
Sentuhan Panas Sang Mafia
FAVEL|Bersambung
- Jumlah kata
- 50.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18
- Jumlah kata
- 50.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18
Sinopsis
Di mata hukum, dia adalah mafia paling berbahaya di kota. Di balik bayangan, dia adalah pewaris sah dari konglomerat terbesar yang dibuang sejak bayi. Raven dibesarkan oleh kerasnya dunia malam dan darah para musuhnya. Ia kembali bukan hanya untuk menuntut balas pada keluarga Vance yang telah membuangnya, melainkan untuk merebut kembali seluruh takhta yang dicuri oleh Julian Vance sang pangeran palsu. Dan rencana pembalasan dendam itu dimulai dengan menyentuh aset paling bernilai milik Julian: Clara Lin, wanita anggun yang menjadi calon istrinya. Di dalam penthouse mewah yang terkunci rapat, Clara menyadari bahwa bahaya terbesar bukanlah pistol atau ancaman sang mafia, melainkan jemari dingin dan sentuhan panas Raven yang perlahan membakar seluruh dinding pertahanannya. “Kau bisa membenci namaku, Clara. Tapi tubuhmu tidak pernah bisa menolak sentuhanku.”
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Serigala di Penthouse Mewah
Lampu-lampu kota Jakarta berkerlap-kerlip di balik dinding kaca tebal lantai empat puluh lima. Dari ketinggian ini, metropolis terlihat seperti hamparan permata yang berserak di atas kain beludru hitam mewah, dingin, dan tak tersentuh.
Aku menyandarkan tubuh di pilar beton, mengamati pantulan diriku di kaca tembus pandang. Kemeja hitam bertengger di bahuku yang lebar, dengan tiga kancing atas yang kubiarkan terbuka, memperlihatkan garis dada bidang serta kulit gelap yang ditempa kerasnya jalanan. Di sepanjang lengan bawahku hingga punggung tangan, tato naga bersisik legam melilit sempurna, samar-samar menutupi bekas luka tembak dan sabetan pisau yang kuterima selama bertahun-tahun menguasai duniabawah.
Dua puluh lima tahun.
Dua puluh lima tahun aku hidup di selokan kegelapan, bertaruh nyawa di jalanan, bertarung dengan sesama anak buangan, dan membangun imperium mafia dari darah serta keringat. Selama itu pula, seorang pria bernama Julian Vance menikmati semua kemewahan, nama besar, dan tahta Vance Group, konglomerat bisnis terbesar di negeri ini.
Semua orang menyembah Julian sebagai pangeran mahkota yang sempurna. Putra tunggal dari Alexander Vance. Sang pewaris yang tampan, terpelajar, dan flamboyan.
Mereka tidak tahu bahwa Julian Vance adalah sebuah kebohongan besar.
Saat aku masih bayi berumur beberapa hari, seorang sekretaris pengkhianat menukarku dengan bayi lain, anak dari seorang wanita simpanan kelas rendah. Aku dibuang ke tempat sampah di pinggiran kota, sementara anak haram itu diangkat ke dalam kemewahan, mengenakan pakaian sutra, dan disiapkan untuk mewarisi kerajaan bisnis bernilai ratusan triliun.
Dua bulan lalu, sebelum Alexander Vance menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU, rahasia itu terbongkar lewat analisis DNA rahasia yang dikirimkan oleh mendiang ibuku. Tapi sudah terlambat. Alexander mati sebelum sempat mengubah surat wasiatnya, dan Julian dengan cepat menguasai sisa kekuasaan keluarga.
Julian mengira dia telah menang. Dia berpikir statusnya aman di puncak dunia.
Dia tidak tahu bahwa aku tidak kembali untuk meminta bagianku secara baik-baik. Aku kembali sebagai penguasa dunia bawah, seorang Raven yang siap merobek-robek hidupnya hingga tak tersisa. Dan malam ini, aku akan mulai mengambil apa yang menjadi hakku. Dimulai dari piala terindah yang paling dibanggakannya.
Aku melirik jam tangan perak di pergelangan tanganku. Pukul sebelas malam.
Dengan langkah mantap, aku menginjakkan sepatu kulitku di atas lantai marmer penthouse pribadi milik Julian. Pintu depan yang menggunakan pemindai retina dan kode enkripsi berlapis itu telah kubuka hanya dalam waktu sepuluh detik menggunakan flashdrive peretas buatan tim teknisku. Pengawal yang berada di pos penjagaan bawah? Mereka sudah tertidur nyenyak akibat gas bius berteknologi tinggi yang ditiupkan lewat saluran ventilasi.
Suasana penthouse itu begitu hening. Hanya ada denting halus es batu dalam gelas kristal dan alunan musik klasik yang terdengar samar dari pengeras suara tersembunyi.
Di ujung ruangan, dekat meja bar yang menghadap langsung ke pemandangan kota, seorang wanita berdiri sendirian.
Clara Lin.
Garis tubuhnya yang ramping dibalut gaun malam dari kain sutra hitam tanpa lengan. Potongan gaun itu membingkai pinggangnya yang kecil dengan sempurna, sementara bagian punggungnya terbuka rendah hingga memperlihatkan kulit mulusnya yang putih bersih bagai porselen di bawah pendar lampu remang. Rambut hitamnya disanggul tinggi secara acak, menyisakan beberapa helai anak rambut yang jatuh membelai leher jenjangnya.
Dia adalah wanita yang dijodohkan dengan Julian, calon istri dari pewaris palsu Vance Group. Papan catur sempurna yang menyatukan dua dinasti bisnis terbesar.
Aku berjalan tanpa suara, melintasi karpet tebal yang meredam setiap helai langkahku. Bau harum minyak cendana dan aroma parfum mawar mahal dari tubuhnya bertiup lembut, menusuk indra penciumanku dan membakar gairah liar yang selama ini terpendam.
Clara mengangkat gelas anggur merah ke bibir tipisnya yang diolesi gincu merah menyala. Dia menyesapnya perlahan, menyipitkan mata menatap gemerlap lampu kota dengan ekspresi dingin yang penuh kejenuhan.
"Julian?" suaranya terngiang halus, memecah keheningan ruangan. Tanpa menoleh, dia melanjutkan dengan nada datar. "Jika kau pulang hanya untuk mengambil kunci mobil balapmu yang lain, sebaiknya kau pergi lagi. Aku tidak berminat mendengarkan kebohongan barumu tentang rapat direksi yang berlanjut di kelab malam."
Aku tersenyum tipis. Suara wanita ini luar biasa merdu, namun tersimpan kepahitan yang mendalam di dalamnya.
Aku tidak menjawab. Aku terus melangkah hingga jarak di antara kami hanya tersisa satu jengkal.
Merasakan aura asing yang begitu dominan, panas, dan berbahaya di belakangnya, tubuh Clara mendadak menegang. Bau aroma minyak kayu cendana, tembakau mahal, dan jejak bahaya yang memancar dari tubuhku jelas bukan wangi parfum manis milik Julian.
Clara berbalik dengan cepat. Gelas kristal di tangannya hampir saja terlepas ketika matanya menangkap sosokku.
Dia mendongak, menatapku dengan raut terkejut. Matanya yang tajam dan indah melebar sempurna. Dia memperhatikan postur tubuhku yang jauh lebih tinggi dan tegap dibanding Julian, kemeja hitamku yang agak terbuka memperlihatkan dada bidang bermata tato, serta rahang tegas dengan garis luka kecil di pipi kiriku.
"Si... siapa kau?" bisiknya. Ketegangan langsung menjalar di seluruh tubuhnya. Tangannya refleks membawa gelas anggur itu ke depan dada sebagai perlindungan diri yang naluriah. "Bagaimana bisa kau masuk ke sini? Mana pengawal di bawah?"
Aku menyandarkan satu tanganku pada meja bar di samping tubuhnya, menunduk sedikit untuk memangkas jarak wajah kami. "Julian sedang sibuk di kelab malam bersama dua model papan atas, Clara. Sangat disayangkan wanita secantik dirimu dibiarkan kesepian di penthouse seluas ini."
Wajah Clara memucat, bukan hanya karena kehadiranku, tapi karena kebenaran dari kata-kataku tentang tunangannya. Namun, sebagai putri dari keluarga Lin yang terbiasa di dunia bisnis yang keras, dia dengan cepat berusaha menguasai diri. Dia menegakkan bahunya, berusaha menatap mataku dengan berani meski napasnya mulai terengah kecil, membuat bagian depan gaun sutranya naik turun dengan cepat.
"Keluar dari sini sekarang," ancamnya dengan suara yang diusahakan setenang mungkin. "Atau aku akan menekan tombol darurat dan memastikan kau membusuk di penjara malam ini juga."
"Tekan saja," jawabku terkekeh rendah. Suara beratku bergetar halus, terdengar intim dan mengintimidasi di dalam ruangan yang sunyi itu. "Tapi seluruh sistem keamanan gedung ini sudah berada di bawah kendaliku. Tak ada sirine yang akan berbunyi, Clara. Tak ada polisi yang akan datang."
Clara mundur satu langkah, namun punggung mulusnya langsung bertabrakan dengan dinginnya dinding kaca tebal. Dia terjebak.
Aku tidak memberinya ruang untuk bernapas. Aku maju satu langkah lagi, menempelkan dada tegapku hampir menyentuh bagian depan gaun sutranya. Aku mengangkat kedua tanganku, mengurung tubuh moleknya di antara dinding kaca dan tubuh tegapku.
"Apa yang kau inginkan?" napas Clara memburu. Mata indahnya menatap jemariku yang penuh tato di atas kaca, tepat di samping kepalanya. "Uang? Saham? Sebutkan nominalnya dan pergilah!"
"Uang?" Aku menunduk, mendekatkan bibirku ke leher jenjangnya. Hembusan napas panasku menyapu kulit lehernya yang sensitif, membuat bulu kuduknya merinding seketika. "Aku tidak butuh uang kecilmu, Sayang. Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Aku bukan milik siapa pun!" tegasnya, berusaha mendorong dadaku dengan sebelah tangannya yang bebas.
Namun sentuhan jemari halusnya pada dadaku justru terasa seperti lemparan minyak ke dalam kobaran api. Cengkeraman otot dadaku yang keras membuat jemarinya gemetar. Bukannya menjauhkan tubuhku, dorongannya yang lemah itu justru sirna ketika aku menangkap pergelangan tangannya yang halus, lalu menguncinya di atas kepala, menempelkannya ke kaca.
Gelas kristal di tangannya yang satu lagi terlepas, jatuh ke atas karpet tebal tanpa suara.
"Kau tunangan Julian Vance," bisikku rapat di depan wajahnya. Manik mataku yang hitam kelam menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkaca-kaca. "Segala hal yang disentuh, dimiliki, atau dicintai oleh Julian... mulai malam ini menjadi milikku."
"Kau gila..." bisik Clara. Suaranya bergetar hebat. Ada rasa takut yang nyata di matanya, tapi di balik kepanikan itu, aku melihat kilatan gairah terselubung yang mulai tersulut akibat dominasiku yang tanpa kompromi.
Dua tahun dia terjebak dalam hubungan dingin dengan Julian yang acuh tak acuh. Dan malam ini, keberadaanku yang liar dan berbahaya menghantam pertahanan dirinya bagai badai.
"Aku memang gila, Clara," jawabku dingin sebelum menyunggingkan senyum tipis yang berbahaya. "Dan gila adalah satu-satunya cara untuk merebut kembali takhtaku."
Tangan bahuku yang bebas turun ke pinggang rampingnya. Dengan satu tarikan mantap, aku memangkas seluruh jarak yang tersisa di antara kami. Tubuh moleknya yang hangat dan halus menempel rapat pada tubuh tegapku tanpa celah.
Clara menahan napas, dadanya yang membusung bersentuhan langsung dengan dadaku. Dia mendongak, matanya yang sayu menatap bibirku yang hanya berjarak beberapa milimeter dari bibirnya.
"Siapa... siapa namamu yang sebenarnya?" tanyanya dengan suara serak, hampir seperti bisikan memohon.
Jemariku merayap naik menyusuri tulang punggungnya yang terbuka, membelai kulit mulusnya yang hangat hingga dia memejamkan mata dan mengeluarkan desahan kecil yang tertahan di tenggorokan.
"Panggil aku Raven," bisikku tepat di atas bibirnya yang merekah merah. "Ingat nama itu baik-baik, Clara. Karena mulai malam ini, pria inilah yang akan menguasai tubuh, pikiran, dan seluruh hidupmu."
Sebelum dia sempat membalas atau memprotes, aku menundukkan kepala, mengunci bibirnya dalam sebuah ciuman yang dalam, liar, dan penuh dominasi. Ciuman yang menandai dimulainya perang darah di atas tahta Vance Group.
Daftar bab
41 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








