
KB: Kuburan Berantakan
Fitri99|Bersambung
- Jumlah kata
- 50.9K
- Popular
- 107
- Subscribe
- 24
- Jumlah kata
- 50.9K
- Popular
- 107
- Subscribe
- 24
Sinopsis
Jadi pocong itu susah. Jadi suami pocong yang istrinya kuntilanak? Lebih susah lagi. Kang Sarpin cuma pengin hidup tenang: kerja nakut-nakuti sesuai jam kerja, pulang, makan, tidur (dalam kain kafan, tentunya). Tapi rumah tangganya nggak pernah adem. Anak sulungnya, tuyul gembul bernama Yumbo, tiap hari bikin onar di pasar setan. Anak keduanya, Wulan, ngambek melulu gara-gara kalah saing sama Sundel Bolong di Kuburan-gram. Anak bungsunya nangis tiap malam sampai satu kuburan protes. Dan sekarang? Istrinya, Nyi Marlina, hamil lagi. Anak keempat. Masalahnya bukan cuma ngidam aneh atau bolak-balik ke klinik dr. Wongso yang susternya jalan ngesot lebih cepat dari motor tetangga. Masalahnya: tak satu pun dari mereka tahu, anak ini akan lahir sebagai apa. Di tengah drama popok, ronda malam, dan gosip antar-hantu, sebuah patok survei tiba-tiba tertancap di depan gerbang kuburan. Seseorang di dunia manusia ingin Kuburan Kembang Melati lenyap — dan waktunya pas-pasan dengan hari perkiraan lahir. Kang Sarpin harus memilih: jadi ayah yang siap menyambut anak keempatnya, atau jadi tumbal pertama dari rencana yang jauh lebih gelap dari sekadar takut hantu. Karena satu hal sudah pasti: sesuatu di dalam kandungan Nyi Marlina bukan cuma bayi biasa — dan bukan cuma manusia yang menginginkannya.
Ulasan
2 ulasan
Youku 4545
1/9/26 08:21
Lanjut ceritanya seru. unik. Hantu nggak ada seram2nya tapi tetap ada msteri di dalam nya. semangat author
Faujan Faujan
1/9/26 08:06
Lucu banget lagi ceritanya. Tapi tetap ada unsur misterinya. Kuntilanak Dam Pocong jadi keluarga gagal kb 🤣
Bab 1. Tangisan Yang Tidak Biasa
"Sarpin! Buka pintu ini sebelum aku congkel sendiri!"
Kang Sarpin terbangun dengan cara paling tidak elegan untuk seorang pocong, terguling dari batu nisan yang selama ini jadi kasurnya, lalu jatuh dengan bunyi berdebum yang mengusik seisi rumah.
"Sabar, Mang! Kafan saya belum sempat dirapikan!"
"Aku nggak peduli kafanmu rapi atau nggak! Anakmu yang nangis semalaman itu bikin aku dengar suara ibu mertuaku lagi, Sarpin! Ibu mertua! Yang sudah mati tiga puluh tahun!"
Pintu kayu reyot itu terbuka, menampilkan sosok Mang Genderuwo dengan bulu-bulu di lengan berdiri semua, matanya merah, bukan karena marah, tapi karena kurang tidur.
"Saya sudah coba gendong dia keliling kuburan tiga kali, Mang. Sudah dikasih kain basah. Sudah dinyanyiin. Tetap saja."
"Itu bukan bayi, itu alarm kebakaran."
Dari dalam rumah, tangisan itu terdengar lagi, melengking, naik turun tak beraturan, seperti seseorang memutar kenop volume tanpa pola.
Nyi Marlina muncul di ambang pintu sambil menggendong bayi mereka, rambutnya kusut menutupi setengah wajah, dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Kang Sarpin melihat istrinya terlihat benar-benar lelah, bukan galak, bukan cerewet, hanya lelah.
"Mang Broto, tolong jangan teriak-teriak di depan rumah saya jam segini."
"Bukan Broto, Nyi. Genderuwo. Broto itu, Broto itu nama manusia yang, ah, sudahlah."
"Terserah namanya siapa. Kalau anak saya nangis, itu urusan saya. Kalau bapak nggak bisa tidur, pindah aja ke kuburan sebelah."
Mang Genderuwo membuka mulut, mau membalas, tapi melihat mata Nyi Marlina yang sudah setengah menyala merah, dia memilih mundur dua langkah.
"Baik, Nyi. Baik. Saya cuma, saya cuma khawatir."
"Khawatir apa?"
"Anak itu nangisnya beda, Nyi. Bukan nangis lapar. Bukan nangis sakit perut. Itu kayak, kayak dia lihat sesuatu."
Kang Sarpin dan Nyi Marlina saling pandang. Di dalam gendongan, Dedek berhenti menangis tepat saat itu, matanya yang tadinya terpejam rapat kini terbuka, menatap ke arah pintu, ke arah gelap di luar sana, ke tempat yang tidak dilihat siapa pun selain dirinya.
Sunyi sebentar. Hanya suara angin menggesek daun kamboja.
"Sudah, sudah," kata Nyi Marlina, buru-buru menepuk punggung bayinya, "Mang pulang aja. Ini bukan urusan Mamang."
Mang Genderuwo mengangguk pelan, tapi langkahnya waktu pergi terlihat lebih cepat dari biasanya, seolah dia sendiri ingin buru-buru menjauh dari sesuatu yang tidak dia mengerti.
Kang Sarpin menutup pintu, menyandarkan punggung ke kayu yang sudah lapuk, menghela napas panjang meski dia sebenarnya tidak butuh napas.
"Kamu dengar yang dia bilang?"
"Dengar." Nyi Marlina duduk di kursi rotan yang kakinya sudah pincang sebelah, masih menggendong Dedek yang sekarang tenang, terlalu tenang. "Tapi jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Kita ada urusan lebih penting."
"Urusan apa?"
Nyi Marlina menatap suaminya lama, seperti sedang menimbang kalimat sebelum melepasnya.
"Aku telat, Kang."
"Telat apa? Telat jemput Wulan sekolah?"
"Bukan, Sarpin. Telat."
Kang Sarpin diam. Kepalanya, yang sejak lahir sudah dibalut kain kafan rapat, masih bisa terlihat mengernyit dari gerakan bahunya yang naik sedikit.
"Telat yang itu?"
"Iya. Yang itu."
"Yang, yang bulanan itu?"
"Kalau kamu sebut lagi kata bulanan dengan muka bego begitu, aku lempar kamu pakai bantal."
Dari kamar sebelah, terdengar suara berisik, sesuatu jatuh, disusul teriakan kecil bernada protes.
"IBU! Yumbo makan permen aku lagi!"
Wulan keluar dengan rambut sebahu yang berantakan menutupi wajah, memegang bungkus permen kosong, wajahnya yang cantik itu memerah bukan karena marah biasa, tapi karena benar-benar kesal.
"Itu permen buat konten aku besok! Aku udah janji sama followers mau bikin video ASMR makan permen kuburan!"
Dari balik pintu kamar, muncul kepala kecil bulat dengan perut buncit khas tuyul, mulutnya masih penuh, pipinya menggembung seperti bakpao.
"Enak sih," kata Yumbo, sambil mengunyah tanpa dosa.
"YUMBO!"
"Udah, udah," Nyi Marlina mengangkat satu tangan, isyarat yang biasanya cukup untuk membuat rumah itu diam dalam dua detik. Kali ini butuh empat detik. "Wulan, kamu bisa beli permen lagi besok. Yumbo, kamu balikin uangnya ke kakak."
"Uang aku abis buat, buat, aku lupa buat apa."
"Yumbo."
"Iya, iya, nanti aku ganti."
Nyi Marlina memejamkan mata sebentar, menahan sesuatu yang bukan amarah, lebih ke arah lelah yang menumpuk sejak entah kapan.
Kang Sarpin memperhatikan istrinya dari sudut ruangan. Kalau biasanya dia akan langsung ambil alih, meredakan situasi dengan lelucon garing yang bikin anak-anak diam sesaat, malam ini dia hanya berdiri, memandangi punggung Nyi Marlina yang terlihat lebih kecil dari biasanya.
"Wulan, Yumbo, tidur," katanya akhirnya, suaranya lebih tegas dari biasa. "Sekarang."
Ada sesuatu di nada suaranya yang membuat kedua anak itu diam. Wulan mau protes, tapi melihat wajah ayahnya, dia hanya mendengus dan masuk kamar. Yumbo mengikuti tanpa banyak bicara, satu hal langka untuknya.
Setelah pintu kamar tertutup, rumah itu jadi sunyi, hanya suara napas Dedek yang mulai teratur dalam gendongan ibunya.
"Kamu yakin?" Kang Sarpin akhirnya bertanya, mendekat, duduk di lantai dekat kaki istrinya karena tidak ada kursi lain yang masih kuat menahan berat dua orang.
"Belum yakin seratus persen. Tapi badanku bilang begitu."
"Kita belum, aku belum siap, Nak."
"Kamu pikir aku siap?" Nyi Marlina menatapnya, matanya berkaca meski tidak ada air mata yang benar-benar jatuh, karena memang tidak ada air mata yang tersisa untuk hantu setua dirinya. "Tiga anak sudah cukup bikin aku pusing tujuh keliling, Kang. Yumbo nyolong, Wulan drama, Dedek nangis tiap malam sampai tetangga ngamuk. Sekarang mungkin ada satu lagi."
"Mungkin cuma masuk angin."
"Kamu pikir hantu bisa masuk angin?"
Kang Sarpin terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, karena memang tidak tahu.
"Besok pagi," Nyi Marlina melanjutkan, "kita ke klinik dr. Wongso. Biar jelas."
"Malam ini aja, biar cepat tahu."
"Klinik itu tutup jam tiga, Kang."
"Kita datang jam dua lewat lima puluh menit."
Untuk pertama kalinya malam itu, ada bayang senyum kecil di wajah Nyi Marlina, tipis, tapi ada.
"Kamu selalu begitu. Panik tapi maksa cepat."
"Aku cuma nggak suka nunggu."
"Dedek juga nggak suka nunggu makan, tuh. Gendong dia dulu, aku mau siap-siap."
Kang Sarpin menerima bayinya dengan gerakan kaku khas pocong, kedua tangan yang terikat kain hanya bisa membentuk sudut tertentu, tapi entah bagaimana dia selalu berhasil menggendong anak-anaknya dengan cara yang pas.
Dedek membuka mata sebentar, menatap ayahnya, lalu menatap ke arah jendela yang tirainya sedikit tersingkap oleh angin.
Kang Sarpin mengikuti arah pandang anaknya, iseng saja, tidak berharap apa pun.
Di luar sana, di antara nisan-nisan yang berbaris rapi, ada cahaya kecil. Bukan cahaya lampu minyak yang biasa dipakai warga kuburan buat ronda. Bukan juga cahaya bulan yang memang sedang terang malam itu.
Cahaya itu putih, kecil, bergerak lambat, seperti seseorang berjalan sambil membawa senter, tapi arahnya aneh, terlalu lurus, terlalu terarah, seolah tahu persis ke mana harus pergi.
Menuju rumah mereka.
"Nyi," panggil Kang Sarpin, suaranya lebih pelan dari biasa, "kamu lihat itu?"
Tidak ada jawaban dari kamar.
Cahaya itu berhenti tepat di depan gerbang kuburan, diam sebentar, seperti sedang mengukur sesuatu, sebelum akhirnya padam begitu saja, meninggalkan kegelapan yang terasa lebih pekat dari sebelumnya.
Dedek mulai menangis lagi, kali ini lebih keras dari semalaman penuh, dan untuk pertama kalinya Kang Sarpin merasakan sesuatu yang jarang dia rasakan sejak jadi pocong bertahun-tahun lamanya.
Takut.
Bukan takut yang biasa dia pura-purakan waktu kerja nakut-nakuti orang di jalan sepi. Takut yang asli, yang menjalar dari ujung kain kafannya sampai ke apa pun yang tersisa dari jantungnya.
Daftar bab
47 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








