
- Jumlah kata
- 244.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 25
Sinopsis
Rava tidak pernah menyangka bahwa satu pertemuan akan mengubah seluruh hidupnya.Setelah memasuki sebuah perguruan yang menyimpan banyak rahasia, Rava mulai menemukan jejak tentang sebuah teknik terlarang yang seharusnya tidak pernah dipelajari manusia. Semakin jauh ia mencari tahu, semakin banyak hal aneh muncul di sekelilingnya.Laras, perempuan yang seolah memiliki hubungan dengan masa lalunya. Sekar, penjaga yang menyimpan rahasia tentang kehendak. Sinta, yang mampu melihat kejadian sebelum terjadi. Maya, yang mengetahui sesuatu tentang ingatan Rava yang bahkan tidak diketahui Rava sendiri.Mereka datang dari jalan yang berbeda, tetapi perlahan semuanya mengarah kepada satu hal yang sama.Rava.Ketika perguruan-perguruan mulai menyembunyikan sejarah, kelompok misterius bergerak dari balik bayangan, dan orang-orang yang dipercaya mulai menunjukkan wajah sebenarnya, Rava menyadari bahwa Teknik Terlarang bukan sekadar sebuah ilmu.Ada sesuatu yang telah mengatur perjalanan mereka sejak awal.Dan semakin Rava berusaha menemukan kebenaran, semakin ia menyadari bahwa mungkin bukan dirinya yang sedang mencari jawaban.Mungkin sejak awal, seseorang sedang menggiringnya menuju sebuah tujuan.Namun ketika batas antara ingatan, kenyataan, dan kemungkinan mulai runtuh, Rava harus menghadapi pertanyaan yang jauh lebih berbahaya daripada siapa musuhnya:Jika semua yang diyakininya tentang dirinya ternyata salah, masihkah ia bebas menentukan jalan hidupnya sendiri?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 - TEKNIK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA
Hujan turun sejak sore di Perguruan Cakrawala.
Bukan hujan deras yang membuat tanah berubah menjadi lumpur, melainkan hujan tipis yang jatuh tanpa suara, membasahi atap-atap kayu, halaman batu, dan pepohonan tua yang mengelilingi perguruan. Kabut menggantung rendah di antara bangunan, membuat lentera-lentera yang dipasang di sepanjang jalan terlihat seperti titik-titik cahaya yang mengambang di udara.
Malam seharusnya tenang.
Namun seseorang sedang berlari.
Rava menerobos jalan setapak di belakang perguruan dengan napas tersengal. Bajunya basah kuyup. Rambut hitamnya menempel di dahi, sementara satu tangannya terus menekan sisi tubuhnya yang terasa nyeri.
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Rava berhenti di bawah pohon besar.
"Sepertinya aku berhasil."
Ia menarik napas panjang.
Baru saja ia hendak melanjutkan perjalanan, terdengar suara ranting patah dari belakang.
Krek.
Rava membeku.
"Jangan bercanda..."
Satu bayangan melintas di antara pepohonan.
Rava langsung berbalik.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu beberapa detik. Hanya suara hujan yang terdengar.
Rava menghela napas lega.
"Sudahlah."
Ia kembali berjalan.
Baru tiga langkah, sebuah batu kecil melayang dari kegelapan dan menghantam tepat di depan kakinya.
Rava mundur.
"Keluar."
Seorang perempuan muncul dari balik pohon.
Rambutnya panjang dan sedikit basah karena hujan. Ia mengenakan pakaian latihan berwarna putih dengan ikat pinggang biru tua. Tatapannya tajam, tetapi sudut bibirnya justru memperlihatkan senyum kecil.
"Lari malam-malam tanpa memberitahuku?"
Rava memejamkan mata.
"Laras..."
"Kenapa?"
"Aku sedang ingin sendirian."
"Dan menurutmu jalan belakang perguruan adalah tempat yang cocok untuk menyendiri?"
"Menurutku iya."
"Menurutku tidak."
Laras berjalan mendekat.
Rava mundur satu langkah.
Laras menyipitkan mata.
"Kau terluka."
"Sedikit."
"Sedikit?"
Rava melihat luka di lengannya.
"Memang sedikit."
Laras menarik tangannya.
"Diam."
"Aku bisa mengobati sendiri."
"Aku tidak bertanya."
Rava hanya bisa menghela napas ketika Laras memeriksa lukanya.
"Siapa yang melakukan ini?"
"Anjing."
Laras berhenti.
"Anjing?"
"Iya."
"Anjing jenis apa yang bisa menggunakan pedang?"
Rava terdiam.
Laras menatapnya.
"Rava."
"Baiklah. Murid tingkat menengah."
"Siapa?"
"Handi."
"Handi lagi?"
Rava mengangguk.
Laras menggeleng.
"Sudah kubilang jangan terus memancingnya."
"Aku tidak memancing."
"Kalau begitu?"
"Dia yang mulai."
"Dan kau mengakhirinya dengan memukulnya sampai masuk ke kolam?"
Rava tersenyum kecil.
"Dia berenang dengan cukup baik."
Laras menahan tawa.
"Dasar bodoh."
Rava menatap wajah Laras.
Untuk sesaat, suasana menjadi hening.
Hujan masih turun.
Laras masih memegang tangannya.
Rava tiba-tiba merasa canggung.
Laras menyadarinya dan segera melepaskan tangannya.
"Sudah."
"Terima kasih."
"Jangan salah paham."
"Aku tidak salah paham."
"Bagus."
Laras berbalik.
"Besok latihan pagi."
"Aku tahu."
"Jangan terlambat."
"Aku tidak pernah terlambat."
Laras menoleh.
"Kau terlambat tiga kali minggu ini."
"Itu bukan terlambat. Aku datang setelah semua orang berkumpul."
"Itu definisi terlambat."
Rava tersenyum.
Laras mendengus lalu berjalan pergi.
Namun sebelum benar-benar menghilang di balik kabut, ia berhenti.
"Rava."
"Hm?"
"Jangan pergi ke Lembah Batu."
Rava mengangkat alis.
"Kenapa?"
Laras tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya beberapa saat sebelum berkata pelan, "Pokoknya jangan."
Kemudian ia pergi.
Rava berdiri sendirian.
Tatapannya mengikuti Laras sampai bayangannya lenyap.
"Lembah Batu..."
Ia tidak tahu mengapa, tetapi sejak mendengar dua kata itu, ada sesuatu di dalam kepalanya yang terasa mengganggu.
Seperti sebuah ingatan yang hampir muncul.
Namun kemudian menghilang.
Rava menggeleng.
"Sudahlah."
Ia berjalan kembali menuju perguruan.
Ia tidak tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir ketika hidupnya masih terasa sederhana.
Keesokan paginya, halaman latihan Perguruan Cakrawala sudah dipenuhi murid.
Rava datang terlambat.
Lagi.
"Rava!"
Suara seorang perempuan terdengar dari tengah halaman.
Rava berhenti.
Sekar berdiri dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Berbeda dengan Laras, Sekar tidak pernah berusaha menyembunyikan rasa kesalnya.
"Kau terlambat."
Rava melihat langit.
"Matahari belum tinggi."
"Itu bukan alasan."
"Kalau begitu apa alasannya?"
"Kau malas."
Rava berpikir sejenak.
"Masuk akal."
Sekar memelototinya.
"Jangan mengaku begitu saja!"
Beberapa murid di sekitar mereka tertawa.
Rava berjalan melewati Sekar.
"Kau sudah sarapan?"
Sekar terdiam.
"Kenapa?"
"Aku belum."
"Aku juga belum."
"Kalau begitu nanti kita makan."
Sekar membuka mulut, tetapi Rava sudah berjalan menjauh.
Ia hanya bisa menghela napas.
"Orang ini..."
Dari sisi halaman, Laras yang mendengar percakapan itu tersenyum tipis.
Tidak jauh darinya, seorang perempuan lain berdiri dengan tenang.
Sinta.
Ia tidak ikut tertawa.
Tatapannya terus mengikuti Rava.
Sejak Rava masuk ke halaman, Sinta sudah memperhatikannya.
Bukan karena Rava terlambat.
Bukan pula karena ia baru saja berbicara dengan Sekar.
Tatapan Sinta tertuju pada tangan kanan Rava.
Lebih tepatnya, pada sebuah bekas luka tipis yang hampir tidak terlihat di dekat pergelangan tangannya.
Sinta mengerutkan kening.
Kemudian ia segera mengalihkan pandangan ketika Rava menoleh.
Rava tidak menyadarinya.
Tetapi seseorang menyadari.
Seorang perempuan yang sejak tadi duduk di bawah pohon.
Maya.
Ia membaca sebuah buku tua yang sampulnya sudah hampir rusak. Wajahnya tenang, seolah keributan di halaman sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Namun ketika Rava melewatinya, Maya menutup bukunya.
"Rava."
Rava berhenti.
"Ya?"
Maya mengangkat sebuah benda kecil dari atas meja batu.
Sebuah gelang kayu hitam.
"Kau kehilangan ini?"
Rava melihat benda itu.
"Aku tidak pernah melihatnya."
Maya menatapnya cukup lama.
"Aneh."
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
Maya memasukkan kembali gelang itu ke dalam sakunya.
Rava mengernyit.
"Kalau bukan milikku, kenapa kau bertanya?"
Maya tersenyum.
"Karena gelang ini ditemukan di tempat kau berlatih kemarin."
Rava mengangkat bahu.
"Mungkin milik orang lain."
"Mungkin."
Maya kembali membuka bukunya.
Rava hendak pergi ketika Maya berkata lagi.
"Rava."
"Hm?"
"Kalau suatu hari kau mendengar seseorang menyebut nama Teknik Terlarang..."
Maya berhenti.
Rava menunggu.
"...jangan pernah menjawab."
Rava mengerutkan kening.
"Teknik apa?"
Maya menatapnya.
Untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya menghilang.
"Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa."
Rava menatap Maya beberapa detik.
Kemudian ia pergi.
Dari kejauhan, Sinta masih memperhatikannya.
Laras juga.
Sekar juga.
Dan tanpa Rava sadari, keempat perempuan itu memiliki alasan yang berbeda untuk terus memperhatikannya.
Latihan pagi berlangsung seperti biasa.
Murid-murid Perguruan Cakrawala berlatih teknik dasar, pertahanan, dan pengendalian tenaga dalam. Suara benturan kayu latihan terdengar bersahutan.
Rava berdiri di tengah lingkaran.
Di depannya Handi.
"Masih mau bertarung?" tanya Handi.
Rava tersenyum.
"Kemarin kau kalah."
"Itu karena licik."
"Kalau aku licik, kau seharusnya belajar lebih licik."
Handi menggeram.
Ia menyerang.
Tongkat kayu melesat ke arah kepala Rava.
Rava menghindar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Serangan berikutnya datang dari samping.
Rava menunduk.
Tongkat melewati kepalanya.
Handi berputar dan menyerang lagi.
Rava menahan.
Benturan keras membuat telapak tangannya terasa sakit.
"Bagus," kata Rava.
"Jangan memuji!"
Handi menyerang semakin cepat.
Rava mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian kakinya menginjak genangan air.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Handi melihat kesempatan itu.
Ia mengayunkan tongkat sekuat tenaga.
Rava tidak sempat menghindar.
Namun tepat ketika tongkat hampir mengenai dadanya, sesuatu terjadi.
Dunia seolah berhenti.
Suara di sekitar Rava menghilang.
Hujan yang turun dari langit tampak menggantung di udara.
Tongkat Handi berhenti beberapa jari dari dadanya.
Rava menatapnya dengan mata melebar.
"Apa...?"
Sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.
Bukan suara manusia.
Bukan pula suara yang berasal dari luar.
Bangun.
Rava memegang dadanya.
Jantungnya berdegup keras.
Kemudian sesuatu bergerak di dalam tubuhnya.
Panas.
Sangat panas.
Energi asing mengalir dari dadanya menuju bahu, lalu turun ke lengannya.
Rava berteriak.
"AH!"
Ledakan tenaga terjadi.
Handi terpental.
Tubuhnya terlempar beberapa meter sebelum jatuh ke tanah.
Semua orang terdiam.
Rava berdiri di tengah halaman.
Tangannya gemetar.
Ia melihat telapak tangannya.
Ada garis hitam tipis yang muncul di sana.
Garis itu bergerak.
Perlahan membentuk pola seperti simbol kuno.
Ki Wira yang sejak tadi mengawasi latihan langsung berdiri.
Wajah lelaki tua itu berubah.
Untuk pertama kalinya, ketenangan sang tetua menghilang.
"Semua mundur!"
Murid-murid bingung.
Ki Wira berjalan cepat menuju Rava.
"Rava."
Rava menatapnya.
"Apa yang terjadi?"
Ki Wira tidak menjawab.
Tatapannya tertuju pada simbol di telapak tangan Rava.
Laras berdiri.
Sekar berhenti bernapas sesaat.
Sinta mengepalkan tangan.
Maya menutup bukunya perlahan.
Mereka semua melihat hal yang sama.
Ki Wira akhirnya berkata dengan suara rendah,
"Jangan gunakan itu lagi."
Rava menatap tangannya.
"Apa ini?"
Ki Wira diam.
"Apa yang ada di tanganku?"
Tetua itu memandang seluruh murid.
"Mulai hari ini, tidak seorang pun boleh membicarakan apa yang baru saja terjadi."
Rava semakin bingung.
"Ki Wira."
"Rava."
Nada suara Ki Wira berubah tegas.
"Jika kau masih ingin hidup tenang, lupakan apa yang terjadi hari ini."
Rava menatap simbol hitam di telapak tangannya.
Entah mengapa, simbol itu terasa begitu akrab.
Seolah ia pernah melihatnya.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Tetapi berkali-kali.
Dalam mimpi.
Dalam ingatan yang tidak bisa ia ingat.
Dan kemudian sebuah kata muncul di kepalanya.
Teknik Terlarang.
Rava mengangkat wajah.
Maya berdiri beberapa langkah darinya.
Mata perempuan itu menunjukkan sesuatu yang belum pernah Rava lihat sebelumnya.
Ketakutan.
Maya berbisik hampir tanpa suara,
"Jadi akhirnya bangkit juga."
Rava mendengarnya.
"Apa?"
Maya tidak menjawab.
Di luar halaman perguruan, jauh di balik kabut, seorang lelaki berdiri di antara pepohonan.
Jubah hitam menutupi tubuhnya.
Ia melihat ke arah Perguruan Cakrawala.
Kemudian tersenyum.
"Sudah ditemukan."
Tangannya menyentuh gagang pedang.
"Pemilik Teknik Terlarang akhirnya muncul."
Di dalam perguruan, Rava masih menatap telapak tangannya.
Ia belum tahu apa yang baru saja bangkit di dalam dirinya.
Ia belum tahu mengapa Maya ketakutan.
Ia belum tahu mengapa Ki Wira ingin merahasiakannya.
Dan ia sama sekali belum tahu bahwa mulai hari itu, kehidupannya akan berubah.
Karena sesuatu yang seharusnya telah mati bertahun-tahun lalu...
baru saja membuka matanya kembali.
Teknik Terlarang.
Daftar bab
160 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
160 bab








