
Semua Mengira Aku Pangeran Bodoh
Fantasi Kerajaan|Bersambung
- Jumlah kata
- 108.6K
- Popular
- 618
- Subscribe
- 34
- Jumlah kata
- 108.6K
- Popular
- 618
- Subscribe
- 34
Sinopsis
Veyra Naren terbangun di dunia asing sebagai Pangeran Keenam dari Kekaisaran Veyra. Seluruh negeri mengenalnya sebagai pangeran bodoh yang sembrono, tak tahu aturan, tak peduli sopan santun, dan gemar berkelahi. Di mata mereka, ia hanyalah seorang barbar kasar yang tak akan pernah mencapai apa pun. Namun, Veyra Naren hanya tersenyum. Dunia menertawakan kegilaannya, tetapi ia menertawakan mereka yang tak mampu melihat kebenarannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Hampir Memukul Mati Putra Mahkota
"Berita besar! Putra Mahkota dalam keadaan kritis!"
"Benarkah? Apa yang terjadi?"
"Kudengar itu ulah Pangeran Keenam."
"Hah... Kapan itu terjadi? Kenapa bisa sekejam itu?"
"Tadi pagi. Kabarnya Pangeran Keenam seperti orang gila. Tinju sebesar kepalan balok kayu menghujani tubuh Putra Mahkota seperti badai menghancurkan bunga. Bahkan para pengawal istana tidak bisa menghentikannya."
"Saudaraku, deskripsimu itu detail sekali. Apa kau sedang berlatih menulis untuk ujian pejabat kerajaan? Tapi jujur saja, siapa pun yang melihat tubuh Pangeran Keenam pasti merasa gentar. Ngomong-ngomong, sekarang keadaannya bagaimana?"
"Dengar-dengar, seisi istana sedang kacau."
***
Di Istana Kekaisaran Veyra, di kediaman para pangeran, tepatnya di Paviliun Nira.
Belasan prajurit penjaga berpakaian zirah berat dengan pedang baja tergantung di pinggang berdiri berjaga dengan wajah serius.
Mereka mengelilingi sebuah kamar, memastikan tidak ada celah bahkan untuk seekor lalat keluar.
Di dalam kamar itu, seorang pemuda bertubuh tinggi besar, berotot, namun berwajah tampan tampak menghela napas panjang dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Baru saja melintasi dunia, sudah mendapatkan masalah seperti ini. Sial benar nasibku," keluhnya sambil menghela nafas.
Pemuda itu adalah Veyra Naren.
Awalnya, ia adalah seorang pria dari Bumi yang sedang bermain kartu bersama pacar dan teman-temannya.
Namun, mendadak pandangannya menjadi gelap, dan saat tersadar, ia sudah berada dalam tubuh seseorang yang asing.
Setelah menyerap ingatan dari tubuh barunya, ia mulai memahami situasinya.
Kini, ia tetap bernama Veyra Naren, seorang Pangeran Keenam dari Kekaisaran Veyra, berusia tujuh belas tahun.
Belum memiliki kediaman resmi, apalagi pasangan hidup.
Sayangnya, otaknya tidak terlalu cerdas—bahkan, bisa dibilang bodoh.
Namun, Langit itu adil.
Meskipun otaknya kurang cerdas, tubuh yang dimilikinya sangat luar biasa.
Pada usia tujuh belas tahun, tinggi badannya sudah lebih dari dua meter—sangat mencolok di era di mana rata-rata tinggi pria tak lebih dari 1,7 meter.
Adapun insiden memukul Putra Mahkota, Veyra Naren sebenarnya hanyalah kambing hitam.
Dalang di balik semua ini adalah Pangeran Kedua, yang diam-diam mengincar posisi sebagai pewaris takhta.
‘Tunggu, aku ini orang bodoh. Kenapa harus mengeluh di sini?’
‘Semua orang di dunia mengetahui bahwa aku ini bodoh, bahkan Ayahanda Kaisar pun tahu. Jadi, kejadian aku memukul Putra Mahkota ini, siapa tahu justru membawa keberuntungan.’
Pikiran Veyra Naren tiba-tiba seperti tersambar kilat.
Begitu dia menyadarinya, semuanya terasa lebih jelas.
Memikirkan hal ini, Veyra Naren tidak lagi merasa kesal.
Dia langsung berteriak ke arah luar,
“Aku lapar! Mana makananku?”
Para prajurit penjaga di luar saling bertukar pandang.
Karena tidak ada yang menjawab.
BRAAKKK!!!
Veyra Naren pun dengan satu tendangan kuat menghancurkan pintu dan keluar.
Para penjaga segera merapat ke pintu seperti menghadapi musuh besar.
Tangan mereka sudah bersiaga di gagang pedang, wajah mereka tegang.
Siapa yang tidak tahu bahwa Pangeran Keenam memiliki kekuatan luar biasa sejak lahir?
Meskipun mereka adalah prajurit pilihan, di hadapan Pangeran Keenam, mereka tetap tahu diri—yang bisa mereka lakukan hanyalah menjadi sasaran pukulannya.
Veyra Naren menggerakkan lehernya, memperhatikan ketegangan dari para prajurit itu.
Tidak bisa disangkal, tubuh ini memang luar biasa.
Seperti sudah ditakdirkan menjadi seorang jenderal perang.
“Aku bilang aku lapar! Apa kalian tuli?”
Tatapan Veyra Naren tajam seperti harimau lapar yang sedang menilai mangsanya.
Komandan prajurit yang memimpin kelompok itu merasa serba salah.
Dalam hati dia berpikir, Kaisar hanya memerintahkan mereka untuk mengurung Pangeran Keenam, bukan membuatnya kelaparan.
Pangeran Keenam ini bodoh, kadang seperti orang yang tidak waras.
Jika dia sampai benar-benar kelaparan dan mengamuk, mereka semua pasti celaka.
Dengar-dengar, para penjaga istana di kediaman Putra Mahkota yang gagal menghentikan amukan Pangeran Keenam kemarin telah dihukum mati dengan pentungan hingga tewas.
Memikirkan hal itu, sang komandan buru-buru tersenyum dan berkata,
“Yang Mulia, apa yang ingin Anda makan?”
Melihat si komandan tahu diri, Veyra Naren meredam ekspresinya yang garang.
Sambil mengusap perutnya, dia menjawab,
“Lima kilo daging kambing, tiga ekor ayam panggang, dan belasan bakpao. Untuk mengganjal perut.”
Sudut bibir si komandan berkedut, tapi dia tetap memerintahkan anak buahnya untuk segera menyediakan makanan.
Veyra Naren benar-benar kelaparan.
*
Begitu makanan tiba, dia langsung melahap semuanya.
Tangan kirinya memegang daging kambing, tangan kanannya menggenggam ayam panggang, sementara bakpao dilahap satu per satu seperti sedang makan camilan kecil.
Saat Veyra Naren sedang menikmati makanannya dengan lahap, tiba-tiba terdengar suara batuk dari belakangnya:
“Ekhem, ekhem!”
Veyra Naren sebenarnya sudah mendengar langkah kaki sejak tadi dan tahu siapa yang datang.
Namun, dia pura-pura tidak tahu dan langsung menoleh ke belakang.
Terlihat seorang kaisar paruh baya berdiri di depan pintu.
Tubuhnya dibalut jubah naga yang mewah dan megah.
Saat ini, kedua tangannya disilangkan di belakang punggung, tatapannya tajam bercampur amarah, menatap Veyra Naren tanpa berkedip.
“Oh, Ayahanda Kaisar! Ayahanda kenapa datang ke sini? Apakah Ayahanda lapar? Makanlah bersamaku. Dagingnya enak sekali, hehe…”
Veyra Naren segera bangkit, menyapa dengan penuh antusias sambil menunjukkan ayam panggang yang sudah setengah dimakan di tangannya.
Senyumnya lebar dan polos, seperti anak kecil yang mencoba menyenangkan orang tuanya.
Awalnya, Kaisar Arsen sangat marah.
Bagaimana tidak?
Putra Mahkota dihajar habis-habisan sampai wajahnya bengkak tak karuan, nyaris tak dikenali lagi sebagai anaknya sendiri.
Untung saja nyawanya selamat, meski sekarang harus terbaring di tempat tidur selama beberapa hari... atau lebih tepatnya, berbulan-bulan.
Setelah memastikan Putra Mahkota tidak dalam bahaya serius, Kaisar Arsen memutuskan untuk datang ke kediaman pangeran dan meminta pertanggungjawaban.
Namun, begitu melihat Veyra Naren yang polos menawarkan ayam panggang kesukaannya, hati sang Kaisar sedikit melunak.
Amarahnya seperti bocor sedikit demi sedikit.
“Tidak, Aku tidak lapar. Makan saja sendiri.” Kaisar Arsen menggeleng pelan, kemudian bertanya dengan suara tegas,
“Kenapa kau memukuli Putra Mahkota?”
Veyra Naren menjawab dengan santai,
“Putra Mahkota mengatakan aku tidak berani memukulnya. Jadi, ya, aku hajar dia beberapa kali. Aku juga heran, kenapa ada permintaan aneh seperti itu…”
Mendengar jawaban itu, kelopak mata Kaisar Arsen sedikit bergetar.
“Kenapa Putra Mahkota berkata seperti itu?” tanya Kaisar lagi.
Sambil menggigit daging ayam dan minyak memenuhi mulutnya, Veyra Naren menjawab,
“Putra Mahkota mengatakan hal-hal buruk tentang Ibuku. Aku langsung menarik kerahnya, dia mengatakan aku tidak berani memukulnya, jadi ya, aku pukul saja dia.”
Saat sampai di bagian ini, Veyra Naren tiba-tiba terlihat murung.
Dengan suara pelan, dia bertanya,
“Ayahanda, aku merindukan Ibu… Ibu sudah meninggal bertahun-tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun. Aku takut lupa seperti apa wajahnya. Ayahanda, apakah Ayahanda juga merindukan Ibu?”
“….” Kaisar Arsen tertegun.
Dalam benaknya muncul bayangan seorang wanita anggun dan lembut.
Meskipun ada banyak selir di istana, wanita itu selalu memberinya perasaan yang berbeda.
Seperti hembusan angin musim semi, kehangatannya tetap hidup di hatinya meskipun sepuluh tahun telah berlalu.
Suara dan wajahnya masih terukir jelas dalam ingatan Kaisar.
Memikirkan hal itu, amarah Kaisar Arsen berkurang lebih banyak.
Namun, dengan nada tegas, dia berkata,
“Putra Mahkota bukan hanya kakakmu, tetapi juga pewaris takhta Kekaisaran Veyra. Ingat, kau tidak boleh sembarangan memukulnya.”
Veyra Naren berpura-pura bingung dan menjawab,
“Ayahanda, aku hanya memukulnya pelan, tidak bermaksud melukainya. Jika pukulan seperti terkena Bruno, dia pasti tidak apa-apa.”
Bruno adalah hewan peliharaan Veyra Naren.
Seekor beruang hitam lucu yang tinggal di paviliun hewan.
Dulu, Bruno adalah binatang buas yang gemar makan daging dan sering menyerang orang.
Namun, setelah beberapa kali dihajar Veyra Naren, Bruno berubah menjadi vegetarian dan sekarang lebih jinak daripada seekor anjing.
Kaisar Arsen melirik tangan Veyra Naren yang besar seperti mangkuk batu, lalu menghela napas panjang.
‘Kau membandingkan Putra Mahkota dengan beruang hitam. Kalau begitu, aku ini apa?’ pikirnya.
Kaisar merasa serba salah.
‘Anak ini, memukulnya pun serasa menggaruknya, dimarahi pun dia tidak paham.’
Memikirkan cara untuk menghukumnya benar-benar membuat kepala sang Kaisar pusing.
Namun, insiden ini terlalu serius.
Putra Mahkota adalah pewaris takhta, dan memukulnya berarti melanggar tata krama, merusak aturan, serta mencoreng wibawa Kerajaan.
Hukuman berat harus diberikan untuk menjaga martabat keluarga Kerajaan.
Tapi, bagaimana caranya?
Untuk sesaat, Kaisar Arsen merasa kebingungan.
Veyra Naren memerhatikan perubahan ekspresi di wajah Kaisar.
Dia tahu, ayahnya yang kebetulan adalah Kaisar ini ingin menghukumnya, tetapi belum tahu hukuman apa yang pantas.
Namun, bagi Veyra Naren, ini adalah kesempatan emas.
Peluang untuk keluar dari istana, keluar dari ibu kota yang terasa seperti penjara, dan menjalani hidup bebas di luar sana.
Veyra Naren tahu bahwa ibunya, yang berasal dari keluarga sederhana dan bekerja sebagai tabib, tidak memiliki kekuatan politik atau dukungan keluarga besar.
Jika saja dia tidak dilahirkan dengan tubuh kuat dan kemampuan bertarung, mungkin dia sudah mati di tangan intrik istana.
Sekarang, setelah memukul Putra Mahkota, bertahan di ibu kota hanya berarti menghadapi ancaman tersembunyi setiap hari.
Akan jauh lebih baik baginya untuk dikirim keluar istana sebagai pangeran daerah, hidup bebas dan aman di perbatasan.
Maka, Veyra Naren menundukkan kepala dengan wajah polos dan berkata,
“Ayahanda, apakah aku telah berbuat salah? Ayahanda pernah mengatakan, siapa yang berbuat salah harus dihukum. Aku bersedia dihukum. Mau dipotong kepala atau dihukum berat lainnya, aku terima. Tapi... jika kepalaku dipotong, bisakah kepala itu dijahit kembali setelahnya? Aku takut jika bertemu Ibu di akhirat nanti, dia akan ketakutan melihatku.”
“Omong kosong apa itu! Kesalahanmu tidak sampai dihukum mati,” balas Kaisar Arsen dengan tegas.
Veyra Naren langsung mengangkat kepala, wajahnya penuh sukacita.
“Ayahanda, aku tidak akan mati? Benarkah? Syukurlah! Terima kasih, Ayahanda!”
Kaisar tersenyum tipis, lalu bertanya sambil bercanda,
“Kau yang bahkan berani mengejar beruang hitam, ternyata takut mati juga?”
Veyra Naren menggaruk kepalanya sambil tertawa lebar.
“Aku tidak takut mati, Ayahanda. Ayahanda sendiri pernah berkata, sebagai pangeran, aku harus mengabdi pada negeri. Aku ingin bertarung demi Kekaisaran Veyra dan membunuh musuh-musuh yang berani menyerang negara kita! Aku akan mencabut kepala mereka satu per satu!”
Sambil berkata demikian, Veyra Naren mengayunkan tinjunya ke udara dengan penuh semangat, tubuhnya memancarkan aura yang gagah dan berwibawa.
Melihat itu, Kaisar Arsen tanpa sadar melangkah mundur sedikit, takut putra bodohnya ini tidak sengaja melukai dirinya.
Tapi di balik semua itu, Kaisar merasa bangga.
Meskipun Veyra Naren terlihat sederhana dan polos, dia memiliki semangat tinggi untuk mengabdi kepada negara.
Mendadak, sebuah ide muncul di benak Kaisar Arsen.
Dia menatap Veyra Naren dengan serius.
Dari segi fisik dan kekuatan, putranya ini seperti seorang prajurit yang tak terkalahkan.
Di medan perang, dia pasti akan menjadi panglima yang luar biasa.
Menurut tradisi keluarga Kekaisaran Veyra, seorang pangeran yang sudah cukup usia akan dikirim ke perbatasan untuk memimpin wilayah sekaligus melindungi negara.
Tradisi ini berakar pada pepatah keluarga mereka: [Pangeran menjaga gerbang kerajaan, raja mati demi rakyatnya.]
Veyra Naren kini telah berusia tujuh belas tahun.
Sudah saatnya dia menjalani tugas sebagai seorang pangeran daerah.
Daftar bab
91 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








