
Pembalasan Raja Penjara Falhana
Gatchan|Bersambung
- Jumlah kata
- 125.1K
- Popular
- 3.9K
- Subscribe
- 282
- Jumlah kata
- 125.1K
- Popular
- 3.9K
- Subscribe
- 282
Sinopsis
Terjerat fitnah demi sang istri, Fitorio Jusvana justru bangkit menjadi "Falhana", penguasa Penjara Kamvata yang sangat ditakuti. Setelah tiga tahun mendekam, dia akhirnya melangkah keluar penjara hanya untuk menyaksikan pengkhianatan keji sang istri dan kejatuhan tragis keluarganya. Di balik penghinaan, kemelaratan sang ibu, dan ancaman dari para musuh kelas atas Kota Kamvata, sosok pria terkuat di dunia ini siap menagih balik setiap tetes penderitaan yang dialami keluarganya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Bebas
“Jadi, karena kamu dijuluki sebagai orang terkuat, kamu ingin menjadi jagoan di sini. Begitu, Azriel…?!”
Kamvata merupakan sebuah penjara di perbatasan Negara Gemilang yang isinya dipenuhi oleh para penjahat seperti mafia, pembunuh hingga penjahat perang.
Entah apalagi aksi kriminal dari para tahanan di sana. Yang jelas, Penjara Kamvata adalah tempat berkumpulnya para narapidana paling jahat di dunia.
Pada salah satu ruangan di Kamvata, seorang pemuda berbaju putih dengan jaket panjang tersandang pada bahu tampak tengah duduk sembari mengusap-usap dagu.
Lelaki itu duduk layaknya seorang raja di atas tahta. Padahal, yang dirinya tempati adalah sebuah kursi listrik yang biasa digunakan untuk menghukum tahanan kelas berat, yang dijatuhi hukuman mati. Meski begitu, pria tersebut tampak santai-santai saja.
Di hadapan dia; tepatnya di lantai, ada seorang pria berbadan kekar dengan kulit gelap menggunakan baju tanpa lengan putih dan celana jeans tengah bersimpuh bersimbah peluh. Tubuhnya terlihat gemetaran.
“T-tu-tuan Falhana, aku mohon… huhuhu…! J-ja-jangan bunuh hamba… ampunilah hamba, Tuan… ha-hamba mengaku salah…! Huhuhu…!” tangis orang dengan postur besar tersebut.
Laki-laki berbusana putih itu menatap dengan tatapan kejam pada Azriel yang tengah tersedu-sedu. Kemudian, dia menghela napas.
“Suit… suit…!”
Pria bersetelan putih yang disebut dengan nama ‘Falhana’ itu bersiul nyaring. Pintu dari ruangan tempat dia dan Azriel berada terbuka. Sepuluh orang berbusana hitam dengan tudung di atas kepala mereka masuk ke dalam ruangan yang cukup lega tersebut.
“Beri orang sombong ini pelajaran!” ujar Falhana.
Tanpa berkata-kata, kesepuluh orang itu segera membawa Azriel yang saat itu tidak melakukan perlawanan dan hanya bisa terus menangis bak anak kecil.
“Tuan, tolong tuan… huhuhu…! Ampuni aku, Tuan Falhana… ampuni aku…! Huhuhu…!”
Seiring dengan suara tangis Azriel yang semakin menjauh, seorang pria berjubah hitam lain masuk ke dalam ruangan tempat Falhana berada. Pria itu pun membungkuk, seraya berkata.
“Tuan, sudah tiba saatnya bagi Anda untuk menghirup udara bebas.”
Pemuda berpakaian putih tersebut bernama asli Fitorio Jusvana. Tiga tahun lalu, Liviana, istrinya, menabrak seseorang hingga tewas karena mengemudi dalam keadaan mabuk.
Istri serta ayah dan ibu mertuanya pun memohon kepada Fitorio hingga berlutut, untuk menanggung kesalahan Liviana. Terang saja, Fitorio tidak tega. Demi membela sang istri, tanpa ragu ia langsung menyetujui permohonan tersebut.
Fitorio sempat berpindah-pindah rumah tahanan, hingga akhirnya, ia pun dicebloskan ke Kamvata. Saat itu, dia sudah berpikir bahwa itu adalah akhir dari segalanya.
“Tamat sudah riwayatku…!”
Begitu kata Fitorio waktu itu, setelah mengetahui seperti apa Penjara Kamvata. Dianggap sebagai tahanan paling lemah oleh para narapidana lain di sana, ia dihina-hina, hingga sempat mengalami perundungan. Bahkan, pernah dipukuli hingga nyaris tidak sadarkan diri.
Nasibnya membuat para sipir memindahkan Fitorio ke tahanan khusus bagi para narapidana yang diduga memiliki kelainan psikis. Saat itulah dia berjumpa seseorang berbusana putih, yang sama sekali tidak terlihat bak tahanan lain.
“Aku adalah Falhana, siapa dirimu?”
Pada awalnya, Fitorio menyangka dia sudah mendapat teman baru yang tidak waras. Apalagi, Falhana sering berkata-kata bijak. Tapi sebetulnya, seluruh yang dikatakan oleh pria setengah baya tersebut masuk akal. Pengetahuan pria berbaju putih itu sangat luas lagi dalam.
Mereka pun sering berdiskusi. Malah lama-kelamaan, sering berdialog dengan Falhana membuat pikirkan Fitorio menjadi lebih tenang. Yang mengherankan, semua tahanan sangat segan pada sosok Falhana.
Hingga akhirnya, lelaki misterius itu berkata pada dia. “Fitorio yang malang, maukah kau menjadi muridku?”
Saat itulah Fitorio hampir memastikan bahwa Falhana memang betulan tidak waras. Namun dengan polos karena ingin mendapat perlindungan dari Falhana yang tampak lebih ditakuti dari sipir di sana, Fitorio berkata.
“Aku mau.”
Tanpa diduga-duga oleh Fitorio, Falhana benar-benar menggembleng dirinya. Sehingga Fitorio pun dapat memastikan, Falhana tidak seperti yang dirinya pikirkan.
Selama tiga tahun, Fitorio belajar di bawah bimbingan Falhana dan menunjukkan bakat yang luar biasa. Hanya dalam waktu dua tahun, dia telah menguasai seluruh kemampuan warisan Falhana. Mulai dari ilmu kedokteran, seni bela diri, dan pengetahuan-pengetahuan luhur lain.
Dua tahun kemudian, Falhana keluar dari penjara. Waktu itu, ia pun mendapuk Fitorio menjadi penguasa Penjara Kamvata selanjutnya.
“Kamu adalah ‘Falhana’ yang baru di sini,” kata sang guru.
Setelah menjadi Falhana selama sekian lama tanpa menurunkan ilmu-ilmu yang dirinya dapatkan pada siapapun, kini saatnya bagi Fitorio untuk bebas dari penjara.
Hari itu, Fitorio berjalan di gang sel tempat dirinya ditahan selama ini, diiringi oleh empat orang dengan tudung kepala hitam. Sementara, napi-napi lain berjajar di samping kanan dan kirinya. Berdiri di depan sel mereka masing-masing, para tahanan itu pun merunduk.
“Hormat kami, Falhana!”
Di depan Fitorio tampak berdiri beberapa orang. Kemudian, seorang pria setengah baya yang mengenakan baju hitam pun maju ke hadapan Fitorio. Dia berlutut dengan sebelah kaki, seraya menyodorkan setumpuk dokumen dalam map.
“Tuan Falhana, aku Demito Kusumo, selaku pemilik Grup Kusumo menghibakan seluruh bisnis keluargaku untuk dikuasai olehmu!”
Memandang orang tua yang bersimpuh di hadapannya sejurus, Fitorio pun mengambil alih map yang berada di tangan Demito.
“Terima kasih, Demito,” ucap Fitorio.
Demito berdiri. Dia tampak tersenyum puas lagi lega. Kemudian, kelompok pria lain yang ada di sana mendatangi Fitorio. Mereka adalah para anggota Kelompok Tentara Bayaran Foz, Persekutuan Tengkorak, dan Asosiasi Obat Havara.
“Selamat menikmati hari kebebasanmu, Tuan Falhana,” ucap mereka bergantian.
“Tuan Falhana…!”
Di momen yang tampak resmi tersebut, seorang seorang pria berambut panjang dengan sentengah berlari tiba di sana dan langsung bertelut di hadapan Fitorio.
“Tuan, aku membawa sebuah kabar untukmu,” kata laki-laki berambut gondrong itu.
“Ada apa Handry?” tanya Fitorio.
“Tuan, seseorang di Negara Gemilang tidak ingin Anda melenggang pergi dari sini dan mengerahkan militer untuk mencegah kepergian Anda!” jawab Handry.
“Tenang, Handry. Biar aku hadapi mereka,” pasti Fitorio kalem saja.
Di luar Penjara Kamvata. Tampak ada sebuah mobil sport mewah berwarna hitam terparkir di halaman rumah tahanan tersebut.
Ada seorang pria dan wanita duduk di dalamnya. Mereka tampak tengah bermesraan. Bibir keduanya saling terpaut, sedang tangan si pria menggerayangi tubuh pasangannya. Kemudian, mereka saling menjauh.
“Kamu memang adalah perempuan paling seksi yang pernah aku temui, Liviana sayang!” puji si pria.
“Aku akan memastikan padamu bahwa kau tidak salah memilih pasangan, Theodoro!” balas perempuan itu dengan senyum genit.
Ya, wanita itu adalah Liviana, istri dari Fitrio dan Theodoro, putra orang terkaya di Kota Loxera. Benar. Liviana memang telah lama berselingkuh dari Fitrio.
“Jadi, apa yang akan kamu sampaikan pada calon mantan suamimu itu, Liviana?” tanya Theodoro.
“Aku akan menyuruh dia menandatangi surat perceraian tentu saja. Setelah itu—”
Liviana tidak sempat meneruskan kata-katanya, tatkala tanah tiba-tiba bergetar. Ternyata, beberapa kendaraan pejabat militer Negara Gemilang diikuti barisan kendaraan lapis baja tiba di sana.
Kaisar Perang Naga Selatan dan Kaisar Perang Naga Utara turun dari tumpangan mereka. Di belakang mereka, tiga orang Raja Perang dan sembilan orang Marsekal Perang juga keluar dari kendaran mereka.
Lalu, para perwira tinggi itu berjalan menuju pintu Penjara Kamvata…
Daftar bab
118 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
118 bab








