
MENJADI KONGLOMERAT SETELAH TERSEDOT MESIN WAKTU
Endorama|Bersambung
- Jumlah kata
- 76.1K
- Popular
- 169
- Subscribe
- 20
- Jumlah kata
- 76.1K
- Popular
- 169
- Subscribe
- 20
Sinopsis
Aku, Adi Yudha Narasangsa Biasa dipanggil Ade. Seorang pria Berusia 44 tahun yang kurang beruntung ditahun 2026. Nasibku di 2026 kurang bagus. Aku cuma lulusan SMK. swasta di Pinggiran dekat pusat kota kecil Pemalang Jawa Tengah. Aku memperbaiki diri, mempelajari apapun tentang psikologi, law of attraction, logika, elektronika, microcontroller, koding, hingga akhirnya mencoba merekonstruksi mesin waktu buatan John Titor dengan peralatan seadanya. Aku kembali ke tahun 2000 di bulan Juli. Aku kembali bertemu dengan kekasih di masa sekolah. Tina, gadis cantik yang periang dan suka iseng. Meski bukan yang tercantik dikelasnya. begitu juga Diva adik kelas yang kuanggap adik. Diva selalu mengagumiku dan diam-diam mencintaiku. Namun, Diva selalu menghormati aku dan Tina. Meskipun, Diva selalu mengekor dan mengganggu aku dan Tina dengan gaya manja dan ceplas-ceplos. Bermodalkan catatan peristiwa penting di dunia finansial, aku mulai Merencanakan perbaikan finansialku bersama orang-orang yang mendukungku. Meski aku tetap tidak berubah nakalnya, namun sekarang nakalku tetap terukur. Nanti nya juga aku bertemu Daniel, seorang teman sekolah -anak keturunan Tionghoa- namun tidak satu kelas yang menjadi rival di saat persaingan usaha. Pertama kali aku terbangun di UKS sekolah pada Maret 2001.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 : Tersadar Oleh Aroma Kayu Putih UKS
Bau menyengat minyak angin caplang dan aroma khas obat luka betadine seketika menyengat hidungku. Suara derit kipas angin gantung berkarat di langit-langit ruangan itu berputar lambat, menghasilkan bunyi *kriuk-kriuk* monoton yang memecah keheningan. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Pandanganku yang awalnya buram perlahan-lahan fokus pada dinding papan tripleks putih yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya.
Di sebelah ranjang besi tempatku berbaring, sebuah jendela nako terbuka lebar, memperlihatkan langit biru cerah berpadu dengan gumpalan awan putih tipis khas pagi menjelang siang di sebuah kota kecil. Dari luar, samar-samar terdengar suara bising deru knalpot motor bebek *two-stroke*—seperti Yamaha FizR atau Suzuki Satria 2-tak—serta teriakan riuh anak-anak remaja yang sedang jam istirahat.
Aku meraba kepalaku yang terasa agak pusing. Kulit wajahku terasa ringan. Tidak ada kerutan di sekitar mata, tidak ada nyeri sendi yang biasa menyerang pria paruh baya berusia 44 tahun, dan yang paling mengejutkan: telapak tanganku terasa lebih kecil, halus, tanpa kapalan tebal akibat lembur di depan layar komputer pabrik tempatku bekerja dulu.
"Udah sadar, de? Lu pingsan tadi pas upacara bendera, atau gara-gara kehabisan napas abis lari-lari dihukum Pak Syaiful?"
Sebuah suara akrab, cempreng namun penuh energi, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke samping. Di kursi kayu pendek bercat hijau lumut yang sudah pudar, duduklah seorang pemuda bertubuh kurus dengan potongan rambut *spike* tipis ala anak band era awal 2000-an, mengenakan seragam putih abu-abu berlogo OSIS dengan badge kelas yang agak miring.
"Muklis...?" gumamku pelan, suara serak keluar dari tenggorokan.
Pemuda itu—Muklis—tertawa kecil sambil melemparkan gulungan kertas bungkus kacang ke lantai. "Yailah, kesambet apa lu? Baru juga digebukin mentalnya gara-gara PR Akuntansi Keuangan belum kelar, masa kesurupan panggil-panggil nama gua pake nada melow gitu. Kayak ketemu pacar aja lu."
Aku tertegun. Otakku yang sudah terbiasa memproses algoritma koding tingkat tinggi, rangkaian mikrokontroler AVR, diagram skematik mesin waktu rekonstruksi ala John Titor, mendadak berputar mundur, mencocokkan kembali memori biologis dan kronologi kosmik yang baru saja kuhantam.
Tahun 2026... ya, hidupku di tahun itu hancur lebur tanpa sisa. Selepas lulus dari SMK Taruna Bangsa Pemalang—sekolah swasta di pinggiran dekat pusat kota kecil Pemalang, Jawa Tengah—nasibku memang seperti gelandangan emosional. Aku, Adi Yudha Narasangsa, atau yang lebih akrab dipanggil Ade, adalah tipikal pria brengsek yang terjebak dalam pusaran pelukan para wanita. Ada Novi, gadis satu sekampung di Banyumudal, Moga; lalu Aini yang juga berasal dari desa yang sama; kemudian April, seorang janda yang kukenal saat mengadu nasib di belantara Jakarta; hingga puncaknya, pernikahan penuh luka dan pengkhianatan bersama Yeyen yang membuat rumah tanggaku runtuh berkeping-keping.
Hidupku hancur total, tersisa rasa penyesalan yang membakar lambung setiap malam. Namun, di titik balik terendah itulah aku bangkit secara ekstrem. Aku membaca ratusan literatur psikologi, mendalami hukum tarik-menarik (*law of attraction*), melatih logika berpikir tajam, mempelajari elektronika analog-digital, mikrokontroler, hingga bahasa pemrograman tingkat rendah. Puncaknya, dengan sisa-sisa akal sehat dan peralatan loak seadanya di sebuah kamar sempit, aku nekat merakit ulang teori distorsi waktu berbasis kalkulasi osilasi gravitasi mikro milik John Titor. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin mereset takdir.
Dan sekarang... aku benar-benar berada di sini. Berdasarkan memori yang bergemuruh di kepalaku, aku terbangun di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SMK Taruna Bangsa pada bulan Maret tahun 2001.
Aku bukan lagi pria 44 tahun yang putus asa. Aku kembali menjadi remaja berusia 17 tahun, duduk di kelas 3 AK 2 (Akuntansi 2). Seorang anak dusun dari Desa Banyumudal, lereng barat laut Pemalang yang sejuk, tempat di mana tiap subuh aku harus mengejar bus antarkota demi menuntut ilmu di kota kabupaten.
"Heh, Ade! Malah melongo!" Toro menyusul masuk, menerobos pintu UKS sambil membawa seplastik es teh manis berbalut karet gelang dan gorengan bakwan yang masih mengepulkan minyak panas. Toro adalah satu lagi sahabat setiaku di sekolah ini—teman segeng yang selalu kompak dalam kenakalan remaja, bolos jam pelajaran teori kejuruan, atau sekadar nongkrong di warung kopi belakang terminal.
"Nih, minum dulu biar nyawanya balik ke raga. Pucet banget muka lu kaya orang utang BRI belum bayar," ledek Toro sambil meletakkan bungkusan plastik di atas meja resep sebelah ranjang.
Aku bangkit, duduk bersandar pada dinding tripleks. Kutarik napas dalam-dalam. Aroma khas debu kapur tulis, kertas HVS murah, dan wangi minyak rambut *Gatsby* murahan milik Toro menguar di udara. Ini nyata. Dunia di mana ponsel masih barang mewah milik para bos besar, di mana warung internet (warnet) masih menggunakan koneksi dial-up *TelkomNet Instant* yang berisik (*bii-uu-uu-krrrt-schhh*), dan di mana masa depan dunia keuangan global serta krisis moneter Asia masih terbentang sebagai lembar contekan raksasa di dalam kepalaku.
"Gua gapapa, Tor, Klis," kataku lirih sambil tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Toro dan Muklis saling berpandangan dengan kening berkerut.
"Wah, gila. Biasanya abis pingsan tuh lu langsung misuh-misuh nyariin rokok surya batangan di kantong celana, atau ngomel-ngomel karena tugas akuntansi pak Parto belum disalin. Ini malah senyum-senyum misterius kayak dukun beranak dapet pasien kaya," komentar Muklis heran.
"Udah biarin aja, mungkin dia abis ketemu bidadari di alam gaib," timpal Toro nyengir lebar sambil menggigit bakwan panas.
Aku hanya tertawa kecil. Biarlah mereka mengira aku aneh. Di dalam dadaku saat ini, sebuah mesin waktu biologis telah berdetak. Aku tahu persis apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Aku tahu krisis finansial apa yang akan melanda, saham mana yang kelak akan meroket, dan bagaimana cara memutar modal kecil dari hasil jerih payah mendiang bapakku di Banyumudal menjadi sebuah imperium bisnis yang mandiri.
Namun, bukan hanya urusan uang yang membuat jantungku berdegup kencang pagi ini. Ada nama-nama lain yang terpatri di masa lalu ini—nama-nama wanita yang pernah mengisi relung hatiku dengan cinta, tawa, air mata, dan nostalgia masa muda yang tak ternilai harganya.
---
Jam istirahat hampir usai ketika aku berjalan keluar dari ruang UKS didampingi Toro dan Muklis. Koridor sekolah berlantai tegel abu-abu itu dipenuhi oleh lalu-lalang siswa-siswi berseragam putih abu-abu. Suara derap sepatu pantofel beradu dengan lantai, gelak tawa remaja putri yang berjalan bergerombol sambil membawa buku catatan binder tebal bermotif kartun, serta aroma wangi bedak bayi bercampur keringat remaja menghiasi lorong sekolah.
Tiba-tiba, dari arah tangga lantai dua, sesosok gadis berambut sebahu dengan pita kecil terselip di telinganya muncul sambil berlari kecil membawa setumpuk buku LKS. Wajahnya ceria, matanya bulat bersinar, dan senyumnya... senyuman itu langsung menghujam tepat di tengah dadaku.
Tina.
Anak kelas 3 Sekretaris 2 (3 Sk 2). Gadis periang, manis, dan terkenal paling usil seantero jurusan perkantoran. Meskipun bukan gadis paling sempurna kecantikannya di sekolah, ada daya tarik luar biasa dari gerak-gerik lincahnya yang selalu membuat siapa pun di sekitarnya merasa hidup.
"Eh, Ade! Udah sembuh lu? Katanya tadi pingsan pas upacara, cupu banget sih jadi cowok!" seru Tina begitu melihatku, langsung berhenti tepat di depanku tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Tangannya yang bebas langsung menowel lenganku dengan gaya isengnya yang khas.
Hatiku berdesir hebat. Berada di hadapan Tina versi tahun 2001 setelah merasakan kepahitan hidup di tahun 2026 membuatku tertegun beberapa detik. Di masa depan, kisah cinta kami memang menemui jalan berliku dan perpisahan yang menyakitkan, tetapi di detik ini, di lorong sekolah berbau cat dinding yang mengelupas ini, Tina adalah malaikat kecil yang membawa kehangatan musim semi.
"Udah sehat, Tin. Tenang aja, nyawa gua masih panjang, belum dipanggil malaikat maut karena baru liat muka lu aja," jawabku santai, membalas dengan gaya khas kenakalanku dulu.
Tina mendengus geli, hidungnya sedikit mengernyit lucu. "Idih, gombal banget! Mulai berani ya sekarang anak akuntansi. Awas ya, PR akuntansi lu nanti gua contek kalau udah beres!"
Sebelum aku sempat membalas, sebuah suara manja nan nyaring menyusul dari belakang Tina.
"Kak Adeeee...!"
Sesosok tubuh mungil berlari kecil menyusul. Diva. Adik kelas kami dari kelas 1 yang wajahnya masih menyisakan rona kekanak-kanakan, pipi tembem, dan gaya bicara ceplas-ceplos tanpa filter. Diva adalah adik kelas yang selalu mengagumiku secara terang-terangan. Meskipun aku hanyalah seorang "anak nakal" di sekolah—tukang bolos, hobi nongkrong, dan langganan guru BK—Diva selalu memperlakukanku dengan rasa hormat yang aneh bercampur rasa kagum yang kekanak-kanakan. Dia selalu mengekor ke mana pun aku, Tina, Toro, dan Muklis pergi, kadang membuat Tina cemburu setengah mati, meski pada akhirnya kami bertiga menjadi komplotan yang tak terpisahkan di sekolah.
"Kak Ade sakit apa? Kok pucet? Perlu dibawain pisang goreng bikinan kantin bi Inah gak? Biar kuat lagi!" cerocos Diva tanpa henti, tangannya langsung memegang ujung lengan seragamku dengan manja, mengabaikan tatapan pura-pura kesal dari Tina.
"Diva, jangan nempel-nempel mulu, kaya prangko!" protes Tina sambil mencolek dahi Diva pelan. "Kak Ade-nya baru sembuh, jangan digantungin beban pikiran sama tingkah laku lu yang ada-ada aja."
"Iih, Kak Tina mah sirik aja! Biarin, orang aku cuma khawatir sama Kak Ade," jawab Diva sambil menjulurkan lidah kecilnya, memasang wajah cemberut yang menggemaskan.
Toro dan Muklis langsung terkekeh geli melihat pemandangan klasik itu. Suasana ini... persahabatan ini, aroma masa muda ini, terasa begitu kontras dengan kesunyian dingin kamarku di tahun 2026. Di sinilah aku berdiri di antara dua gadis yang mencintaiku dengan tulus di masa lalu, dikelilingi sahabat-sahabat sejati yang belum tahu bahwa dunia luar sana kelak akan menghantam kami dengan keras.
Namun, aku bukan lagi Ade yang bodoh dan membiarkan takdir mempermainkan jalurnya.
Aku menatap Tina yang tersenyum manis menungguku bicara, lalu beralih pada Diva yang masih setia mencengkeram ujung lengan bajuku dengan mata berbinar penuh kekaguman. Di balik senyum santai dan kenakalan remajaku, roda gigi di dalam kepalaku mulai berputar kencang. Aku sudah menyusun cetak biru kehidupan finansialku. Aku tahu catatan peristiwa penting bursa saham, komoditas global, hingga kebangkitan teknologi digital yang akan meledak satu dekade ke depan. Aku juga tahu bahwa kelak, seorang anak keturunan Tionghoa bernama Daniel—rival bisnis tangguh yang kelak menjadi mitra sekaligus pesaing beratku—akan segera memasuki lingkaran pergaulanku di luar sekolah.
Namun untuk hari ini, di bulan Maret 2001 yang cerah di Pemalang, biarlah aku menikmati embusan angin pedesaan yang menyejukkan jiwa. Aku kembali ke masa lalu bukan sekadar untuk meratapi sejarah, melainkan untuk menulis ulang takdirku sendiri—dengan nakal yang terukur, akal yang tajam, dan hati yang siap melindungi orang-orang di sekitarku.
"Udah, yuk masuk kelas. Keburu bel berbunyi, nanti kita diseret Pak Syaiful lagi ke lapangan," ajakku kepada mereka semua.
Tina mengangguk, Diva berjalan di sisi kiriku sambil terus berceloteh riang, sementara Toro dan Muklis berjalan di belakang sambil tertawa-tawa membicarakan rencana bolos mata pelajaran olahraga sore nanti.
Langkah kakiku menapak pasti di lantai koridor sekolah SMK Taruna Bangsa. Perjalanan panjang baru saja dimulai, dan kali ini, aku adalah kapten dari kapal waktuku sendiri.
Daftar bab
60 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








