Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
MAWAR HITAMKU

MAWAR HITAMKU

BMS Art & Writer | Bersambung
Jumlah kata
84.3K
Popular
150
Subscribe
60
Novel / MAWAR HITAMKU
MAWAR HITAMKU

MAWAR HITAMKU

BMS Art & Writer| Bersambung
Jumlah Kata
84.3K
Popular
150
Subscribe
60
Sinopsis
PerkotaanAksiMafiaPertualanganKonglomerat
MAWAR HITAMKU Karya: BMS Art & Writer Dia dijuluki Mawar Hitam. Wanita tercantik di kota sekaligus wanita yang paling ditakuti. Di balik gaun mahal, senyum elegan, dan tatapan dinginnya, tersembunyi sebuah dunia gelap yang membuat banyak orang memilih menundukkan kepala daripada berhadapan dengannya. Aku hanyalah mahasiswa biasa. Hidupku sederhana, sampai sebuah pertemuan tak sengaja di tengah hujan membawaku masuk ke dalam dunianya. Awalnya aku hanya ingin menolong seorang wanita asing yang terlihat terluka. Aku tidak tahu bahwa wanita itu adalah orang yang selama ini hanya berani dibicarakan dalam bisikan. Sejak pertemuan itu, hidupku berubah. Dia melindungiku dengan cara yang tidak masuk akal. Dia mengawasiku. Dia mencemburuiku. Bahkan, perlahan-lahan, dia mulai menganggapku sebagai satu-satunya orang yang boleh berada di sisinya. Semua orang menyuruhku menjauh. Logikaku mengatakan aku harus pergi dan melaporkannya kepada polisi. Namun hatiku justru semakin sulit mengingkari perasaan yang tumbuh setiap kali berada di dekatnya. Bagaimana rasanya berpacaran dengan seorang penjahat? Rasanya seperti mencintai bunga yang indah dengan duri beracun. Kau tahu satu kesalahan bisa menghancurkan hidupmu. Namun kau tetap ingin menggenggamnya. Masalahnya, semakin dalam aku mengenal Mawar Hitam, semakin aku menyadari bahwa di balik kekejamannya tersimpan luka masa lalu yang tidak pernah sembuh. Aku ingin menyelamatkannya. Tetapi untuk menyelamatkan seseorang dari dunia gelap, terkadang kau harus berani masuk ke dalam kegelapan itu sendiri. Dan sekarang aku harus memilih. Tetap menjadi orang baik dan meninggalkan wanita yang kucintai... atau menggenggam tangannya dan memasuki dunia gelap yang mungkin tidak akan pernah membiarkanku kembali. Karena mungkin, pada akhirnya, bukan aku yang akan mengubah Mawar Hitam. Mungkin justru dia yang akan mengubahku.
BAB 1 — PERTEMUAN DI TENGAH HUJAN

Hujan turun begitu deras malam itu.

Bukan hujan yang sekadar membasahi jalan lalu reda beberapa menit kemudian. Sejak sore, langit Jakarta memang sudah gelap. Ketika Rony keluar dari kampus, hujan justru semakin deras. Air mengalir di tepi trotoar, lampu kendaraan berpendar di atas genangan, dan suara mesin bercampur dengan bunyi air yang menghantam aspal.

Rony mempercepat langkah.

Ransel hitam di punggungnya mulai basah. Jaket tipis yang dikenakannya juga sudah tidak banyak membantu.

Ia melirik ponsel.

Baterai tinggal dua belas persen.

"Bagus."

Rony menghela napas.

Uang di dompetnya juga tinggal sedikit. Tadi ia baru membayar fotokopi bahan skripsi dan membeli nasi bungkus sebelum pulang.

Naik taksi online?

Tidak mungkin.

Ia memilih berjalan menuju halte yang masih beberapa ratus meter lagi.

Baru sekitar dua menit berjalan, terdengar suara benda jatuh dari arah gang kecil di samping deretan ruko.

Brak!

Rony spontan menoleh.

Sebuah sedan hitam berhenti dengan pintu belakang terbuka. Dua laki-laki berdiri di dekat pintu itu.

Di antara mereka ada seorang perempuan.

Perempuan itu berusaha melepaskan tangannya.

"Lepaskan."

Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas terdengar di tengah hujan.

Salah seorang pria justru menarik lengannya lebih kuat.

"Non, jangan bikin susah."

Rony berhenti.

Ia memperhatikan beberapa detik.

Mungkin bukan urusannya.

Mungkin perempuan itu memang mengenal mereka.

Tetapi ketika perempuan tersebut kembali berusaha melepaskan diri dan salah seorang pria mulai menyeretnya ke arah mobil, Rony berbalik.

"Hei!"

Ketiga orang itu menoleh.

Rony berjalan mendekat.

"Dia bilang lepaskan."

Pria yang lebih besar menatapnya.

"Pergi."

Rony berhenti beberapa meter dari mereka.

"Saya cuma bilang, dia sudah minta dilepaskan."

"Ini bukan urusanmu."

"Kalau memang bukan urusan saya, kenapa dia dipaksa masuk mobil?"

Pria itu maju.

"Anak muda, jangan cari masalah."

Rony melihat ke arah perempuan itu.

Wajahnya pucat. Rambut panjangnya basah dan menempel di pipi. Ia tampak tenang, tetapi sorot matanya terus mengawasi kedua pria tersebut.

Rony kembali menatap pria di depannya.

"Kalau dia mau ikut, saya pergi."

Perempuan itu langsung menjawab.

"Aku tidak mau."

Jawaban itu cukup.

Rony meletakkan ranselnya di trotoar.

Gerakannya membuat pria tadi menyeringai.

"Kamu mau berkelahi?"

"Kalau kalian tetap memaksanya."

Pria itu mengangkat bahu.

"Anak kampus."

Ia maju dan mendorong dada Rony.

Rony mundur setengah langkah.

Ia masih menahan diri.

"Jangan sentuh saya."

Pria itu tertawa.

Kemudian pukulan pertama melayang.

Rony menghindar.

Pukulan itu lewat beberapa sentimeter dari wajahnya.

Gerakannya cepat dan spontan.

Tangannya langsung menangkap pergelangan lawan, sementara tubuhnya berputar mengikuti arah serangan. Ia memutar lengan pria itu ke belakang.

"Ah!"

Rony mendorongnya hingga terhuyung.

"Sudah saya bilang."

Pria kedua langsung menyerang dari samping.

Rony melihat gerakannya dari sudut mata.

Ia menunduk.

Pukulan itu meleset.

Rony membalas dengan satu dorongan keras pada bahu lawannya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh di genangan air.

Rony mundur.

Tidak mengejar.

Ia hanya berdiri di antara kedua pria itu dan perempuan yang sejak tadi diam.

"Sudah. Pergi."

Pria yang pertama bangkit sambil memegangi lengannya.

"Kamu rupanya bisa juga."

Rony tidak menjawab.

Ia hanya memasang kuda-kuda.

Bukan gaya orang yang mencari keributan.

Lebih seperti seseorang yang siap menghadapi serangan berikutnya.

Sejak remaja, Rony memang berlatih bela diri di sebuah perguruan kecil dekat rumah. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa kemampuan itu akan digunakan malam ini.

Pria tadi maju lagi.

Kali ini lebih hati-hati.

Ia mengayunkan pukulan ke arah kepala.

Rony menepis lengannya, lalu memanfaatkan momentum tubuh lawannya. Sebuah sapuan kaki membuat pria itu jatuh keras ke aspal.

Bruk!

Pria kedua melihat rekannya jatuh.

Ia tidak menunggu.

Tangannya masuk ke balik jaket.

Sebuah pisau muncul.

Perempuan itu langsung berseru,

"Hati-hati!"

Rony mundur.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Pisau bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Pria itu menyerang.

Rony menghindar ke samping. Ujung pisau menyambar udara di depan dadanya.

Serangan kedua datang.

Rony kembali mundur.

Ia menunggu.

Ketika lawannya kehilangan keseimbangan setelah menusuk terlalu jauh, Rony menendang pergelangan tangannya.

Pisau terlepas.

Clang!

Rony segera menendangnya menjauh.

Pria itu masih mencoba maju.

Rony menangkap lengannya dan menjatuhkannya ke tanah.

Kali ini ia tidak memberi kesempatan untuk bangun.

"Sudah cukup."

Pria tersebut meronta.

Rony menahan tubuhnya beberapa detik sampai akhirnya pria itu berhenti melawan.

Sementara pria pertama memilih berlari ke arah mobil.

Rony sempat hendak mengejar.

Namun ia berhenti.

Tidak perlu.

Yang penting perempuan itu aman.

Rony segera kembali.

"Kamu tidak apa-apa?"

Perempuan itu menatapnya.

Beberapa detik ia seperti tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku tidak apa-apa."

Rony melihat lengannya.

Ada bekas merah di pergelangan tangannya.

"Yakin?"

"Ya."

"Kita pergi dari sini."

"Aku bisa mengurus diriku sendiri."

Rony menatapnya.

"Saya percaya."

Ia mengambil ranselnya.

"Tapi dua orang tadi mungkin akan kembali."

Perempuan itu tidak menjawab.

Rony baru menyadari ada darah di tangan perempuan tersebut.

"Kamu terluka?"

Perempuan itu melihat telapak tangannya.

"Ini bukan darahku."

Rony menoleh ke arah dua pria yang masih terkapar.

Jawaban itu membuatnya semakin bingung.

"Kalau begitu tetap harus diperiksa."

"Aku tidak perlu rumah sakit."

"Baik."

Rony mengangkat kedua tangan.

"Saya tidak akan memaksa."

Ia melepaskan jaketnya.

"Ini."

Perempuan itu menatap jaket yang disodorkan kepadanya.

"Kamu sendiri?"

"Sudah basah dari tadi."

"Kamu akan kedinginan."

"Saya masih punya kaus."

Perempuan itu hampir tersenyum.

"Kamu selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Suka ikut campur."

Rony tertawa kecil.

"Tidak juga."

"Lalu kenapa tadi ikut campur?"

Rony melihat ke arah jalan.

"Karena saya lihat kamu dipaksa."

Sederhana.

Tidak ada kalimat heroik.

Tidak ada alasan lain.

Perempuan itu akhirnya menerima jaketnya.

"Terima kasih."

Rony mengangguk.

Hujan masih turun deras.

Mereka berdiri beberapa meter dari dua pria yang tadi menyerang.

Suasana tiba-tiba menjadi aneh.

Rony baru menyadari bahwa ia bahkan tidak tahu nama perempuan itu.

"Kalau boleh tahu, saya panggil kamu siapa?"

Perempuan itu terdiam sebentar.

"Aurel."

"Nama lengkap?"

"Aurel."

Jawabannya tegas.

Rony tersenyum.

"Baik. Aurel."

Ia tidak memaksa.

Perempuan itu justru balik bertanya.

"Kamu?"

"Rony."

"Rony?"

"Iya."

Perempuan itu menunggu.

Rony tertawa.

"Rony Adhyatma."

Aurel mengangguk perlahan.

Seolah sedang menyimpan nama itu dalam ingatan.

Belum sempat mereka berbicara lagi, sebuah sedan hitam datang dari arah jalan dan berhenti di depan mereka.

Pintu belakang terbuka.

Seorang pria tinggi turun sambil membawa payung.

"Non."

Aurel menoleh.

"Rafael."

Rafael segera mendekat.

"Anda baik-baik saja?"

"Aku tidak apa-apa."

Rafael melihat ke arah dua pria yang tergeletak.

Kemudian matanya beralih kepada Rony.

"Siapa dia?"

Aurel menjawab,

"Dia membantu."

Rafael menatap Rony beberapa detik.

"Anda yang melakukan ini?"

Rony melihat kedua pria tersebut.

"Saya cuma membela diri."

Rafael tidak berkata apa-apa.

Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi Aurel lebih dulu bertanya,

"Mobilmu?"

"Mobil?"

Aurel menunjuk ranselnya.

"Kamu mau pulang, kan?"

"Iya."

"Di mana?"

"Rawamangun."

"Aku antar."

Rony langsung menggeleng.

"Tidak perlu. Saya bisa ke halte."

Aurel menatapnya.

"Hujan seperti ini?"

"Sebentar lagi mungkin reda."

Aurel melirik langit.

"Sepertinya tidak."

Rony tersenyum.

"Kalau begitu saya tunggu."

Aurel menghela napas kecil.

"Naik."

Nada suaranya tegas.

Rony menatapnya.

Kemudian ia mengambil ransel.

"Baiklah."

Di dalam mobil, suasananya jauh lebih tenang.

Rony duduk di sebelah kiri. Aurel di sebelah kanan. Rafael menyetir.

Pendingin udara terasa dingin.

Rony memperhatikan jaketnya yang sekarang dipakai Aurel.

Entah mengapa ia merasa sedikit aneh melihat pakaian yang biasa dikenakannya berada di tubuh perempuan itu.

Aurel memecah keheningan.

"Kamu kuliah?"

"Iya."

"Semester berapa?"

"Sudah tingkat akhir."

"Jurusan?"

"Ilmu Hukum."

Aurel menoleh.

"Kenapa hukum?"

Rony berpikir sebentar.

"Entahlah. Mungkin karena dari dulu saya tidak suka melihat orang diperlakukan semena-mena."

Aurel tidak langsung menjawab.

"Berarti kamu ingin jadi pengacara?"

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Saya belum tahu."

Rony tersenyum.

"Yang jelas, saya ingin punya kemampuan untuk membela orang kalau suatu hari ada yang membutuhkan."

Aurel menatapnya.

Kali ini cukup lama.

Rafael memperhatikan melalui kaca spion.

Kemudian ia berkata,

"Non, sebaiknya kita tidak membawa orang luar terlalu dekat."

Aurel tidak menjawab.

Rony mendengar kalimat itu.

Ia memilih tidak ikut campur.

Mobil terus melaju menembus hujan.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di dekat sebuah halte.

Rony membuka pintu.

"Terima kasih."

Aurel mengangguk.

Rony turun.

Sebelum menutup pintu, Aurel memanggilnya.

"Rony."

Rony menoleh.

"Ya?"

"Jangan terlalu percaya kepada orang yang baru kamu kenal."

Rony tersenyum.

"Termasuk kamu?"

Aurel menatapnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Terutama aku."

Rony tertawa kecil.

"Baik."

Ia menutup pintu.

Mobil mulai bergerak.

Rony berdiri di bawah atap halte, memandang sedan hitam itu sampai menghilang di balik hujan.

Ia baru saja mengenal seorang perempuan bernama Aurel.

Tidak lebih.

Belum ada alasan baginya untuk memikirkan perempuan itu lebih jauh.

Namun di dalam mobil, Aurel ternyata sedang memikirkan hal yang sama sekali berbeda.

"Non."

"Ya?"

Rafael tetap memandang jalan.

"Dia cukup berani."

Aurel melihat keluar jendela.

"Ya."

"Dan bisa bela diri."

Aurel mengangguk.

"Kelihatannya begitu."

"Anda kenal dia sebelumnya?"

"Tidak."

Rafael terdiam.

"Jadi baru malam ini?"

"Ya."

Beberapa detik kemudian, Rafael bertanya,

"Anda tahu nama lengkapnya?"

Aurel menggeleng.

"Tadi dia menyebutnya."

"Rony Adhyatma."

Aurel mengulang nama itu pelan.

"Rony Adhyatma."

Rafael meliriknya.

"Perlu saya cari tahu?"

Aurel tidak langsung menjawab.

Ia melihat jaket yang masih dipakainya.

Ada aroma hujan dan sedikit aroma sabun dari pakaian itu.

Aurel menarik napas pelan.

"Kenapa?"

Rafael menunggu.

Aurel tersenyum kecil.

"Entahlah."

Ia memandang kembali ke luar jendela.

"Mungkin karena aku penasaran."

Mobil terus melaju.

Sementara itu, Rony berdiri sendirian di halte.

Ia tidak tahu bahwa dua orang yang tadi menyerang Aurel hanyalah bagian kecil dari masalah yang jauh lebih besar.

Ia juga tidak tahu bahwa perempuan yang baru dikenalnya malam itu memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupannya.

Yang Rony tahu hanya satu.

Malam ini ia melihat seseorang membutuhkan pertolongan.

Dan ia memilih untuk tidak pergi.

Untuk saat ini, itu sudah cukup.

Ia mengambil ponselnya.

Baterai tinggal delapan persen.

"Besok beli power bank," gumamnya.

Kemudian ia tertawa sendiri.

Hujan masih turun.

Dan Rony belum tahu bahwa sejak malam itu, hidupnya perlahan akan berubah.

Bukan karena ia mencari masalah.

Tetapi karena masalah telah lebih dulu menemukan dirinya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca