
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
perjuangan sang siswa perintis dalam menggapai mimpi dengan segala keterbatasan dan kesulitan hidup, mencoba untuk terus melanjutkan mengejar cita cita atau menyerah pada ketidak mampuan ekonomi.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Terompet Tak bersuara
Sampai pada hari dan waktu yang dinantikan, ketika pengumuman kelulusan itu diumumkan, mungkin tiba hanya untuk sesaat ,tapi saat itu sangat dinantikan oleh banyak calon siswa penerima beasiswa, yang memimpikan masa depan yang lebih cerah dari sebagai seorang perintis keluarga. Berharap pada takdir yang akan terjadi setelah berusaha setiap waktu memegang erat pena dan kertas tebal untuk dimasukkan ke nalar pikiran yang terbatas dan terus diulang, dipikirkan dan diujikan , tanpa bantuan sang mentor ahli pembelajaran ataupun sang guru yang dibayar mahal oleh sang pemilik uang. Dimana menurut anak sang pewaris uang hanya bagaikan selembar tisu yang bisa terbang tapi akan kembali bertambah lagi, namun bagi Rais uang bagaikan selembar tisu yang hanya hilang dan robek. Betapa pentingnya arti uang untuk Rais, yang berpikir lebih penting membeli kebutuhan makanan dan roti untuk isi perut, namun tak menghalangi cita-cita untuk berebut kursi dengan sang pewaris.
Apakah usaha yang selama ini Rais lakukan bisa menjadi titik awal atau pindah ke takdir lain yang bisa jadi lebih buram? entahlah, hari itu sebelum subuh dengan mengayuh sepeda tua pemberian sang paman Darim yang sudi memberikan sebagian sepeda lamanya yang masih berfungsi, walaupun tarikan rodanya begitu berat karena rantai yang aus dan usang. Jalan biasa yang dilewati setiap hari berangkat sekolah dengan berjalan kaki bisa begitu cepat dilalui, namun pagi ini sungguh terasa sangat lama. Mungkin pikiran Rais yang sedang terbang ke alam bawah sadar yang hanya memikirkan bagaimana dan seandainya, bagaimana bila nama Rais tak tercantum dipapan pengumuman, dan seandainya waktu bisa diulang untuk belajar lebih keras bila nama itu tidak ada, namun Rais juga berandai-andai bagaimana dia bila namanya terpampang jelas, tentu dunia serasa terbuka lebar tersenyum dan merangkulnya, hanya sekedar berbisik ini hadiah untukmu Rais, wajah Ayah dan Ibunya terbayang akan menyambutnya dengan senyum lebar, dan Ayah akan mengatakan "Selamat nak, kamu anak laki-laki jagoanku yang tak pernah putus asa dan jadi kebanggaanku". Tak lupa dimeja makan akan tersedia masakan ikan dabu yang sangat Rais suka, adik Rais akan memeluknya, dan akan bangga punya kakak yang sakti dan pintar.
Sudah tampak lapangan Menhan itu terlihat walau baru samar-samar karena semestinya jaraknya masih 5 km lagi. Jalanan desa yang masih berbatu dan kadang licin sehabis hujan, tidak jadi halangan, jalan sepeda yang meliuk-liuk sempoyongan terganggu karena pikiran Rais yang kadang tersadar dan kadang melamun membuat kayuhan sepedanya tidak stabil dan sesekali sepeda terasa akan jatuh terkena batu kerikil dan tidak berjalan di posisi jalan lurus. Keringat sesekali mengucur dari rambutnya yang sudah basah, mengalir ke baju putih yang terlihat seperti noda, begitu pun dengan kakinya sudah terasa lemah dan dikuatkan untuk terus mengayuh.
Baju lusuh dan rambut yang semula rapi kini tampak tak beraturan. Begitupun sepatu dan celana sudah tampak berlumuruan tanah basah akibat cipratan kayuhan sepeda. Rais tak hiraukan dengan baju lusuh dan rambutnya apalah arti semua ini demi melihat langsung melihat papan pengumuan itu. Akhirnya dengan perjuangan yang luar biasa antara lelah pikiran dan lelah badan sampailah dia di lapangan Menhan, yang kata orang lapangan ini dulu digunakan sebagai tempat latihan tembak para tentara yang betugas, dan lapangan ini sudah dihibahkan kepada masyarakat untuk digunakan sebagai alun alun desa. Riuh orang berkumpul dan suara saling bersahutan memenuhi telinga dan mata, lapangan Menhan yang seluas lapangan bola tampak kecil penuh dengan orang-orang berkumpul dan berdesakan. Begitupun tampak ramai orang berjualan untuk sekedar mengais rejeki, dimana kesempatan ini tidak datang setiap hari atau setiap minggu bahkan setiap bulan. Suasana tampak mulai tidak kondusif, namun waktu baru menunjukan pukul 07.00 belum saatnya papan pengumuman dipampang. Sementara Rais yang baru saja sampai di lapangan Menhan, berdiam dulu sejenak hanya untuk menghela napas panjang dan melipir ke sudut lapang. Selain melepas lelah dan sekedar menghilangkan haus, berbekal botol minum air mineral yang diisi ulang, tentunya saat ini Rais merasakan kebahagiaan sejenak karena telah sampai ke lapangan Menhan. Rais duduk disamping sepeda miliknya tak melihat teman-temannya yang lain, dan tak tahu mereka sedang dimana, Rais hanya menunggu jam yang terasa lama. Waktu yang ditunjukkan baru pukul 7.15, sangat menyita perasaan dan detak jantung yang semakin berdetak kencang, dan sesekali terucap doa-doa kepada-Nya untuk sekedar meminta keajaiban dan hadir Kuasanya.
Hati yang deg-degan mulai berdetak kencang dan rasa tak karuan, mulai berkeringat dingin , karena waktu pengumuman tinggal menghitung menit. Rais yang berasal dari tempat terpencil di Selatan jawa, tempat yang kata orang bagaikan syurga dunia karena sejauh mata memandang tampak laut biru yang bak permadani, dan hamparan sawah serta perbukitan yang hijau, walau dinilai desa terpencil namun masyarakatnya sangat menghargai alam dan budaya luhur,untuk tidak merusak alam dan biota laut yang sangat berarti buat mereka untuk mata pencaharian sehari hari.
Penerimaan siswa ikatan dinas di Universitas kedinasan di Ibukota provinsi tahun ini jadi angkatan terakhir, karena tahun depan tidak akan ada lagi sekolah kedinasan. Nomor urut mulai akan dibentangkan dipapan pengumuman besar dan petugas mulai mensterilkan ruang lapangan khusus pengumuman. Rais terdaftar di angka 400 an, tepatnya 435. Dan pukul 08.00 pun tiba , semua siswa yang berdatangan mulai mengerumuni pengumuman itu dan menyamakan dengan nomor yang mereka punya. Rais pun tak ketinggalan untuk menyelinap ke depan papan pengumuman diantara kerumunan orang, sampai mata tak berkedip berusaha untuk membuka mata selebar-lebarnya dan pikiran yang fokus,ditengah kerumunan orang yang masih bertahan dengan mencoba keberuntungan dengan terus melihat papan pengumuman. Rais menyelinap keluar dengan sedikit berurai air mata, badan terlihat lunglai, berharap ada teman-teman yang lain namun tak telihat satupun. Rais melirik ke samping kiri dan kanan berharap ada yang bisa disapa dan diceritakan.
Dengan langkah berat Rais berjalan ke bukit desa membawa terompet tua alat musik yang dimilikinya . Kegemaran Rais akan alat musik terompet karena suaranya yang begitu melengking, dia coba bunyikan. Namun terompet yang sudah lusuh tak bisa bersuara, terompet yang disiapkan Rais untuk dibunyikan sebagai penanda ke seluruh dunia dan dunia harus mendengar dan merasakan suara terompet Rais, gagal sudah, karena terompet tua yang disediakan tak bersuara. Rais hanya bisa berteriak sekuat-kuatnya. Dia berteriak... dan suaranya pun bergema sampai beberapa kali diatas bukit. Tampak beberapa kali Rais menunduk dan berteriak lagi, dan kekuatan teriakan membuat pita suaranya melemah, dan semakin sulit untuk diteriakkan kembali.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








