
Cincin Sakti Eyang Kusuma
zorchDot|Bersambung
- Jumlah kata
- 46.7K
- Popular
- 633
- Subscribe
- 84
- Jumlah kata
- 46.7K
- Popular
- 633
- Subscribe
- 84
Sinopsis
Arya adalah Remaja yang masih sekolah di bangku SMA hidupnya cukup memprihatinkan ia ditinggal orang tuanya meninggal dunia ketika duduk di bangku SMP, sejak saat itu dia hidup sebatang kara, berjuang sendiri melakukan kerja serabutan Almarhum ayahnya hanya meninggalkan sisa uang pensiun setiap bulannya yang mana ayahnya adalah pensiunan PNS biasa di kantor desa hidupnya berubah sejak dia menemukan Pusakaa Kakenya eyang Kusuma yang membuat hidup berbuah secara singkat dalam waktu beberapa hari saja
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 : Penderitaan menuju Perubahan
Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya di balik deretan pohon kelapa yang menjulang tinggi di ujung Desa Sukamaju, menyisakan bias warna jingga kemerahan di cakrawala yang perlahan-lahan lebur menjadi gulita malam. Suasana pedesaan berangsur-angsur sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik bersahutan, katak sawah yang bernyanyi monoton, serta hembusan angin malam yang membawa aroma tanah basah bercampur jerami kering. Di sebuah rumah kayu sederhana yang sudah agak reot—dengan dinding bilik bambu yang banyak berlubang dan atap genteng yang sering bocor disiram hujan—Arya duduk seorang diri di ruang tengah. Ruangan itu hanya diterangi oleh temaram cahaya kekuningan dari sebuah lampu tempel berbahan bakar minyak tanah yang apinya berliuk-liuk tertiup angin celah dinding.
Usia Arya baru menginjak tujuh belas tahun, duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas. Namun, beban hidup yang dipikulnya jauh melampaui usia remajanya. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia secara bersamaan akibat kecelakaan lalu lintas tragis saat ia masih duduk di bangku SMP, hari-hari Arya praktis berubah menjadi neraka kecil penuh penderitaan. Ayahnya dulu semasa hidup bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil rendahan di kantor kelurahan. Akan tetapi, uang pensiun bulanan yang ditinggalkan sangatlah pas-pasan, bahkan sering kali langsung ludes hanya untuk membayar iuran sekolah dan sisa cicilan utang mendiang ayahnya semasa berobat dulu.
Akibat kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan dan ketiadaan sanak saudara yang peduli, Arya sering menjadi bahan cemoohan, bahan gosip, dan pandangan rendah dari sebagian warga Kampung Sukamaju. Banyak tetangga yang gemar berkumpul di warung kopi menganggap keluarga Arya sebagai beban sosial yang tidak berguna. Tak jarang, saat Arya berjalan melewati sekelompok warga atau pemuda desa yang hidupnya lebih berkecukupan, bisikan-bisikan meremehkan, tawa sinis, hingga sebutan pedas sebagai anak yatim piatu yang melarat sering ia dengar dengan sangat jelas di telinganya.
“Lihat tuh si Arya, anak si almarhum pegawai rendahan yang mati meninggalkan utang. Baju sekolahnya udah menguning dan kusam begitu masih aja dipaksain dipakai terus tiap hari. Hidup numpang susah, sok-sokan mau lanjut sekolah sampai lulus SMA,” begitu cibir salah satu warga desa berbadan gempal di warung kopi pinggir jalan, disusul tawa cekikikan dari orang-orang di sekitarnya beberapa hari lalu.
Arya hanya bisa menelan ludah pahit, mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, menahan rasa sesak, perih, dan sakit hati yang teramat sangat di dadanya. Tanpa ada orang tua tempat mengadu atau kerabat yang mengulurkan tangan, ia harus memutar otak setiap hari seorang diri demi bisa bertahan hidup dan menyambung hari esok. Selepas jam sekolah usai di siang hari, alih-alih bisa nongkrong di warung atau belajar dengan tenang di kamar seperti remaja sebayanya yang lain, Arya harus berjalan kaki bermeter-meter menuju sungai desa yang keruh. Di sana, ia menebar jaring seadanya atau memancing ikan-ikan kecil demi mendapatkan lauk.
Jika sungai sedang meluap atau sedang tidak beruntung dan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, Arya terpaksa melangkah lebih jauh ke dalam lebatnya hutan pinggir desa. Dengan berbekal sebilah parang berkarat milik ayahnya, ia mencari jamur liar yang tumbuh di batang pohon lapuk, mencari rebung bambu muda, atau memungut tumbuhan hutan apa saja yang bisa direbus untuk mengganjal perutnya yang sering berkeroncongan di malam hari. Hidupnya benar-benar di ambang penderitaan yang melelahkan fisik dan mental.
Kendati demikian, tempaan hidup yang berat, rasa lapar yang sering mendera, serta kebiasaannya berjalan jauh memikul beban membentuk fisik Arya menjadi sangat kontras dengan remaja seusianya yang dimanja kemewahan. Meskipun hidup melarat, postur tubuh Arya tumbuh tinggi, padat, dan memiliki otot yang terbentuk secara alami karena terbiasa mencangkul tanah orang lain dan mengangkat kayu bakar. Kulitnya matang tersengat sengatan matahari tropis desa, bahunya bidang, dadanya padat, dan otot-otot lengannya tampak kokoh di balik kaus oblong kusam yang sudah compang-camping di bagian ujung bawahnya. Namun, di balik fisik yang tampak kuat dan tahan banting itu, batin Arya dipenuhi rasa lelah, kesepian, dan keputusasaan yang mendalam.
Semua penderitaan, kehinaan, dan keputusasaan itu mendadak menemui titik balik yang misterius pada suatu malam yang sunyi.
Waktu itu, di tengah perutnya yang melilit karena kelaparan akibat tidak ada sebutir beras pun yang tersisa di dapur, Arya berniat mencari sekotak paku di dalam lemari kayu lapuk peninggalan kakeknya yang terletak di sudut kamar tidur utama. Lemari tua berukir naga itu sudah bertahun-tahun tidak pernah dibuka secara menyeluruh karena kuncinya hilang. Malam itu, didorong rasa terpaksa untuk mencari alat pertukangan, Arya menarik laci paling bawah yang macet dan berderit nyaring.
Saat ia menarik laci tersebut dengan tenaga penuh, tangannya tak sengaja meraba sebuah cekungan tersembunyi berupa panel kayu palsu di bagian dinding dalam laci. Karena penasaran, Arya menekan bagian kayu tersebut menggunakan ujung obeng hingga panel itu terbuka ke samping, memperlihatkan sebuah kotak kayu kecil berukir usang yang terbungkus rapi oleh sehelai kain batik tua yang mulai lapuk dimakan usia.
Dengan tangan yang sedikit gemetar akibat menahan rasa lapar dan penasaran yang membuncah, Arya mengangkat kotak tersebut dan membawanya ke dekat lampu tempel. Ia membuka penutup kotak kayu itu perlahan-lahan. Di dalamnya, tidak ada uang tabungan atau perhiasan berharga yang ia harapkan, melainkan sebuah cincin perak tua yang melingkar indah dengan batu permata hitam legam di tengahnya, serta selembar kertas tua yang sudah menguning kecokelatan. Permata hitam itu seolah memantulkan cahaya temaram lampu minyak, memancarkan kilau misterius yang menghipnotis siapa saja yang menatapnya.
Arya lantas mengambil secarik kertas tua tersebut dan membaca tulisan tangan mendiang ayahnya yang tertulis rapi namun menyiratkan nada peringatan:
"Anakku Arya, jika kau membaca surat ini, berarti kau telah menemukan pusaka peninggalan Eyang Kusuma—buyut kita yang dulu puluhan tahun lalu dikenal memiliki kesaktian, pengaruh besar, dan wibawa luar biasa di tanah ini. Cincin ini adalah sumber keberuntungan, ketajaman berpikir, kekuatan fisik, tenaga dalam, karisma agung, sekaligus sumber gairah agung yang tak ternilai. Dulu, semasa hidupnya, Ayah tidak pernah berani mengenakannya karena takut akan kutukan serta dahsyatnya efek nafsu, daya pikat, dan kekuasaan mutlak yang bisa meruntuhkan akal sehat siapa pun yang memakainya. Gunakanlah dengan penuh kebijaksanaan, atau simpan rapat-rapat jika kau merasa tidak sanggup menanggung beban takdir yang dibawanya."
Membaca tulisan tangan mendiang ayahnya itu, Arya tertegun kaku cukup lama di hadapan lampu tempel. Pikirannya berkecamuk antara percaya dan tidak. Rasa penasaran yang teramat sangat berbenturan dengan peringatan keras dari sang ayah.
Didorong oleh rasa penasaran yang sudah tidak tertahankan di tengah himpitan hidupnya yang menderita, Arya akhirnya mengulurkan tangan kanannya. Tanpa berpikir panjang mengenai akibat buruknya, ia mengambil cincin perak berpermata hitam legam itu dan langsung melingkarkannya dengan pas ke jari manis tangan kanannya.
Seketika itu juga, ruangan kecil di dalam rumah itu seolah bergetar hebat.
Deg!
Sebuah semburan hawa panas yang luar biasa kuat dan mendadak meledak dari dalam cincin tersebut, mengalir deras menembus pori-pori kulit jarinya dan merasuk seketika ke dalam pembuluh darah serta aliran sarafnya. Arya terkesiap hebat, terdorong mundur hingga menjatuhkan kotak kayu dari tangannya ke atas lantai bambu. Jantungnya berdegup kencang bagaikan palu penempa besi, memompa darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Rasa lapar yang tadinya menyiksa perutnya seketika lenyap tak bersisa, digantikan oleh kesegaran fisik yang luar biasa. Tulang-tulangnya terasa bergemeretak ringan, aliran energi aneh yang hangat mengalir memenuhi rongga dadanya, dan pikirannya mendadak menjadi sangat jernih, terang, serta jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Kendati demikian, sebagai seorang remaja tujuh belas tahun yang selama ini hidup tertekan dan polos, Arya tentu saja belum sepenuhnya mengerti dan mampu menguasai seluruh potensi mengerikan dari cincin pusaka tersebut. Ia hanya merasakan tubuhnya kini mendadak jauh lebih bertenaga, segar, dan secara alami mulai memancarkan aroma maskulin yang pekat namun menenangkan. Ia menatap cincin di jarinya dengan rasa takjub campur bingung, mencoba beradaptasi dengan perubahan besar yang baru saja terjadi pada dirinya dalam hitungan detik.
Belum sempat Arya merenungkan lebih jauh arti dari perubahan fisik dan batinnya itu, sebuah suara ketukan pintu depan mendadak membuyarkan lamunannya.
Tok... tok... tok...
Ketukan itu terdengar pelan dan ragu-ragu dari luar.
"Arya? Apa kamu di dalam, Nak?"
Suara lembut seorang wanita terdengar memanggil namanya dari balik pintu kayu yang reot. Itu adalah suara Siti, seorang wanita muda berstatus janda yang tinggal di rumah berjarak sekitar dua ratus meter dari kediaman Arya. Siti dikenal di desa sebagai wanita berparas ayu, berkulit kuning langsat, dan memiliki bentuk tubuh yang menarik, meskipun ia cenderung tertutup dan jarang bergaul dengan para pemuda kampung karena statusnya.
Arya bangkit berdiri dari duduknya. Ia terkejut bukan main ketika merasakan langkah kakinya terasa begitu ringan, mantap, dan bertenaga—jauh berbeda dari langkahnya sehari-hari yang biasanya terasa berat dan lelah. Dengan napas yang tertata rapi, Arya melangkah pelan menuju ke arah pintu depan rumahnya.
Begitu daun pintu kayu itu ditarik perlahan dan terbuka lebar, Siti berdiri di ambang pintu dengan balutan pakaian sederhana kesehariannya—sehelai baju lengan panjang dan kain sarung batik rumahan. Namun, begitu pintu terbuka dan udara malam berhembus ke dalam rumah, Siti seketika terkesiap kecil.
Wanita itu langsung merasakan ada perbedaan hawa yang sangat drastis dan tidak biasa di sekitar Arya. Sebuah gelombang kehangatan yang lembut serta aroma maskulin yang begitu pekat dan khas mendadak menerpa indra penciumannya, membuat jantung Siti berdegup jauh lebih kencang dari biasanya tanpa ia ketahui penyebab pastinya.
Siti mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa ada getaran aneh yang merayap di kulitnya hanya karena berdiri dalam jarak dekat dengan remaja tersebut. Kendati demikian, sebagai seorang wanita dewasa yang masih bisa menjaga norma di hadapan seorang anak muda, Siti memilih untuk menahan rasa bingung dan gejolak aneh itu rapat-rapat di dalam lubuk hatinya. Ia segera menguasai diri, memasang senyuman sopan, lalu menyodorkan sebuah rantang plastik kecil yang dibawanya.
"Ini... Mbak cuma mau ngasih rantang titipan ibunya Dika buat kamu makan malam, Ya. Tadi habis hajatan di rumah tetangga," ucap Siti, berusaha menjaga agar nada suaranya tetap terdengar wajar dan datar, meskipun tatapannya sempat terpaku sejenak pada perubahan aura Arya yang malam ini terasa begitu memikat dan mencuri perhatian.
Arya mengangguk sopan dengan ekspresi polosnya, menerima rantang tersebut dengan kedua tangan. "Oh... terima kasih banyak ya, Mbak Siti. Repot-repot malam begini mengantarkan makanan," jawab Arya ramah dengan suaranya yang kini terdengar sedikit lebih berat namun tetap santun.
Siti tersenyum tipis, mengangguk pelan, lalu pamit untuk segera pulang ke rumahnya. Ia berjalan menjauh di bawah temaram cahaya bulan, sementara Arya menutup kembali pintu rumahnya. Remaja itu meletakkan rantang makanan di atas meja, sama sekali belum menyadari bahwa pertemuan malam itu adalah awal mula dari tersingkapnya takdir besar yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya di Desa Sukamaju.
Daftar bab
40 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








