
TOPENG KEPALSUAN KELUARGAKU
Alima_Ima07|Tamat
- Jumlah kata
- 39.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
- Jumlah kata
- 39.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
Sinopsis
Selama ini, Davin hidup dengan keyakinan bahwa ia memiliki keluarga yang sempurna dan harmonis. Namun, sebuah rahasia pahit terbongkar ketika ia tak sengaja menguping pertengkaran hebat di ruang kerja ayahnya, David, dan ibunya, Syaqueena. Di balik senyum dan rumah mewah yang mereka tinggali, tersimpan topeng kepalsuan, kebencian selama lima belas tahun, serta ancaman perceraian yang menghancurkan dunianya dalam sekejap. "Lima belas tahun aku hidup di bawah rasa salahmu. Tanpa tahu apa kesalahanku padamu, aku lelah, David. Aku ingin kita bercerai!" David: (Suaranya merendah menjadi bisikan "Berhenti bertingkah seolah kamu memegang kendali atas hidupku. Karena satu-satunya hal yang menahan ku tetap di sini adalah anak itu, bukan dirimu." (Tanpa mereka sadari, di balik pintu ruang kerja yang terbuka sedikit, Davin mengepalkan tangan dengan air mata menetes di pipinya) "Jadi... rumah tangga harmonis selama ini ternyata cuma topeng. Ayah benar-benar pria brengsek."
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1
Udara malam di dalam rumah besar itu mendadak terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu kristal mewah di ruang tamu utama memancarkan pendar kuning hangat yang kontras dengan kekosongan mencekam di dada Davin. Remaja laki-laki itu berdiri mematung di dekat sudut lorong, tepat beberapa langkah dari pintu ruang kerja ayahnya yang tertutup rapat.
Napasnya memburu. Suara bantingan pintu yang begitu keras barusan masih berdengung di telinganya, menyisakan getaran asing yang merayap ke seluruh tubuhnya.
“...satu-satunya hal yang menahanku tetap di sini adalah anak itu, bukan dirimu.”
Kalimat itu terus berputar di kepala Davin, berulang-ulang seperti kaset rusak yang mencabik-cabik kewarasannya. Selama enam belas tahun usianya, Davin selalu membanggakan keluarganya. Di mata orang lain, keluarga mereka adalah lambang kesempurnaan: Ayahnya, David, adalah seorang pengusaha sukses yang disegani, sementara ibunya, Syaqueena, adalah sosok istri dan ibu yang anggun. Rumah tangga mereka selalu digambarkan rukun, tanpa cela.
Namun, malam ini, topeng indah itu terbakar dan hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri.
Davin mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap andal ke dalam kulit telapak tangan. Rasa panas tiba-tiba mendesak naik ke tenggorokannya, mendesak bulir bening pelataran mata untuk tumpah. Air mata kemarahan, kekecewaan, dan pengkhianatan melebur menjadi satu.
"Jadi... semua ini cuma sandiwara?" gumam Davin dengan suara bergetar pelan, nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri. "Selama ini aku hidup di atas kebohongan?"
Di balik pintu kayu mahoni di hadapannya, keheningan mulai merayap kembali, menggantikan amarah yang sempat meledak. Namun, bagi Davin, keheningan itu jauh lebih mematikan. Ia tahu apa yang terjadi di dalam sana. Ayahnya pasti sedang berdiri dengan tatapan dinginnya yang biasa, sementara ibunya barusan berlari pergi dengan luka batin yang selama ini dipendam sendirian.
Davin melangkah mundur perlahan. Kakinya terasa sangat berat, seolah terseret beban berton-ton. Ia tidak berani menemui ibunya malam ini, dan ia juga merasa jijik sekadar untuk menatap wajah ayahnya.
Dengan langkah terhuyung, Davin melarikan diri menuju kamarnya sendiri. Begitu ia membanting pintu kamarnya pelan dan menguncinya rapat-rapat, pertahanan remaja itu runtuh. Ia meluruh merosot di balik pintu, membenamkan wajah di antara kedua lututnya, dan membiarkan tangisnya pecah dalam sunyi.
Malam itu, Davin menyadari satu hal yang pahit: rumah mewah ini bukanlah sebuah tempat perlindungan, melainkan sebuah sangkar emas penuh kepalsuan. Dan kebencian yang baru saja tumbuh di dalam hatinya berjanji akan mengubah segalanya.
Waktu seolah merayap sangat lambat di dalam kamar bernuansa monokrom itu. Jam dinding berdetak monoton, menghitung detik-detik penuh siksaan bagi Davin Arslan Sanders. Remaja enam belas tahun itu masih bergeming di lantai dingin, bersandar pada daun pintu yang terkunci rapat. Matanya bengkak, menatap kosong pada pantulan cahaya lampu koridor yang menyelinap lewat celah bawah pintu.
Pikiran Davin melayang pada silsilah keluarga yang selama ini diagung-agungkan oleh lingkungan sosial mereka. Di luar sana, nama besar keluarga Sanders dihormati. Ibunya, Dr. Syaqueena Sanders, adalah sosok wanita perkasa yang memegang kendali penuh sebagai Presiden Direktur S.S Group—sebuah konglomerat raksasa yang membawahi berbagai bidang medis dan properti. Di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai dokter spesialis terkemuka, Syaqueena masih menyempatkan diri pulang ke rumah, memastikan kebutuhan suami dan anaknya terpenuhi dengan sempurna. Karena kesibukan sang ibu yang luar biasa di korporasi, operasional harian S.S Group untuk sementara waktu bahkan harus didelegasikan kepada tangan kanan kepercayaan keluarga, Paman Yamato, pria paruh baya yang sangat setia dan disegani.
Namun, di balik semua gelar kehormatan dan tahta kejayaan itu, ada fakta mengerikan yang baru saja menghantam kepala Davin. Mansion megah bergaya neo-classic tempat mereka berpijak malam ini bukanlah milik ayahnya. Properti mewah dengan pilar-pilar marmer putih dan lukisan dinding senilai miliaran rupiah itu sepenuhnya adalah milik Syaqueena.
David Sanders, pria yang selama ini Davin puji sebagai pahlawan dan pengusaha sukses idaman, ternyata selama lima belas tahun terakhir hidup di bawah bayang-bayang kekayaan istrinya. Lebih menyakitkan lagi, kalimat tajam sang ayah tadi berteriak nyaring di dalam batok kepala Davin: bahwa satu-satunya alasan David bertahan di mansion ini dan tetap tinggal bersama Syaqueena adalah karena dirinya—Davin.
"Jadi, selama ini aku adalah rantai besi yang mengikat mereka?" bisik Davin lirih, suaranya parau dan tercekat di tenggorokan. "Aku adalah alasan kenapa ibuku harus menderita menelan ludah kepedihan setiap hari? Dan aku juga alasan kenapa pria brengsek itu terpaksa memasang wajah bermuka dua di hadapanku?"
Rasa jijik bergemuruh hebat di dada remaja itu. Selama ini, Davin sering melawan atau merasa jengkel jika David terlalu mengatur hidupnya dengan standar disiplin yang kaku. Tapi kemarahan masa lalu itu terasa seperti angin lalu jika dibandingkan dengan tsunami emosi yang ia rasakan malam ini. Ayahnya bukan sekadar pria dingin yang otoriter; ayahnya adalah seorang pengecut yang memperalat status pernikahan demi kenyamanan hidup, sembari menanam kebencian murni kepada wanita yang telah memberinya segalanya.
Sementara itu, di lantai bawah, suasana ruang kerja utama masih diliputi sisa-sisa amarah yang menguap. David Arslan berdiri terpaku di dekat meja kerjanya yang berantakan. Kacamata bacanya tergeletak tak berdaya di sebelah cangkir kopi dingin yang nyaris tumpah. Punggung bidangnya yang biasa tampak tegap kini terlihat sedikit membungkuk, menanggung beban tak kasat mata yang teramat berat.
Pintu kayu ruangannya tertutup rapat, tetapi indra pendengaran David sempat menangkap suara langkah kaki kecil yang berlari menjauh beberapa menit lalu. Ia tahu persis siapa pemilik langkah kaki itu. Davin, putra tunggal mereka, telah mendengar semuanya. Topeng keluarga harmonis yang mereka rawat setengah mati di depan sang anak selama satu setengah dekade kini telah berkeping-keping, hancur lebur tanpa sisa.
"Sial..." gumam David rendah, tangannya mencengkeram tepi meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih.
Ada rasa bersalah yang menusuk tajam di lubuk hatinya, bercampur aduk dengan ego tinggi yang sudah mendarah daging. David bukan tidak punya alasan mengapa ia bersikap separah itu pada Syaqueena. Lima belas tahun lalu, ada sebuah garis batas tak kasat mata yang ditarik di antara mereka—sebuah perjanjian sunyi yang penuh dengan duri dan kompromi sosial. Namun, membiarkan Davin menyaksikan kebusukan rumah tangga ini secara langsung adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan. David tahu, pemuda itu memiliki darah yang sama kerasnya dengan mereka berdua. Davin tidak akan tinggal diam.
Di sisi lain mansion, di dalam kamar bernuansa lavender yang luas dan sunyi, Dr. Syaqueena Sanders duduk di tepi ranjang king-size dengan tatapan kosong. Jas dokternya tersampir rapi di sandaran kursi rias, sementara ponsel mahalnya tergeletak di atas selimut dengan layar yang menyala menampilkan pesan dari Paman Yamato mengenai laporan rapat pemegang saham esok pagi.
Syaqueena mengabaikan pesan itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya yang bergesekan dengan udara malam ber-AC dingin. Sebagai seorang dokter spesialis, ia terbiasa menyelamatkan nyawa di meja operasi, terbiasa menghadapi pasien kritis dengan kepala dingin dan tangan yang tidak boleh bergetar sedikit pun. Sebagai Presdir S.S Group, ia terbiasa membuat keputusan strategis bernilai triliunan rupiah tanpa keraguan.
Namun, untuk urusan pernikahannya sendiri, Syaqueena adalah wanita paling gagal di dunia.
Ia sudah lelah. Lelah mengenakan topeng wanita karir yang sempurna di siang hari dan istri yang diabaikan di malam hari. Kalimat David tadi—bahwa pria itu jijik padanya dan hanya bertahan demi anak—menjadi tikaman paling mematikan yang merusak sisa kewarasannya. Syaqueena meraih segelas air di nakas, meneguknya pelan untuk meredakan sesak di dadanya yang terasa seperti dihantam palu besar.
"Cukup," bisik Syaqueena pada kegelapan kamarnya, mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. Tekad bulat yang sempat tertunda selama bertahun-tahun kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh. "Lima belas tahun aku menjadi tawanan di rumahku sendiri hanya demi menjaga mental Davin. Tapi malam ini, semuanya harus berakhir. Aku tidak peduli lagi pada gengsi atau apa kata dunia luar. Perceraian ini harus terjadi."
Malam semakin larut, membawa serta angin dingin dari luar jendela yang menderu pelan menerpa kaca-kaca besar mansion mewah Sanders. Di dalam kamar masing-masing, ketiga anggota keluarga itu terjebak dalam pusaran pikiran dan kebencian yang baru saja disulut.
Davin, yang tadinya menangis tersedu-sedu di balik pintu kamarnya, perlahan mengangkat wajahnya. Sisa-sisa air mata di pipinya telah mengering, digantikan oleh sorot mata tajam yang memancarkan tekad dingin. Rasa sakit hatinya tidak lagi beralih menjadi tangisan, melainkan berubah menjadi bahan bakar yang membakar nuraninya. Jika ayah dan ibunya merasa berhak mempermainkan hidup dan perasaan di bawah atap yang sama, maka Davin bersumpah, ia tidak akan tinggal diam menjadi penonton yang bodoh.
Ia akan mencari tahu kebenaran di balik masa lalu kelam itu. Dan jika rumah ini memang harus runtuh berkeping-keping, Davin memastikan dirinya akan berdiri di barisan paling depan untuk menyaksikan kehancuran topeng kepalsuan tersebut.
Bersambung........
Daftar bab
30 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








