
Mahkota di atas Aspal
Yuchan Kusuma|Bersambung
- Jumlah kata
- 5.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 5.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Ia berhadapan dengan Leonhard Prasetya,seorang pengusaha ambisius yang ingin menguasai industri balap motor melalui kekuatan uang dan pengaruh. Di tengah konflik tersebut, hadir Aurelia Daneswari, perempuan cerdas yang menyimpan luka masa lalu keluarganya. Bersama Seraphina Wiratama, ia menjadi bagian penting dalam mengungkap rahasia yang selama ini tersembunyi di balik kerajaan bisnis dunia balap. Sementara itu, Rafael Adinata, pembalap berbakat Mahendra Racing, berjuang membuktikan bahwa kemenangan sejati tidak dapat dibeli dengan kekuasaan. Setiap perlombaan menjadi ujian keberanian, kesetiaan, dan kehormatan. Ketika rahasia lama mulai terungkap, batas antara persahabatan dan pengkhianatan semakin kabur. Siapa yang akan bertahan ketika kekuasaan dipertaruhkan? Siapa yang pantas mengenakan mahkota sebagai penguasa arena? **Mahkota di Atas Aspal** adalah kisah tentang ambisi, cinta, pengkhianatan, persaingan, dan perjuangan mempertahankan kehormatan. Sebab, di dunia yang dikuasai oleh kecepatan dan kekuasaan, kemenangan terbesar bukanlah menjadi penguasa, melainkan tetap berdiri dengan harga diri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 -- Kembalinya Sang Pewaris
Hujan turun tipis di atas Kota Jakarta ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung pencakar langit milik Mahendra Racing Group.
Gedung berlapis kaca itu menjulang tinggi, memantulkan cahaya lampu kota. Di puncaknya terpampang sebuah lambang berbentuk sayap dengan tulisan emas: MAHENDRA RACING GROUP.
Bagi sebagian orang, nama itu adalah simbol kejayaan dunia balap motor. Bagi sebagian lainnya, nama tersebut merupakan lambang kekuasaan yang tidak tersentuh.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun dengan setelan jas hitam yang sempurna. Langkahnya tenang, tetapi tatapan matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Adrian Mahendra.
Setelah tujuh tahun tinggal di luar negeri, akhirnya ia kembali. Tidak ada sambutan meriah. Tidak ada karpet merah. Hanya beberapa petugas keamanan yang segera berdiri tegak ketika mengenali wajahnya.
"Selamat datang kembali, Tuan Adrian."
Adrian hanya mengangguk.
Matanya tertuju pada lambang perusahaan yang terpampang di atas gedung.
"Ayah," gumamnya pelan. "Aku sudah kembali."
Tujuh tahun lalu, ayahnya, Armand Mahendra, meninggal dalam sebuah kecelakaan yang mengguncang dunia balap nasional. Peristiwa itu membuat perusahaan keluarga hampir kehilangan kendali.
Sejak saat itu, Alexander Wiratama mengambil alih kepemimpinan perusahaan.
Namun, Adrian tidak pernah percaya bahwa kematian ayahnya hanyalah kecelakaan biasa.
Ia memiliki alasan untuk kembali. Dan alasan itu tersimpan di dalam perusahaan yang sekarang akan ia kuasai.
Ruang rapat utama berada di lantai tiga puluh dua.
Dinding kaca memperlihatkan pemandangan kota yang luas. Meja konferensi panjang terbuat dari kayu hitam mengkilap. Di salah satu ujungnya duduk seorang pria berusia lima puluhan dengan rambut mulai memutih.
Alexander Wiratama.
Di sebelahnya duduk Seraphina Wiratama, putrinya yang terkenal anggun dan memiliki pengaruh besar dalam urusan perusahaan.
"Jadi, akhirnya pewaris keluarga Mahendra memutuskan pulang."
Suara Alexander terdengar datar.
Adrian menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya.
"Sepertinya Anda tidak terlalu senang melihat saya."
Alexander tersenyum tipis.
"Jangan salah paham. Saya justru merasa lega. Perusahaan ini membutuhkan kehadiran keluarga pemiliknya."
"Benarkah?"
Adrian meletakkan sebuah map hitam di atas meja.
"Kalau begitu, mungkin kita bisa mulai dengan membicarakan laporan keuangan, kepemilikan saham, dan keputusan strategis yang selama ini Anda ambil."
Senyum Alexander perlahan menghilang.
Beberapa direktur saling bertukar pandang.
Seraphina memperhatikan Adrian dengan penuh rasa ingin tahu. Pria itu ternyata tidak datang untuk sekadar berkunjung.
"Saya rasa kita bisa membicarakannya nanti," jawab Alexander.
"Tidak. Saya rasa justru sekarang waktu yang tepat."
Adrian membuka map tersebut.
"Mulai hari ini, saya akan menjalankan hak saya sebagai pewaris utama Mahendra Racing Group."
Ruangan mendadak hening.
Alexander menyandarkan tubuhnya.
"Anda mungkin mewarisi nama Mahendra, Adrian. Tetapi perusahaan ini tidak berjalan hanya dengan nama keluarga."
Adrian menatapnya tanpa berkedip.
"Dan Anda mungkin berhasil mengendalikan perusahaan ini selama tujuh tahun. Tetapi jangan lupa, kekuasaan yang Anda pegang bukan berarti menjadi milik Anda."
Untuk pertama kalinya, Alexander tidak segera menjawab.
Sore harinya, Adrian mengunjungi markas tim balap.
Tempat itu jauh berbeda dari gedung perkantoran. Suara mesin, aktivitas teknisi, dan kesibukan para mekanik memenuhi suasana.
Di tengah garasi utama, sebuah motor balap berwarna hitam, merah, dan emas berdiri dengan gagah.
Motor itu adalah andalan Mahendra Racing.
Adrian mendekatinya.
"Masih menggunakan warna yang sama," katanya.
"Karena warna itu sudah menjadi identitas tim."
Adrian menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya. Ia mengenakan blazer putih, rambut hitamnya tergerai rapi, dan sebuah tablet berada di tangannya.
Aurelia Daneswari.
"Anda pasti Tuan Adrian Mahendra," katanya.
"Dan Anda?"
"Aurelia Daneswari. Direktur strategi tim."
Adrian mengangguk.
"Saya sudah membaca laporan Anda."
"Semoga laporannya cukup menarik."
"Menarik, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki."
Aurelia tersenyum kecil.
"Saya kira Anda baru saja tiba."
"Saya memang baru tiba. Tetapi bukan berarti saya datang tanpa persiapan."
Aurelia memperhatikan pria di hadapannya.
Ada sesuatu dalam tatapan Adrian yang membuatnya sulit menebak isi pikirannya.
"Kalau begitu, selamat datang di dunia yang sebenarnya, Tuan Mahendra."
"Maksud Anda?"
Aurelia mengarahkan pandangannya ke arah garasi.
"Di gedung perusahaan, orang bisa memenangkan rapat dengan kata-kata. Di sini, kemenangan harus dibuktikan. Dan kadang-kadang, orang yang paling berpengaruh bukanlah orang yang namanya tercantum di atas kertas."
Adrian tersenyum tipis.
"Sepertinya Anda sudah cukup lama bekerja di sini."
"Tujuh tahun."
"Sejak ayah saya meninggal?"
Aurelia terdiam sesaat.
"Ya."
Adrian menangkap perubahan ekspresinya.
Namun, ia tidak langsung bertanya.
Di ujung garasi, seorang pembalap sedang berdiskusi dengan kepala mekanik.
Rafael Adinata.
Pembalap utama Mahendra Racing yang selama tiga musim terakhir menjadi andalan tim.
Tubuhnya tegap, wajahnya terlihat serius, dan sikapnya menunjukkan profesionalisme seorang atlet yang terbiasa menghadapi tekanan.
"Rafael," panggil Aurelia.
Pembalap itu menoleh.
"Ya, Bu Aurelia?"
"Kenalkan. Ini Adrian Mahendra."
Rafael segera menghampiri.
"Tuan Adrian. Senang akhirnya bisa bertemu langsung."
Adrian mengulurkan tangan.
"Saya berharap kita bisa membawa tim ini kembali ke puncak."
Rafael menjabat tangannya.
"Saya akan berusaha memberikan yang terbaik."
"Saya tidak membutuhkan janji. Saya membutuhkan hasil."
Rafael mengangguk mantap.
"Saya mengerti."
Adrian menatap motor balap di belakangnya.
"Musim ini akan menjadi musim yang berbeda. Saya ingin tim ini bertanding dengan integritas, profesionalisme, dan kemampuan terbaik."
Rafael tersenyum.
"Kalau begitu, kita memiliki tujuan yang sama."
Namun, dari balik kaca ruang pengamatan, seseorang sedang memperhatikan mereka.
Alexander Wiratama.
Di sampingnya berdiri seorang pria berjas abu-abu.
"Bagaimana menurut Anda, Tuan?" tanya pria itu.
Alexander tidak segera menjawab.
Matanya tetap tertuju kepada Adrian.
"Dia datang dengan ambisi yang besar."
"Apakah kita perlu mengkhawatirkannya?"
Alexander tersenyum dingin.
"Setiap orang yang ingin mengambil kekuasaan saya harus memahami satu hal."
"Apa itu, Tuan?"
Alexander berbalik.
"Di dunia ini, kemenangan bukan hanya soal siapa yang paling cepat. Tetapi siapa yang memiliki kendali atas permainan."
Malam semakin larut.
Adrian berada sendirian di ruang kerja lama milik ayahnya.
Ruangan itu masih menyimpan beberapa foto kejuaraan masa lalu. Salah satunya memperlihatkan Armand Mahendra berdiri di samping motor balap dengan piala besar di tangannya.
Adrian membuka laci meja.
Di dalamnya terdapat sebuah amplop cokelat yang sudah menguning.
Ia mengenali tulisan tangan di bagian depannya.
Untuk Adrian. Buka ketika waktunya tiba.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama dan secarik kertas.
Foto tersebut memperlihatkan ayahnya berdiri bersama tiga orang pria.
Alexander Wiratama adalah salah satunya.
Dua pria lainnya tidak dikenali Adrian.
Ia kemudian membaca tulisan di atas kertas.
Adrian, jika suatu hari kau kembali ke perusahaan ini, jangan mudah mempercayai siapa pun. Ada sesuatu yang terjadi sebelum kecelakaanku. Seseorang telah mengkhianati keluarga kita. Kebenarannya tersimpan di tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun.
Adrian membaca kalimat itu berulang kali.
Kemudian ia membalik foto tersebut.
Di bagian belakang terdapat sebuah tulisan pendek.
PROYEK BLACK CROWN — 17 AGUSTUS.
Adrian terdiam.
Apa sebenarnya Black Crown?
Mengapa ayahnya menyimpan rahasia tersebut?
Dan siapa dua pria yang berdiri bersama Alexander?
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Selamat datang kembali, Adrian Mahendra. Jika kau masih ingin mengetahui kebenaran tentang ayahmu, berhentilah menggali masa lalu.
Adrian membaca pesan itu dengan wajah dingin.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
Tidak semua orang yang tersenyum kepadamu adalah sekutu.
Adrian meletakkan ponselnya.
Ia berdiri di depan jendela besar yang menghadap kota.
Malam itu, ia menyadari bahwa kepulangannya bukan sekadar tentang mengambil alih perusahaan.
Ada sebuah permainan besar yang telah berlangsung jauh sebelum dirinya kembali.
Dan kini, tanpa disadari, ia telah menjadi bagian dari permainan tersebut.
Adrian mengepalkan tangannya.
"Baiklah," katanya pelan. "Kalau kalian menginginkan perang, aku akan bermain sampai akhir."
Di luar gedung, hujan kembali turun.
Sementara di sirkuit pribadi Mahendra Racing, sebuah motor balap hitam dengan lambang mahkota emas berdiri sendirian di dalam garasi yang terkunci.
Pada bagian bodinya terdapat tulisan kecil:
BLACK CROWN.
Daftar bab
5 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








