Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Cawan Surgawi

Sistem Cawan Surgawi

Anak Emas | Bersambung
Jumlah kata
26.4K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / Sistem Cawan Surgawi
Sistem Cawan Surgawi

Sistem Cawan Surgawi

Anak Emas| Bersambung
Jumlah Kata
26.4K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
FantasiFantasi TimurKultivasiSistemHarem
Sabda Mahesa berpindah ke tubuh pemuda lemah di zaman kuno. Menggunakan ilmu pengetahuan dan sistem yang dimilikinya, Sabda membuat berkultivasi senikmat minum teh! Selamat datang di sistem cawan surgawi!
Tahap 1

Bab 1

Sabda membuka matanya, terkejut dengan pemandangan yang tersaji di depannya. Sebuah langit-langit kayu yang tampak usang.

Bukankah dirinya sedang bekerja di restoran? Itulah yang ada dalam pikiran Sabda.

Pemuda itu bangkit, menatap sekeliling, mendapati jika dirinya berada di tempat yang sepenuhnya berbeda dari terakhir kali dia berada. Tidak hanya itu, dia belum pernah melihat ruangan seperti ini sepanjang hidupnya.

[Ding!]

[Sistem Cawan Surgawi Aktif!]

[Nama Pelanggan: Sabda Mahesa]

[Usia: 20 tahun]

[Level : Peramu Teh Pemula 1]

[Kekuatan: 10/100]

[Kecerdasan: 9/100]

[Poin Cawan Surgawi: 0]

Kenin Sabda berkerut, dia mengucek matanya berkali-kali, tapi layar transparan itu masih ada di wajahnya.

Layar transparan itu berkedip pelan, seolah merespons kebingungan Sabda yang masih sibuk mengucek mata. Tulisan status karakternya perlahan memudar, digantikan oleh kilatan teks baru berwarna keemasan yang tampak jauh lebih mendesak.

[Ding!]

[Misi Utama Bagian 1 Telah Dipicu!]

[Misi: Langkah Awal Sang Peramu]

Deskripsi: Seorang master tidak akan bisa mengubah takdir dunia jika tidak memiliki tempat untuk memulai. Manfaatkan modal awalmu dan bukalah sebuah kedai teh pertama di tempat ini!

Target: Membuka dan meresmikan Kedai Teh Cawan Surgawi.

Batas Waktu: 3 Hari.

Hadiah Penyelesaian: 50 Poin Cawan Surgawi & Pembukaan Kunci Resep Teh Tingkat Rendah (Efek: Memulihkan stamina +5%).

Penalti Kegagalan: Sistem dicabut, ingatan masa depan dihapus, dan Anda akan dikembalikan ke dapur restoran dengan sif kerja abadi tanpa lembur.

Mata Sabda membelalak membaca baris terakhir penalti tersebut. "Sif kerja abadi tanpa lembur? Sialan, itu lebih kejam daripada hukuman mati!" umpatnya spontan. Bulu kuduknya meremang membayangkan harus kembali ke dapur restoran yang panas dan menyiksa itu.

Namun, perhatiannya segera teralih pada hadiah misi. 50 Poin Cawan Surgawi. Mengingat stat Kekuatan dan Kecerdasannya yang saat ini mengenaskan—bahkan tidak menyentuh angka belasan—poin itu pasti akan sangat berharga untuk meningkatkan kemampuannya di dunia asing ini. Belum lagi resep teh yang bisa memulihkan stamina. Di dunia fantasi seperti ini, minuman dengan efek magis seperti itu pasti akan laku keras.

Sabda turun dari ranjang kayunya yang berderit. Saat kakinya menyentuh lantai, dia menyadari sesuatu. Di atas meja kayu usang di sudut kamar, selain belati tua, kini tergeletak sebuah kantong kain kecil yang tampak penuh.

Dia melangkah mendekat dan membuka kantong tersebut. Bunyi gemerincing logam terdengar nyaring. Di dalamnya berisi beberapa puluh keping koin perak asing dan sebuah sertifikat kepemilikan tanah tua yang sudah agak menguning.

Sistem ini... ternyata sudah menyiapkan modal awal, pikir Sabda, sudut bibirnya perlahan terangkat. Pengalamannya bertahun-tahun menahan lelah di dapur restoran dan pengetahuannya tentang racikan minuman kini bukan lagi sekadar kerja keras tak dihargai.

Sabda mengepalkan tangannya erat-hersiap menghadapi takdir baru. "Tiga hari, ya? Baiklah. Mari kita lihat seberapa hebat teh racikanku di dunia ini."

Begitu Sabda melangkah keluar dan mendorong pintu kayu yang berderit, embusan angin langsung menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah, jerami, dan asap kayu bakar.

Sabda seketika terpaku di ambang pintu. Mata pemuda itu melebar menatap pemandangan di depannya.

Restoran modern, aspal hitam, dan deru mesin kendaraan yang biasa dia dengar setelah pulang kerja kini lenyap total. Sebagai gantinya, dia berdiri di sebuah jalanan tanah berbatu yang ramai. Orang-orang berlalu-lalang mengenakan pakaian yang persis seperti latar film kolosal zaman kuno yang sering dia tonton. Di kejauhan, kereta kuda melintas, meninggalkan kepulan debu tipis.

"Ini... benar-benar dunia lain," gumam Sabda, masih berusaha mencerna realitas baru ini.

Namun, momen kekaguman Sabda tidak bertahan lama. Kehadirannya di depan pintu bangunan usang itu langsung menarik perhatian sekelompok pemuda berpakaian sutra longgar yang sedang berkumpul di seberang jalan. Dari gelangnya yang berkilau, jelas mereka adalah anak-anak dari keluarga berkecukupan di kota ini.

"Heh, lihat siapa yang akhirnya keluar dari sarang tikusnya!" seru salah satu pemuda bertubuh jangkung dengan kipas lipat di tangannya. Namanya Wastu, putra seorang pedagang kain setempat.

Tawa mengejek langsung pecah dari tiga pemuda di sebelahnya.

"Kudengar si miskin Sabda ini baru saja menghabiskan sisa tabungan mendiang orang tuanya hanya untuk menebus sertifikat bangunan tua bangka itu," timpal pemuda bertubuh gempal sambil menunjuk ke arah kedai usang di belakang Sabda. "Mau jadi apa kau? Pengemis beratap kayu?"

"Hei, Sabda! Daripada bangkrut dan mati kelaparan, mending bangunan itu kau jual murah saja pada kami. Lumayan uangnya bisa buat kau beli nasi untuk beberapa bulan, hahaha!"

Cemoohan itu mengalir deras, memancing perhatian beberapa pejalan kaki yang mulai berbisik-bisik kasihan menatap Sabda. Di dunia ini, tanpa latar belakang keluarga yang kuat atau bakat bela diri yang hebat, orang miskin seperti Sabda memang hanya dianggap seperti debu di pinggir jalan.

Sabda, yang berdiri di tangga depan kedainya, sama sekali tidak gemetar atau marah. Bertahun-tahun menghadapi pelanggan restoran yang kasar dan bos yang hobi mengamuk saat long shift telah menempa mentalnya setebal baja. Baginya, cacian para pemuda manja ini tak lebih dari sekadar gonggongan aneh.

Sebaliknya, sudut bibir Sabda justru terangkat tipis. Matanya melirik ke arah panel transparan yang tiba-tiba berkedip di pojok pandangannya, seolah merespons provokasi tersebut.

Di tengah gelak tawa para pemuda itu, suara langkah kaki yang anggun terdengar mendekat. Kerumunan pejalan kaki agak merenggang, memberikan jalan bagi seorang gadis remaja yang berjalan dengan dagu terangkat tinggi.

Gadis itu mengenakan gaun sutra berwarna merah muda yang indah, kontras dengan jalanan tanah yang berdebu. Wajahnya cantik, dengan mata bulat dan kulit seputih pualam. Namun, ekspresi wajahnya memancarkan keangkuhan yang kental.

Dia adalah Anita, gadis berusia 17 tahun yang di kehidupan atau ingatan Sabda sebelumnya adalah sosok yang sangat dia sukai. Dulu, Sabda rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan senyuman dari gadis ini.

Namun kini, Anita tidak datang sendiri. Di sampingnya berjalan seorang pemuda tegap berpakaian mewah dengan pedang berhias permata di pinggangnya. Dialah Indra, anak dari salah satu pendekar berbakat di wilayah tersebut.

Anita menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Sabda. Dia menatap Sabda dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh jijik dan merendahkan, seolah sedang melihat kecoak di sudut ruangan.

"Jadi rumor itu benar," ucap Anita, suaranya terdengar nyaring namun dingin. "Kamu benar-benar menggunakan seluruh warisanmu hanya untuk membeli bangunan rongsokan ini, Sabda?"

Sabda hanya diam, menatap datar ke arah gadis yang dulu sempat membuat jantungnya berdebar itu.

Anita mendengus remeh, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Sangat menyedihkan. Dulu aku mengira kamu hanya malas, tapi ternyata kamu juga bodoh. Harusnya kamu sadar diri, Sabda. Orang miskin tanpa bakat sepertimu itu harusnya bekerja jadi pelayan seumur hidup, bukan bermimpi jadi pemilik kedai."

Indra yang berada di sebelah Anita tertawa kecil, lalu merangkul pundak Anita dengan posesif seolah ingin memamerkannya di depan Sabda.

"Sudahlah, Anita. Mengapa kamu membuang-buang kata berharga untuk sampah seperti dia?" ujar Indra dengan nada sombong, matanya menatap Sabda dengan kilatan meremehkan. "Pria yang bahkan tidak bisa berkultivasi seperti dia tidak akan pernah bisa bertahan di dunia ini. Jangankan membuka kedai, dalam tiga hari juga dia akan mengemis di depan rumah kita."

Anita tersenyum manja mendengar ucapan Indra, lalu kembali menatap Sabda dengan tatapan angkuh. "Dengar itu? Bersama Kak Indra, aku akan segera masuk ke sekte kultivasi. Sedangkan kamu? Kamu akan selamanya membusuk di tempat kumuh ini. Tolong, mulai hari ini, jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku. Aku malu pernah mengenalmu."

Mendengar hinaan yang begitu bertubi-tubi dari wanita yang "dulu" disukainya dan rivalnya, Sabda justru merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya tidak terasa sakit sama sekali. Sebaliknya, dia merasa geli. Di matanya yang sekarang, Anita hanyalah seorang gadis remaja labil yang sok tahu.

Tepat saat Sabda hendak membuka suara, sebuah suara familier kembali berdenting di dalam benaknya.

[Ding!]

[Misi Sampingan Tersembunyi Dipicu!]

[Misi: Tamparan Tak Kasat Mata]

Deskripsi: Seorang Master Peramu Teh Surgawi tidak boleh dihina oleh manusia biasa! Buat mereka menyesali kata-katanya dalam 3 hari ke depan dengan kesuksesan kedai tehmu.

Target: Buat Anita dan Indra tercengang/malu saat peresmian kedai teh.

Hadiah Tambahan: +20 Poin Cawan Surgawi & Atribut Kekuatan +5.

Sudut bibir Sabda perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis yang misterius. Dia menatap Anita dan Indra bergantian, membuat kedua orang angkuh itu mengernyitkan dahi karena tidak melihat keputusasaan di wajah Sabda.

"Tiga hari," ucap Sabda tenang, suaranya terdengar berat dan penuh percaya diri. "Datanglah ke sini tiga hari lagi saat aku membuka kedai ini. Kita lihat saja, siapa yang sebenarnya akan mengemis di hadapan siapa."

Lanjut membaca
Lanjut membaca