
MANUSIA SUPER TERJEBAK DALAM TUBUH ANAK KECIL
Wiro S|Bersambung
- Jumlah kata
- 24.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 24.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Seorang siswa jenius SMA tetapi tanpa ambisi dan cita-cita. Dia selalu mengatakan hanya ingin hidup santai dengan banyak wanita cantik. Tetapi hidupnya berubah saat dia diracuni dengan racun terbaru yang membuat tubuhnya menyusut menjadi anak kecil. Dia harus menemukan penjahat yang meracuninya dan mendapatkan sample racun itu untuk membuat penawarnya. Perjuangannya untuk mendapatkan penawar racun semakin sulit karena pria jenius itu terjebak dalam tubuh anak kecil. Tapi banyak juga keuntungan yang didapat dalam wujud anak kecil yang membuat orang mimisan…
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Di sebuah kota bernama Kota Jaya…
SMA Negeri 1 kota Jaya…
Seorang siswa SMA sedang asyik bermain bola sendirian. Dengan gerakan kedua kakinya yang lincah dan juga menggunakan kepalanya, bola itu terus memantul dan tidak pernah jatuh ke tanah.
Siswa itu bernama Evan Pratama.
“Huh… padahal kamu hebat sekali bermain bola. Kenapa kamu menolak untuk mengikuti kompetisi sepak bola wilayah? Dengan kemampuanmu ini, kamu pasti akan bisa masuk dalam Liga Nasional…” tanya seorang siswi cantik yang merupakan teman dekat Evan, dia adalah Rani Wijaya, teman masa kecilnya.
“Huh… aku bermain bola hanya untuk menggerakkan badan supaya otot tidak kaku dan badan lebih segar. Aku tidak mau masuk Liga Nasional dan hanya berlatih bola setiap hari, itu sangat melelahkan. Aku ingin hidup santai dan hidup bebas.” Evan tersenyum tipis.
“Huh… Apa kamu tidak punya cita-cita untuk masa depanmu?” Rani cemberut.
“Cita-cita ya…” Evan melihat ke arah Rani sambil menyeringai: “Cita-citaku hanya ingin hidup santai dan menikah dengan beberapa wanita cantik.”
“Huh, kamu ingin hidup santai dengan beberapa wanita? Bermimpilah!... Tidak ada wanita yang mau hidup dengan pria yang tidak punya masa depan sepertimu. Kalau kamu tidak bekerja, bagaimana kamu bisa menafkahi istrimu? Konyol!” Rani menjadi emosi.
“Hehehe… Ran, mendapatkan uang banyak itu tidak harus bekerja keras, kita harus menggunakan otak kita untuk mendapatkan uang,” Evan terkekeh: “Lagipula, kenapa kamu marah? Apa kamu cemburu?”
“Tidak… aku tidak cemburu!” Rani menyangkalnya, tetapi nada bicaranya agak tinggi.
“Hehehe… Kamu pasti cemburu. Kamu tidak ingin aku menikah dengan beberapa wanita, kan?”
“Duaakk!”
“Prakk!”
“Sudah kubilang aku tidak cemburu, mengerti?” Rani berbicara dengan tenang sambil tersenyum, senyum yang membuat Evan sedikit merinding, pada saat yang sama tinjunya memukul pohon besar di samping Evan, menyebabkan batang pohon besar itu berlubang berbentuk tinju.
Melihat ini, mata Evan melotot: “Me… Mengerti.”
“Memang pantas Rani menjadi ketua klub Karate,” gumam Evan dalam hati, keringat dingin menetes di dahinya.
“Baiklah, aku pergi dulu!” Rani mendengus, berbalik dan melangkah pergi. Tetapi, baru beberapa langkah, Rani berhenti. Dia berbalik menatap Evan dan berkata: “Kamu tidak lupa acara hari minggu, kan?”
“Acara apa?” Evan pura-pura bodoh.
Rani kembali berjalan ke arah Evan dan berkata dengan marah: “Kamu berjanji padaku jika aku mendapatkan juara pertama Karate tingkat kota, kamu akan mengajakku ke taman ria!”
“Benarkah?” Evan pura-pura bodoh.
“Huh, sudahlah, aku juga tidak ingin pergi bersamamu!” Rani cemberut dan berbalik pergi.
“Hei, hei… Tunggu Ran, aku hanya bercanda. Tentu saja aku ingat,” Evan mengejar Rani. Tentu saja, Evan tidak akan melupakan hari kencan pertama bersama Rani. Meskipun Rani dan Evan belum resmi berpacaran, tapi keduanya memiliki perasaan yang melebihi dari sekedar teman masa kecil. Dan tentu saja Evan tidak mengatakan bahwa ia mengajak Rani kencan pada hari minggu nanti, ia hanya mengatakan bahwa jika Rani menang di kejuaraan Karate, dia akan mengajaknya ke taman ria.
Rani menoleh ke arah Evan dan berkata: “Dan jangan lupa kamu yang mentraktirku.”
“Iya, iya…” Evan melihat ke arah Rani yang berjalan menjauh.
***
Keesokan paginya…
Hari ini adalah hari Jumat.
“Ugh… gawat, aku bangun kesiangan…” Evan buru-buru bangun, cuci muka, lalu makan roti panggang dengan cepat, dan buru-buru berangkat ke sekolah.
Di tengah perjalanan, Evan melihat pria tua yang sepertinya ingin menyeberang jalan. Dan tidak ada seorangpun yang berniat membantunya untuk menyeberangkan pria tua itu.
Melihat ini, Evan buru-buru menghampiri pria tua itu dan berkata: “Kakek mau menyeberang jalan, ya? Biarkan aku membantu kakek.”
Kakek itu tersenyum dan mengangguk.
Evan segera menuntun pria tua itu menyeberang jalan.
Setelah sampai di seberang jalan, Evan berkata: “Sudah dulu, Kek.” Even berbalik dan hendak buru-buru pergi.
“Tunggu dulu, Nak.” Pria tua itu menghentikan Evan.
“Ada apa, Kek?” Evan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pria tua itu.
“Nak, pertemuan kita adalah takdir. Aku akan mewariskan ilmu rahasia kepadamu.” Pria tua itu tersenyum.
Evan menatap pria tua itu dengan bingung: “Takdir? Kakek, kita hanya kebetulan bertemu. Kakek tidak perlu memberikan apa-apa padaku. Lagipula, aku hanya membantu kakek menyeberang jalan, orang lain juga bisa melakukannya”
“Nak, ini adalah takdir. Dan yang bisa membantuku menyeberang jalan hanya kamu, orang lain tidak bisa melakukannya,” kata pria tua itu sambil tersenyum.
Evan semakin bingung: “Hanya aku yang bisa membantumu menyeberangkan jalan? Orang lain tidak bisa? Kenapa?”
“Karena hanya kamu yang bisa melihatku,” kata pria tua itu sambil tersenyum.
“Hahaha… Kakek ini bercanda, ya?” Evan tertawa.
Kakek itu hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa lagi, lalu jari telunjuknya menunjuk ke arah kening Evan, dan seberkas sinar melesat ke arah kening Evan dan masuk ke dalam keningnya.
“Nak, gunakan ilmu itu untuk melakukan hal yang benar. Jangan kamu gunakan untuk kejahatan! Baiklah, Nak, aku pergi dulu.” Pria tua itu berkata perlahan dan sosoknya menghilang.
Evan masih tertegun di tempatnya dan tampak linglung.
Beberapa saat kemudian, Evan Pratama tersadar dan bergumam: “Apakah aku tadi bertemu hantu?!”
Evan Pratama merinding dan cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Ketika baru berjalan beberapa langkah, ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
“Evan, tunggu!” Seorang pemuda agak gemuk berlari ke arahnya.
Evan menoleh ke arah pemuda itu dan berkata: “Oh, Eko, tidak biasanya kamu terlambat berangkat ke sekolah? Biasanya kamu selalu berangkat pagi-pagi.”
“Ya, kemarin malam aku begadang nonton sepak bola, jadinya bangun kesiangan. Oh ya, tadi kenapa kamu berhenti dan bicara sendirian?” Eko bertanya dengan penasaran.
“Tadi aku melihat hantu kakek-kakek, ngeri sekali…” Evan agak merinding mengingat kejadian tadi.
“Benarkah? Sepertinya hari ini kamu sedang sial!” Eko menatap kasihan ke arah Evan.
“Sudahlah, lupakan saja. Cepat, bisa-bisa kita terlambat masuk sekolah.” Evan mempercepat jalannya.
Di dalam kelas…
Bel berbunyi tepat saat Evan Pratama dan Eko masuk ke dalam kelas.
“Fuuh… Nyaris saja.” Evan Pratama menghela napas lega. Dia dan Eko langsung duduk di tempat duduknya masing-masing.
“Evan, hampir saja kamu terlambat.” Rani menoleh ke arah Evan dan menggelengkan kepalanya tanpa daya.
“Ya, kemarin malam aku tidur larut malam.” Evan berkata sambil menguap.
Evan kemarin malam tidur larut malam karena keasyikan melakukan trading jual beli saham.
Selama pelajaran, Evan benar-benar tidak bisa konsentrasi belajar. Pikirannya masih mengingat kejadian tadi pagi ketika bertemu hantu kakek tua.
Dan saat ini, di pikirannya tertanam gerakan-gerakan aneh dan sebuah mantra.
“Aneh sekali. Tadi hantu kakek-kakek itu mengatakan akan mewariskan ilmu rahasia. Apakah gerakan-gerakan di pikiranku dan mantra ini adalah ilmu rahasia itu?” gumam Evan dalam hati.
“Tidak mungkin! Mana mungkin berlatih gerakan seperti itu akan menjadi kuat?!” Evan benar-benar tidak percaya, karena gerakan-gerakan itu sangat mirip senam Taichi lansia.
Seandainya senam taichi bisa membuat orang kuat, pasti akan sangat banyak orang kuat di dunia ini!
Konyol sekali!
Akhirnya, Evan benar-benar menganggap ilmu rahasia yang diwariskan kakek tua itu sebagai lelucon, dan tidak ada niat untuk melatihnya sama sekali.
Daftar bab
23 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








