
Sistem Cawan Surgawi
Anak Emas|Bersambung
- Jumlah kata
- 81.7K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 120
- Jumlah kata
- 81.7K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 120
Sinopsis
Sabda Mahesa berpindah ke tubuh pemuda lemah di zaman kuno. Menggunakan ilmu pengetahuan dan sistem yang dimilikinya, Sabda membuat berkultivasi senikmat minum teh! Selamat datang di sistem cawan surgawi!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Tahap 1
Brak!
Bantingan nampan stainless steel menghantam meja persiapan dapur, membuat Sabda tersentak hingga tangannya yang gemetar nyaris menumpahkan wadah sirup mendidih.
"Tuli ya kamu, Sabda?! Berapa kali harus kubilang?!"
Suara manajer restoran, pria gempal itu menggelegar di tengah bisingnya dapur.
Jarinya menuding hidung Sabda hanya berjarak beberapa senti.
"Pesanan meja delapan sudah nunggu lima belas menit! Kalau kerjaanmu cuma lelet begini, angkat kakimu sekarang juga!
Di luar sana ribuan orang antre mau gantiin posisi anak magang tak berguna sepertimu!" semprot sang manajer tanpa ampun, ludahnya sampai menciprat ke pipi Sabda.
"M-maaf, Pak... saya baru selesai double shift semalam, kaki saya agak—"
"Aku nggak butuh alasanmu!" potong pria itu dengan sinis.
"Di sini kamu dibayar buat kerja, bukan buat ngeluh!
Sekali lagi ada komplain keterlambatan minuman, bukan cuma kupecat tanpa pesangon, tapi seluruh gaji bulan ini kupotong habis buat ganti rugi restoran! Paham?!"
Kepala koki di ujung lorong hanya mencibir sambil melempar celemek kotor ke arah tumpukan piring.
"Dasar beban tim. Kerjakan cepat, bodoh!"
Sabda menelan ludah, menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
Giginya bergemeletuk menahan amarah, lelah, dan rasa terhina yang membakar dada. Empat belas jam berdiri tanpa henti membuat kedua kakinya mati rasa.
Sejak kematian Ayahnya tiga bulan yang lalu, Sabda bekerja banting tulang, bahkan mengambil tiga pekerjaan dalam sehari.
Tubuhnya lelah, tetapi dia tidak memiliki kesempatan untuk menyerah.
Ia buru-buru meraih teko besar berisi air panas untuk mengejar pesanan.
Namun, tubuhnya menolak untuk patuh lagi.
Tepat saat ia mengangkat teko tersebut, sebuah hantaman rasa sakit yang luar biasa menusuk dadanya.
Napasnya tercekik seketika. Jantungnya berdegup kacau sebelum mendadak berhenti menekan darah.
Prang!
Teko terlepas, air mendidih tumpah menyiram lantai dapur.
"HEI! APA LAGI YANG KAU LAKUKAN, SIALAN?!"
Suara teriakan manajer terdengar membahana, penuh murka karena peralatan yang rusak, sama sekali tanpa rasa peduli saat melihat tubuh Sabda yang ambruk menghantam lantai.
"PURA-PURA PINGSAN HA! MATI SAJA KAU!"
"Kau pikir kami tertipu trik murahan ini? Dasar Anjing!"
Pandangan Sabda menggelap. Dadanya sesak terhimpit. Di detik-detik terakhir kesadarannya yang meredup, hanya ada rasa muak dan keputusasaan yang mendalam.
Apakah... hidupku cuma berakhir sebagai budak dapur yang mati terinjak seperti ini...?
Lalu, semuanya hening.
Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, Sabda mengira ia sedang berada di ruang gawat darurat rumah sakit.
Namun, yang menyambut pandangannya bukan lampu pendar putih yang menyilaukan, melainkan langit-langit kayu usang berlubang dengan sarang laba-laba di sudut-sudutnya.
"Di mana... ini?" gumam Sabda serak.
Ia bangkit dari dipan kayu yang berderit parah. Udara yang ia hirup dingin dan kering, berbau apek khas ruangan yang lama ditinggalkan.
Pakaiannya bukan lagi celemek bernoda minyak, melainkan jubah rami kasar berwarna abu-abu pudar.
Tiba-tiba, suara mekanis berdenting nyaring di dalam batok kepalanya.
[Ding!]
[Sistem Cawan Surgawi Aktif!]
[Nama: Sabda Mahesa]
[Usia: 20 tahun]
[Level: Peramu Teh Pemula 1]
[Kekuatan: 10/100]
[Kecerdasan: 9/100]
[Poin Cawan Surgawi: 0]
Sebuah layar holografis berwarna biru transparan mengapung tepat di depan matanya.
Sabda tersentak mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang. Ia mengucek matanya dengan kasar, lalu memejamkannya rapat-rapat.
"Halusinasi? Otakku rusak karena stroke?" gumamnya panik.
Ia mengibaskan tangannya ke udara, mencoba menyingkirkan teks bercahaya itu.
Namun, telapak tangannya hanya menembus cahaya biru tersebut tanpa merusak bentuknya sedikit pun.
"Pasti efek kelelahan di dapur... Ini tidak nyata. Sistem? Game macam apa ini?"
Layar itu berkedip lambat, seolah masa bodoh dengan penyangkalan Sabda.
Bersamaan dengan itu, sekelebat rasa sakit menghantam kepalanya, bukan sakit fisik, melainkan gelombang ingatan asing milik tubuh yang kini ia tempati.
Ingatan itu menghantamnya tanpa ampun.
Di dunia ini, sosok Sabda yang asli adalah pemuda yatim piatu yang selalu menjadi bulan-bulanan di Distrik Rusa Putih.
Terlintas bayangan Wastu, pemuda kaya setempat yang melemparkan koin tembaga ke lumpur sambil menyuruh Sabda memungutnya dengan mulut jika ingin makan.
Terlintas pula bayangan Anita, gadis bermata jeli yang pernah begitu dicintai oleh pemilik tubuh ini.
Sabda teringat bagaimana pemilik tubuh asli rela meminjam uang berbunga tinggi hanya demi membelikan tusuk konde giok untuk ulang tahun Anita.
Namun hadiah itu justru dilempar Anita ke selokan di depan Indra, pendekar muda berbakat kota itu.
Indra tertawa merendahkan sembari mematahkan pergelangan tangan Sabda karena dianggap lancang mendekati wanitanya.
Semua tabungan warisan orang tua pemilik tubuh ini habis untuk menebus sebuah bangunan rongsokan di pinggir kota demi membuktikan bahwa ia mampu mandiri.
Namun, ia mati kedinginan dan kelaparan semalam sebelum sempat berbuat apa-apa.
Sama saja.
Napas Sabda memburu. Di dunia modern ia diinjak-injak sampai mati karena miskin. Di dunia ini, pemilik tubuhnya dihancurkan sampai mati karena lemah dan tak berguna.
Rasa tidak terima yang membara mendadak meluap di dadanya.
"Kalau ini cuma mimpi gila sebelum mati... persetan," desis Sabda, pandangannya mengunci layar transparan itu dengan tatapan tajam.
"Katakan, apa yang bisa kau berikan padaku?"
[Misi Utama Bagian 1 Telah Dipicu!]
[Misi: Langkah Awal Sang Peramu]
Deskripsi: Seorang master tidak akan bisa mengubah takdir dunia tanpa tempat berpijak. Manfaatkan modal awalmu dan bukalah kedai teh pertama di tempat ini!
Target: Meresmikan Kedai Teh Cawan Surgawi.
Batas Waktu: 3 Hari.
Hadiah: 50 Poin Cawan Surgawi & Pembukaan Kunci Resep Teh Tingkat Rendah (Efek: Memulihkan Stamina).
Penalti: Sistem dicabut, dan jiwa Anda akan dikembalikan ke dapur restoran dunia asal dengan sif kerja abadi tanpa uang lembur.
Sabda mendengus pendek, senyum getir tersungging di bibirnya.
"Bahkan ancaman sistem ini tahu persis apa neraka terbesarku."
Ia menoleh ke meja kayu di sampingnya. Di sana, sebuah kantong kain kecil berisi puluhan koin perak dan sertifikat kepemilikan bangunan tua tergeletak rapi.
"Apakah ini dari sistem?"
Pemuda itu mulai membaca sertifikat tersebut, terdapat sebuah logo yang mirip dengan apa yang ada di sistem.
Sabda tersenyum tipis.
"Sepertinya ini modal pemberian sistem. Baguslah, aku tidak perlu repot memikirkan modal."
Tepat saat Sabda melangkah keluar untuk memeriksa bangunan kedainya, jalanan tanah di luar sudah ramai. Tawa mengejek langsung menyambutnya.
Wastu dan kelompoknya berdiri di seberang jalan, disusul kedatangan Anita yang menggandeng mesra lengan Indra.
"Hahaha! Lihat siapa yang keluar!" seru Wastu sambil meludah ke tanah, disambut tawa terbahak-bahak dari gerombolannya.
"Bahkan tikus got saja lebih pintar cari tempat berteduh daripada kau, Sabda!"
Anita melangkah maju setengah langkah. Tatapannya dingin dan penuh rasa jijik yang mendarah daging.
"Dia bahkan tidak bisa dibandingkan dengan tikus got, benar-benar menjijikkan!" cibir Anita seraya melirik manja pada Indra.
"Bulan lalu mengantre jatah bubur dari balai kota, sekarang masih punya muka berkeliaran di jalanan ramai?"
Wastu terbahak-bahak mendengar ucapan itu, menepuk pahanya keras-keras.
"Tepat sekali, Anita! Kudengar jatah dana bantuan pangan hampir habis. Itu pasti karena dia."
Indra tersenyum pongah. Pendekar muda itu merogoh saku jubah sutranya, mengeluarkan dua keping koin tembaga yang sudah kusam dan menghitam, lalu melemparnya tepat ke tanah di depan kaki Sabda.
Ting!
"Pungut itu, Pengemis."
"Pungut dengan mulutmu seperti biasa, lalu bersujud tiga kali di depan Nona Anita. Siapa tahu aku berbaik hati memberimu sisa jatah makan anjing pemburuku malam ini."
Tawa terbahak-bahak langsung meledak dari gerombolan Wastu.
Namun, Sabda sama sekali tidak menunduk. Matanya tidak bergeser sedikit pun ke koin tembaga di tanah.
Sabda merogoh saku jubah raminya, menarik keluar kantong kain pemberian sistem. Tanpa ragu, jemarinya meraup segenggam penuh koin perak yang berkilau, lalu melemparkannya tepat ke dada Indra.
Puluhan keping perak itu menghantam dada jubah sutra Indra sebelum berhamburan jatuh berdenting keras di atas tanah berbatu.
Tawa Wastu langsung tercekat di tenggorokan.
Anita tersentak mundur satu langkah, napasnya tertahan saat menatap perak asli yang berserakan di tanah.
Di distrik pinggiran seperti ini, koin perak sebanyak itu adalah kekayaan yang bahkan sulit dikumpulkan pedagang biasa dalam hitungan bulan!
"Koin tembaga berkaratmu terlalu murah untuk mengotori ujung sepatuku."
Wajah Indra yang semula congkak kini memerah padam.
"Ambil kembali perak itu, Tuan Muda Indra. Gunakan untuk menambal mulut sombongmu yang terlalu sering memakan omong kosong."
Pandangan Sabda kemudian beralih ke Anita.
"Tiga hari," lanjut Sabda dengan seringai tipis yang dingin. "Datanglah ke tempat ini tiga hari lagi. Saat itu tiba, kita buktikan siapa yang menjadi parasit di kota ini."
Daftar bab
72 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








