

Kesadaran itu datang perlahan, seperti kabut tebal yang perlahan tersibukkan oleh cahaya matahari pagi. Ribuan tahun lamanya, Arka Ganendra hanya mengenal kegelapan yang sunyi, tempat di mana jiwanya terbaring, terlempar melintasi ruang dan waktu setelah pengkhianatan paling kejam dalam sejarah alam kultivasi. Tubuh aslinya hancur menjadi debu di puncak Gunung Langit Terakhir, dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang menginginkan posisi Kaisar Pedang Abadi. Namun jiwanya, yang telah ditempa oleh ribuan tahun kultivasi, menolak untuk musnah. Ia melayang, melintasi batas dimensi, hingga akhirnya tertarik pada sebuah cahaya lemah — kehidupan yang masih menyala dalam tubuh yang nyaris padam.
Dan kini, ia terbangun.
Arka membuka mata perlahan. Pandangannya kabur sejenak sebelum fokus, dan apa yang ia lihat membuatnya tertegun hening.
Di atasnya bukan langit kelam yang dipenuhi aura pertempuran, bukan pula atap kuil kuno tempat ia biasa bertapa. Yang terlihat hanyalah langit-langit semen yang catnya mengelupas di sana-sini, memperlihatkan retakan halus seperti peta kuno yang terlupakan. Bau apek campuran debu dan bau cat lama menusuk hidungnya. Di kejauhan, terdengar suara bising tak henti-hentinya, klakson kendaraan, deru mesin, teriakan orang-orang yang berlalu-lalang di jalan raya. Bukan suara hewan buas pegunungan atau aliran sungai suci yang biasa ia dengar.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, dan keningnya langsung berkerut kencang. Lemah. Tulang-tulangnya terasa rapuh, seolah bisa patah hanya dengan sedikit tekanan. Aliran Qi di dalam tubuhnya nyaris kering kerontang, tersisa hanya secercah energi jiwa yang menjaga kesadarannya tetap utuh. Dengan susah payah, ia duduk di atas kasur tipis yang pegasnya sudah menonjol di sana-sini. Matanya menyapu ruangan sempit itu.
Sebuah lemari kayu reyot di sudut, pintunya sudah lepas engselnya. Di atas meja kecil dekat tempat tidur, ada sebuah benda pipih berwarna hitam yang memancarkan cahaya redup, serta sebuah gelas berisi sisa air dingin. Di dinding, tergantung kalender dengan angka-angka aneh — 2026.
Arka mengerjap, bingung. Ia meraba dadanya, dan jemarinya menyentuh kain kasar yang sama sekali berbeda dari jubah sutra kebesaran Kaisar Pedang yang biasa ia kenakan. Ia mengenakan kemeja lengan pendek yang warnanya sudah pudar, dan celana panjang kain yang nyaman namun jauh dari gagah.
“Di mana ini?” gumamnya. Suaranya terdengar parau, pecah, dan sama sekali bukan suara berwibawa yang bisa membuat gunung bergetar.
Tiba-tiba, potongan ingatan asing menyerbu masuk ke dalam benaknya, ingatan yang bukan miliknya.
Arka, pemuda yang tubuhnya kini ia tempati. Seorang yatim piatu yang bekerja serabutan sebagai pengantar makanan demi membayar sewa tempat tinggal dan menumpuk sedikit tabungan. Tiga hari lalu, saat mengantar pesanan di tengah hujan deras, ia tertabrak motor yang melaju kencang. Tubuhnya terpental, kepalanya membentur trotoar keras, dan sejak saat itu terbaring koma, nyaris menyeberang ke alam baka, hingga jiwa Sang Kaisar Pedang masuk dan menyatu dengan sisa-sisa kehidupan yang tersisa.
Jadi begini... ribuan tahun terlewat, dan dunia telah berubah total. Ia tidak lagi berada di alam kultivasi tempat para ahli bela diri memperebutkan setiap jengkal sumber daya langit dan bumi. Ia terbangun di dunia yang menyebut dirinya abad 21, tempat di mana manusia bisa terbang tanpa sayap, berbicara dari jarak ribuan li tanpa pembawa pesan roh, dan memindahkan gunung tanpa perlu mengerahkan kekuatan pedang.
Dan yang paling penting: Kaisar Pedang Abadi yang ditakuti seluruh alam kini hanyalah seorang pemuda miskin, kurus, lemah, yang tinggal di kontrakan sempit di pinggir kota, dengan dompet yang isinya bahkan tidak cukup untuk membeli semangkuk bubur hangat.
Tawa kecil yang getir lolos dari bibir Arka. Kalau para musuh lamanya melihatnya sekarang, pasti mereka akan mati tertawa sebelum sempat membunuhnya.
Belum sempat ia merenung lebih jauh, suara ketukan keras dan kasar terdengar dari pintu kayu yang sudah kusam itu.
“Arka! Kau masih hidup di dalam sana?!” Suara laki-laki kasar, penuh ketidaksabaran.
Arka mengerutkan kening. Ia perlahan bangkit, kakinya terasa goyah saat menyentuh lantai semen dingin. Ia berjalan pelan menuju pintu, menarik gagang berkarat itu hingga terbuka.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria gemuk dengan wajah merah padam dan perut buncit yang menonjol di balik kemeja kancing terbuka. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya berkacak pinggang melotot tajam, Bu RT yang terkenal galak.
“Nah, akhirnya bangun juga!” seru pria gemuk itu, Pak Rian, pemilik kontrakan, sesuai ingatan tubuh ini. “Kukira kau udah mati di dalam, bikin aku rugi bersih. Bagaimana? Mana uang sewa bulan ini? Sudah telat sepuluh hari, tahu!”
Arka menatapnya datar. Di mata batinnya yang masih tersisa, ia bisa melihat dengan jelas, pria ini tidak berbahaya, tidak ada setitik pun energi bela diri di tubuhnya. Hanya manusia biasa yang lapar uang. Dulu, satu tatapan dingin darinya sudah cukup untuk membuat raja-raja berlutut dan menyerahkan seluruh harta kerajaan mereka. Tapi sekarang... ia menunduk menatap telapak tangannya yang kurus dan kotor. Qi-nya terlalu lemah. Ia bahkan belum bisa mengangkat benda berat, apalagi menekan orang dengan aura Kaisar.
“Belum punya uangnya,” jawab Arka tenang, suaranya tetap rendah namun entah kenapa memancarkan ketenangan yang aneh. “Beri aku waktu beberapa hari lagi.”
Pak Rian langsung meledak. “Waktu?! Kau bilang waktu lagi? Bulan lalu kau bilang begitu, bulan depannya lagi sama! Jangan kira karena kau baru kecelakaan aku bisa kasihan terus! Kalau besok pagi uangnya belum ada, keluar dari sini! Bawa semua barang rongsokanmu!”
“Tapi aku baru saja pulih...” Arka mencoba bernegosiasi — sesuatu yang tak pernah ia lakukan selama ribuan tahun hidupnya.
“Bukan urusanku!” Pak Rian meludah ke samping, wajahnya semakin merah. “Pokoknya bayar atau angkat kaki! Mengganggu pemandangan saja, anak muda malas pengangguran!”
Bu RT di belakangnya ikut menimpali, “Benar kata Pak Rian. Orang muda sekarang memang banyak yang gak mau usaha. Tiap hari cuma tidur dan ngeluh. Kasihan sekali nasib Pak Rian punya penyewa begini.”
Arka merasakan aliran darahnya sedikit mendidih, bukan karena marah yang meledak-ledak, tapi rasa geli yang luar biasa. Kaisar Pedang Abadi, penguasa puncak alam kultivasi, kini dihina dan diusir oleh dua orang biasa yang bahkan tidak tahu cara membedakan Qi dengan angin kipas. Kalau kekuatannya masih utuh... ah, sudahlah. Sekarang ia hanyalah Arka, pemuda miskin yang sedang belajar hidup kembali dari nol.
Ia menarik napas panjang, menahan emosi yang tak berguna. “Baik. Aku akan cari uangnya. Silakan kembali dulu, Pak Rian, Bu RT.”
Tanpa menunggu jawaban, Arka menutup pintu pelan namun pasti di depan wajah mereka. Di luar, masih terdengar omelan panjang lebar Pak Rian yang perlahan menjauh, disertai gumaman Bu RT yang tak kalah pedas.
Arka bersandar di balik pintu, menatap ruangan sempitnya sekali lagi. Uang. Pekerjaan. Tagihan. Konsep-konsep asing yang kini menjadi prioritas hidupnya.
Ia berjalan kembali ke meja, mengambil benda pipih hitam yang tadi ia perhatikan. Benda itu terasa dingin dan licin di tangan. Saat jemarinya menyentuh permukaannya, layarnya menyala, menampilkan deretan ikon dan tulisan yang membuatnya terbelalak.
“Benda apa ini? Apakah ini artefak roh kuno yang tersisa dari peradaban hilang? Kenapa bisa menyala sendiri dan menampilkan gambar bergerak?” gumam Arka dengan mata berbinar polos. Ia membolak-balik ponsel pintar itu, mengetuk-ngetuk layarnya seolah sedang memeriksa permata langka. “Energi di dalamnya stabil, presisinya luar biasa... dunia ini ternyata menyimpan teknologi yang setara dengan artefak tingkat tinggi. Luar biasa!”