

Aku berdiri di belakang ayahku, menyaksikan wajahnya yang dilumuri cahaya bulan yang memancar.
Malam itu,bayangan pertempuran melintasi kulitnya yang penuh dengan cerita tentang keberanian dan pengorbanan.
Aku merasakan getaran tegang dalam udara, menandakan bahwa malam ini bukanlah sembarang malam.
"Ayah," bisikku, suara bergetar meski aku mencoba keras untuk menahannya, "aku siap menghadapi ujian ini."
Aku memandangi punggung ayahku yang tegar, menunjukkan tekadku dengan tatapan yang serius.
Ayah berbalik, matanya penuh dengan campuran kebijaksanaan dan kekuatan. Dia mengangguk pelan.
"Logan, ujian ini tak hanya menguji kekuatan fisikmu ini juga menguji mentalmu. Hutan tempat kamu akan pergi adalah tempat yang penuh dengan bahaya dan misteri."
Dia menatap ke arah horizon yang jauh, menuju tempat ujian yang sebenarnya.
Dia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Aku tahu, hutan itu bukan hanya tempat untuk menghadapi binatang buas, tetapi juga makhluk-makhluk gelap dan ancaman lainnya.
"Selama 40 hari," lanjutnya,
Suaranya dalam dan tegas, "kamu harus bertahan hidup di sana. Jika kamu berhasil, kamu akan menjadi ksatria seperti aku. Jika tidak..."
Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Aku mengerti. Kegagalan bukanlah pilihan.
Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menyingkirkan keraguan yang menghantuiku.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Ayah. Aku akan bertahan dan membuktikan bahwa aku pantas mewarisi peranmu."
Kurasakan kekuatan dalam kata-kataku saat aku mengencangkan genggaman tangan.
Ayah mendekat, tangan besar dan kuatnya menempel di pundakku.
"Aku percaya padamu, Logan. Ingatlah, kekuatan sejati seorang ksatria iblis tidak hanya terletak pada senjata dan kekuatan fisik, tetapi juga pada mental pejuang yang terkandung di dalam hati seorang prajurit."
Aku mengangguk mantap, api semangat dan keberanian menyala di dalam diriku.
"Terima kasih, Ayah. Aku akan mengingat itu." Mataku berkaca-kaca, terharu oleh kata-kata yang penuh makna itu.
Ayah menepuk pundakku dengan keras, hingga aku terjatuh ke tanah.Ayah memang sangat tegas dalam mendidikku,
"Aku benci air mata, Logan. Bangkitlah!"
Setelah aku bangkit, ayah mengulurkan tangannya, memberikan sebuah amulet kecil.
"Ini akan memberimu kekuatan tambahan di masa depan. Jagalah baik-baik."
Aku menerima amulet itu, cahaya kecil berkilauan di dalamnya. "Aku siap, Ayah. Aku akan memulai perjalanan ini sekarang."
Ayah tersenyum bangga. "Semoga keberanian dan kekuatan senantiasa menyertaimu, Logan. Pergilah dan jadilah ksatria iblis yang hebat!"
Aku mengangguk tulus dan berbalik pergi, meninggalkan ayah yang kembali menatap bulan dengan penuh makna.
Aku mempersiapkan segalanya untuk perjalanan esok pagi, mengambil kage yang sebuah tombak merah kebiruan dengan ujung berbentuk spiral yang tajam, pemberian dari ayahku..
---
Pagi itu, sinar matahari menembus kabut tipis yang menyelimuti hutan. Aku berdiri di titik awal ujian bersama sembilan peserta lainnya, merasakan ketegangan yang menggantung di udara.
Kami semua bersiap dengan penuh kesadaran bahwa hanya sedikit dari kami yang mungkin akan kembali dengan selamat.
Seorang petugas ujian, dengan jubah hitam yang membalut tubuhnya dan wajah tertutup bayangan, maju ke depan.
Suaranya bergema lantang, menciptakan getaran yang merambat melalui kerumunan.
"Para peserta! Ujian ini bukan hanya tentang bertahan hidup. Ini adalah ujian keberanian dan kemampuan untuk menghadapi ketakutan terdalam kalian."
Dia berhenti sejenak, menghadap ke arah hutan yang kelihatan seperti jurang tak berujung.
"Kalian akan ditempatkan di bagian yang berbeda dari hutan ini. Tujuannya adalah bertahan hidup selama 40 hari. Tidak ada aturan selain satu: jangan saling membunuh. Jika ada yang melanggar, mereka akan didiskualifikasi dan dihukum berat."
Mendengar itu, aku sedikit lega karena tidak harus bersaing dengan kontestan lain. Namun, napas berat di sekitarku menunjukkan bahwa semua orang menyadari beratnya tugas ini.
Petugas itu kemudian memberi isyarat, mengangkat tangannya, memberi tanda dimulainya ujian.
"Semoga beruntung," bisikku kepada diriku sendiri sambil memandang sekeliling.
"Ujian telah dimulai!" katanya dengan suara yang menggema, menandai awal perjuangan kami.
Aku segera masuk ke arah hutan, meninggalkan kerumunan orang-orang di belakangku.
Setiap langkah terasa semakin berat, tetapi tekadku untuk bertahan hidup dan menjadi ksatria iblis memberiku kekuatan yang tak tergoyahkan.
Aku sudah masuk ke dalam hutan ,Langkah pertama adalah mencari sumber air dan tempat berlindung.
Aku berjalan menyusuri hutan dengan waspada, merasakan tanah di bawah kakiku, menghirup aroma lembap dari dedaunan basah, dan mendengarkan suara hewan yang hidup di sekitar.
Aku pernah belajar bagaimana cara mencari sumber air, memahami tekstur tanah yang lembut, merasakan suhu udara yang sejuk, dan mendengarkan suara burung-burung yang biasanya berkumpul di dekat sungai.
Setelah beberapa jam berkeliling, aku akhirnya menemukan sungai.
Airnya jernih, memantulkan sinar matahari yang menerobos pepohonan. Aku segera minum dari sungai itu, merasakan kesegaran air yang mengalir melalui tenggorokanku.