Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Saka sang Ahli Medis

Saka sang Ahli Medis

ummi | Tamat
Jumlah kata
1.0M
Popular
2.7M
Subscribe
16.8K
Novel / Saka sang Ahli Medis
Saka sang Ahli Medis

Saka sang Ahli Medis

ummi| Tamat
Jumlah Kata
1.0M
Popular
2.7M
Subscribe
16.8K
Sinopsis
FantasiIsekaiPendekarTime TravelMengubah Nasib
Saka Karsa, terlempar ke masa lalu. Ia adalah seorang pembunuh bayaran dari abad ke 21, mati setelah bertarung dengan Raja Iblis membuatnya terlempar ke masa kuno, masa 1000 tahun sebelum sekte Raja Iblis dibuat. Mendengar itu Saka memiliki kesempatan untuk melatih orang-orang terhebat yang akan dipersiapkan untuk menghadapai sekte Raja Iblis. Yang tak disangka, ternyata tubuh bocah yang Saka masuki, memiliki kekuatan Medis tangan super yang mampu menyembuhkan apapun yang ia sentuh. pohon yang sekarat! Sring! Menjadi subur! Hewan yang lemah! Sring! Menjadi kuat! Manusia yang sakit! Sring! Menjadi sehat! Bukan hanya itu, jika Saka mau ia bisa membunuh dengan sentuhan tangannya, menyerap saripati kehidupan para musuh yang menghalanginya.
Bab 1

"Plak!!"

Saka Karsa terbangun dan terkejut mendapati dirinya dipukul oleh seseorang. Anak muda berumur 10 tahun dengan pakaian bangsawan berwarna biru-putih itu memukul Saka dengan sapu halaman.

"Bisa-bisanya budak sepertimu tidur di saat pelayan lainnya bekerja! kamu mau mati hah?!" anak muda itu kembali membentak dengan kasar.

Saka masih terlihat bingung, ia adalah pembunuh bayaran dari abad ke 21! Seingatnya saat itu ia bertarung dengan Raja Iblis, ia berhasil menjatuhkan Raja Iblis dan membunuhnya. Meski sebenarnya sudah banyak korban yang berjatuhan dalam peperangan tersebut.

"Siapa kamu anak muda, beraninya memukul...ku?" suara Saka terputus begitu menyadari nada suaranya bukan nada suara berat yang biasa ia miliki, terdengar seperti suara anak kecil.

Saka kemudian melihat kedua telapak tangannya, terlihat kecil. Ia kembali meraba wajahnya, sebelum ia benar-benar mengerti, sebuah pukulan kembali mengenai dirinya.

"Bug!!"

"Beraninya kamu melawanku, bosan hidup rupanya!!"

"Akh!!" Saka menahan semua pukulan itu, memang ada baiknya ia diam terlebih dulu sebelum mengerti apa yang terjadi kepada dirinya.

"Cepat pergi bekerja! atau aku akan mengadukanmu kepada ayahanda!" pemuda itu mengibas bajunya, bertingkah layaknya orang dewasa yang angkuh kemudian berlalu pergi.

"Saka, kamu nggak apa?" seorang bocah, dengan pakaian budak bertanya dengan nada ketakutan, ia datang ketika anak muda bangsawan tadi pergi, tubuhnya kurus padahal terlihat kalau anak ini lebih tua dari anak muda bangsawan tadi.

"ini untukmu! makanlah perlahan, aku akan berjaga!" Anak itu memberikan Saka bola nasi, Saka mengambilnya dan memakannya dengan lahap. lagipula entah mengapa ia merasa lapar.

"Kamu, siapa namamu?" tanya Saka, anak muda itu berbalik dan mengernyit heran.

"Apa terjadi sesuatu kepadamu? Kamu hilang ingatan? Pasti pukulan Tuan Muda begitu kencang hingga membuatmu jadi begini!" Anak muda itu bahkan memegangi kepala Saka dengan teliti, Saka membiarkannya dengan tenang.

Saka diam dan menatap anak itu dengan tatapan heran, anak muda di depannya sepertinya mengira ia hilang ingatan. "Ya, sepertinya aku melupakan banyak hal!" sahut Saka, menurutnya lebih baik mengaku seperti itu, karena ia tidak mengerti apa yang tengah terjadi.

"Aku Yudha, kita sama-sama budak di kediaman keluarga Wijaya. Tadi itu Tuan Muda Aji Wijaya, ia memang suka memukuli kita. Terlebih karena kamu paling kecil, ia senang membullymu." jelas Yudha, ia menatap Saka dengan khawatir.

"Hmm... aku mengerti sekarang," sahut Saka, ia berdiri dan membersihkan debu di bajunya yang memang sudah kotor. "Tahun berapa sekarang dan di kota mana kita berada?" tanya Saka lagi.

"aku nggak mengerti apa itu tahun, tapi kalau kamu tanya saat ini kerajaan apa, maka kita berada di saat Raja Brahmajaya berkuasa, saat ini kita berada di Kabupaten Sangkala." jelas Yudha lagi, Saka terlihat manggut-manggut mendengarkan. Yudha menatap Saka heran, Saka masih Saka yang dulu, hanya saja dari cara ia bersikap dan berbicara seolah ia bukan Saka.

'Apa karena hilang ingatan bisa membuat orang terlihat berbeda?' pikir Yudha, karena biasanya Saka akan menangis jika habis dipukuli Tuan Muda Aji Wijaya, tapi kali ini Saka tidak menangis. Dia malah bersikap teramat tenang, seakan pukulan itu tidak ada apa-apanya baginya.

Saka akhirnya sadar kalau ia terlempar ke jaman 1000 tahun sebelum sekte Raja Iblis berkuasa. Mungkin kesempatan untuk bertemu lagi dengan Raja Iblis belum ada, tetapi setidaknya Saka bisa mengusahakan beberapa murid untuk menghadapi Raja Iblis dan pasukannya. Tapi bagaimana caranya mencari murid, keadaannya sekarang bahkan lebih rumit!

Saka malah memasuki tubuh bocah yang berstatus budak, kecil dan tidak ada keahlian. Tapi itu bukan masalah, selama ada tekad rintangan bisa diatasi! Hal yang perlu Saka lakukan adalah memastikan apakah tubuh anak yang ia masuki memiliki wadah Mana di dalamnya? Setelah memastikan itu, Saka harus memasuki sebuah perguruan untuk kembali melatih tubuhnya dan melihat potensi para pendekar di jaman ini.

"Yos!! jadi apa yang harus kukerjakan agar aku bisa beristirahat?" tanya Saka kemudian.

Meski heran dengan pertanyaan itu, tetapi Yudha tetap menjawab, "kita akan mencari kayu bakar! ikuti aku!"

Yudha membawa Saka ke perkumpulan budak lainnya, ada 3 budak lagi selain Saka dan Yudha. Ternyata Saka paling kecil diantara semuanya, meski lebih tua dari umur Saka, para budak itu terlihat polos dan baik. Semua langsung tersenyum dan memberi Saka jajanan berupa permen manisan.

"Saka, apakah tadi Tuan Muda kembali memukulmu?" tanya Rein, anak laki-laki dengan tubuh lebih besar dari Yudha, padahal mereka seumuran.

"Iya, tapi sudah nggak apa! nggak terlalu sakit!" sahut Saka.

"Bungsu kita sudah besar, nggak mengeluh lagi setelah dipukul! kakak bangga kepadamu!" kali ini Julian yang menepuk bahunya.

Entah mengapa Saka merasa aneh ketika para bocah di depannya mencoba menghiburnya. Dirinya adalah pembunuh bayaran dari abad ke 21, sebelum menjadi pembunuh bayaran, Saka mengerjaka semua pekerjaan paruh waktu, ia selalu hidup mandiri. Tidak bergantung kepada orang lain, karena itu lah ia merasa aneh ketika beberapa bocah di depannya mencoba menghibur serta memberinya pujian. Tapi entah mengapa hatinya terasa hangat...

"Saka, kalau lelah bilang pada kakak! kakak akan bantu kamu bawa kayu bakar," Bona, seorang anak yang umurnya tidak jauh beda dari Saka, dengan tubuh agak montok mencoba meringankan beban Saka. Saka hanya bisa tersenyum dan mengangguk menerima semua niat baik dari bocah-bocah di depannya.

"Baik kak, terima kasih!" Saka menangkupkan tangannya, tapi para bocah itu malah menatapnya heran.

"Ada apa?" tanya Saka melihat tatapan polos mereka.

"Saka, kamu nggak seperti biasanya, hari ini jangan terlalu lelah, aku takut akan berpengaruh pada hilang ingatanmu!" sahut Yudha.

Rein, Julian dan Bona tercengang, lantas saja sikap Saka sangat aneh hari ini. Terlihat dewasa tidak seperti anak pada umurnya, bahkan Saka yang mereka kenal sangat cengeng dan suka menangis. Sehingga mereka para kakak sering melindunginya.

"Saka hilang ingatan?" tanya Julian.

Yudha mengangguk, "sepertinya pukulan Tuan Muda Aji sangat keras! Saka bahkan lupa siapa yang memerintah Kerajaan saat ini!"

"Astaga Saka, kamu harus berobat!" sahut Rein cemas.

"Bagaimana dengan uang berobat?" tanya Bona, keempat anak polos itu saling tatap dan menggeleng.

'Haish! anak-anak ini terlalu memaksakan diri! jiwa mereka terlalu menjunjung tinggi solidaritas rupanya! baguslah!' batin Saka, ia hanya bisa tersenyum tipis melihat keempat seniornya saat ini sedang berdiskusi.

"Saka, kalau begitu kami akan membawamu berobat ke rumah Tabib Yue! Dia pasti bisa menyembuhkanmu!"

"Bagaiamana dengan uangnya?" tanya Saka lagi, mencoba menggagalkan rencana para bocah di depannya.

"Jangan khawatir, kami akan mengumpulkan uang itu untukmu! bahaya kalau kamu hilang ingatan! nanti Tuan Besar bisa marah! katanya orang yang hilang ingatan kerasukan hantu!" sahut Rein.

Saka hampir tertawa, tapi ia menahannya. 'Astaga, rumor macam apa itu?'

Lanjut membaca
Lanjut membaca