
Gadis misterius rumah bordil
NJC13|Bersambung
- Jumlah kata
- 112.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 31
- Jumlah kata
- 112.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 31
Sinopsis
seorang pemuda yang sedang mencari ibunya lantaran hilang tanpa sebab, ia mengontrak di samping rumah bordil dimana dulu ibunya bekerja di tempat tersebut.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Bab 1
Hujan turun pukul sebelas malam, membasahi gang sempit yang bahkan matahari pun seolah enggan menyinarinya.
Di ujung gang itu, berdiri sebuah bangunan bercat merah pudar dengan lampu neon yang berkedip-kedip di atas pintunya. Orang-orang menyebutnya rumah bordil Seroja, meskipun tidak ada satu pun bunga yang tumbuh di halaman bangunan tersebut.
Di sebelahnya, terpisah hanya oleh tembok setinggi dada orang dewasa, berdiri sebuah kontrakan kecil dengan atap seng berlubang, dinding tripleks, dan pintu kayu yang sulit ditutup rapat.
Di sanalah Ilyas tinggal.
Usianya dua puluh tujuh tahun. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari, dan telapak tangannya dipenuhi garis-garis kasar akibat pekerjaan yang berganti hampir setiap minggu. Kadang ia menjadi kuli angkut di pasar.
Kadang mengaduk semen di proyek bangunan. Pada hari-hari sial, ia mengumpulkan kardus bekas atau membantu pedagang sayur membersihkan lapak.
Pekerjaan apa pun akan diterimanya selama menghasilkan uang.
Bukan karena Ilyas memiliki cita-cita besar, melainkan karena hidup tidak pernah memberinya cukup waktu untuk memikirkan cita-cita.
Malam itu, ia baru pulang dari pasar dengan upah tujuh puluh ribu rupiah. Tiga puluh ribu sudah ia sisihkan untuk membayar utang warung, dua puluh ribu untuk beras dan telur, sementara sisanya ia masukkan ke dalam kaleng biskuit yang berfungsi sebagai tabungan.
Tabungan itu sebenarnya lebih mirip lelucon.
Sudah delapan bulan ia mengisinya, tetapi jumlahnya bahkan belum cukup untuk membeli sebuah ponsel bekas yang layak.
Ilyas meletakkan kantong belanja di lantai, kemudian duduk di tepi kasur tipisnya. Dari balik dinding, terdengar suara musik dangdut bercampur tawa para pengunjung rumah bordil.
Ia sudah terbiasa.
Pada bulan pertama, suara-suara itu membuatnya sulit tidur.
Bulan kedua, ia mulai bisa memejamkan mata. Memasuki bulan keenam, ia bahkan sanggup mengerjakan perhitungan utang sambil mendengar seseorang tertawa keras di kamar sebelah.
Manusia, menurut Ilyas, bisa terbiasa dengan hampir semua hal.
Termasuk kesepian.
Terlebih lagi jika tidak punya cukup uang untuk pindah.
Pagi berikutnya, Ilyas sedang memperbaiki engsel pintu kontrakannya ketika seseorang mengetuk tembok pembatas.
Tok. Tok. Tok.
"Mas!"
Ilyas menoleh.
Seorang perempuan berdiri di balik tembok, mengenakan kaus longgar berwarna abu-abu dan celana panjang hitam. Rambutnya yang sebahu masih sedikit basah. Wajahnya tanpa riasan, memperlihatkan lingkaran samar di bawah mata dan sebuah tahi lalat kecil di dekat bibir kiri.
Ilyas pernah melihatnya beberapa kali.
Perempuan itu biasanya keluar dari bangunan merah ketika matahari sudah tinggi, lalu kembali menjelang malam. Kadang ia duduk sendirian di tangga belakang sambil merokok. Kadang ia menatap jalanan dengan pandangan kosong, seolah sedang menunggu seseorang yang tak pernah datang.
"Mas punya obeng?" tanyanya.
Ilyas mengangkat obeng yang sedang dipegangnya.
"Ini?"
"Iya. Boleh pinjam sebentar? Kran kamar mandi saya rusak. Tukang yang biasa dipanggil belum datang."
Ilyas memandangi perempuan itu selama dua detik sebelum menyerahkan obeng melalui celah tembok.
"Kalau rusak parah, obeng nggak akan banyak membantu."
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Kalau nggak dicoba, saya juga nggak tahu."
"Benar juga."
Perempuan itu menerima obeng, lalu berbalik. Namun, sebelum melangkah pergi, ia kembali menoleh.
"Terima kasih, Mas."
"Ilyas."
Perempuan itu mengernyit.
"Apa?"
"Nama saya Ilyas. Kalau mau berterima kasih, setidaknya tahu nama orangnya."
Senyumnya kali ini sedikit lebih lebar.
"Ratih."
Ia kemudian menghilang di balik pintu belakang bangunan merah.
Ilyas kembali mengutak-atik engsel pintunya.
Entah mengapa, nama itu tertinggal lebih lama di kepalanya daripada yang seharusnya.
Mereka baru berbicara lagi tiga hari kemudian.
Sore itu, Ilyas pulang dengan baju penuh debu semen setelah bekerja di sebuah proyek yang jaraknya hampir sepuluh kilometer dari kontrakannya. Bahunya sakit. Perutnya kosong. Dan mandor bangunan baru saja mengatakan bahwa pekerjaan mereka dihentikan sementara karena pemilik proyek kehabisan dana.
Artinya, besok ia belum tentu punya pekerjaan.
Ia membeli sebungkus nasi dengan lauk tempe, lalu duduk di bangku kayu di depan kontrakan.
Saat membuka bungkus nasi, ia mendengar suara benda jatuh dari arah gang.
Sebuah kantong plastik tergeletak di tanah. Isinya beberapa buah jeruk yang berguling ke selokan.
Ratih berjongkok untuk mengambilnya.
Ilyas memperhatikan perempuan itu berusaha meraih jeruk yang tersangkut di dekat saluran air. Ia menghela napas, meletakkan nasinya, lalu menghampiri.
"Biar saya ambil."
"Nggak usah. Bisa, kok."
Ilyas mengambil sebatang ranting, menarik jeruk yang tersangkut, lalu memasukkannya kembali ke kantong plastik.
"Sudah."
Ratih menerima kantong itu.
"Makasih."
"Kali ini nggak perlu memperkenalkan nama lagi."
Perempuan itu tertawa kecil.
Tawa yang terdengar aneh di tempat tersebut. Bukan karena tidak pantas, melainkan karena Ilyas baru menyadari bahwa selama ini ia hampir tidak pernah mendengar Ratih tertawa.
"Kamu selalu begini?" tanya Ratih.
"Begini bagaimana?"
"Suka menolong orang sambil mengomel."
Ilyas mengangkat bahu.
"Saya bukan suka menolong. Saya cuma nggak tega melihat jeruk terbuang. Harga jeruk sekarang mahal."
Ratih tertawa lagi. Kali ini lebih lepas.
Untuk beberapa saat, mereka berdiri di gang sempit itu tanpa membicarakan apa-apa. Dari jalan raya terdengar klakson kendaraan, sementara aroma gorengan dari warung ujung gang terbawa angin sore.
Kemudian Ratih melirik nasi bungkus di tangan Ilyas.
"Kamu belum makan?"
"Belum."
"Kenapa malah bantuin saya?"
"Karena jeruknya nggak bisa menunggu sampai saya selesai makan."
Ratih menggeleng, masih tersenyum.
"Kamu aneh."
"Sering dibilang begitu."
"Kerja di mana?"
"Di mana saja ada yang mau membayar."
Jawaban itu membuat senyum Ratih memudar sedikit.
"Bukannya capek kalau hidup nggak punya kepastian?"
Ilyas menatapnya.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa seperti seseorang baru saja mengetuk pintu yang sudah lama ia kunci.
"Capek," jawabnya jujur. "Tapi capek juga nggak bikin besok tiba-tiba ada uang."
Ratih terdiam.
Dari balik pintu rumah bordil, terdengar seorang perempuan memanggil namanya.
"Ratih! Ada yang nyari!"
Wajah Ratih berubah. Bukan ketakutan, melainkan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Seperti seseorang yang baru saja diingatkan bahwa ia tidak benar-benar bebas menentukan ke mana harus pergi.
"Iya!" sahutnya.
Ia kembali menatap Ilyas.
"Saya masuk dulu."
Ilyas mengangguk. "Jeruknya jangan jatuh lagi."
"Kalau bayarannya jeruk satu, boleh."
"Dasar pelit."
Ia pergi sambil tersenyum.
Ilyas kembali ke bangkunya. Nasinya sudah agak dingin, tetapi ia tetap memakannya sampai habis.
Ia tidak tahu mengapa percakapan singkat itu terasa berbeda dari percakapan-percakapan lain yang pernah dilakukannya.
Mungkin karena Ratih tidak bertanya apakah ia sudah menikah, berapa penghasilannya, atau mengapa lelaki seusianya masih tinggal di kontrakan sempit.
Perempuan itu bertanya apakah ia lelah.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ilyas merasa seseorang tidak sedang menanyakan apa yang bisa ia berikan, melainkan apa yang sedang ia tanggung.
Malam itu, hujan kembali turun.
Ilyas sedang menghitung uang di dalam kaleng biskuit ketika terdengar ketukan di pintunya.
Ia membuka pintu dan mendapati Ratih berdiri di sana, kali ini mengenakan jaket tipis dengan rambut terurai.
Di tangannya ada sebuah mangkuk plastik yang ditutup piring kecil.
"Ini apa?" tanya Ilyas.
"Nasi goreng."
Ilyas menatap mangkuk itu, kemudian menatap Ratih.
"Kenapa?"
"Karena saya masak terlalu banyak."
"Kalau begitu, kenapa nggak dimakan sendiri?"
Ratih menghela napas.
"Mas Ilyas, kalau setiap pemberian harus diperiksa alasannya, orang bisa capek berbuat baik sama kamu."
Ilyas terdiam sesaat, lalu menerima mangkuk itu.
"Terima kasih."
"Nah, begitu, dong."
Ratih hendak berbalik ketika Ilyas menyadari sesuatu.
"Ratih."
Perempuan itu menoleh.
"Ya?"
"Obengnya belum dikembalikan."
Ratih memejamkan mata, seolah baru saja mengingat sebuah kesalahan besar.
"Aduh. Besok saya kembalikan."
"Jangan hilang. Itu satu-satunya obeng saya."
"Iya, Pak Ilyas yang terhormat."
Ia melangkah pergi, tetapi kali ini Ilyas memanggilnya sekali lagi.
"Ratih."
Perempuan itu kembali menoleh, sedikit heran.
"Kalau besok butuh bantuan memperbaiki sesuatu, ketuk saja pintu. Selama saya ada."
Ratih tidak langsung menjawab.
Senyumnya perlahan menghilang, digantikan tatapan yang membuat Ilyas merasa telah mengatakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar menawarkan bantuan.
Bersambung...
Daftar bab
80 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








