
Mengejar Harta Tahta dan Wanita
Karya saya|Bersambung
- Jumlah kata
- 57.6K
- Popular
- 893
- Subscribe
- 209
- Jumlah kata
- 57.6K
- Popular
- 893
- Subscribe
- 209
Sinopsis
Warning Buku ini mengandung unsur dewasa harap tidak membacanya jika anda tidak berkenan
Ulasan
1 ulasan
Karya saya
27/9/26 10:28
jangan lupa dukunganya. untuk motivasi membuat cerita semakin seru. dan mohon maaf bagi yang tak berkenan. aku menghormati kalian para pembaca.
Eps 1 Harga Dari Tatapan
Di ujung Desa Tapak Tuan, tepatnya di Dusun 5, berdiri sebuah pondok kecil yang nyaris tidak pantas disebut rumah.
Dindingnya terbuat dari papan bekas yang warnanya sudah menghitam dimakan usia. Beberapa bagian bahkan mulai berlubang, sehingga angin malam bisa masuk tanpa permisi. Atap sengnya pun sudah berkarat dan akan mengeluarkan suara berisik setiap kali hujan turun.
Di situlah Aria tinggal bersama ibunya, Linda, dan adik perempuannya, Alya.
Pondok itu berdiri di tengah perkebunan milik Juragan Warno, orang terkaya sekaligus salah satu orang paling berpengaruh di Desa Tapak Tuan. Tanah perkebunan itu membentang luas, dipenuhi pohon sawit yang berjajar rapi sejauh mata memandang.
Bagi keluarga Aria, pondok itu memang sederhana, tetapi tetap menjadi tempat berlindung yang mereka syukuri.
Mereka tidak perlu membayar uang sewa.
Sebagai gantinya, Linda harus bekerja di kebun milik Juragan Warno.
Setiap pagi, sebelum matahari muncul sempurna, Linda sudah bangun. Ia memasak nasi seadanya, menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya, kemudian mengambil peralatan kerja dan berangkat ke perkebunan.
Tangannya kasar.
Kulitnya menghitam karena matahari.
Punggungnya sering terasa sakit.
Namun Linda hampir tidak pernah mengeluh.
Baginya, selama Aria dan Alya masih bisa makan dan bersekolah, rasa lelah itu tidak ada artinya.
“Aria, bangun. Sudah pagi.”
Suara Linda terdengar dari dapur kecil.
Aria yang masih meringkuk di atas kasur tipis membuka mata perlahan.
“Sudah pagi, Bu?”
“Kalau belum pagi, ayam belum berkokok. Ini ayamnya sudah tiga kali berkokok.”
Dari sudut ruangan, Alya yang masih duduk di atas tikar langsung menyahut.
“Empat kali, Bu.”
Linda menoleh.
“Ya sudah, empat kali. Yang penting kalian bangun.”
Aria tersenyum kecil.
Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Tidak ada sarapan mewah. Tidak ada meja makan besar. Mereka hanya memiliki nasi, telur, atau terkadang ikan asin yang dibagi bertiga.
Namun Linda selalu memastikan kedua anaknya mendapatkan bagian lebih banyak.
Kalau lauk hanya tersisa dua potong, Linda akan berkata bahwa dirinya sudah kenyang.
Aria sebenarnya tahu ibunya berbohong.
Begitu juga Alya.
Tetapi mereka tidak pernah membantah.
Keluarga kecil itu telah terbiasa hidup dengan kekurangan.
Ayah Aria, Bimo, sudah lama tidak bersama mereka.
Bimo mendekam di penjara karena kasus pembunuhan.
Sejak kejadian itu, kehidupan keluarga mereka berubah drastis.
Nama Bimo menjadi sesuatu yang jarang dibicarakan di rumah. Bukan karena Linda membencinya, tetapi karena setiap kali nama itu disebut, luka lama seperti kembali terbuka.
Aria sendiri masih menyimpan banyak pertanyaan tentang ayahnya.
Namun ia terlalu muda untuk memahami semuanya.
Yang ia tahu, sejak ayahnya masuk penjara, ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga.
Linda bekerja keras setiap hari demi dua anaknya.
Bahkan ketika uang mereka hampir tidak cukup untuk membeli beras, Linda tetap berusaha menyisihkan sedikit uang untuk biaya sekolah.
“Aria,” kata Linda suatu pagi sambil menyerahkan uang receh kepadanya, “ini untuk ongkos dan jajan. Jangan dihabiskan.”
Aria melihat uang itu.
“Cuma segini, Bu?”
Linda tersenyum.
“Kalau kurang, tahan lapar sebentar.”
Alya langsung tertawa.
“Nasihat macam apa itu, Bu?”
Linda ikut tertawa.
“Nasihat orang miskin.”
Tawa mereka terdengar sederhana, tetapi menyimpan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Bagi Aria, ibunya adalah orang paling kuat yang pernah ia kenal.
Ia tahu Linda tidak memiliki harta.
Tidak memiliki tanah.
Tidak memiliki kendaraan bagus.
Bahkan pakaian mereka pun sebagian sudah lama.
Tetapi Linda memiliki satu hal yang membuat Aria selalu malu untuk menyerah: tekad.
Ia ingin membuat ibunya berhenti bekerja. Ia ingin membeli rumah yang tidak bocor ketika hujan. Ia ingin Alya bisa sekolah tanpa memikirkan biaya.
Dan yang paling penting, Aria ingin suatu hari nanti tidak ada seorang pun yang memandang keluarganya hanya karena mereka miskin.
Saat itu Aria belum tahu bagaimana caranya.
Ia bahkan belum tahu masa depan seperti apa yang menunggunya.
Yang ia tahu hanyalah satu hal.
Kemiskinan bukan sesuatu yang ingin ia bawa sepanjang hidup.
---
Bagi Aria, sekolah adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa melupakan sejenak kehidupan sulit di pondok perkebunan.
Namun ada satu alasan lain yang membuat Aria selalu bersemangat datang ke sekolah.
Namanya Monika.
Monika adalah salah satu siswi yang cukup dikenal di sekolah. Wajahnya manis, pembawaannya ramah, dan ia selalu mudah tersenyum kepada siapa saja.
Bagi Aria, senyum Monika seperti matahari pagi. Masalahnya, Aria hanya berani mengaguminya dari jauh. Ia tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
Bahkan ketika teman sebangkunya bertanya, Aria selalu pura-pura tidak tertarik.
“Aria, kau suka Monika, ya?”
“Tidak.”
“Terus kenapa setiap Monika lewat, lehermu ikut berputar?”
Aria langsung mengambil buku.
“Aku cuma memastikan angin tidak kencang.”
Temannya mengerutkan kening.
“Angin?”
“Iya.”
“Memangnya Monika itu tiang bendera?”
Aria terdiam.
Temannya langsung tertawa. Aria tidak peduli, Ia hanya menyukai Monika dengan caranya sendiri. Sayangnya, Monika sudah memiliki seorang kekasih.
Namanya Ajeng.
Ajeng adalah anak Juragan Warno, pemilik perkebunan tempat keluarga Aria tinggal dan bekerja. Karena itu, Ajeng termasuk salah satu siswa yang hidup berkecukupan.
Berbeda jauh dengan Aria.
Ajeng datang ke sekolah dengan pakaian bagus, sepatu bersih, dan terkadang diantar kendaraan keluarga. Sementara Aria harus berjalan kaki dari pondok menuju sekolah.
Perbedaan kehidupan mereka sangat jelas. Namun Aria tidak pernah merasa iri. Baginya, kekayaan seseorang bukan alasan untuk menentukan siapa yang lebih baik.
Siang itu, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Para siswa berhamburan keluar kelas.
Aria memasukkan buku ke dalam tas yang sudah terlihat kusam. Ia kemudian berjalan santai menuju gerbang sekolah. Di depan sana, ia melihat Monika berjalan bersama Ajeng.
Keduanya tampak sedang berbincang. Aria secara tidak sadar memperlambat langkah. Matanya tertuju kepada Monika. Ia hanya ingin melihatnya sebentar sebelum pulang. Namun seolah mengetahui dirinya sedang diperhatikan, Monika tiba-tiba menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Aria langsung gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat. Monika tersenyum. Senyum sederhana. Tidak ada maksud apa-apa.
Tetapi bagi Aria, senyum itu terasa seperti mendapatkan hadiah terbesar hari itu.
Aria pun membalas senyum tersebut. Hanya beberapa detik. Namun ada seseorang yang melihat semuanya.
Ajeng.
Langkah Ajeng berhenti sesaat. Ia melirik ke arah Aria. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada kemarahan yang terlihat.
Tidak ada teguran.
Tidak ada suara keras.
Tetapi tatapan matanya berubah.
Aria yang tidak menyadari hal tersebut kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Ia bahkan sempat tersenyum sendiri sepanjang jalan.
“Monika senyum kepadaku.”
Kalimat itu ia ulang beberapa kali dalam hati. Sementara itu, Ajeng terus berjalan bersama Monika.
“Kenapa diam?” tanya Monika.
Ajeng tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Monika kembali berbicara tentang pelajaran yang baru saja mereka jalani. Ajeng hanya menjawab seperlunya. Pikirannya sudah tidak lagi berada di sekolah. Pikirannya tertuju kepada Aria.
Anak miskin yang tinggal di pondok perkebunan keluarganya. Anak seorang narapidana. Anak yang hidupnya bergantung pada pekerjaan yang diberikan keluarganya.
Dan sekarang anak itu berani memandang kekasihnya.
Bagi Monika, senyum tadi mungkin tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi Ajeng, kejadian itu berbeda.
Ia tidak langsung marah.
Ia tidak membuat keributan.
Ajeng hanya menyimpan kejadian tersebut dalam pikirannya. Diam-diam ia mulai menyimpan dendam.
Sementara Aria pulang dengan hati ringan, tanpa mengetahui bahwa senyum kecil yang membuatnya bahagia hari itu justru telah membuat masalah besar menunggunya di perkebunan. Dan masalah itu akan datang lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
---
Sore mulai turun ketika Aria memasuki kawasan perkebunan.
Sepulang sekolah, ia memang tidak langsung menuju pondok. Ia harus membantu ibunya mengumpulkan beberapa brondolan sawit yang tercecer di sekitar kebun. Linda sudah berpesan agar Aria berhati-hati dan tidak pulang terlalu sore.
Aria berjalan menyusuri jalan tanah sambil membawa tas sekolahnya. Pikirannya masih memikirkan kejadian siang tadi.
Senyum Monika.
Entah mengapa, setiap kali mengingatnya, wajah Aria ikut tersenyum.
“Kenapa aku senyum sendiri?” gumamnya.
Ia kemudian menggeleng.
“Sudahlah. Yang penting Monika senyum.”
Namun langkah Aria tiba-tiba terhenti.
Dari balik deretan pohon sawit, muncul tiga orang pemuda. Salah satunya adalah Ajeng. Aria langsung mengenalinya. Ajeng berjalan paling depan dengan wajah datar. Dua temannya mengikuti dari belakang.
Aria merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Ajeng?”
Ajeng tidak menjawab.
Ia justru berdiri beberapa meter di depan Aria.
“Kau Aria, kan?”
Aria mengangguk.
“Iya. Kenapa?”
Ajeng melangkah mendekat.
“Kau tadi melihat Monika?”
Aria mulai bingung.
“Memangnya kenapa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat wajah Ajeng berubah.
“Masih pura-pura tidak tahu?”
Aria belum sempat menjawab ketika salah satu teman Ajeng langsung mendorong tubuhnya.
Bruk!
Aria terjatuh ke tanah. Tas sekolahnya terlempar.
“Apa-apaan kalian?” Aria mencoba bangkit.
Namun sebuah pukulan mendarat di wajahnya.
Buk!
Aria kembali tersungkur.
“Jangan banyak bicara!” bentak salah seorang dari mereka.
Aria mencoba melindungi wajahnya.
Tetapi dua orang itu terus memukulinya. Pukulan mengenai bahu, perut, dan punggungnya. Aria berusaha melawan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.
“Berhenti!” teriak Aria.
Ajeng hanya berdiri beberapa langkah dari sana. Ia menyaksikan semuanya dengan wajah dingin. Setelah Aria tidak lagi mampu berdiri, kedua temannya berhenti.
Aria terengah-engah di tanah. Seragam sekolahnya kotor oleh tanah. Sudut bibirnya terasa perih. Ajeng kemudian berjalan mendekat. Ia jongkok di depan Aria.
“Dengar baik-baik.”
Aria menatapnya dengan napas berat.
“Jaga matamu.”
“Maksudmu?”
“Jangan lagi melihat Monika seperti tadi.”
Aria terdiam. Barulah ia memahami penyebab semuanya.
“Hanya karena aku melihat Monika?”
Ajeng tertawa kecil.
“Bukan hanya melihat.”
Ia berdiri.
“Kau anak siapa sampai merasa pantas mendekati Monika?”
Aria mengepalkan tangan.
Ajeng kemudian mulai menyerang keluarganya.
“Kau tinggal di pondok milik keluargaku. Ibumu bekerja di kebun keluargaku. Bahkan tempat kau tinggal saja bukan milikmu.”
Aria menatap tanah. Kata-kata itu terasa lebih menyakitkan daripada pukulan.
“Jangan lupa posisi keluargamu,” lanjut Ajeng. “Kalian bisa hidup karena keluargaku masih memberi pekerjaan.”
Aria mengangkat wajah.
“Aku tidak pernah meminta dikasihani.”
Ajeng tersenyum sinis.
“Tidak meminta?”
Ia menunjuk ke arah pondok yang samar terlihat di kejauhan.
“Kalau keluargaku mengusir kalian, kalian mau tinggal di mana?”
Aria tidak mampu menjawab. Ajeng puas melihatnya terdiam.
“Jadi mulai sekarang, tahu diri.”
Ia lalu berbalik dan pergi bersama kedua temannya. Sebelum benar-benar menghilang di balik pepohonan, Ajeng sempat menoleh.
“Dan satu lagi, Aria. Jangan pernah berpikir kau bisa menjadi bagian dari kehidupan kami.”
Ketiga orang itu pergi. Aria tetap terbaring di tanah. Tangannya mengepal kuat. Untuk pertama kalinya, kemiskinan terasa seperti rantai yang mengikat tubuhnya.
Ia tidak membalas.
Bukan karena takut.
Ia hanya sadar bahwa saat ini dirinya belum memiliki kekuatan untuk melawan. Aria kemudian mengambil tas sekolahnya yang kotor. Ia berdiri dengan susah payah. Di dalam hatinya muncul sebuah tekad kecil.
Suatu hari nanti, ia tidak ingin lagi hidup bergantung pada belas kasihan siapa pun. Suatu hari nanti, tidak ada seorang pun yang boleh merendahkan keluarganya hanya karena mereka miskin. Namun Aria belum tahu bahwa tekad kecil itu akan menjadi awal dari perjalanan panjangnya mengejar harta, tahta, dan wanita.
Daftar bab
40 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








