
Takdir Sang Raja: Ketika Para Dewi Memilih-Ku,
satiπ₯³ππ|Bersambung
- Jumlah kata
- 72.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 15
- Jumlah kata
- 72.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 15

satiπ₯³ππ|Bersambung
"Dunia ini tidak membutuhkan seorang pahlawan. Dunia ini menunggu seorang raja." Arkan Veyron hanyalah seorang pemuda biasa yang hidup di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya. Tanpa bakat, tanpa keluarga berpengaruh, dan tanpa masa depan yang menjanjikan, ia hanya menjadi bahan ejekan bagi mereka yang merasa lebih unggul. Namun segalanya berubah ketika sebuah artefak kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun memilihnya sebagai pewaris. Pada malam itu, sebuah suara misterius bergema di dalam benaknya. "Selamat datang, Pewaris Takhta Abadi." Sejak saat itu, hidup Arkan tidak pernah sama lagi. Kekuatan yang seharusnya hanya ada dalam legenda mulai bangkit dalam dirinya. Rahasia tentang para dewi yang selama ini mengawasi dunia dari balik bayangan perlahan terungkap. Yang lebih mengejutkan, satu per satu dewi tersebut justru memilih untuk berdiri di sisinya. Dewi Es yang dingin dan tak tersentuh. Dewi Api yang bangga dan penuh gairah. Dewi Cahaya yang lembut namun menyimpan rahasia besar. Dewi Kegelapan yang berbahaya dan sulit ditebak. Serta Dewi Laut yang setia menjaga takdirnya. Ketika para kerajaan mulai bergerak, para dewa mulai curiga, dan musuh-musuh kuno bangkit dari kegelapan, Arkan menyadari bahwa dirinya bukan sekadar manusia biasa. Ia adalah pewaris terakhir dari seorang raja yang pernah mengguncang langit dan bumi. Kini hanya ada dua pilihan. Menyerahkan takdirnya kepada dunia... Atau merebut takhta yang memang ditakdirkan menjadi miliknya. Dalam perjalanan penuh pertempuran, pengkhianatan, dan cinta, mampukah Arkan membuktikan bahwa dirinya layak menjadi Raja yang dipilih oleh para dewi?
"Ada orang yang dilahirkan untuk menjadi pahlawan. Ada yang dilahirkan untuk menjadi raja. Namun, terkadang takdir memilih seseorang yang bahkan tidak pernah bermimpi memiliki keduanya."
Hujan turun deras di Kota Valthera.
Langit malam dipenuhi awan hitam yang bergerak cepat, sementara kilat sesekali menyambar di kejauhan. Menara-menara batu yang berdiri mengelilingi kota tampak seperti bayangan raksasa di balik tirai hujan.
Di tengah kota itu berdiri sebuah bangunan megah bernama Akademi Aetherion.
Akademi tersebut bukan tempat bagi orang biasa.
Hanya mereka yang memiliki kekuatan, bakat, atau garis keturunan tertentu yang dapat diterima di sana.
Di dunia bernama Aetheria, kekuatan adalah segalanya.
Seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa bisa mendapatkan gelar bangsawan, kekayaan, bahkan kesempatan untuk memimpin sebuah kerajaan.
Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki kekuatan akan dianggap tidak lebih dari rakyat biasa.
Dan di akademi itu...
Ada seorang pemuda yang berada di dasar dari semuanya.
Namanya Arkan Veyron.
Usianya sembilan belas tahun.
Rambutnya hitam, matanya berwarna biru gelap, dan tubuhnya tidak terlalu besar dibandingkan para siswa laki-laki lain. Seragam hitam akademi yang dikenakannya juga terlihat sederhana karena tidak memiliki lambang keluarga bangsawan maupun simbol elemen khusus.
Arkan berdiri sendirian di bawah atap koridor.
Di tangannya terdapat sebuah buku tua.
Ia menutup buku itu perlahan.
"Masih tidak ada."
Arkan menghela napas.
Sudah hampir sembilan tahun sejak ia menjalani Upacara Kebangkitan.
Namun sampai hari ini, ia tidak pernah membangkitkan satu pun kemampuan.
Di Aetheria, setiap anak akan menjalani upacara tersebut ketika berusia sepuluh tahun.
Mereka akan mengetahui afinitas, kemampuan, bahkan potensi masa depan mereka.
Ada yang mendapatkan Api.
Ada yang mendapatkan Es.
Ada yang mendapatkan Petir.
Ada pula yang membangkitkan kemampuan langka seperti ruang, waktu, penyembuhan, bahkan pemanggilan makhluk magis.
Arkan?
Tidak ada apa-apa.
Namanya bahkan tercatat sebagai salah satu peserta dengan hasil terburuk dalam sejarah Akademi Aetherion.
"Masih membaca buku tua itu?"
Suara seseorang terdengar dari belakang.
Arkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa orangnya.
"Ravian."
Seorang pemuda berambut pirang berjalan mendekat bersama tiga orang temannya.
Namanya Ravian Drax.
Putra keluarga bangsawan Drax.
Di atas telapak tangannya terdapat kobaran api berwarna merah tua.
Api itu berputar perlahan seperti ular yang siap menyerang.
Ravian berhenti beberapa langkah di depan Arkan.
"Kau masih belum menyerah?"
Arkan menatapnya.
"Menyerah tentang apa?"
Ravian tertawa kecil.
"Tentang menjadi seseorang yang berguna."
Ketiga temannya ikut tertawa.
Arkan sudah terlalu sering mendengar perkataan seperti itu.
Sejak masuk akademi, hampir setiap hari ada seseorang yang mengingatkannya bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan.
Namun kali ini Arkan tidak langsung pergi.
Ia menutup bukunya.
"Aku tidak pernah mengatakan ingin menjadi seseorang yang hebat."
"Benarkah?"
Ravian mendekat.
"Kalau begitu, kenapa kau masih berada di akademi ini?"
Arkan diam.
"Karena kau masih berharap suatu hari nanti kekuatanmu akan muncul?"
Ravian mengangkat tangan.
Api merah menyala di telapak tangannya.
"Bangun dari mimpimu, Arkan."
Bola api kecil melayang di antara mereka.
"Orang sepertimu tidak akan pernah berdiri sejajar dengan kami."
Arkan memandang bola api tersebut.
Kemudian ia menatap Ravian.
"Aku tidak meminta untuk berdiri sejajar denganmu."
Jawaban itu membuat Ravian terdiam sesaat.
Arkan memasukkan buku ke dalam tas.
"Aku hanya ingin menjalani hidupku sendiri."
Ia berjalan melewati Ravian.
Namun baru beberapa langkah, suara tawa terdengar lagi.
"Kalau begitu, hiduplah sebagai pecundang."
Arkan berhenti.
Tangannya mengepal.
Tetapi ia tidak berbalik.
Ia terus berjalan.
Bukan karena ia takut.
Melainkan karena Arkan tahu bahwa bertarung tanpa kekuatan hanya akan membuatnya semakin dipermalukan.
Ia sudah menerima kenyataan itu.
Setidaknya...
Begitulah yang selama ini ia pikirkan.
---
Malam semakin larut.
Setelah semua siswa kembali ke asrama, Arkan tidak langsung tidur.
Ia duduk sendirian di balkon kamar.
Hujan masih turun.
Di hadapannya terbentang seluruh Kota Valthera.
Menara sihir menyala di kejauhan.
Kristal-kristal penerangan memenuhi jalan.
Di langit, beberapa naga kecil terlihat terbang mengitari menara penjaga.
Pemandangan itu seharusnya indah.
Namun Arkan justru merasa kosong.
Ia menatap tangannya sendiri.
"Kenapa aku?"
Sejak kecil, Arkan selalu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Ia tidak tahu apa.
Terkadang ia bermimpi tentang sebuah tempat yang tidak pernah ia kenal.
Sebuah aula raksasa.
Tujuh singgasana.
Dan seorang pria yang berdiri di tengah lautan api.
Setiap kali Arkan mencoba mendekati pria itu...
Ia selalu terbangun.
Namun malam ini terasa berbeda.
Saat Arkan hendak kembali ke dalam kamarβ
DUARRR!
Suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Arkan langsung berdiri.
Seluruh akademi bergetar.
"Apa?"
Ia melihat ke arah langit.
Sebuah cahaya hitam muncul di atas hutan yang berada tidak jauh dari akademi.
Cahaya itu berbentuk seperti pilar.
Kemudianβ
BOOOOM!
Gelombang energi menyebar.
Jendela-jendela akademi bergetar.
Alarm darurat berbunyi.
TING! TING! TING!
Suara pengumuman terdengar di seluruh bangunan.
"Seluruh siswa diminta tetap berada di asrama!"
"Jangan keluar!"
"Penghalang akademi telah diaktifkan!"
Arkan mengerutkan kening.
Sesuatu yang sangat kuat baru saja muncul.
Dan anehnya...
Dadanya terasa panas.
Bukan sakit.
Melainkan seperti ada sesuatu yang sedang memanggilnya.
Arkan memegang dadanya.
"Apa ini?"
Denyut aneh muncul dari dalam tubuhnya.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian semakin kuat.
DUM!
Arkan tersentak.
Pandangannya tiba-tiba menjadi gelap.
---
Ketika membuka mata, Arkan tidak lagi berada di kamarnya.
Ia berdiri di sebuah tempat yang tidak memiliki ujung.
Langit dan tanah seolah menyatu.
Tidak ada matahari.
Tidak ada bulan.
Hanya kegelapan.
Arkan berputar.
"Di mana aku?"
Suara langkah terdengar.
Tok...
Tok...
Tok...
Dari kejauhan, muncul sebuah cahaya keemasan.
Cahaya itu semakin besar.
Kemudian berubah menjadi sebuah lingkaran sihir.
Tujuh simbol muncul di sekeliling Arkan.
Api.
Es.
Cahaya.
Kegelapan.
Petir.
Air.
Dan simbol terakhir yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah mahkota.
Arkan menatapnya dengan bingung.
"Apa ini?"
Tiba-tiba suara perempuan terdengar.
Lembut.
Namun memiliki tekanan yang membuat seluruh ruang bergetar.
"Akhirnya..."
Arkan membeku.
"Siapa?"
"Setelah seribu tahun..."
Cahaya emas memenuhi pandangannya.
"Pewaris terakhir telah terbangun."
Arkan mundur selangkah.
"Pewaris?"
"Arkan Veyron."
Suara itu menyebut namanya.
"Bagaimana kau tahu namaku?"
Tidak ada jawaban.
Sebaliknya, sebuah layar transparan muncul di depan matanya.
---
[VERIFIKASI PEWARIS DIMULAI.]
[Nama: Arkan Veyron]
[Usia: 19 tahun]
[Kekuatan: Tidak terdeteksi]
[Mana: Tidak terdeteksi]
[Afinitas: Tidak terdeteksi]
[Garis keturunan: Tersegel]
[Status: Tidak lengkap.]
---
Arkan terdiam.
"Tidak lengkap?"
Layar tersebut berubah.
---
[Syarat pewaris telah terpenuhi.]
[Segel pertama dibuka.]
[Sistem Takdir Raja berhasil diaktifkan.]
---
Mata Arkan melebar.
"Sistem?"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat sesuatu yang bahkan tidak pernah muncul dalam buku mana pun.
Sebuah sistem.
Kemudian layar baru muncul.
---
[SELAMAT DATANG, PEWARIS TAKHTA ABADI.]
[Mulai saat ini, takdir Anda tidak lagi berada di tangan dunia.]
[Takdir dunia akan berada di tangan Anda.]
---
Jantung Arkan berdetak keras.
"Apa maksudnya?"
Sebuah suara perempuan lain tiba-tiba terdengar.
Berbeda dari suara sebelumnya.
Lebih dingin.
Lebih jauh.
"Karena kau adalah orang yang telah kami tunggu."
Arkan menoleh.
Sosok seorang wanita berdiri di kejauhan.
Rambutnya putih panjang.
Matanya biru seperti kristal.
Gaun putih keperakan menutupi tubuhnya.
Di belakangnya terdapat lingkaran es yang berputar perlahan.
Arkan menatapnya.
"Siapa kau?"
Wanita itu tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Kemudian tubuhnya berubah menjadi serpihan cahaya.
Sebelum menghilang, sebuah kalimat terdengar.
"Suatu hari nanti, aku akan berdiri di sisimu."
Arkan terpaku.
"Apa?"
Tiba-tiba ruang tersebut retak.
KRAAAK!
Retakan hitam muncul di seluruh langit.
Sistem kembali berbunyi.
---
[Peringatan.]
[Energi dunia luar sedang mengalami gangguan.]
[Gerbang Abyss terdeteksi.]
[Ancaman: S-Class.]
[Pewaris belum memiliki kekuatan yang cukup.]
[Disarankan segera melakukan sinkronisasi.]
---
"Sistem, tunggu!"
Arkan mencoba bertanya.
Namun seluruh pandangannya berubah putih.
---
Arkan membuka mata.
Ia kembali berada di kamar.
Hujan masih turun.
Alarm masih terdengar.
Namun sesuatu sudah berubah.
Arkan perlahan duduk.
Ia memegang kepalanya.
"Tadi itu... mimpi?"
Sebuah suara langsung menjawab.
[Bukan.]
Arkan membeku.
Layar transparan muncul di depan matanya.
[Sistem Takdir Raja aktif.]
[Selamat datang, Arkan Veyron.]
Arkan berdiri.
"Jadi benar..."
Tangannya gemetar.
Selama sembilan tahun ia dianggap tidak memiliki kemampuan.
Selama sembilan tahun semua orang menganggapnya gagal.
Namun ternyata...
Kekuatannya bukan tidak ada.
Kekuatannya hanya tersegel.
Arkan menatap layar.
"Apa yang bisa kulakukan?"
Sistem menjawab.
[Fungsi awal tersedia.]
[Status.]
[Inventaris.]
[Quest.]
[Pemanggilan.]
[Sinkronisasi.]
Arkan mengangkat alis.
"Pemanggilan?"
Namun sebelum ia sempat membuka menu tersebutβ
BOOOOM!
Ledakan jauh lebih besar terdengar.
Dinding kamar bergetar.
Arkan berlari keluar.
Di koridor, para siswa mulai panik.
Beberapa guru berlari menuju halaman.
Kemudian suara seseorang terdengar dari luar.
"GERBANG AKADEMI TEMBUS!"
Arkan melihat ke arah jendela.
Langit di atas akademi berubah hitam.
Sebuah retakan besar terbuka.
Dari dalamnya keluar makhluk-makhluk hitam dengan mata merah menyala.
Monster Abyss.
Para siswa mulai berteriak.
"Bagaimana bisa?"
"Penghalang akademi ditembus!"
"Semua orang mundur!"
Arkan berdiri di tengah kerumunan.
Ravian juga berada di sana.
Api menyala di kedua tangannya.
"Jangan panik!"
Para siswa mulai menggunakan kemampuan masing-masing.
Petir.
Api.
Angin.
Es.
Namun jumlah monster terus bertambah.
Seorang guru berteriak.
"Semua siswa tingkat bawah mundur!"
Salah satu monster melompat melewati penghalang.
BOOM!
Ia jatuh tepat di halaman.
Tubuhnya besar seperti beruang, tetapi memiliki tanduk hitam dan cakar panjang.
Para siswa mundur.
Ravian maju.
"Aku akan menghadapinya."
Api membungkus tubuhnya.
Ia melesat.
DUAR!
Serangan api menghantam monster tersebut.
Monster itu terdorong beberapa meter.
Namun tidak jatuh.
Ravian terkejut.
"Mustahil!"
Monster itu meraung dan menyerang balik.
Ravian mencoba menghindar.
Terlambat.
BRAK!
Tubuh Ravian terlempar dan menghantam dinding.
"Ravian!"
Para siswa panik.
Monster itu berbalik.
Matanya langsung mengarah kepada seorang siswi yang berdiri tidak jauh dari Arkan.
Gadis itu membeku.
Monster tersebut melompat.
Arkan bergerak tanpa berpikir.
Ia menarik gadis itu ke samping.
BOOOOM!
Cakar monster menghantam tanah tepat di tempat mereka berdiri.
Arkan berguling.
"Pergi!"
Gadis itu berlari.
Monster kembali menatap Arkan.
Untuk pertama kalinya...
Arkan benar-benar merasa takut.
Tidak ada kekuatan.
Tidak ada senjata.
Tidak ada yang bisa membantunya.
Monster itu mengangkat cakar.
Arkan mengepalkan tangan.
"Aku baru saja mendapatkan sistem."
Tatapannya berubah.
"Kalau memang ini takdirku..."
Cakar monster meluncur.
Arkan mengangkat tangannya.
"...aku tidak akan mati di sini."
TING!
Layar sistem muncul.
---
[QUEST DARURAT AKTIF.]
Quest: Lindungi Pewaris Takdir.
Tujuan: Bertahan hidup selama 60 detik.
Hadiah: Membuka Segel Kekuatan Pertama.
Kegagalan: Kematian.
---
Arkan menatap tulisan itu.
Enam puluh detik.
Hanya enam puluh detik.
Monster itu kembali menyerang.
Arkan menghindar ke kiri.
Cakar monster menghantam lantai.
DUAR!
Pecahan batu beterbangan.
Arkan berlari.
Sepuluh detik.
Ia menggunakan seluruh kemampuannya untuk bertahan.
Dua puluh detik.
Lengannya terluka.
Tiga puluh detik.
Napasnya semakin berat.
Empat puluh detik.
Monster itu berhasil menjatuhkannya.
Arkan terbatuk.
Darah menetes dari sudut bibirnya.
Lima puluh detik.
Monster mengangkat cakar.
Arkan tidak bisa bergerak.
"Lima puluh..."
Sistem berbunyi.
[Sepuluh detik tersisa.]
Arkan tertawa kecil.
"Bahkan setelah sembilan belas tahun..."
Ia memandang monster di depannya.
"...aku akhirnya punya sesuatu yang harus kulindungi."
Monster itu menyerang.
[Tiga detik.]
Arkan menutup matanya.
[Dua detik.]
Tangannya tiba-tiba bersinar.
[Satu detik.]
[QUEST SELESAI.]
[SEGEL KEKUATAN PERTAMA TERBUKA.]
Mata Arkan terbuka.
Cahaya hitam dan emas meledak dari tubuhnya.
BOOOOOOM!
Seluruh halaman akademi berguncang.
Monster yang hendak menyerangnya terpental jauh.
Arkan berdiri perlahan.
Aura yang berbeda memenuhi tubuhnya.
Rambutnya bergerak tertiup energi.
Matanya kini memiliki cahaya keemasan.
Sistem menampilkan satu tulisan terakhir.
---
[Selamat datang, Raja Takdir.]
[Kemampuan pertama berhasil dibangkitkan.]
[Nama: Otoritas Raja.]
[Efek: Semua makhluk yang berada di bawah tingkat kekuatan pengguna akan merasakan tekanan mutlak.]
---
Monster di hadapannya tiba-tiba berlutut.
Seluruh halaman menjadi sunyi.
Para siswa menatap Arkan dengan wajah tidak percaya.
Bahkan para guru terdiam.
Ravian yang masih terluka menatapnya dari kejauhan.
"Arkan..."
Arkan sendiri tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Ia hanya melihat monster itu.
Kemudian sistem berbunyi sekali lagi.
---
[Peringatan.]
[Kebangkitan pewaris telah terdeteksi.]
[Lima entitas tingkat Dewi telah menyadari keberadaan Anda.]
[Hubungan takdir pertama telah terbentuk.]
[Takdir Sang Raja telah dimulai.]
Arkan menatap langit.
Di balik awan hitam, lima cahaya berbeda muncul.
Es.
Api.
Cahaya.
Kegelapan.
Dan air.
Lima kekuatan yang selama ribuan tahun tidak pernah muncul bersamaan.
Sementara jauh di tempat yang tidak diketahui manusia...
Lima pasang mata perlahan terbuka.
Dan untuk pertama kalinya setelah seribu tahunβ
para dewi mulai mencari seorang pria.
Pria yang kelak akan mengubah seluruh dunia.
Arkan Veyron.
Pria tanpa kekuatan.
Pria yang selama ini dianggap gagal.
Dan pria yang ternyata...
ditakdirkan menjadi Raja.
42 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.