Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KAU PILIH DIA, AKU PILIH HIDUP

KAU PILIH DIA, AKU PILIH HIDUP

Sueni | Bersambung
Jumlah kata
36.2K
Popular
195
Subscribe
34
Novel / KAU PILIH DIA, AKU PILIH HIDUP
KAU PILIH DIA, AKU PILIH HIDUP

KAU PILIH DIA, AKU PILIH HIDUP

Sueni| Bersambung
Jumlah Kata
36.2K
Popular
195
Subscribe
34
Sinopsis
18+PerkotaanAksiDunia Masa Depan
selama enam tahun fajar percaya bahwa dunianya berputar di sekitar alina. namun sebuah ponsel meruntuhkan segalanya. alina lebih memilih laki-laki yang mempunyai pangkat
Bab 1. Hadiah ulang tahun pernikahan

"Yah, hari itu hari Sabtu. Aku menjemput istriku di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup mewah di kotaku. Aku datang dengan mobil bututku yang kadang mogok di tengah jalan dan membuat kemacetan.

Aku membayangkan wajah Alina, istriku, ketika mendapatkan kejutan hadiah ulang tahun pernikahan kami yang keenam. Tahun ini berbeda dari biasanya. Tahun-tahun sebelumnya aku hanya memberinya perhiasan, tetapi kali ini aku menyiapkan sesuatu yang sudah kupersiapkan selama satu tahun sejak ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Sebuah mobil roda empat berwarna merah, warna favorit Alina. Aku sudah tidak sabar ingin memberikan hadiah yang telah lama kusiapkan itu.

Ponselku berdering. Panggilan dari rekan kerjaku, Toni, membuyarkan lamunanku.

"Sial..." lirihku dalam hati.

Aku segera menjawab panggilan itu.

"Ya, ada apa, Ton?" jawabku dengan nada kesal.

"Iya, Pak Fajar, maaf ganggu. Ini ada konsumen yang cari Bapak. Katanya sudah janjian sore ini jam empat."

"Hah?" Aku menepuk jidat. Aku lupa kalau hari ini ada janji dengan konsumen dan belum sempat membatalkannya.

"Iya, Ton... mana orangnya? Aku... aku..." ucapku terbata-bata karena khawatir konsumenku

kecewa. "Coba aku bicara sama Pak Wijaya."

"Iya, Pak. Sebentar," jawab Toni.

Toni adalah teman ngopiku di kantor. Dia hanya seorang mekanik mobil di tempatku bekerja.

"Halo, Pak Wijaya. Saya minta maaf, Pak. Saya masih di luar. Apa kita bisa jadwalkan ulang?"

"Oh iya, tidak apa-apa, Pak Fajar. Kebetulan saya juga tidak bisa lama di sini."

"Baik, Pak. Terima kasih."

Aku mengusap dada sambil mengucap syukur dalam hati.

"Kalau begitu hari Senin saja bagaimana, Pak Fajar? Saya kosong," pinta Pak Wijaya.

"Oh iya, boleh, Pak. Saya ada waktu jam sepuluh pagi."

"Baik, nanti saya kabari tempat pertemuannya."

Aku mengakhiri panggilan dengan mengepalkan tangan kecil sambil berkata, "Yes!" pertanda semua akan baik-baik saja."

"Aku terus bersenandung gembira sambil mendengarkan musik dangdut kesukaan Alina. Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari benda pipih berwarna merah di samping jok mobilku. Sebuah pesan WhatsApp dari Alina.

Segera kuraih ponsel itu dan membaca pesanny

Maaf, Mas. Aku nggak usah dijemput ya. Aku nggak enak sama Hani. Kebetulan sekarang Hani lagi ada masalah. Aku mau nemenin dia dulu, boleh ya, Mas? Maaf ya, Mas.

Isi pesan itu sedikit mengusik hatiku. Walaupun bukan pertama kali Alina menemani Hani di rumahnya, entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Seolah Tuhan sedang menunjukkan sesuatu. Seolah alam semesta sedang tidak berpihak kepadaku

Aku mencoba menelepon Alina, tetapi panggilanku tidak dijawab. Tak lama kemudian masuk lagi pesan darinya.

Jangan telepon dulu, Mas. Hani lagi cerita, nggak enak. Mas pulang aja ya. Nanti aku telepon kalau Hani udah tenang

Aku hanya membalas singkat.

Oke, cantik. Jangan lupa telepon Mas. Love you, cantik.

Kuarahkan setir mobil bututku berputar arah menuju tempat yang bahkan Alina sendiri tidak tahu. Tempat di mana aku ingin memberinya kejutan romantis.

Aku sudah menyewa sebuah kafe dengan halaman parkir yang cukup luas. Di sana, sebuah mobil merah kesukaannya sudah terparkir cantik dengan pita merah muda, dikelilingi bunga tulip, serta sebuah kotak besar berisi kunci mobil.

Aku hanya bisa memandangi hadiah yang sudah lama kupersiapkan itu.

Namun kembali rasa gelisah menghampiri.

"Ada apa ini..." bisikku pelan.

Kuambil sebatang rokok, lalu kunyalakan perlahan. Aku mengembuskan asap panjang sambil mencoba menenangkan diri.

"Sudahlah... aku nggak boleh berpikir negatif tentang Alina."

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau rasa gelisah ini hanyalah rasa kecewa karena kejutan yang sudah lama kusiapkan seolah tidak berarti apa-apa.

"Hai, sayang..."

"Hai juga, Mas Leo."

"Mana teman kamu... Hani itu, ya namanya?"

"Oh, dia udah pulang dari tadi, Mas."

"Belanjanya gimana? Udah beres?"

"Udah dong," jawabku manja.

Seperti biasa, tangan nakal Mas Leo selalu mengawali pertemuan kami.

"Ih, udah ah, Mas. Jangan nakal... ini banyak orang."

Aku menyingkirkan tangannya yang sudah melingkar di pinggang kecilku.

"Iya, iya..." jawab Mas Leo sambil tertawa kecil.

"Takut sama Fajar, ya?"

Nada cemburu itu justru membuatku tersenyum. Entah kenapa, aku selalu merindukan sentuhan nakalnya.

Mas Leo adalah laki-laki bertubuh tinggi, tegap, dan gagah. Penampilannya sangat cocok dengan pekerjaannya di salah satu satuan yang bertugas di pelosok desa jauh dari hiruk-pikuk ibu kota.

Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja saat pergi bersama rekan-rekan kantor ke sebuah desa yang asri dan dingin

"Hani, Dimas, Rijal, dan Lintang. Saat itu kami bertemu dengan Mas Leo.

Mas Leo bertugas di desa tersebut. Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja ketika ban mobil yang kami tumpangi terkena benda tajam di penghujung sore.

Aku memberanikan diri menghentikan salah satu iring-iringan mobil yang kebetulan melintas. Ada sekitar lima mobil saat itu, dan tanpa sengaja mobil yang kuhentikan adalah mobil yang ditumpangi Mas Leo.

Aku berlari ke arah mobil itu.

"Tunggu! Tunggu! Tolong kami!" teriakku panik.

Aku tidak memedulikan teriakan Lintang yang mencoba menghentikanku. Dalam pikiranku hanya ada satu hal: hari mulai gelap dan malam sebentar lagi datang.

Aku berdiri tepat di depan mobil itu hingga hampir saja tertabrak kalau pengemudinya tidak segera mengerem.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi dan tegap keluar dari mobil dengan tatapan tajam.

"Ada apa?" tanyanya singkat

"Tolong, Pak. Mobil kami sepertinya bermasalah. Bannya kena paku," jawabku gugup.

Laki-laki itu mengangguk pelan.

"Coba minggir, saya lihat dulu."

"Iya, Pak. Silakan," kataku sambil merapikan rambutku yang sedikit berantakan

Aku menoleh ke sekeliling dan baru sadar keempat mobil lain juga ikut berhenti. Beberapa orang turun dari mobil mereka.

Dalam hati aku bergumam lirih.

"Jangan-jangan orang penting..."

Beberapa menit kemudian laki-laki itu menghampiriku lagi.

"Tunggu sebentar ya, Mbak. Saya laporkan dulu," ujarnya.

"Alina!" teriak Lintang sambil berlari ke arahku, disusul Dimas dan Rijal.

"Ngapain sih kamu nekat begitu?" tanya Dimas dengan wajah pucat.

Aku mulai ikut merasa takut melihat ekspresi mereka.

"Eh, Hani mana?" tanyaku pada Lintang.

"Huh... nggak usah dicari. Kamu tahu sendiri kan dramanya Hani," jawab Lintang kesal sambil bertolak pinggang.

Tak lama terdengar suara manja dari arah tak jauh.

"Ayang... aku kesesat di sini. Ayang, tolong... banyak nyamuk..." rengek Hani.

Aku sampai ternganga mendengarnya.

Belum sempat aku memanggil Hani, suara laki-laki bertubuh tegap itu kembali terdengar.

"Baik, Mbak. Silakan ikut saya. Mobilnya biar tetap di sini, nanti akan ada yang mengantarkan ke tempat Mbak menginap."

Ia lalu menunjuk mobil lain.

"Untuk teman-teman Mbak, silakan naik mobil yang di depan. Dan Mbak sendiri ikut saya."

"Eh, tunggu! Kok dipisah? Mau dibawa ke mana teman saya?" protes Lintang.

"Mau ikut perintah saya atau tidak? Kalau tidak, silakan tinggal di sini," jawabnya tegas.

Aku segera menenangkan suasana.

"Sudah, Pak. Tidak apa-apa. Sesuai arahan saja."

"Silakan masuk, Mbak."

Laki-laki itu membukakan pintu mobil untukku.

Saat itulah aku benar-benar melihat sosoknya.

Tubuh tinggi, wajah tampan, dan pembawaannya begitu berwibawa. Sosok laki-laki yang mungkin menjadi impian banyak perempuan.

Aku duduk di sampingnya. Tanpa sengaja kulit lengan kami bersentuhan.

Deg.

Jantungku berdebar aneh.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Apa ini?

Dan itulah pertama kalinya aku bertemu dengan Mas Leo."

Lanjut membaca
Lanjut membaca