
Di Bawah Bulan Merah
Andy Togar|Bersambung
- Jumlah kata
- 64.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 7
- Jumlah kata
- 64.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 7
Sinopsis
Pemuda desa, Kiran diburu karena darahnya — darah yang lahir di bawah bulan merah. Lari hingga jatuh ke lembah terlarang, ia bertemu Kael, pria misterius yang melindunginya sekaligus menyimpan rahasia mengapa ia diburu. Kekuatan kuno mulai bangkit dari dalam dirinya, dan ikatan di antara mereka tak bisa dihindari. Saat pengejar makin dekat, Kiran harus memilih: lari, menyerah, atau bangkit menguasai kekuatannya — bahkan jika itu berarti jatuh bersama pria yang tak seharusnya ada.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Lembah Tersembunyi
Angin membawa bau hujan, asap kayu, dan sesuatu yang lain — aroma manis namun tajam, seolah memanggil sekaligus mengancam. Kiran menekan langkah, menyusup di sela batang pohon raksasa yang kulitnya kasar seperti dahan mati lama. Napasnya tertahan, bukan hanya karena lelah, melainkan karena darah di dalam nadinya berdesir tak menentu, seolah mengenali tempat yang tak pernah ia kunjungi.
Tiga orang berseragam hitam mengejarnya. Lambang bulan sabit tertera jelas di dada mereka. Pagi tadi mereka datang ke desanya, menanyai pemuda yang lahir tepat saat gerhana merah melintasi langit. Ia tak tahu mengapa dirinya yang dicari; hanya tahu saat senjata diacungkan, kakinya bergerak sendiri, membawanya lari menembus hutan yang penduduk desa tak berani dekati.
"Jangan biarkan ia lolos. Darahnya berharga," suara serak terdengar dari kejauhan, membelah rimbunnya pepohonan.
Kiran mempercepat langkah, melompati akar menjulang, menembus semak berduri yang merobek lengan dan pipinya. Rasa perih diabaikan. Ia terus berlari hingga tanah di bawah kakinya lenyap.
Ia jatuh.
Udara terlempar dari paru-parunya. Tubuhnya menggelinding turun, menabrak bebatuan dan semak belukar, sebelum akhirnya tertahan di hamparan lumut tebal yang terasa hangat. Cahaya matahari tak sampai ke sini. Lembah ini tersembunyi, dikelilingi tebing tinggi yang tertutup tanaman merambat lebat. Keheningan menyelimuti tempat itu, hanya terdengar napasnya sendiri yang memburu.
Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Perih menjalar dari lutut yang tergores dalam. Saat meraba luka itu, darah menempel di jari — merah terang, dan ia menyadari sesuatu yang aneh: aroma yang keluar dari tubuhnya kini berubah, lebih pekat, seolah memanggil sesuatu yang tersembunyi di balik kegelapan lembah.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?"
Suara itu rendah dan berat, bergema seakan keluar dari dinding batu sendiri. Kiran mendongak, jantungnya berpacu bukan hanya karena takut. Di antara bayang dahan tua, sesosok tubuh berdiri tegak, terbungkus jubah gelap yang menutupi sebagian wajahnya. Hanya sepasang mata yang terlihat — merah menyala, sama seperti bulan yang kini mulai naik di langit.
"Aku tidak bermaksud..." suaranya parau. "Mereka mengejarku. Tolong..."
Pria itu melangkah maju. Gerakannya tenang, tak terburu-buru, namun setiap langkah memancarkan kekuatan yang tertahan, seolah bumi bergetar di bawah kakinya. Semakin dekat ia datang, semakin kuat aroma yang menyelimuti udara — hutan basah, hujan yang tak kunjung reda, dan sesuatu yang membuat tenggorokan Kiran terasa kering. Ia ingin mundur, namun kakinya tak bergerak, seolah tertanam ke tanah.
"Dikejar?" Ia berhenti beberapa langkah di hadapannya, menatap lekat-lekat, seakan mencari sesuatu di balik wajah pemuda itu. "Atau kaulah yang menarik mereka ke sini? Dan memaksaku keluar dari persembunyian?"
"Aku tidak tahu," jawab Kiran jujur, menegakkan kepala meski lututnya gemetar. "Aku hanya lari."
Pria itu menunduk menatap tetesan darah di lengan pemuda itu. Tatapannya berubah — masih tajam, namun ada kilatan lain yang menyelinap, sesuatu yang tak dapat dibaca dengan mudah.
"Darahmu berbau berbeda," ucapnya pelan, mendekat sedikit lagi. "Manis, memabukkan, dan berbahaya. Kau tahu siapa dirimu sebenarnya?"
Kiran menggeleng. Napas pria itu terasa hangat menyentuh kulitnya; jaraknya begitu dekat hingga ia melihat garis halus di sudut matanya, bekas luka lama yang samar di rahangnya. Ada tarikan tak kasat mata di antara mereka, seolah benang tak terlihat menariknya mendekat, memaksa ia berdiri diam tanpa alasan yang masuk akal.
"Aku Kiran. Hanya Kiran dari desa tepian sungai," ucapnya, suaranya hampir tak terdengar.
Sudut bibir pria itu bergerak — senyum tipis yang tak dapat diartikan.
"Hanya Kiran..." Ia mengulang nama itu perlahan. "Namun lembah ini tak pernah membiarkan orang asing pergi begitu saja. Terutama mereka yang membawa bau seperti ini."
Angin tiba-tiba berhembus kencang dari atas tebing. Suara teriakan terdengar samar; pengejarnya telah sampai di tepi lembah. Pria itu mendongak sebentar, lalu pandangannya kembali jatuh pada Kiran.
"Mereka akan turun. Jika menemukanmu, nyawamu takkan aman," ucapnya pelan, tangannya terulur perlahan menyentuh pergelangan tangan pemuda itu — jari yang dingin namun kuat. "Di sini ada bahaya lain. Aku tak menjanjikan keselamatan, hanya kesempatan bertahan."
Sentuhan itu menjalar ke seluruh tubuh — hangat sekaligus mencekam. Tak ada jalan lain. Di luar sana orang-orang ingin membunuhnya. Di sini, di hadapan pria misterius ini, ada sesuatu yang entah menyelamatkannya atau menyeretnya jatuh lebih dalam.
"Aku ikut denganmu," ucapnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar.
Pria itu mengangguk pelan, menarik tangannya perlahan — seolah enggan melepaskan.
"Namaku Kael," ucapnya singkat, lalu berbalik melangkah masuk lebih dalam ke kegelapan. "Ikuti aku. Jangan menyentuh apa pun, jangan tertinggal, dan jangan menatapku terlalu lama."
Kiran mengikuti di belakangnya. Luka di lutut terasa perih, namun ia tak berhenti. Di depannya, punggung pria itu tegap, seolah tak tersentuh waktu. Setiap kali ia melangkah, ada getaran halus yang menjalar ke tanah, seolah lembah ini sendiri mengakui kehadirannya.
"Siapa kau sebenarnya, Kael?" tanyanya pelan.
Pria itu berhenti sejenak, tanpa menoleh.
"Seseorang yang tak seharusnya masih hidup," jawabnya, lalu melanjutkan langkah. "Dan kau, Kiran... mungkin kau lebih miripku daripada yang kau kira. Itulah sebabnya mereka memburumu. Dan itulah sebabnya aku tak bisa membiarkanmu pergi."
Kalimat itu sederhana, namun maknanya bergema di dada. Ia tak tahu apakah itu janji atau peringatan. Ia hanya tahu bahwa sejak melangkah masuk ke lembah ini, hidupnya takkan pernah sama lagi.
Di belakang mereka, suara teriakan pengejar terdengar semakin dekat. Di depan, bayang-bayang Kael menyatu dengan kegelapan — mengundang sekaligus mengancam. Dan di antara keduanya, Kiran melangkah maju.
Daftar bab
45 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








