

Pagi itu pak Jono sedang asyik nonton berita pagi di televisi, rutinitasnya sebelum berangkat ke kebun, tapi perhatiannya langsung buyar saat Caca, anak tirinya keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk pendek yang membelit tubuh mudanya.
Spontan mata pak Jono langsung membulat, tatapannya tidak bisa lepas dari kemolekan tubuh anak tirinya itu.
Saat Caca berjalan ke kamarnya, pinggulnya yang padat bergoyang dan itu langsung membuat Pak Jono yang sudah berbulan-bulan tidak mendapat sentuhan istrinya, langsung merasakan miliknya mengeras tanpa bisa di tahan.
Dia sadar, itu salah, tapi pemandangan itu sulit di abaikan.
Brakkk!
Pintu kamar caca di tutup sedikit keras, Pak Jono tersentak, dia langsung mengusap wajahnya.
"Pagi-pagi, udah bikin bapak tegang Nduk!" Keluhnya setengah kesal.
Dia kembali fokus ke televisi, tapi bayangan Caca tadi terus muncul dan mengganggu konsentrasinya, akhirnya dia memutuskan masuk ke kamarnya, berharap istrinya bisa meredam hasratnya dengan cara lain.
Dia membuka pintu dan masuk.
Mulyani istrinya terbaring membelakangi pintu, selimut menutupi tubuhnya. Pak Jono langsung rebahan di sampingnya.
"Nggak ke kebun pak?" tanya Mulyani tanpa mengubah posisinya.
"Nanti Bu, sebentar lagi." Pak Jono menjawab tanpa menoleh, dia menatap langit-langit, bayangan Caca terus munghantam kepalanya, bokongnya bulat, pahanya yang mulus, semua itu seperti godaan maut.
Pak Jono mengusap wajahnya, berusaha mengusir semua itu dia tidak ingin merusak batasan, tapi gairahnya yang sudah terlanjur terpancing, akhirnya dia memiringkan tubuhnya dibelakang istrinya mengelus bahunya pelan.
"Bu," bisikknya serak, "bapak pengen."
Sambil bicara, tangannya mengelus bahu istrinya, berharap mendapat respons.
Mulyani yang sadar apa yang di mau suaminya, langsung menggeliat pelan lalu berbalik, matanya menatap pak Jono dengan sayu.
"Bapak lupa ya,? Dokterkan udah bilang."
"Iya sih, bu. Tapi bapak kayaknya hari ini nggak tahan banget." Pak Jono nafasnya memburu, dia langsung menunduk dan mencium leher istrinya penuh kasih sayang, tapi Mulyani langsung menahan dengan tangannya.
"Jangan dulu pak, ibu masih nggak boleh."
Pak Jono menghela nafas kecewa, tapi tidak bisa marah, karena tau kondisi istrinya, tapi gairahnya yang sudah memuncak hampir saja dia melupakan itu.
"Ya udah," ucapnya akhirnya.
Pak Jono bangun dari ranjang dengan miliknya yang masih keras berdiri, menahan hasrat yang hampir meledak.
"Bapak nggak marah kan,?"
Pak Jono tersenyum kecut, "Ya enggak lah, ya udah ibu istirahat." Tanpa bicara lagi, pak Jono langsung keluar dari kamar.
Mulyani hanya menatap punggung suaminya. Dia tahu suaminya sangat menginginkan, tapi tubuhnya tidak bisa lagi memberi kepuasan seperti dulu, semua itu demi kesehatan dan pemulihan tubuhnya.
"Kasihan bapak, semoga dia bisa sabar," gumamnya lirih sambil kembali memiringkan tubuhnya memeluk guling.
Di teras, pak Jono duduk dengan kejantanan yang masih ngaceng, berusaha menahannya, dia menyalakan rokok, lalu menghisapnya perlahan, asap mengepul ke udara, tapi matanya kosong menatap pekarangan.
Beberapa bulan tanpa sentuhan istri, membuatnya sangat tersiksa.
Dalam diamnya, pikirannya kembali ke lima tahun lalu, saat dia menikahi Mulyani janda dua anak perempuan yang masih sekolah. Sementara dirinya sendiri tidak memiliki anak dengan istri pertamanya. Selama lima tahun pernikahan mereka, semuanya berjalan normal dan harmonis, bahkan pak Jono sangat menyayangi istri dan kedua anak tirinya, bahkan sampai menguliahkan ke kampus ternama di luar daerah. Bagi Pak Jono yang memang sudah lama menduda dan memiliki libido tinggi, merasa sangat terbantu dengan kehadiran Mulyani, terutama untuk urusan bercocok tanam.
Bahkan dia sering meminta istrinya melayani hasratnya tiga sampai empat kali sehari.
Sampai suatu hari, Mulyani bergurau setelah berhubungan badan dengannya.
"Bapak ya, makin tua makin jadi, tenaganya udah kayak kuda."
Pak Jono hanya tertawa bangga.
Namun semua berubah, begitu Mulyani di vonis penyakit rahim stadium lanjut oleh dokter, dan sejak saat itu, dia di larang berhubungan dengan istrinya dalam waktu yang cukup lama. Pak Jono berusaha menerima dengan sabar, setiap kali dia pengen bercocok tanam, dia menahan sekuat tenaga, dia selalu mencari kesibukan untuk meredam hasratnya, bahkan tidak terbesit sedikitpun untuk mencari kepuasan di luar, walau dia sangat bisa melakukan itu.
Namun semenjak Caca dan Indah kembali kerumahnya setelah lama pergi, hasrat yang selama ini di kubur perlahan bangkit, terutama sikap Caca yang manja dan selalu berpakaian minim di rumah. Sementara indah sendiri yang sudah menikah beberapa bulan lalu, kini tinggal tidak jauh dari rumah mereka, tapi anak tiri pertamanya itu masih sering datang berkunjung.
Sejauh ini, pak Jono masih bisa menahan diri, walau terkadang dia sering memandangi Caca dengan cara yang berbeda. Hanya sebatas itu.
"Bapak, kok ngelamun.?" Caca muncul dari dalam rumah.
"Eh, nggak." Pak Jono tersentak dari lamunannya, tapi buru-buru berusaha tenang.
"Pagi-pagi jangan bengong pak, entar di samber wewe?" Caca yang tidak tau isi pikiran bapaknya malah tertawa menggoda dan berdiri di sampingnya.
Pak Jono yang masih terbawa suasana pagi tadi, matanya sempat terpaku pada dada Caca yang montok dan sedikit tersembul di balik kaos yang di kenakannya.
"Pak?" Caca memiringkan wajahnya sedikit, "bapak kenapa?"
Pak Jono gelagapan. "Eh enggak...enggak, anu..apa, bapak cuma kepikiran ibu kamu, iya itu, kesehatannya semakin menurun."
Caca sama sekali tidak curiga, justru dia merasa iba dengan keadaan bapaknya. "Bapak yang sabar ya, Caca beruntung banget, ibu nikah sama bapak, kalau sama orang lain belum tentu sesabar bapak."
Pak Jono berusaha menahan nafasnya, tapi sialnya malah miliknya bangun.
"Ii..iya nduk."
Caca mengelus bahu pak Jono pelan, seperti memberinya semangat. "Ya sudah, Caca beres-beres rumah dulu ya, kalau butuh apa-apa, kasih tau Caca."
Tanpa menunggu jawaban, Caca berbalik dan melangkah ke dalam rumah, namun di ruangan tengah, gadis itu berdiri sebentar, menatap ke arah teras.
"Kasihan bapak, tapi aku seneng, bapak sangat setia sama ibu." Bibirnya tersenyum, lalu melangkah ke arah dapur.
Di teras, pak Jono berusaha menekan miliknya yang semakin mengeras, sentuhan Caca di bahunya tadi membangkitkan sensasi dalam tubuhnya.
Huh!" Dia menghembuskan nafasnya, "bisa gila saya kalau gini terus."
Dia pun bangkit dari kursi, mengambil helm, dan menuju kebun mangganya. Berharap di sana bisa mengalihkan pikirannya, apalagi hari ini akan ada yang melamar sebagai admin.
Sesampainya di kebun, suasananya sudah ramai. Para pekerja yang terdiri dari laki-laki dan perempuan sudah sibuk dengan tugas masing-masing, karena sebentar lagi masa panen tiba.
Pak Jono turun dari sepeda motornya.
"Pak Bos."
Marno, karyawan kepercayaannya langsung mendekat. "Itu Mbak Dewi sudah nungguin," lapornya sambil menunjuk ke arah shelter.
Pak Jono mengangguk.
"Oke."
Dia berjalan menuju shelter dengan langkah mantap, mencoba fokus pada pekerjaannya. Tapi begitu dia melihat wanita yang dimaksud, langkahnya melambat, wanita itu ternyata masih muda dan wajahnya juga masih cantik, jauh dari dugaannya.
Pak Jono menoleh ke arah Marno.
"Kamu kenapa cari yang model begini?"
"Kenapa bos, cantik dan wow kan?" Marno yang belum tau problem bosnya malah nyengir.
"Kamu bawa masalah aja."