
Reinkarnasi Pendiri Kultivasi
Lanang Satya|Bersambung
- Jumlah kata
- 68.3K
- Popular
- 541
- Subscribe
- 22
- Jumlah kata
- 68.3K
- Popular
- 541
- Subscribe
- 22
Sinopsis
"Kalian memuja pengkhianat sebagai dewa, dan mempraktikkan racun mematikan sebagai mukjizat." Tiga ratus tahun setelah dikhianati, Sang Pendiri Kultivasi membuka mata di tubuh Aksara Wangsatara; seorang tuan muda cacat yang dibuang dan diinjak-injak oleh keluarganya sendiri. Dia mendapati dunia yang dia bangun perlahan hancur. Peradaban dicuci otaknya untuk memuja para pembunuhnya, sementara seluruh petarung di dunia tanpa sadar mempraktikkan ilmu kultivasi "cacat" yang diam-diam menggerogoti nyawa mereka. Dengan fisik fana rapuh, dia harus mengandalkan kelicikan, manipulasi maut, dan ingatannya tentang hukum alam murni. Ini bukan sekadar balas dendam biasa; ini adalah jalan darah Sang Pendiri Kultivasi untuk merobek langit dan memaksa para dewa palsu berlutut memohon kematian.
Ulasan
2 ulasan
✯⃝ 𝓐𝓡𝓐𝓝 𝟰࿐𝟴✯⃝
9/10/26 04:20
ketemu satu lagi novel yang menarik dan asyik untuk di baca, ceritanya lugas dan tidak bertele-tele, makasih Thor mantap 👍🏻
PILIHANAlbanna
3/10/26 10:16
Lanjut Thor lagi seru-serunya malah habis bab yang bisa dibaca. Gaskeun kalo perlu sehari 10 bab. Ditunggu banget ni
Kematian Sang Pendiri Kultivasi
"Jika kau berniat mengakhiri nyawaku malam ini, jangan biarkan tanganmu bergetar seperti pengecut, Wiratama."
"Guru tidak perlu menceramahiku! Dunia persilatan ini bosan menanggung bayang-bayang kebesaran Guru."
Bilah pedang yang menembus dada Mahawirya Wangsatara bergetar saat kilat menyambar langit. Badai mengamuk di puncak Gunung Kedap, menciptakan pusaran angin kencang.
Mahawirya, legenda penemu Energi Kultivasi Niskala, berdiri tegak tanpa rasa sakit meski darah mengalir deras dari dadanya. Di hadapannya, Wiratama Adinagara, murid pertama yang paling dia percayai, berdiri mencengkeram pedang dengan mata dipenuhi ambisi kekuasaan absolut.
"Aku menarikmu dari jalanan, memberimu makan, dan membagikan seluruh pemahaman Jalan Kultivasi Niskala agar kau hidup lebih tinggi dari sekadar makhluk fana," ucap Mahawirya tenang.
"Aku membuka jalan agar kau bisa menyerap energi alam dan memperpanjang umur. Apakah ambisi kekuasaan membuat matamu buta?"
"Aku yang akan memimpin dunia persilatan ini menuju era baru!" Wiratama berteriak histeris, membiarkan air hujan membasahi wajah pucatnya.
"Semua sekte besar memuja Kultivasi Niskala, tetapi mereka hanya tunduk kepada penciptanya. Selama Guru masih bernapas, aku hanya menjadi bayangan. Aku hanya akan diingat sebagai murid pertama, bukan penguasa tertinggi yang ditakuti dunia!"
Mahawirya menatap murid pertamanya dengan senyuman tipis yang dipenuhi rasa kasihan. Alasan kejadian malam ini ternyata sangat sederhana. Ini tentang keserakahan murid berhati kotor yang ingin merampas monopoli kekuasaan dari tangan gurunya.
"Kau menyalahkan keberadaanku atas ketidakmampuanmu memimpin semua sekte besar itu, Wiratama? Kau tega membunuhku hanya demi tahta fana?"
"Jika Guru dibiarkan hidup lebih lama, aku tidak akan pernah bisa menguasai dunia kultivasi ini. Dunia persilatan membutuhkan satu pemimpin, dan pemimpin tunggal itu adalah aku!" balas Wiratama dengan suara bergetar menahan emosi di dadanya.
"Lalu, kau berpikir dengan membunuhku, kau mendapatkan rasa hormat sejati dari dunia persilatan?" Mahawirya tertawa pelan. Darah merembes dari bibirnya.
"Kau sungguh naif, Wiratama. Mereka mungkin tunduk padamu sementara waktu. Namun pada akhirnya, mereka akan menyadari bahwa kau hanyalah pencuri rendahan yang merampas ilmu dari orang yang telah memberimu makan."
"Mereka tidak akan pernah tahu kebenarannya!" bantah Wiratama dengan mata memerah penuh kebencian.
"Sejarah ditulis oleh pemenang. Aku akan menyebarkan cerita bahwa pendiri kultivasi meninggal tragis akibat kegagalan energi saat berlatih. Semua pendekar akan menganggap Guru sebagai orang cacat yang gagal mengendalikan ciptaannya sendiri.”
“Setelah menangisi kematian Guru, mereka akan memohon kepadaku untuk menjadi penerus tunggal. Perlahan, aku memastikan nama Guru terhapus selamanya dari sejarah sehingga hanya namaku yang dipuja!"
"Kau menyebut tindakan menusuk orang yang telah membesarkanmu sebagai jalan menuju kemenangan sejati? Kau hanya mencari pembenaran palsu atas keserakahan yang telah menggerogoti hatimu."
"Aku melakukan ini murni demi masa depanku sendiri. Aku tidak peduli dengan apa yang Guru pikirkan tentang moralitas atau keadilan. Sejarah akan mengingatku sebagai pahlawan agung dan dewa kultivasi yang baru!" teriak Wiratama, memajukan pedangnya lebih dalam hingga menembus tulang rusuk sang guru tanpa rasa bersalah.
Mahawirya tidak bergeming sedikit pun meskipun rasa sakit hebat menyengat dadanya. Dia menatap lurus ke dalam bola mata Wiratama, menelanjangi segala kebohongan licik dan ketakutan yang disembunyikan oleh muridnya tersebut.
"Kau salah besar, Wiratama," bisik Mahawirya. Suaranya mengalir jernih, mendominasi suara badai yang mengamuk di puncak gunung. "Kau membunuhku malam ini karena kau tahu pasti, selama aku masih bernapas, kau akan selalu menjadi nomor dua. Kau haus akan pengakuan mutlak dari dunia persilatan, namun kau tidak memiliki kemampuan murni untuk mencapainya sendiri."
"Dunia persilatan memuja Kultivasi Niskala sebagai jalan hidup mutlak, Guru! Semua sekte tunduk patuh pada ajaran kita. Tetapi selama Guru masih ada, mereka tidak akan menatapku sebagai pemimpin sejati. Hari ini juga, lembar sejarah baru akan ditulis ulang dari awal, dan namaku yang akan berdiri tegak di puncaknya!"
Mendengar pengakuan kotor tersebut, Mahawirya tidak menunjukkan sedikit pun kemarahan di wajahnya. Dia membiarkan energi primordial di sekitarnya yang sempat meronta untuk menghancurkan Wiratama kembali mereda.
Dia tidak akan mengotori kedua tangannya sendiri dengan membunuh orang yang pernah dia anggap sebagai anak kandungnya. Mahawirya menyadari bahwa memberikan kekuatan mutlak kepada manusia berhati kerdil adalah sebuah kesalahan besar yang tidak termaafkan.
"Lakukan, Wiratama. Selesaikan apa yang sudah kau mulai malam ini."
Dengan tangan bergetar, Wiratama menarik paksa bilah pedangnya. Darah menyembur membasahi tanah berbatu di bawah kaki mereka.
Mahawirya menolak keras untuk jatuh berlutut di hadapan sang pengkhianat. Dia tetap mempertahankan posturnya yang agung sebagai pencipta kultivasi tertinggi. Dia membalikkan badan dengan sisa tenaga dan melangkah tertatih menuju bibir tebing yang sangat gelap gulita.
"Dunia yang kutinggalkan ini akan membusuk perlahan di bawah kepemimpinan manusia picik sepertimu," ucap Mahawirya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Dia menatap hamparan dunia persilatan yang luas dari atas tebing curam tersebut.
"Guru tidak perlu mengkhawatirkan nasib dunia ini. Mulai malam ini, dunia persilatan ini adalah milikku seutuhnya!" balas Wiratama sambil mengangkat pedangnya tinggi ke udara, bersiap memberikan tebasan terakhir yang mematikan ke punggung gurunya.
Langkah Wiratama mendadak terhenti saat Mahawirya menoleh ke belakang. Mata sang pendiri memancarkan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan, membuat jiwa Wiratama terguncang hebat dan nyaris meruntuhkan kewarasannya.
"Kau mungkin dapat menghapus namaku dari sejarah peradaban ini, Wiratama," ucap Mahawirya dengan suara yang menggema kuat menembus cakrawala, mengukir sumpah abadi di aliran waktu kehidupan. "Namun, kalian tidak akan pernah bisa menghapus jalan kultivasi yang telah kubuka untuk dunia ini!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Mahawirya membiarkan tubuhnya condong ke belakang. Dia menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam jurang maut tanpa dasar, tertelan seutuhnya oleh kegelapan badai yang masih mengamuk tanpa henti.
Wiratama berlari kencang menuju tepi tebing yang basah, menatap ke bawah jurang dengan napas memburu dan dada yang naik turun dengan cepat. Sang legenda kini telah tiada, mati membawa kisah yang selamanya terkubur dalam diam.
Tiga ratus tahun berlalu bagaikan kedipan mata. Waktu mengalir tanpa henti, menghapus jejak sang legenda dan menggantinya dengan kebohongan manis yang diciptakan para pengkhianat. Ajaran murni tersebut berubah wujud menjadi alat kekuasaan semata bagi orang-orang serakah.
Kesunyian panjang yang melingkupi jiwa itu pecah oleh tarikan napas keras. Di sebuah kamar tidur yang sempit dan pengap, sepasang mata pemuda seketika terbuka lebar. Mata itu memancarkan cahaya keemasan kuno yang sama persis dengan cahaya di puncak Gunung Kedap tiga ratus tahun lalu.
Dia bangkit perlahan dari ranjang kayu reot, menatap telapak kedua tangannya yang kini terasa lemah. Ingatan sang pendiri kultivasi mendadak bercampur aduk dengan kepingan memori yang menyedihkan dari seorang anak buangan dari keluarga bangsawan.
Tubuh rapuh itu bernama Aksara Wangsatara, pemuda berusia sembilan belas tahun yang selalu dihina dan dianggap manusia cacat oleh seluruh dunia karena selalu gagal membangkitkan energi kultivasinya.
"Aku hidup kembali?" bisiknya di tengah keheningan malam yang sunyi, menyadari bahwa garis takdir akhirnya memberinya kesempatan hidup yang kedua.
Daftar bab
59 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








