
Istriku memiliki dua hati
Dewi.Fortuna|Bersambung
- Jumlah kata
- 67.0K
- Popular
- 118
- Subscribe
- 34
- Jumlah kata
- 67.0K
- Popular
- 118
- Subscribe
- 34
Sinopsis
Adrian merasa hidupnya sempurna sejak menikahi Arini, seorang kurator seni yang anggun, lembut, dan penurut. Bagi Adrian, Arini adalah definisi istri idaman yang menenangkan jiwanya di tengah penatnya dunia kerja. Namun, keharmonisan rumah tangga mereka mulai retak ketika Arini menunjukkan perubahan perilaku yang drastis secara misterius. Saat matahari tenggelam, kelembutan Arini menguap tanpa bekas. Ia menjelma menjadi Diana sosok wanita yang liar, manipulatif, berani secara sensual, dan tidak ragu bermain api. Adrian yang awalnya mengira sang istri berselingkuh, perlahan menyadari kenyataan yang jauh lebih mengerikan: ada dua jiwa yang terjebak dalam satu tubuh istrinya. Di satu sisi, Adrian ingin menyelamatkan Arini, cinta sejatinya yang kini kian rapuh dan tersiksa oleh kondisi psikologisnya. Namun di sisi lain, pesona gelap dan gairah pekat yang ditawarkan oleh Diana mulai menjerat ego maskulin Adrian ke dalam zona terlarang yang memabukkan. Di tengah badai rahasia masa lalu Arini yang perlahan terkuak, Adrian harus menghadapi pilihan tersulit dalam hidupnya. Apakah ia mampu menyembuhkan Arini dan mengusir "pihak ketiga" di dalam tubuh istrinya? Atau justru Adrian sendiri yang akan memilih layu dan tenggelam dalam pelukan Diana, sang pemilik hati yang lain?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Jam Dinding yang Berdenting Dua Kali
Aroma kopi arabika dan kayu manis selalu menjadi ciri khas pagi hari di rumah kami. Dan pagi ini, seperti ribuan pagi sebelumnya selama lima tahun pernikahan kami, Arini berdiri di dekat jendela dapur. Sinar matahari pukul tujuh menembus gorden tipis, membingkai tubuhnya yang ramping dalam balutan silk robe berwarna pastel. Ia tampak begitu sempurna, begitu tenang, seolah tidak ada satu pun badai di dunia ini yang bisa mengusik dunianya.
Aku, Adrian, selalu menganggap diriku sebagai pria paling beruntung karena memiliki Arini. Dia adalah definisi istri idaman: cerdas, lembut, seorang kurator seni dengan selera kelas atas, dan wanita yang selalu tahu cara meredam emosiku hanya dengan satu sentuhan jemarinya yang dingin.
Namun, beberapa bulan terakhir, ada sesuatu yang bergeser. Sebuah celah tak kasatmata yang perlahan melebar di antara kami.
"Kopi hitam tanpa gula, kan?" suara Arini memecah keheningan. Ia berbalik, memamerkan senyum tipis yang selalu berhasil membuat jantungku berdesir, meski kami sudah bertahun-tahun hidup bersama.
"Ya, terima kasih, Sayang," jawabku sembari melipat koran digital di tablet milikku.
Arini melangkah mendekat, menyerahkan cangkir porselen putih itu kepadaku. Namun, saat jemari kami bersentuhan, ada sesuatu yang ganjil. Ia tidak segera menarik tangannya. Matanya yang biasanya jernih dan teduh, tiba-tiba menatapku dengan intensitas yang berbeda. Ada kilat yang asing di sana sesuatu yang liar, berani, dan menantang. Tatapan yang belum pernah kulihat dari seorang Arini yang pemalu.
"Ada apa?" tanyaku, agak terkesiap oleh tatapannya.
Arini mengerjipkan mata. Dalam sekejap mata, kilat asing itu lenyap, digantikan oleh kelembutan yang biasa. "Tidak ada. Kamu hanya... terlihat lelah belakangan ini. Apa proyek di kantor begitu menyiksamu?"
"Hanya penyesuaian anggaran akhir tahun. Biasalah," aku menyesap kopiku, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang mendadak menyergap tengkukku.
Arini terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar sedikit terlalu renyah dari biasanya. "Jangan terlalu keras bekerja, Adrian. Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan di balik kubikal kaca."
Kata-katanya terdengar biasa, namun intonasinya... ada nada sensual dan dingin yang berbaur menjadi satu. Aku memperhatikannya berjalan kembali ke arah meja konter. Cara berjalannya hari ini terasa berbeda. Biasanya Arini melangkah dengan anggun dan pelan, hampir tanpa suara. Tapi hari ini, pinggulnya bergerak dengan ritme yang lebih tegas, lebih... menggoda secara terang-terangan.
Aku menggelengkan kepala. Mungkin aku hanya kelelahan, pikirku mencoba rasional.
Rahasia di Balik Ruang Kerja
Sebagai seorang arsitek lanskap senior, waktuku banyak tersita di luar rumah. Namun, belakangan ini aku sengaja pulang lebih cepat. Bukan karena pekerjaanku berkurang, melainkan karena rasa penasaran yang mulai menggerogoti waras hatiku.
Arini sering menghilang. Bukan menghilang secara fisik keluar rumah, melainkan mengunci diri di ruang kerja pribadinya di lantai dua sebuah ruangan yang dulunya adalah studio lukis kecil, namun kini bertransformasi menjadi tempat yang paling terisolasi di rumah ini.
Malam itu, jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali, menandakan pukul dua dini hari. Aku terbangun karena sisi ranjang di sebelahku terasa dingin dan kosong.
Aku menghela napas, menyibak selimut, dan berjalan keluar kamar. Rumah kami begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jarum jam yang monoton. Ketika aku melewati lorong lantai dua, aku melihat seberkas cahaya lampu yang keluar dari celah bawah pintu ruang kerja Arini.
Aku melangkah mendekat tanpa alas kaki, meminimalkan suara.
Dari dalam ruangan, terdengar suara bisikan. Jantungku berdegup kencang. Apakah Arini sedang menelepon seseorang? Selingkuh? Pikiran klise itu langsung menyergap benakku, membakar dadaku dengan rasa cemburu yang membara.
Aku menempelkan telingaku ke pintu kayu yang tebal itu.
"Kamu tidak bisa terus-menerus bersembunyi di belakangku," terdengar suara Arini. Tapi gunamannya terdengar aneh. Suaranya lebih berat, bernada tajam dan penuh kepahitan.
Lalu, keheningan mencekam selama beberapa detik, sebelum suara Arini terdengar lagi namun kali ini, nadanya berubah total menjadi rapuh, ketakutan, dan terisak. "Tolong, jangan sekarang. Adrian ada di rumah. Dia bisa curiga."
"Dia terlalu bodoh untuk menyadarinya, Arini. Pria itu hanya mencintai topengmu, bukan dirimu yang sebenarnya."
Napas utamaku tertahan di tenggorokan. Suara kedua itu... itu juga suara Arini, tapi dengan intonasi, diksi, dan getaran emosi yang sama sekali berbeda. Seolah-olah ada dua orang wanita dewasa yang sedang berdebat sengit di dalam ruangan sempit itu, memperebutkan satu tubuh yang sama.
Dengan tangan gemetar, aku memegang kenop pintu. Sial, dikunci dari dalam.
"Arini?" panggilku sambil mengetuk pintu agak keras. "Sayang, kamu di dalam? Kamu bicara dengan siapa?"
Seketika itu juga, segala suara di dalam ruangan terhenti. Sunyi senyap, menyisakan deru napasku yang memburu di lorong yang gelap.
Beberapa menit berlalu yang terasa seperti keabadian, hingga akhirnya terdengar bunyi klik kunci diputar. Pintu terbuka perlahan.
Arini berdiri di sana. Rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini terurai berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Ia mengenakan gaun malam satin merah tua gaun yang belum pernah kulihat sebelumnya, dan sejujurnya, terlalu berani untuk seleranya yang biasanya konservatif.
"Adrian..." suaranya terdengar serak, matanya sayu dan bengkak seperti habis menangis hebat. "Kenapa kamu belum tidur?"
Aku melongokkan kepala ke dalam ruangan di belakangnya. Kosong. Tidak ada komputer yang menyala, tidak ada ponsel di tangannya. Hanya ada sebuah cermin besar berkaki perak yang diletakkan di tengah ruangan, menghadap langsung ke arah pintu.
"Kamu... kamu bicara dengan siapa tadi, Arini? Aku mendengar suara lain," tanyaku langsung, menatap matanya dalam-dalam, mencari kebohongan.
Arini memaksakan sebuah senyuman, sebuah senyuman yang terlihat begitu lelah dan menyedihkan hingga membuat hatiku ngilu. Ia menyentuh dadaku dengan telapak tangannya yang sedingin es.
"Aku hanya... sedang melatih dialog untuk pameran teater amal minggu depan, Sayang. Aku kebagian peran antagonis, dan aku kesulitan mendalaminya. Apa aku membangunkanmu? Maafkan aku."
Logikaku berteriak bahwa penjelasannya masuk akal. Arini memang tergabung dalam komite seni kota dan mereka sedang mempersiapkan acara penggalangan dana. Tapi, insting lakilakiku, insting seorang suami yang telah menyentuh setiap jengkal tubuh dan jiwanya, menolak mentah-mentah alasan itu. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang disembunyikannya.
"Kamu yakin hanya itu?" bisikku, merengkuh pinggangnya, menarik tubuhnya mendekat demi mencari kehangatan yang mendadak hilang dari hubungan kami.
Arini menyandarkan kepalanya di dadaku. "Ya... hanya itu. Aku hanya milikmu, Adrian. Selalu."
Namun, saat aku mengecup puncak kepalanya, mataku tak sengaja menatap pantulan kami di cermin besar di dalam ruangan. Di dalam cermin yang remang-remang itu, Arini tidak sedang memejamkan mata. Pantulan dirinya di cermin sedang menatapku tajam, dengan senyum seringai yang dingin dan penuh kemenangan yang membuat bulu kudukku merinding.
Dua Sisi Mata Uang
Seminggu setelah kejadian malam itu, ketegangan di rumah kami bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi. Arini seolah bertransformasi menjadi dua orang yang berbeda dalam siklus waktu yang tidak menentu.
Di siang hari, dia adalah Arini-ku. Wanita yang lembut, yang mengirimkan pesan teks penuh perhatian, yang memasak makan malam dengan penuh cinta. Namun, begitu matahari tenggelam dan kegelapan menguasai kota, atmosfer di rumah kami berubah total.
Malam Jumat itu, aku pulang larut malam setelah pertemuan bisnis yang melelahkan. Rumah dalam keadaan gelap gulita, kecuali lampu remang-remang di area ruang tamu.
Saat aku melangkah masuk, bau wangi parfum yang menyengat langsung menyambut penciumanku. Itu bukan wangi melati atau vanila yang biasa dipakai Arini. Ini adalah wangi black musk yang berat, sensual, dan memabukkan.
Di atas sofa kulit hitam di ruang tamu, Arini sedang duduk menyilangkan kaki.
Aku terpaku di ambang pintu. Ia mengenakan gaun hitam ketat dengan potongan dada rendah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Bibirnya dipulas lipstik merah menyala yang tampak kontras dengan kulitnya yang putih porselen. Di jemarinya, terselip sebatang rokok yang menyala sesuatu yang sangat di benci oleh Arini yang asli karena dia memiliki asma.
"Kau pulang terlambat, Tampan," sapanya. Suaranya berat, serak, dan penuh dengan daya pikat yang pekat.
Ia tidak memanggilku 'Adrian' atau 'Sayang'. Ia memanggilku 'Tampan' dengan nada mencemooh sekaligus menggoda.
"Arini... sejak kapan kamu merokok?" tanyaku dengan suara tertahan, melangkah mendekat dan langsung merebut rokok itu dari jarinya, lalu mematikannya di asbak. "Dan apa-apaan pakaian ini?"
Arini tidak marah. Ia justru tertawa renyah, tawa yang terdengar begitu seksi namun sekaligus mengirimkan sinyal bahaya ke otakku. Ia berdiri, melangkah mendekatiku dengan gerakan yang sangat sensual, mengabaikan jarak aman di antara kami.
"Kenapa? Kamu tidak suka?" bisiknya tepat di depan bibirku. Napasnya yang beraroma tembakau dan mint menerpa wajahku. "Jangan munafik, Adrian. Aku tahu ini yang sebenarnya kamu inginkan dari seorang wanita. Bukan si wanita suci membosankan yang kamu nikahi itu."
Jantungku berdegup kencang, bukan hanya karena marah, tapi karena gairah primitif yang mendadak tersulut oleh provokasinya. Sisi gelap dalam diriku tidak bisa menyangkal bahwa penampilan Arini malam ini sangat merangsang. Namun, akal sehatku menolak untuk menyerah pada kegilaan ini.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyaku, mencengkeram kedua bahunya dengan agak keras. "Apa yang terjadi padamu, Arini?!"
Wanita di hadapanku ini menatap cengkeramanku di bahunya, lalu mendongak menatap mataku dengan tatapan menantang yang amat pekat.
"Panggil aku... Diana," bisiknya menantang, sebelum tiba-tiba ia meredam jarak di antara kami dan menciumku dengan liar.
Ciuman yang Mengoyak Jiwa
Itu bukan ciuman Arini. Ciuman Arini selalu lembut, penuh kepatuhan, dan kasih sayang yang tulus. Ciuman dari wanita yang menamakan dirinya 'Diana' ini adalah sebuah invasi. Ia menggigit bibir bawahku hingga berdarah, menyesap rasa asin logam itu dengan kepuasan yang aneh. Lidahnya menuntut, tangannya mencengkeram rambut di tengkukku dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran wanita seukurannya.
Untuk beberapa detik yang krusial, aku kehilangan kendali diri. Gairah dewasa yang pekat menguasai logikaku. Aku membalas ciumannya, mendorong tubuhnya hingga tersandar di dinding ruang tamu, meraba lekuk tubuhnya yang terbungkus gaun ketat itu dengan hasrat yang membara. Ada sensasi terlarang yang begitu kuat, seolah-olah aku sedang berselingkuh dengan orang asing, namun di dalam tubuh istriku sendiri.
Namun, tepat ketika tanganku hendak menyibak gaunnya lebih tinggi, wanita itu tiba-tiba menegang.
Pekikan kecil keluar dari tenggorokannya. Ciuman kami terputus.
Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, tubuhnya merosot ke lantai, berlutut sambil mengerang kesakitan.
"Arini! Ada apa?!" aku langsung berlutut di sampingnya, kepanikan langsung menggantikan gairah yang sempat membakar beberapa detik lalu.
"Sakit... Adrian, kepalaku sakit sekali..." ratapnya. Dan kali ini, itu adalah suara Arini yang asli. Suara yang rapuh, ketakutan, dan murni. Tangisannya pecah. Ia memelukku dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dadaku, tubuhnya bergetar hebat seperti anak kecil yang ketakutan di tengah badai.
"Hei, hei, aku di sini. Aku di sini, Sayang," aku mendekapnya erat, mengusap punggungnya yang polos karena potongan gaun malam itu.
Di dalam pelukanku, Arini terus menangis hingga perlahan energinya habis dan ia jatuh pingsan karena kelelahan emosional yang luar biasa.
Aku mengangkat tubuhnya yang terasa begitu ringan, membawanya ke kamar tidur kami di lantai atas. Setelah membaringkannya dan menyelimutinya hingga dada, aku duduk di tepi ranjang, menatap wajahnya yang tertidur dalam kegelapan. Sisa lipstik merah menyala yang berantakan di bibirnya menjadi bukti bisu dari kegilaan yang baru saja terjadi.
Aku menyentuh bibirku sendiri yang masih terasa perih akibat gigitannya.
Istriku, Arini, wanita yang kukira paling kukenal di dunia ini, ternyata menyimpan sebuah rahasia besar di dalam jiwanya. Sebuah labirin gelap di mana ada jiwa lain yang hidup, bertumbuh, dan kini mulai menuntut bagian untuk menguasai tubuhnya.
Aku menyadari satu hal dengan kepastian yang mengerikan malam itu: pernikahanku tidak lagi diisi oleh dua orang. Ada pihak ketiga yang tak kasatmata, yang memiliki kunci menuju sisi tergelap dari istriku. Dan aku harus memilih, apakah aku akan menyelamatkan Arini, atau ikut tenggelam bersama Diana ke dalam jurang kegilaan yang penuh gairah ini.
Jam dinding di lorong kembali berdentang. Dua kali. Menandakan misteri yang baru saja dimulai.
Daftar bab
58 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








