
Cecep Penggoyang Ranjang
tha4g|Bersambung
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 4.4K
- Subscribe
- 435
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 4.4K
- Subscribe
- 435
Sinopsis
Hinaan dan makian mertuanya serta meminta talak untuk anaknya karena tidak bisa mengobati cucu mereka , itu yang membuat Cecep seorang lelaki bertubuh kekar dan berparas rupawan menginjakkan kakinya kedalam lembah hitam. Berbagai pelukan hangat, bergelimang uang , serta kehidupan yang nyaman akankah membuatnya lupa anak istrinya atau tetap menjadikannya suami yang tanggung jawab dan mencintai istrinya saja ?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1.
Debu kering yang terbawa angin sore mengapung tipis di udara, bercampur aroma beras apek dan keringat belasan warga yang berdesakan di depan warung Pak RT. Antrean sembako murah itu selalu menjadi arena paling hangat di RT 03 Desa Sukamaju, Subang. Namun sore itu, suara riuh penawar beras dan derit timbangan timah mendadak senyap. Tatapan belasan pasang mata yang semula tertuju pada karung-karung beras, perlahan bergeser ke satu titik di pojok halaman warung.
Di sana, Cecep berdiri kaku. Pria berusia tiga puluh tahun itu mengenakan kaos oblong lusuh yang pudar warnanya dan celana kain yang sudah menipis di bagian lutut. Postur tubuhnya sebenarnya jangkung dan tegap. Bahunya bidang, dadanya tebal, dan garis rahangnya tegas mencerminkan fisik seorang pekerja keras yang ditempa matahari ladang. Namun sore itu, di bawah terik matahari Subang yang perlahan meredup, tubuh gagah itu seolah mengkerut, mengecil di bawah telunjuk seorang wanita paruh baya yang meliuk-liuk di udara.
Ibu Yayah, mertuanya sendiri, berdiri hanya selangkah di depannya. Wajah wanita berkerudung instan warna merah menyala itu berkilat oleh minyak dan amarah yang meledak-ledak.
"Pengangguran tidak berguna! Muka saja yang disapu bersih, dada dibidang-bidangkan, tapi bawa uang lima puluh ribu buat beli beras saja kamu tidak becus!"
Suara Ibu Yayah melengking tajam, membelah keheningan warung Pak RT seperti sabetan sembilu. Kata-katanya tidak sekadar keras, tetapi sengaja ditinggikan agar menjangkau setiap pasang telinga yang ada di sana.
Cecep menundukkan kepalanya dalam-dalam. Matanya menatap tanah kering bertabur kerikil tajam di bawah sandal jepitnya yang sudah tipis sebelah. Jemarinya di dalam saku celana mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih, menahan gejolak hebat yang bergemuruh di dalam dadanya. Ada rasa panas yang menjalar cepat dari tengkuk hingga ke telinganya.
"Bu... jangan di sini," bisik Cecep pelan, suaranya parau dan bergetar. "Kasihan Nining sama Dede kalau dengar orang-orang..."
"Kenapa?! Takut malu kamu?!" potong Ibu Yayah tanpa belas kasihan.
Wanita itu malah memutar tubuhnya, menghadap ke arah kerumunan warga yang kini pura-pura sibuk meneliti kantong beras masing-masing, meski telinga mereka terpasang lebar-lebar. "Lihat ini, Ibu-ibu! Bapak-bapak! Lihat menantu yang gak berguna ini, yang badannya seperti pemain silat ini! Di rumah cuma tahu makan, tidur, dan ngeliatin anaknya yang menggelekep sakit!"
Beberapa warga tampak serba salah. Pak RT yang sedang memegang literan beras menghentikan gerakannya sejenak, menghela napas panjang, lalu pura-pura sibuk mencatat di buku kusam. Beberapa ibu-ibu menggeser posisi berdiri, berbisik-bisik di balik kibasan kipas plastik, sementara beberapa pria paruh baya memandang Cecep dengan tatapan iba bersatu dengan penghinaan.
"Coba kamu lihat Heri!" lanjut Ibu Yayah, kembali menudingkan jarinya tepat beberapa sentimeter dari hidung Cecep. "Si Heri itu, menantunya Bu Sutra ! Umurnya lebih muda dari kamu! Baru tiga bulan kerja di kota, kemarin pulang bawa mobil putih mengkilap! Bawa kardus makanan sampai berkeranjang-keranjang! Lah kamu? Kerja cuma bisa memanggul kayu, mengangkut padi, itu pun kalau ada yang nyuruh. Kalau tidak ada? Ngendon di rumah seperti kayu lapuk!"
Setiap kata yang keluar dari mulut mertuanya terasa bagaikan tamparan fisik yang mendarat bertubi-tubi di wajah Cecep. Rasa malunya meluap, membanjiri seluruh kesadarannya. Harga dirinya sebagai seorang pria, sebagai seorang suami, dan sebagai seorang kepala keluarga, rasanya dihancurkan sampai menjadi debu di depan umum.
Cecep menarik napas panjang yang terasa sangat berat, seolah udara di sekitarnya mendadak menjadi racun. "Heri kerjanya beda, Bu... Dia di kantor jakarta .Saya belum ada panggilan..."
"Alasan! Muka tembok!" celoteh Ibu Yayah lagi, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Cecep untuk mempertahankan kehormatannya. "Gengsi saja yang dipelihara! Kalau memang niat cari uang, kerja apa saja bisa! Ini tidak, cuma mengandalkan tampan! Memangnya muka gagah kamu itu bisa direbus buat obat si Dede?! Memangnya dada tegap kamu itu bisa dijual ke apotek buat beli obat sesak napas?!"
Kalimat terakhir itu seperti menusuk tepat di bagian paling peka di hati Cecep. Dede. Anak balitanya yang baru berusia dua tahun, yang saat ini sedang terkulai lemas di kamar panggung mereka yang pengap karena demam tinggi dan napas yang menggehit. Mengingat wajah pucat anaknya membuat kepalan tangan Cecep makin mengencang. Ada dorongan emosi yang sangat kuat untuk berteriak, untuk membalas perkataan mertuanya, untuk membela diri bahwa ia telah berjalan belasan kilometer saban hari mencari pekerjaan apa saja demi selembar rupiah tanpa mertuanya tau.
Namun, bayangan wajah Nining—istrinya yang selalu menyambutnya dengan senyum lembut meski dengan mata sembap—menahan lidahnya. Jika ia membalas mertuanya di sini, Nining yang akan menjadi sasaran amukan di rumah nanti.
"Ya sudah kalau kamu tidak punya uang!" seru Ibu Yayah seraya merebut dompet kecil yang dipegang Cecep—dompet kusam yang hanya berisi dua lembar uang lima ribuan dan sepuluh ribuan lusuh. Ibu Yayah melempar dompet kosong itu kembali ke dada Cecep hingga jatuh ke tanah.
"Uang lima belas ribu mau dapat beras apa?! Pergi sana! Jangan bikin malu saya di sini! Biar saya saja yang utang ke Pak RT! Kamu pulang, urus anakmu yang makin parah itu! Kalau sampai si Dede kenapa-napa karena kamu tidak punya uang buat beli obat, jangan harap kamu bisa tinggal di rumah saya lagi!"
Ibu Yayah membalikkan badan dengan kibasan sarung yang dramatis, melangkah maju mengambil antrean beras tanpa menghiraukan Cecep lagi.
Dunia di sekitar Cecep seolah berputar lambat. Suara riuh antrean beras kembali terdengar, namun terasa jauh dan bergema di telinganya. Cecep membungkuk, mengambil dompet kusamnya yang tergeletak di atas tanah berdebu. Ditepuknya debu yang menempel di dompet itu dengan gerakan pelan, teratur, berusaha menyembunyikan tangannya yang bergetar hebat.
Ia mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya bersibobrok dengan beberapa tetangga yang dengan cepat mengalihkan pandangan. Di sudut warung, Heri—pria yang baru saja dipuji-puji mertuanya—sedang berdiri di samping mobil putihnya yang terparkir mengkilap di tepi jalan desa.
Pria itu menyandarkan badannya ke pintu mobil sambil mengisap rokok filternya, menatap Cecep dengan ukiran senyum tipis.
Cecep tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia membalikkan badan dan mulai melangkah meninggalkan warung Pak RT. Setiap langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berkuintal-kuintal yang diikatkan di kedua pergelangan kakinya.
Angin sore Subang berembus makin dingin, membawa aroma tanah basah dari kejauhan yang menandakan hujan akan turun. Namun, dinginnya angin sore itu tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di dalam dada Cecep. Di sepanjang jalan tanah menuju rumahnya, bayangan muka merah mertuanya, hinaan yang dilontarkan di depan kerumunan, dan tawa samar dari arah warung terus berputar seperti rekaman rusak di kepalanya.
Ia memandangi telapak tangannya sendiri—telapak tangan yang kasar, keras, dan penuh kapalan akibat kerja kasar bertahun-tahun. Tubuh yang kuat ini, otot yang kokoh ini, dan rahang tegas yang sering dipuji orang-orang tua dulu sebagai ciri pria perkasa, kini tak lebih dari lelucon di tengah himpitan kemiskinan.
Saat bayangan rumah panggungnya yang reot mulai terlihat di balik pepohonan bambu, Cecep berhenti sejenak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata yang sudah ia tahan sejak di warung tadi menetes basah melewati pipinya yang keras, sebelum akhirnya disapu kasar dengan punggung tangannya.
Hari itu, di bawah langit Subang yang mulai menggelap, Cecep tahu bahwa sesuatu dalam dirinya telah patah dan mati. Rasa malu yang meremukkan tulang-tulangnya sore ini bukan lagi sekadar luka, melainkan sebentuk dendam dingin pada nasib. Dan di dalam kehampaan dada yang tercabik itu, sebuah nekad mulai tumbuh.
Daftar bab
77 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








