
Uluran Tangan Yang Tak Terlihat
Lukman|Bersambung
- Jumlah kata
- 435
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 435
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Andi tidak pernah menyangka bahwa satu malam yang biasa akan menjadi awal dari teror yang tidak bisa dijelaskan. Semuanya bermula ketika Andi menemukan jejak tangan basah di dalam rumahnya, padahal tidak ada seorang pun yang masuk. Sejak saat itu, kejadian-kejadian aneh mulai menghantuinya. Ketukan dari pintu yang kosong, suara yang memanggil namanya, hingga sebuah tangan pucat yang muncul dari balik pintu. Namun yang paling mengerikan bukanlah kemunculan tangan itu. Melainkan kenyataan bahwa tangan tersebut seolah-olah sedang meminta pertolongan kepada Andi. Semakin Andi mencoba mencari tahu siapa pemilik tangan misterius itu, semakin dalam ia terjebak dalam sebuah rahasia kelam yang telah lama terkubur. Apakah tangan itu datang untuk menyelamatkan Andi? Atau justru sedang mencari seseorang untuk menggantikan dirinya? “Jika suatu malam ada tangan yang terulur kepadamu dari tempat yang gelap… jangan pernah menyambutnya.”
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Uluran Tangan Yang Tak Terlihat
Bab 1 — Tangan di Balik Pintu
Malam itu, Andi pulang lebih larut dari biasanya.
Jam di dinding ruang tamu menunjukkan pukul 23.47. Hujan turun deras sejak sore, membuat jalanan di depan rumahnya hampir tidak terlihat. Sesekali kilat menyambar, menerangi kamar Andi melalui celah tirai.
Andi meletakkan tasnya di kursi.
“Capek banget…” gumamnya.
Rumah terasa sangat sepi.
Biasanya, suara televisi dari ruang tengah masih terdengar ketika ia pulang. Namun malam itu, tidak ada suara apa pun.
Bahkan suara hujan yang seharusnya terdengar jelas dari dalam rumah terasa seperti semakin jauh.
Andi berjalan menuju kamarnya.
Saat melewati lorong, ia tiba-tiba berhenti.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan terdengar dari pintu belakang.
Andi menoleh.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Ia mengira suara itu hanya berasal dari ranting pohon yang terbawa angin.
Andi kembali berjalan.
Tok… tok… tok…
Kali ini lebih jelas.
Tiga ketukan.
Andi perlahan mendekati pintu belakang. Tangannya menyentuh gagang pintu yang terasa dingin.
Ia membuka sedikit.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya halaman belakang yang gelap dan basah oleh hujan.
Andi menghela napas lega.
Namun ketika hendak menutup pintu, matanya menangkap sesuatu di lantai.
Ada jejak tangan basah.
Bukan jejak kaki.
Jejak tangan.
Satu… dua… tiga…
Jejak itu membentang dari halaman menuju ke dalam rumah.
Andi membeku.
“Ini… punya siapa?”
Ia mundur perlahan.
Lalu terdengar suara sangat pelan dari belakangnya.
“Andi…”
Tubuhnya langsung merinding.
Ia berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
“Andi…”
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini dari arah kamarnya.
Andi berlari menuju kamar dan menutup pintu. Napasnya memburu.
Ia mencoba menenangkan diri.
“Mungkin aku cuma kecapekan…”
Andi duduk di tepi tempat tidur.
Namun beberapa detik kemudian, ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba menyala.
Ada satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Andi membukanya.
Pesannya hanya berisi satu kalimat:
«Jangan buka pintu kalau ada yang meminta pertolongan.»
Andi menatap layar dengan bingung.
Belum sempat ia membalas, terdengar suara dari luar kamar.
“Tolong…”
Andi terdiam.
Suara itu terdengar seperti seseorang sedang menangis.
“Andi… tolong aku…”
Andi mendekati pintu.
Tangannya hampir menyentuh gagang pintu.
Namun ia teringat pesan tadi.
Jangan buka pintu.
Suara di luar kembali terdengar.
“Andi… aku tahu kamu di dalam.”
Andi mundur.
Kemudian sesuatu menyelip perlahan dari bawah pintu.
Sebuah tangan.
Pucat.
Basah.
Jari-jarinya bergerak perlahan seolah sedang meraba-raba lantai.
Andi menahan napas.
Tangan itu berhenti tepat di depan kakinya.
Lalu telunjuknya bergerak dan menunjuk ke arah Andi.
Andi tidak mampu bergerak.
Tiba-tiba tangan itu menghilang.
Sunyi.
Andi mengira semuanya telah berakhir.
Sampai terdengar bisikan tepat di belakang telinganya—
“Aku bukan yang meminta masuk…”
Andi perlahan menoleh.
Dan di sudut kamarnya, berdiri seseorang yang wajahnya tidak terlihat.
Tangannya terulur ke arah Andi.
Seolah meminta pertolongan.
Atau…
mengajak Andi pergi.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








