
- Jumlah kata
- 29.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Wira Ghandi adalah adipati berprestasi yang menjadi orang kepercayaan Panglima Narendra di Kerajaan ReksaNegeri. Namun, tak seorang pun mengetahui rahasia di balik sosok prajurit teladan itu. Di balik topeng tembaganya, Wira adalah Elang Bertopeng, pria paling diinginkan para wanita bangsawan di Paviliun Seroja.Awalnya, Wira hanya mencari hiburan di tengah kesibukan tugasnya. Namun, segalanya berubah ketika Wulan Kemuning, adik Panglima Narendra, mengandung anaknya dan mengaku hanya pernah menghabiskan malam bersama Elang Bertopeng.Demi melindungi adiknya, Narendra memerintahkan Wira untuk menemukan pria di balik topeng tersebut.Kini, Wira harus menyelidiki dirinya sendiri, menjaga rahasianya dari panglima yang sangat dipercayainya, sekaligus menghadapi perasaannya terhadap Wulan. Sebab, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya menyembunyikan identitas yang selama ini membuatnya menjadi primadona.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
MALAM YANG DIBATALKAN
“Bagaimana bisa dibatalkan begitu saja?!”
Suara seorang wanita terdengar cukup keras di meja pemesanan Paviliun Seroja. Beberapa tamu yang baru saja tiba bahkan sampai menoleh, penasaran dengan keributan yang terjadi di sana.
Wanita bercadar merah muda itu berdiri dengan kedua tangan terkepal. Dari sorot matanya, jelas sekali bahwa dia sedang menahan amarah.
“Aku sudah menunggu begitu lama untuk mendapatkan giliran bertemu dengannya! Kalian sendiri yang mengatakan bahwa malam ini adalah giliranku. Sekarang, ketika aku sudah datang, kalian malah mengatakan bahwa dia tidak bisa menemuiku?”
Pria yang bertugas di meja reservasi segera memasang senyum profesional, berusaha menenangkan tamu yang satu ini.
“Nona, mohon tenang. Kami benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Namun, Tuan Candra tiba-tiba memiliki urusan mendesak. Kami juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
“Urusan mendesak?” Wulan nyaris tertawa karena kesal. “Memangnya urusan apa yang lebih penting daripada memenuhi janji kepada tamunya sendiri?”
Petugas itu hanya bisa tersenyum kaku.
Dia sudah terbiasa menghadapi wanita-wanita yang datang dengan berbagai macam permintaan. Ada yang pemalu, ada yang pemurah, ada pula yang bersikap angkuh karena merasa memiliki kedudukan tinggi.
Namun, menghadapi wanita yang sudah menunggu giliran selama berbulan-bulan untuk bertemu Elang Bertopeng seperti Wulan Kemuning bukanlah perkara mudah.
Terlebih lagi, pria yang mereka cari itu memang bukan sembarang elang.
Di Paviliun seroja. Setiap elang memiliki daya tariknya masing-masing. Ada yang terkenal karena wajah tampan, ada yang memiliki tutur kata lembut, dan ada pula yang pandai memainkan alat musik hingga membuat para tamu betah berlama-lama.
Akan tetapi, Elang Bertopeng, Candra, berbeda dari mereka semua.
Dia jarang muncul, tidak menerima sembarang tamu, dan tidak pernah memperlihatkan wajahnya secara utuh. Topeng tembaga yang selalu menutupi bagian atas wajahnya justru membuat para wanita semakin penasaran.
Belum lagi tubuhnya yang tegap dan sikapnya yang tenang.
Bahkan, beberapa wanita bangsawan yang biasanya sulit didekati kabarnya rela mengantre hanya untuk mendapatkan satu malam bersamanya.
Tidak heran jika Wulan merasa dunia sedang mempermainkannya.
“Aku tidak peduli!” katanya akhirnya.
Sebelum petugas itu sempat menjawab, Wulan sudah berbalik dan melangkah menuju bagian dalam paviliun.
“Nona! Nona Wulan, tunggu sebentar!”
Petugas tersebut buru-buru meninggalkan meja reservasi untuk mengejarnya, tetapi wanita itu sudah menaiki tangga menuju lantai dua.
Pelayan pribadinya yang sejak tadi mengikuti dari belakang hanya bisa menghela napas panjang. “Nona, setidaknya beri tahu mereka sebelum masuk. Tempat ini bukan kediaman kita.”
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”
“Memastikan apa?”
“Apakah dia benar-benar tidak datang!”
Wulan mempercepat langkahnya.
Dia sudah terlalu lama menantikan malam ini. Setelah berulang kali mengajukan reservasi dan ditolak karena jadwal Elang Bertopeng selalu penuh, akhirnya dia mendapatkan kesempatan.
Dia bahkan menghabiskan waktu berjam-jam memilih pakaian, merias wajah, dan mempersiapkan hadiah untuk pria itu.
Lalu sekarang, dia disuruh pulang begitu saja?
Tidak mungkin!
Begitu tiba di lantai dua, Wulan berpapasan dengan seorang pria berpakaian indah yang sedang berjalan ke arah berlawanan.
Dia langsung berhenti.
Pria itu memiliki wajah tampan dengan alis tegas dan hidung mancung. Rambutnya diikat rapi, sementara seulas senyum menggantung di bibirnya.
Wulan segera memperhatikan wajahnya dengan saksama.
Bukan dia.
Pria itu adalah salah satu elang lain yang bekerja di Paviliun Seroja. Meskipun sama-sama tampan, selera Wulan sudah terlanjur jatuh kepada seseorang yang lain.
“Tuan, apa kau melihat Candra?” tanyanya tanpa basa-basi.
Pria itu mengangkat sebelah alis. “Candra?”
“Elang Bertopeng!”
“Oh.” Pria itu langsung memahami maksudnya. Senyumnya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon yang menarik. “Kalau kau ingin mencarinya, sepertinya kau datang pada malam yang salah, Nona.”
“Apa maksudmu?”
“Dia tidak ada di sini.”
“Lalu, di mana dia?”
Pria itu mengangkat bahu. “Kalau aku tahu, mungkin aku juga akan mencarinya. Bukankah dia selalu berhasil membuat para wanita kehilangan akal setiap kali menghilang?”
Setelah mengatakan itu, dia terkekeh pelan dan berjalan pergi.
Wulan menggertakkan gigi. Pria itu jelas sedang mengejeknya! Namun, dia tidak punya waktu untuk meladeni orang semacam itu. Dia kembali melangkah cepat menuju ruang ganti para elang.
Di sana, beberapa pria tengah bersiap menyambut tamu malam itu. Ada yang sedang merapikan pakaian, ada yang menyisir rambut, dan ada pula yang duduk santai sambil menikmati teh.
Begitu melihat seorang wanita bercadar merah muda menerobos masuk, mereka semua terkejut.
“Eh? Siapa yang membiarkan seorang wanita masuk ke sini?”
“Bukankah ini ruang ganti?”
“Pelayan! Cepat bawa dia keluar!”
Wulam sama sekali tidak peduli dengan protes mereka.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari sosok tinggi dengan topeng tembaga yang sudah memenuhi pikirannya selama berbulan-bulan.
Namun, setelah memeriksa satu per satu pria yang ada di sana, hasilnya tetap sama.
Tidak ada Candra.
Bahkan, tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu sempat datang ke paviliun malam ini.
“Nona Kemuning!” Petugas reservasi akhirnya berhasil menyusulnya. Wajah pria itu tampak pucat karena malu. “Mohon maafkan kelancangan kami, Tuan-Tuan. Nona ini hanya sedang mencari seseorang.”
“Siapapun yang kau cari, kau tidak boleh menerobos ruang ganti!” protes salah satu elang.
Wulan mengabaikannya. Dia berbalik kepada petugas reservasi dengan tatapan tidak puas.
“Benarkah dia tidak datang sama sekali?”
Petugas itu mengangguk. “Benar, Nona. Kami juga sedang berusaha menghubunginya, tetapi belum mendapatkan kabar.”
Wulan terdiam. seolah dia kehabisan kata-kata.
Pelayan pribadinya mendekat dan menyentuh lengannya dengan hati-hati. “Nona, sebaiknya kita pulang saja. Ini sudah sangat malam.”
Wulan menatap ruangan itu sekali lagi sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
Baiklah. Kalau memang pria itu tidak ada di sini, dia tidak mungkin menemukannya dengan memeriksa seluruh paviliun.
Namun, dia tidak akan menyerah.
Elang Bertopeng, Chandra.
Dia akan memastikan bahwa pria itu menepati janjinya, apa pun yang terjadi!
---
Di tempat lain, jauh dari gemerlap lampu Paviliun Seroja, seorang pria tengah menunggang kuda melintasi hutan yang diselimuti gerimis.
Pakaian militernya yang berwarna gelap tampak sedikit basah. Pedang tergantung di pinggangnya, sementara sebuah lambang perak terpasang rapi di bagian dada.
Derap kaki kudanya memecah kesunyian malam.
Pria itu adalah Wira Ghandi.
Prajurit utama sekaligus tangan kanan Panglima Besar Narendra.
Baru beberapa saat lalu dia menyelesaikan tugas rahasia yang diberikan langsung oleh sang panglima, yakni mengantarkan pesan penting kepada Panglima Soka yang bertugas menjaga wilayah perbatasan.
Tugas itu sebenarnya tidak terlalu sulit. Perjalanan menuju perbatasan pun berjalan lancar. Hanya saja, ada satu hal yang membuat Wira merasa perjalanan malam ini jauh lebih menyebalkan daripada biasanya.
Dia kehilangan kesempatan bersenang-senang.
Wira mendongak menatap langit yang gelap. Gerimis masih turun, membasahi dedaunan dan membuat jalan setapak di hadapannya semakin licin.
Dia menghela napas.
Sejak menjadi tangan kanan Narendra, hari-harinya nyaris tidak pernah lepas dari pekerjaan. Pagi-pagi sekali dia harus memeriksa laporan pasukan. Setelah itu, dia menghadiri pertemuan militer, memeriksa persediaan, mengatur jadwal patroli, dan terkadang menggantikan Narendra menerima tamu-tamu yang datang membawa berbagai macam kepentingan.
Belum lagi tugas-tugas mendadak yang bisa muncul kapan saja. Jika bukan karena kedudukannya, mungkin dia sudah lama meminta cuti panjang.
Sayangnya, menjadi prajurit kepercayaan seorang panglima besar tidak semudah itu. Terlebih lagi, Narendra adalah orang yang sangat mempercayainya.
Setiap kali ada tugas penting, nama Wira hampir selalu menjadi orang pertama yang disebut. Dan sebagai lulusan terbaik akademi keprajuritan, Wira juga tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menolak.
Sialnya, kemampuan dan reputasi yang membuatnya dibanggakan itu justru menjadi sumber kesengsaraannya.
Wira baru saja menginjak usia tiga puluh tahun. Usia yang menurutnya masih sangat pantas untuk menikmati kehidupan, mencari hiburan, dan bersenang-senang seperti pria lain pada umumnya.
Namun, kehidupannya justru dipenuhi urusan militer. Kadang-kadang dia merasa bahwa jika terus begini, dia mungkin baru bisa menikmati hidup setelah pensiun.
Itu pun belum tentu.
Sebab, dengan reputasinya yang sekarang, Narendra mungkin akan menyuruhnya melatih para prajurit bahkan setelah dia berhenti bertugas.
Wira menggelengkan kepala, menyingkirkan pikiran menyebalkan itu. Setidaknya, beberapa waktu terakhir dia sudah menemukan cara untuk membuat hidupnya sedikit lebih menarik.
Semuanya bermula dari sebuah tempat yang sebenarnya sudah lama dia kenal. Paviliun Seroja. Tempat eksklusif yang terkenal di kalangan wanita terpandang di Kerajaan ReksaNegeri.
Berbeda dari tempat hiburan biasa, paviliun itu menawarkan sesuatu yang lebih istimewa. Para wanita yang datang ke sana tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga menginginkan teman untuk berbincang, menikmati musik, minum arak, atau menghabiskan malam bersama pria terbaik pilihan mereka.
Dan para pria yang bekerja di sana disebut elang.
Awalnya, Wira hanya menganggap tempat itu sebagai salah satu hiburan yang bisa dicoba ketika dia sedang bosan. Dia tidak ingin repot mencari wanita di luar, apalagi harus menghadapi berbagai masalah yang mungkin muncul setelahnya.
Menjadi elang di Paviliun Seroja terasa jauh lebih praktis. Dia bisa memilih tamu, menentukan jadwal, dan tetap menyembunyikan identitas aslinya.
Lagi pula, apa yang kurang dari dirinya?
Tubuhnya terlatih karena bertahun-tahun menjalani latihan militer. Wajahnya pun cukup menarik, dengan rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata yang bisa terlihat dingin ketika dia sedang tidak ingin berbicara.
Ditambah lagi, dia pandai menjaga penampilan. Jadi, ketika pertama kali mencoba mendaftar sebagai elang, Wira sama sekali tidak mengalami kesulitan. Bahkan, pengelola paviliun langsung tertarik merekrutnya.
Hanya saja, dia tidak pernah menyangka bahwa keisengannya akan berkembang sejauh ini.
Awalnya, dia hanya menerima satu atau dua tamu. Kemudian, namanya mulai dikenal. Wanita-wanita yang pernah menghabiskan waktu bersamanya memberikan pujian. Beberapa bahkan kembali membuat reservasi khusus untuk bertemu dengannya.
Lambat laun, permintaan semakin meningkat. Hingga akhirnya, Wira menjadi salah satu elang paling populer di Paviliun Bulan Jingga. Bahkan, ada wanita yang rela menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengannya.
Tentu saja, Wira tidak pernah menunjukkan wajahnya secara utuh kepada para tamu. Dia menggunakan topeng tembaga yang menutupi bagian atas wajahnya, lalu memperkenalkan diri dengan nama Candra.
Karena penampilannya yang gagah dan kebiasaannya muncul tanpa jadwal pasti, para wanita mulai menjulukinya Elang Bertopeng.
Julukan yang awalnya terdengar biasa saja itu justru menjadi semakin terkenal. Wira sendiri tidak terlalu peduli. Selama para tamu puas, rahasianya tetap aman, dan dia bisa memperoleh hiburan setelah hari-hari panjang di barak, semuanya terasa sempurna.
Setidaknya, sampai malam ini.
--*)Lb(*--
Daftar bab
22 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








