjawab,” pesan ayahnya sembari menepuk bahunya. Ibunya hanya tersenyum menguatkan dari balik cangkir teh.

Berani memulai? Rangga membatin seraya tersenyum sinis pada dirinya sendiri. Bagi Rangga, kalimat itu adalah deretan kata-kata indah yang jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalani. Berani berarti siap untuk ditolak. Berani berarti siap untuk terluka. Dan Rangga sama sekali tidak memiliki cadangan keberanian itu dalam dirinya.

Ketika langkah kakinya berhenti di depan papan penunjuk kelas, matanya tertuju pada tulisan akrilik berwarna biru: XI IPA 2.

Langkahnya terhenti tepat di samping pintu kayu yang sedikit terbuka. Riuh rendah suara dari dalam ruangan mendadak surut begitu Pak Budi, guru fisika berkacamata tebal yang menjadi wali kelas barunya, mengetuk pintu dan melangkah masuk terlebih dahulu.

"Anak-anak, harap tenang sebentar. Hari ini kita kedatangan teman baru," suara Pak Budi yang berat menggema di seluruh penjuru ruangan. Pak Budi lalu menoleh pada Rangga, menepuk bahunya dua kali. "Silakan, perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu."

Rangga menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara asing kelas itu. Dia mendongak sebentar, menyapu pandangannya pada barisan meja kayu, poster pahlawan yang tergantung miring di dinding, serta wajah-wajah penasaran yang menatapnya seperti menatap sebuah spesimen asing di laboratorium.

"Nama saya Rangga. Saya pindahan dari SMA Nusantara," ucapnya singkat.

Hanya itu. Singkat, padat, tanpa nada, dan tanpa basa-basi. Tidak ada lelucon garing untuk memecah kebekuan, tidak ada senyum ramah yang berusaha mencuri perhatian, dan tidak ada cerita panjang lebar tentang hobinya.

Pak Budi menatapnya sejenak, seolah menunggu keajaiban bahwa Rangga akan menambah kalimatnya, namun ketika menyadari cowok di sampingnya sudah mengunci mulut rapat-rapat, Pak Budi hanya mengangguk pelan.

"Baiklah. Rangga, kamu bisa duduk di bangku kosong paling belakang, di dekat jendela. Semoga kamu cepat beradaptasi di sini," ujar Pak Budi seraya menunjuk ke sudut kanan belakang kelas.

Rangga berjalan melewati lorong antar-meja tanpa mengindahkan tatapan orang-orang. Dia menarik kursi kayu yang berderit pelan, lalu mendudukinya. Tempat ini sempurna. Duduk di sudut belakang dekat jendela memungkinkannya untuk mengamati tanpa perlu diamati.

Jam-jam pertama pelajaran berlalu seperti seluloid film tua yang berputar lambat. Guru-guru masuk dan keluar, mencoret-coret papan tulis dengan rumus dan teori, sementara Rangga tetap berada pada posisinya. Dia memutar-mutar pulpen di antara jarinya, membuang pandangannya ke luar jendela. Dari lantai dua ini, dia bisa melihat daun-daun pohon mahoni yang bergoyang ditiup angin, serta beberapa siswa yang sedang dipenjara tugas lari mengelilingi lapangan basket.

Dia terbiasa sendiri. Kesendirian adalah jubah pelindungnya yang paling aman. Namun, dia tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa dingin yang menusuk di dadanya ketika melihat teman-teman sekelasnya tertawa bersama, saling melempar kertas yang diremas, atau sekadar berbagi cerita tentang akhir pekan.

KRIIINGGGG!

Bel istirahat pertama akhirnya membahana, memecahkan keheningan kelas yang tadinya diisi oleh ceramah panjang guru sejarah.

Rangga tetap diam di tempatnya. Dia tidak berniat pergi ke kantin. Dia tidak tahu letak kantin, dan yang lebih penting, dia tidak mau kebingungan sendirian di tempat ramai. Lebih baik berada di sini, berpura-pura sibuk membolak-balik halaman buku catatannya yang masih bersih.

Sampai sebuah bayangan berkelebat dan mendadak berhenti tepat di samping mejanya.

Rangga perlahan mendongak, keluar dari zona nyamannya. Di sana, berdiri seorang siswi berseragam rapi. Tangannya memegang sebuah papan jalan kayu berisi tumpukan kertas dan sebuah pulpen hitam. Rambut hitamnya yang sebahu diikat asal namun rapi, dan sebuah nametag transparan tersemat di bagian dada kiri seragamnya.

Fira.

"Hai," sapa cewek itu.

Suaranya tidak terlalu keras, namun terngiang sangat renyah di telinga Rangga. Ada nada kehangatan yang jujur dari cara cewek itu mengucapkannya, seketika memecah kebekuan dan aroma asing di sudut kelas itu.

"Gue Fira, sekretaris kelas ini," lanjutnya tanpa menunggu Rangga merespons. Ia menarik kursi kosong di depan Rangga dan mendudukinya secara terbalik, meletakkan dadanya di sandaran kursi sambil menatap Rangga. "Gue mau minta data lengkap lu buat catat di kelengkapan absensi dan data kas kelas."

Rangga berkedip pelan. Otaknya butuh waktu satu detik lebih lambat untuk memproses interaksi manusia yang tiba-tiba ini. "Oh... iya. Mau ditulisi sendiri atau gimana?"

"Gue catat aja, lu sebutin," jawab Fira cepat. Ia mengklik pulpennya, bersiap di atas lembaran kertas. "Nama lengkap lu Rangga siapa? Masa cuma 'Rangga' doang? Pelit banget tadi pas kenalan di depan."

Ada nada canda yang ringan dalam suara Fira, tidak terkesan mengintimidasi atau mengejek. Rangga berdeham pelan untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. "Rangga Aditya Pratama."

"Rangga... A-di-tya... Pra-ta-ma," gumam Fira pelan, menyelaraskan dengan ketukan pulpennya yang bergerak lincah membentuk tulisan tangan yang rapi di atas kertas. "Tempat tanggal lahir? Alamat rumah sekarang?"

Rangga menyebutkan deretan angka dan nama jalan tempat tinggal barunya. Fira mencatat semuanya dengan tekun. Sesekali, helai rambut depan Fira menyapu pipinya sendiri, dan cewek itu akan menyingkapnya ke belakang telinga dengan gerakan santai.

"Sip, beres!" seru Fira lega begitu selesai menuliskan garis terakhir. Ia lalu menumpuk kertasnya dan menatap wajah Rangga dengan rasa ingin tahu yang polos, menyipitkan matanya sedikit seolah sedang menilai objek lukisan. "Lu kenapa tegang banget dari tadi pagi? Kayak mau dieksekusi mati tahu enggak."

"Enggak tegang. Cuma... belum terbiasa aja," jawab Rangga jujur, membuang pandangannya ke samping.

Fira terkekeh pelan. Dan di detik berikutnya, ketika Rangga memberanikan diri untuk kembali menatapnya, Fira tersenyum.

Bukan sekadar senyum formalitas atau senyum tipis sopan santun. Senyum itu merekah indah dan begitu lepas. Sebuah lesung pipi yang manis terbentuk di sudut bibir kirinya, membuat mata cokelat terangnya menyipit membentuk bulan sabit.

Deg.

Jantung Rangga mendadak berdesir heboh, berdetak dengan ritme yang tidak beraturan. Seperti ada sesuatu yang tak berwujud sebuah benih perasaan yang asing, manis, sekaligus mendebarkan seketika jatuh dan tertanam jauh di dalam dasar dadanya.

Senyum itu... terasa seperti cahaya pertama yang menembus kegelapan kamarnya yang sepi.

"Tenang aja, anak-anak di sini baik-baik kok," ucap Fira ramah, tidak menyadari kehebohan kecil yang baru saja meledak di dalam dada Rangga. Fira berdiri dari kursinya, merapikan papan jalan di tangannya. "Selamat datang di XI IPA 2, Rangga. Kalau butuh bantuan apa-apa, tanya aja ke gue atau yang lain. Jangan sungkan, oke?"

Rangga masih membeku, tangannya memegang pinggiran meja dengan erat, mencoba mencerna perasaan aneh yang baru saja melumpuhkannya. Dia ingin mengucapkan kata 'terima kasih', tetapi tenggorokannya seperti tersumbat.

Namun, sebelum Fira sempat melangkah lebih dari dua pijakan menuju lorong kelas...

BRAAAKKK!

Pintu depan kelas yang terbuat dari kayu tebal tiba-tiba terdorong keras dari luar, menghantam dinding semen di belakangnya hingga menimbulkan dentuman nyaring yang menggelegar. Suara itu seketika membuat seluruh isi ruangan Kelas XI IPA 2 mendadak senyap total.

Dua orang cowok berseragam SMA Garuda dengan kancing atas terbuka dan napas terengah-engah berdiri di ambang pintu. Rambut mereka berantakan, dan wajah mereka dipenuhi keringat.

"Fira! Mundur! Jangan dekat-dekat sama dia!" teriak cowok tinggi berseragam berantakan itu dengan raut wajah tegang membiru. Suaranya bergetar hebat penuh panik.

Fira menghentikan langkahnya, mengernyit bingung sambil menoleh bergantian antara cowok di pintu dan Rangga. "Apaan sih, Dan? Kenapa balik-balik langsung teriak?"

Cowok itu menunjuk lurus ke arah Rangga dengan jari yang gemetar. "Dia... dia cowok yang bikin heboh di SMA Nusantara kemarin! Anak yang dikeluarin karena bikin orang hampir cacat!"

Kalimat itu menggantung di udara bagaikan vonis hukuman mati. Seluruh isi kelas menahan napas. Pandangan puluhan pasang mata yang tadinya hangat dan tak peduli, kini berubah menjadi tatapan horor, takut, dan penuh prasangka yang menancap tepat di tubuh Rangga.

Di sudut belakang kelas, Rangga perlahan menundukkan kepalanya. Tangannya di bawah meja mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Rasa hangat yang baru saja mekar di dadanya hancur berkeping-keping dalam satu detik.

Masa lalunya yang paling gelap, alasan sebenarnya dia harus angkat kaki dari sekolah lama, ternyata tidak pernah tertinggal di belakang. hantu itu baru saja menyusulnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca