

Pagi itu, Kota Asterra terlihat seperti tempat yang mustahil ada di dunia nyata.
Menara-menara tinggi berlapis kaca kristal berdiri di antara perbukitan hijau. Jalur kereta melayang membelah langit, meninggalkan garis cahaya biru di belakangnya. Kendaraan-kendaraan kecil bergerak tanpa roda di atas jalan, digerakkan oleh inti energi spiritual yang tertanam di dalam mesin.
Namun hanya beberapa kilometer dari pusat kota, suasananya berubah.
Hamparan sawah membentang mengikuti lereng bukit. Rumah-rumah kayu berdiri di antara pepohonan. Para petani masih menggunakan gerobak sederhana, meskipun di atas kepala mereka sesekali melintas kendaraan terbang.
Itulah Asterra.
Kota yang hidup dengan dua wajah.
Maju karena teknologi.
Namun tetap terikat pada kekuatan spiritual yang telah diwariskan selama ribuan tahun.
Dan hari ini adalah hari yang sangat penting bagi seluruh anak yang telah menginjak usia lima belas tahun.
Hari Seleksi Kebangkitan.
“Raka! Bangun!”
Suara seorang wanita terdengar dari lantai bawah.
“Kalau kau terlambat, ibu sendiri yang akan menyeretmu ke tempat seleksi!”
Raka Ardhana membuka matanya perlahan.
Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Hari ini.
Usianya genap lima belas tahun.
Dan itu berarti ia harus mengikuti seleksi yang selama ini membuatnya gelisah.
Raka bangkit dari tempat tidur, mengenakan seragam putih sederhana, lalu mengambil tas yang sudah disiapkan sejak malam.
Ia berdiri di depan cermin.
Rambut hitamnya sedikit berantakan. Wajahnya biasa saja. Tidak ada tanda-tanda istimewa pada dirinya.
Berbeda dengan anak-anak lain.
Sejak kecil, anak-anak di Asterra biasanya mulai menunjukkan tanda-tanda bakat spiritual.
Ada yang mampu menghasilkan percikan api ketika berusia tujuh tahun.
Ada yang bisa menggerakkan air saat berusia sembilan tahun.
Bahkan ada anak-anak yang sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk merasakan keberadaan makhluk spiritual.
Raka?
Tidak pernah.
Tidak ada api.
Tidak ada air.
Tidak ada angin.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada apa pun.
Ibunya pernah membawanya ke beberapa ahli spiritual ketika Raka masih kecil.
Hasilnya selalu sama.
Inti spiritual Raka memang ada.
Tetapi hampir tidak aktif.
Seolah-olah sesuatu di dalam dirinya tertidur sangat dalam.
“Raka!”
“Iya, Bu!”
Raka segera turun.
Ibunya sudah menunggu di meja makan sambil membawa semangkuk sarapan.
“Duduk. Makan.”
Raka menurut.
Ibunya memperhatikannya beberapa saat.
“Gugup?”
“Sedikit.”
“Jangan terlalu dipikirkan.”
Raka tersenyum kecil.
“Kalau aku tidak punya bakat bagaimana?”
Ibunya terdiam.
Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama berada di antara mereka.
Di Asterra, bakat spiritual bukan sekadar kebanggaan.
Bakat menentukan masa depan seseorang.
Anak dengan bakat tinggi bisa masuk akademi terbaik, menjadi penjaga kota, penjelajah dunia spiritual, bahkan menjadi pejabat kerajaan.
Sedangkan mereka yang tidak memiliki bakat biasanya menjalani kehidupan biasa.
“Tidak punya bakat bukan berarti hidupmu berakhir,” kata ibunya akhirnya.
Raka mengangguk.
“Aku tahu.”
Tetapi jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak sia-sia.
Lapangan Seleksi Kebangkitan sudah dipenuhi ribuan anak ketika Raka tiba.
Sebuah bangunan berbentuk kubah berdiri di tengah kota. Dindingnya terbuat dari batu putih dan kristal transparan.
Di atas pintu masuk tertulis:
PUSAT KEBANGKITAN ASTERRA
Anak-anak berusia lima belas tahun memenuhi halaman.
Ada yang terlihat percaya diri.
Ada yang ditemani keluarga.
Ada pula yang terus berlatih mengendalikan kemampuan mereka.
Raka berjalan melewati kerumunan.
“Lihat, itu Raka.”
“Yang tidak punya bakat?”
“Iya.”
“Bukannya inti spiritualnya hampir tidak aktif?”
“Kasihan juga.”
Raka mendengar semuanya.
Ia pura-pura tidak mendengar.
Di dekat pintu masuk, seorang anak laki-laki berambut putih sedang dikelilingi beberapa siswa.
“Arsen sudah mencapai tingkat Pengguna Roh sebelum seleksi, katanya.”
“Serius?”
“Dia bahkan bisa menggunakan dua elemen.”
Raka mengenal anak itu.
Namanya Arsen Valerian.
Salah satu siswa paling berbakat di distrik mereka.
Arsen menoleh dan melihat Raka.
Tatapan mereka bertemu.
“Raka.”
Raka berhenti.
Arsen berjalan mendekat.
“Kau ikut seleksi?”
Raka mengangguk.
“Tentu.”
Arsen tersenyum tipis.
“Semoga berhasil.”
Nada suaranya terdengar sopan.
Namun Raka tahu ada sesuatu di baliknya.
“Kau juga.”
Raka berjalan pergi.
Arsen menatap punggungnya.
“Dia benar-benar tidak berubah.”
Seorang temannya tertawa.
“Memangnya dia punya kesempatan?”
Arsen tidak menjawab.
Beberapa jam kemudian, nama Raka dipanggil.
“Peserta nomor 417.”
Raka menarik napas.
Ia masuk ke ruang utama.
Di tengah ruangan berdiri sebuah kristal besar setinggi manusia.
Kristal itu disebut Kristal Kebangkitan.
Benda tersebut mampu membaca inti spiritual seseorang dan menentukan jenis serta tingkat bakatnya.
Seorang penguji berdiri di samping kristal.
“Letakkan tanganmu.”
Raka menatap kristal itu.
Tangannya terasa dingin.
Ia melangkah maju.
Telapak tangannya menyentuh permukaan kristal.
Tidak terjadi apa-apa.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Kristal tetap gelap.
Beberapa penguji saling pandang.
Salah satu dari mereka mengerutkan kening.
“Tidak ada respons.”
Penguji utama mencoba lagi.
“Fokuskan pikiranmu.”
Raka memejamkan mata.
Ia membayangkan semua hal yang pernah ia lakukan.
Latihan.
Meditasi.
Mengendalikan napas.
Mencoba merasakan Mana Roh.
Namun hasilnya tetap sama.
Gelap.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada perubahan.
Ruangan mulai dipenuhi bisikan.
“Benar-benar tidak punya bakat.”
“Sayang sekali.”
“Usianya sudah lima belas tahun.”
Penguji akhirnya mencatat sesuatu di lembar data.
“Peserta 417.”
Ia berhenti sebentar.
“Inti spiritual terdeteksi, tetapi tidak menunjukkan respons terhadap Kristal Kebangkitan.”
Raka menunggu.
“Bakat spiritual…”
Penguji melihat hasil pemindaian sekali lagi.
“Tidak terdeteksi.”
Kalimat itu terasa lebih berat daripada yang Raka bayangkan.
Tidak terdeteksi.
Artinya jelas.
Ia gagal.
Raka menurunkan tangannya.
“Baik.”
Ia berbalik.
Namun baru dua langkah berjalan, suara pecahan kecil terdengar.
Krek.
Raka berhenti.
Tidak ada yang bergerak.
Kemudian terdengar suara lain.
Krek… krek…
Semua kepala menoleh.
Kristal Kebangkitan mulai retak.
Garis tipis berwarna hitam muncul dari bagian tengah kristal.
“Apa?”
Penguji mundur.
“Matikan sistem!”
Terlambat.
Retakan itu menyebar ke seluruh permukaan.
Cahaya hitam muncul dari dalam kristal.
Raka menatapnya dengan bingung.
Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat keras.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu di dalam tubuhnya.
Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Hangat.
Kemudian panas.
Sangat panas.
Raka memegang dadanya.
“Apa… ini?”
Kristal bergetar.
Seluruh ruangan ikut berguncang.
Alarm berbunyi.
Para penguji berteriak menyuruh semua orang mundur.
Tetapi Raka tidak bisa bergerak.
Matanya terpaku pada kristal.
Di balik retakan, muncul cahaya keemasan.
Bukan cahaya seperti api.
Bukan pula cahaya seperti listrik.
Cahaya itu terasa hidup.
Seolah-olah sesuatu sedang membuka mata.
Kemudian suara terdengar.
Bukan dari ruangan.
Bukan dari kristal.
Melainkan langsung di dalam kepala Raka.
Suara seorang pria.
Dalam.
Tua.
Dan sangat jauh.
“Akhirnya…”
Raka membeku.
Suara itu terdengar lagi.
“Setelah seribu tahun, kau akhirnya kembali.”
Mata Raka melebar.
“Apa?”
Tidak ada seorang pun yang tampaknya mendengar suara tersebut.
Kristal semakin retak.
Cahaya keemasan menyembur keluar.
Lalu sebuah simbol muncul di permukaannya.
Simbol berbentuk lingkaran dengan tujuh garis menyerupai mahkota.
Para penguji mendadak pucat.
Salah satu dari mereka berbisik,
“Tidak mungkin…”
Raka menatap simbol itu.
Anehnya, ia merasa pernah melihatnya.
Entah kapan.
Entah di mana.
Tetapi tubuhnya mengenal simbol tersebut.
Dan tepat ketika kristal hampir pecah sepenuhnya, suara di kepalanya berbisik untuk terakhir kalinya.
“Raka Ardhana… pewaris terakhir telah bangun.”
Kemudian seluruh ruangan dipenuhi cahaya emas.