

Hujan turun sejak sore.
Tetesannya membasahi kaca jendela sebuah kamar kecil di lantai dua rumah kontrakan sederhana di pinggir kota. Suara hujan bercampur dengan suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan depan.
Di dalam kamar itu, seorang pemuda duduk sendirian di depan meja.
Namanya Ryan.
Usianya dua puluh lima tahun.
Di atas meja terdapat sebuah laptop tua, beberapa lembar dokumen, dan secangkir kopi yang sudah lama tidak disentuh.
Ryan menatap layar laptop dengan wajah lelah.
Sudah hampir dua jam ia mengirimkan lamaran pekerjaan.
Satu demi satu.
Namun, hasilnya tetap sama.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada email.
Tidak ada kabar.
Ryan menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Sepertinya memang bukan rezekiku.”
Ia mencoba tersenyum, meskipun hatinya terasa berat.
Selama beberapa tahun terakhir, kehidupan Ryan memang tidak pernah berjalan sesuai keinginannya.
Setelah kehilangan kedua orang tuanya ketika masih remaja, Ryan hidup bersama keluarga dari pihak ibunya. Awalnya ia mengira mereka akan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
Ternyata ia salah.
Selama bertahun-tahun, Ryan selalu dianggap sebagai beban.
Ia tidak pernah mendapatkan kehidupan mewah seperti anggota keluarga lainnya.
Bahkan untuk melanjutkan kuliah saja, Ryan harus bekerja sambilan.
Setelah lulus, ia semakin sulit mendapatkan pekerjaan tetap.
Beberapa perusahaan menolaknya.
Sebagian bahkan tidak memberikan kesempatan untuk wawancara.
Ryan tidak tahu bahwa di balik semua itu ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari dirinya.
Sebuah rahasia besar tentang identitas keluarganya.
Dan malam ini, rahasia itu akan mulai terbuka.
Ryan menutup laptop.
Perutnya terasa lapar.
Ia membuka dompet dan menghitung uang yang tersisa.
“Lima puluh ribu.”
Ryan tertawa kecil.
“Harus cukup sampai beberapa hari.”
Ia berdiri dan mengambil jaket hitam yang tergantung di belakang pintu.
Malam itu ia berniat membeli makanan murah di warung dekat rumah.
Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat.
Ryan berhenti.
“Aduh…”
Ia memegang pelipis.
Pandangan matanya mendadak kabur.
Kemudian…
TING!
Sebuah suara asing terdengar jelas di dalam kepalanya.
Ryan membeku.
“Siapa?”
Tidak ada siapa-siapa di kamar.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
TING!
Suara itu kembali terdengar.
[Sistem Rahasia berhasil diaktifkan.]
Ryan terdiam.
Matanya membesar.
“Apa?”
Beberapa detik kemudian, sebuah layar transparan muncul di depan matanya.
Ryan spontan mundur.
Layar itu melayang di udara.
Tidak ada proyektor.
Tidak ada perangkat.
Hanya sebuah panel berwarna biru yang dapat dilihat dengan jelas.
[Selamat datang, Ryan.]
[Anda telah memenuhi persyaratan untuk mengaktifkan Sistem Rahasia.]
Ryan menelan ludah.
“Ini… mimpi?”
Ia mengangkat tangan dan mencoba menyentuh layar tersebut.
Anehnya, jarinya benar-benar menyentuh sesuatu.
Panel itu bergerak.
Ryan langsung menarik tangannya.
“Mustahil.”
[Identitas pengguna telah diverifikasi.]
[Nama: Ryan.]
[Usia: 25 tahun.]
[Status: Pewaris Utama Keluarga Wijaya.]
Ryan terdiam.
Kalimat terakhir membuat wajahnya berubah.
“Pewaris… apa?”
Ia membaca kembali tulisan tersebut.
Pewaris Utama Keluarga Wijaya.
Nama keluarga itu sangat familiar.
Keluarga Wijaya merupakan salah satu keluarga bisnis terbesar di kota tersebut.
Nama mereka sering muncul di berita.
Hotel.
Properti.
Perusahaan teknologi.
Pusat perbelanjaan.
Bahkan beberapa perusahaan besar lainnya berada di bawah jaringan bisnis keluarga Wijaya.
Ryan menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa memiliki hubungan dengan keluarga tersebut.
Ia bahkan hidup dalam kondisi serba kekurangan.
Bagaimana mungkin dirinya disebut pewaris?
[Informasi mengenai identitas pengguna masih terkunci.]
Ryan mengerutkan kening.
“Kalau begitu, siapa aku sebenarnya?”
Tidak ada jawaban.
Panel berubah.
[Misi Awal telah tersedia.]
Sebuah kotak baru muncul.
MISI 01: UBAH KEHIDUPANMU
Target: Memiliki penghasilan pertama melalui kemampuan sendiri.
Batas waktu: 24 jam.
Hadiah: Rp10.000.000
Penalti: Akses sistem ditangguhkan selama 30 hari.
Ryan membaca tulisan itu berulang kali.
“Sepuluh juta?”
Untuk sesaat ia mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Tetapi angka itu tetap berada di sana.
Ryan duduk kembali.
Pikirannya berputar.
Jika sistem ini benar-benar nyata, sepuluh juta rupiah tentu bisa mengubah banyak hal dalam hidupnya.
Namun masalahnya adalah…
Bagaimana cara mendapatkan penghasilan dalam waktu dua puluh empat jam?
Ryan tidak memiliki pekerjaan.
Tidak memiliki modal.
Tidak memiliki koneksi.
Dan tidak memiliki barang berharga yang bisa dijual.
Ia menatap sekeliling kamarnya.
Sebuah laptop tua.
Ponsel.
Beberapa pakaian.
Hanya itu.
“Jadi aku harus mulai dari mana?”
[Sistem tidak memberikan jalan pintas.]
[Sistem hanya memberikan kesempatan.]
Ryan terdiam.
Entah mengapa, kalimat itu membuatnya tersenyum.
“Kesempatan…”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ryan merasa ada sesuatu yang sedang menunggunya.
Ia membuka laptop kembali.
Ryan mulai berpikir.
Ia pernah belajar pemasaran digital secara mandiri. Ia juga pernah membantu beberapa pedagang kecil membuat iklan di media sosial.
Masalahnya, selama ini ia melakukannya tanpa bayaran.
Namun mungkin…
Sekarang waktunya mencoba menjadikan kemampuan itu sebagai pekerjaan.
Ryan membuka beberapa platform bisnis lokal dan mencari usaha yang membutuhkan bantuan promosi.
Setelah hampir tiga puluh menit, ia menemukan sebuah kedai kecil yang baru saja membuka cabang.
Ryan membuat sebuah konsep promosi sederhana.
Ia kemudian mengirimkan pesan kepada pemilik kedai.
“Selamat malam, saya melihat usaha Anda baru membuka cabang. Saya bisa membantu membuat strategi promosi media sosial dan materi iklan sederhana. Kalau berminat, saya bisa memberikan contoh terlebih dahulu.”
Pesan itu terkirim.
Ryan menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada balasan.
Ia hampir menyerah.
Kemudian ponselnya bergetar.
BZZT!
Sebuah pesan masuk.
“Kamu bisa bantu? Kalau memang bisa, kirim contoh.”
Ryan langsung duduk tegak.
“Serius?”
Ia segera mengerjakan contoh promosi.
Dua jam berlalu.
Hujan di luar mulai mereda.
Ryan akhirnya mengirimkan hasilnya.
Tidak sampai lima menit, balasan kembali masuk.
“Bagus. Berapa tarifmu?”
Ryan menatap layar.
Tangannya sedikit gemetar.
Ini mungkin pekerjaan kecil.
Namun baginya, ini adalah kesempatan pertama.
Ia mengetik sebuah angka.
Rp500.000.
Pesan terkirim.
Beberapa detik kemudian…
“Oke. Saya transfer sekarang.”
Ryan membeku.
Ponselnya berbunyi.
TING!
Notifikasi transaksi masuk.
Rp500.000 diterima.
Pada saat yang sama, panel sistem muncul kembali.
[Selamat.]
[Penghasilan pertama berhasil diperoleh.]
[Misi Awal selesai.]
Ryan menatap layar itu.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, tulisan baru muncul.
[Hadiah Rp10.000.000 telah diterima.]
Mata Ryan melebar.
Ponselnya kembali berbunyi.
Saldo rekeningnya berubah.
Ryan sampai berdiri dari kursinya.
“Sepuluh juta…”
Ia menatap angka tersebut dengan tidak percaya.
Tetapi kejutan belum selesai.
Panel sistem menampilkan satu pesan terakhir.
[Misi berikutnya akan terbuka setelah pengguna mencapai penghasilan Rp5.000.000.]
Ryan mengerutkan kening.
Lalu sebuah tulisan merah muncul di bagian bawah.
[Peringatan.]
[Jangan mencari identitas Anda.]
[Identitas tersebut akan mencari Anda terlebih dahulu.]
Ryan terdiam.
Senyumnya perlahan menghilang.
“Apa maksudnya?”
Tidak ada jawaban.
Panel sistem menghilang begitu saja.
Di luar sana, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah kontrakan Ryan.
Seorang pria berjas turun dari dalam mobil.
Ia berdiri di bawah payung sambil menatap lantai dua rumah tersebut.
Tangannya memegang sebuah map hitam.
Di halaman pertama map itu terdapat satu foto lama.
Foto seorang pria dan wanita muda yang sedang menggendong seorang bayi.
Di bawah foto tersebut tertulis satu nama:
RYAN WIJAYA.
Pria berjas itu menarik napas panjang.
“Setelah dua puluh lima tahun…”
Ia menatap jendela kamar Ryan.
“Akhirnya kami menemukan Anda, Tuan Muda.”
Dan malam itu…
Tanpa Ryan sadari, kehidupan sederhananya telah berakhir.