Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Perjalanan Menuju Dewasa

Perjalanan Menuju Dewasa

tykus tanah | Bersambung
Jumlah kata
43.3K
Popular
6.5K
Subscribe
1.0K
Novel / Perjalanan Menuju Dewasa
Perjalanan Menuju Dewasa

Perjalanan Menuju Dewasa

tykus tanah| Bersambung
Jumlah Kata
43.3K
Popular
6.5K
Subscribe
1.0K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+Darah MudaHarem
Area 21++..Di sebuah kota kecil hiduplah seorang pria muda yang hidup bersama nenek nya, dia bukan orang kaya tidak juga orang miskin, hidup nya cukup, namun kedua orangtua nya tlah meninggal, ketika dia masih umur 5 tahun, Kini dia tlah memasuki umur 17th, sdah cukup untuk menjalani hidup sebagai pria dewasa,.
Bukit Kembar Nabila

Orang-orang sering memanggilnya Ryan. Ya, dia adalah Ryan Bara Atmaja, seorang pemuda berumur 17 tahun, kelas 11 di SMK Sendang Mulya.

Dia hidup berama neneknya. Kedua orang tuanya telah meninggal, ketika Ryan berumur 5 tahun.

Ryan lahir di keluarga besar Atmaja, keluarga yang bergelut di bidang pertanian dan properti.

Hidup Ryan serba berkecukupan, walau bukan dari keluarga konglomerat, tapi menengah, neneknya selalu memanjakannya.

Ryan memiliki seorang sahabat dari kecil bernama nabila. Nabila tumbuh dewasa bersama Ryan.

Nabila adalah wanita yang cantik dengan tinggi 165 cm, berat 51 kg, dan memiliki dada berukuran lumayan bagi wanita seusianya.

Seperti biasa, di pagi hari, Ryan yang tengah lelap tertidur dibangunkan oleh asisten rumah tangganya.

"Mas Ryan, ayo bangun. Sudah siang, waktunya berangkat sekolah," ucap Bi Surti dengan logat yang medok.

Ryan mengernyitkan mata, terbangun dari tidurnya. Sambil menatap jendela yang sudah dibuka oleh Bi Surti.

"Jam berapa ini, Bi?" tanya ryan kepada Bi Surti.

"Jam setengah tujuh, Mas Ryan."

Dengan terkejut Ryan langsung bangun. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.

Ryan mandi secepat kilat, yang penting badannya basah dan tidak lupa menggosok gigi.

"Sial, bakal kesiangan lagi ini," gumam Ryan.

Sambil bergegas memakai baju seragamnya, Ryan dengan langkah buru-buru duduk di meja makan untuk sarapan bersama neneknya.

"Selamat pagi, Nek," sapa Ryan kepada neneknya

"Pagi, cucuku yang ganteng, kamu kesiangan lagi?" tanya nenek Ryan.

Tanpa mejawab pertanyaan neneknya, Ryan buru-buru sarapan agar ia segera berangkat sekolah tanpa harus dihukum karena terlambat.

"Nek, Ryan berangkat sekolah dulu ya, takut kesiangan," ucap Ryan, berpamitan kepada neneknya.

"Ya hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa motornya."

Ryan masuk garasi, mulai memanaskan motor sport-nya. Tanpa menunggu lama, Ryan langsung tancap gas dengan suara knalpot yang memecah kesunyian.

Sesampainya di parkiran sekolah, Ryan berpapasan dengan Nabila yang juga baru memarkirkan mobilnya.

"Pagi, Ryan," sapa Nabila.

"Pagi juga, Nabila Cantik," canda Ryan yang membuat Nabila tersipu malu.

"Apaan sih, Ryan, bikin aku geer aja," balas Nabila yang pipinya mulai memerah, malu-malu.

"Memang betul kok, sahabatku ini lah yang paling cantik tiada tara sealam dunia," ucap Ryan sambil mencolek dagu manis Nabila.

Nabila tersenyum senang, meski sedikit kesal karena mendengar Ryan mengucap kata 'sahabat'. Karena yang diinginkan Nabila lebih dari sahabat.

Nabila ingin menjadi pacar Ryan. Telah lama Nabila menaruh hatinya untuk Ryan, tapi Nabila enggan mengutarakannya karana merasa Ryan tidak menunjukkan rasa tertariknya pada Nabila. Nabila takut ketika ia mengutarakan isi hatinya, Ryan akan menolaknya, atau yang lebih parah, Ryan menjauh darinya.

"Yan, ayo masuk kelas, udah terlambat nih," ajak Nabila ke Ryan.

Tanpa mejawab, Ryan menggandeng tangan Nabila, menuntunnya berjalan ke kelas.

Nabila yang sudah terbiasa seperti ini, tak banyak komentar. Ia hanya mengekor di belakang Ryan.

Sesampainya di kelas, Ryan dan Nabila duduk di bangku yang sama, karena itu permintaan Ryan. 

Ryan tidak mau sahabatnya dekat dengan pria lain. Tanpa Nabila tahu, Ryan pun sudah sedikit menaruh hati kepada Nabila.

Siapa yang tidak tertarik pada nabila? Wajahnya cantik, blasteran Rusia-Sunda.

Bel tanda masuk berbunyi. Murid-murid yang semula riuh langsung tertib, memasuki kelas masing-masing. Pelajaran pertama segera dimulai, Ryan dan Nabila mengeluarkan buku pelajarannya.

***

"Yan, nanti pulang sekolah ke rumahku ya, kita kerjakan tugas dari Bu Anin," ajak Nabila ke Ryan, setelah bel pulang berbunyi. 

Bu Anin adalah guru biologi yang masih muda, berusia sekitar 24 tahun. Ia memberikan tugas kelompok kepada muridnya. Setiap murid diminta untuk berkelompok dengan teman sebangkunya.

"Tapi, Nabila, aku mau pergi ke restoranku, aku mau cek pembukuan bulanan," jawab Ryan.

Ya, Ryan mempunyai restoran kecil khas Sunda. Walaupun tidak besar, tapi ia sangat senang menjalankan restoran itu.

"Ya udah kita ke restoran dulu, baru ke rumahku. Bukan apa-apa, ini harus segera dibereskan, Bu Anin ingin besok tugasnya selesai," jawab Nabila dengan nada tegas tapi halus.

"Baiklah, ayo berangkat. Lagian aku juga laper, sekalian kita makan," ajak Ryan, sambil mencubit manja pipi Nabila.

Tanpa berlama-lama, Nabila mengikuti motor Ryan menuju restoran miliknya.

Sesampainya di parkiran restoran, Ryan dihampiri Bela, asisten pribadinya.

"Mas Ryan udah sampe. Mari masuk, Mas," ajak Bela.

Nabila dan Ryan masuk ke ruangan pribadi Ryan.

Ryan duduk di kursi kebesarannya dan Nabila duduk di sofa mewah yang ada di ruanagan itu.

Bela mendekat membawa buku dan menyerahkannya kepada Ryan. "Ini, Mas, laporan bulan ini. Ada sedikit kenaikan omset di bulan ini karena menu baru kita jadi best seller," pungkas Bela dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya yang cantik, putih, bersih.

Bela sendiri merupakan wanita muda berumur 25 tahun. Ia sudah menjadi asisten Ryan sejak dua tahun terakhir. Bela memiliki body yang begitu seksi dengan ukuran dada yang sedikit lebih besar dari Nabila.

Ryan menerima laporan itu dengan senyum bahagia, kemudian mulai membaca laporan bulanannya.

"Yan, laper," ucap Nabila, memecah kesunyian di ruangan itu. Sambil berdiri memegang perutnya, Nabila menghampiri Ryan yang tengah asyik membaca laporan bulanannya.

Tanpa banyak bicara, Ryan meminta Bela menyiapkan hidangan untuk makan siang Nabila dan dirinya. Bela yang mengerti langsung bergegas meninggalkan mereka.

"Yan, apakah masih lama? Aku sudah laper," rengek Nabila dengan manja.

Ryan tak menjawab, hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu.

Tak berselang lama, hidangan makan siang yang disiapkan sudah datang. Wangi nasi liwet dan ikan bakar membuat Nabila semakin tak sabar untuk segera menyantap hidangan itu. Dengan sigap, Nabila pun mengambil nasi dan ikan bakar yang menggugah selera.

Ryan hanya senyum menatap tingkah sahabatnya itu.

Ryan menatap wajah Nabila dengan saksama. Ia sangat terpesona dengan kecantikannya.

Sesekali, Ryan juga melirik bukit kembar Nabila yang terlihat dari kancing bajunya yang terbuka sedikit. 

Warna bra yang dipakai Nabila berwarna hitam.

Melihat keindahan yang terselip di balik seragam sekolahnya, pusaka Ryan sedikit terangkat.

Tanpa disadari Ryan, Nabila pun sedikit mencuri pandang ke arah Ryan. Ia tersenyum melihat Ryan memperhatikan bukit kembarnya.

Dengan sengaja, Nabila menggoda Ryan. Ia mebuka kancing bajunya satu di bagian atas, lalu berujar...

"Duh, gerah juga ya di sini, Yan..."

Lanjut membaca
Lanjut membaca