
Pembalasan Dendam Kultivator Tak Terkalahkan
Rafli99|Tamat
- Jumlah kata
- 184.1K
- Popular
- 94.4K
- Subscribe
- 6.3K
- Jumlah kata
- 184.1K
- Popular
- 94.4K
- Subscribe
- 6.3K
Sinopsis
Kultivasi di dalam gunung selama sepuluh tahun, akhirnya aku telah mencapai kesempurnaan dan menjadi tak tertandingi! Siapa sangka, dalam sepuluh tahun aku menghilang, orang tuaku terbunuh, tunanganku dilecehkan...... Berani menyinggungku, akan kubuat kalian menebus semua bayarannya!
Ulasan
5 ulasan
Resia Noir
14/5/26 12:05
Izin Promosi novel saya ya kk. Judul : Bupati Muda yang Misterius Penulis : Resia Noir Dulu Mika hanya anak supir yang hidup di belakang pasar dan dihina semua orang. Kini… ia kembali sebagai Bupati termuda di Kabupaten Arunika. Namun jabatan itu bukan untuk kekuasaan. Ia datang membawa dendam, rahasia, dan pencarian tentang kematian ayahnya yang misterius. Di balik dunia politik yang penuh korupsi, pengkhianatan, dan permainan kekuasaan… Mika harus melawan orang-orang paling berbahaya di kotanya sendiri. Dan saat hatinya mulai terusik oleh seorang pustakawan sederhana bernama Alena, rahasia besar perlahan mulai terungkap. 🔥 Penuh misteri 🔥 Politik dan balas dendam 🔥 Romance yang bikin baper 🔥 Banyak plot twist dan rahasia gelap 📖 BUPATI YANG MISTERIUS Siapkah kamu masuk ke dunia Mika Ardian?
Joel Usagi
BAB 1
"Tak terasa sepuluh tahun telah berlalu," ucap kakek tua tersebut memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
"Selama sepuluh tahun kamu sudah berlatih, Adelio. Kini kamu sudah boleh pulang. Kamu sudah tak tertandingi lagi," imbuhnya sambil menatap Adelio penuh rasa bangga.
Mendengar ucapan kakek tua itu bukannya membuat Adelio merasa senang. Amarahnya justru memuncak. Dia merasa sangat kesal.
"Baru lulus kuliah, tapi malah terpisah dari dunia selama sepuluh tahun, bahkan sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana kabar kedua orang tuaku, apakah mereka masih hidup atau tidak, apakah tunanganku menikah dengan orang lain? Kakek tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku!" ucap Adelio dengan kesal. Rupanya dia sudah memendam ini sangat lama. Emosinya mulai memuncak.
Kakek tua itu berkata dengan tenang, "Kamu mempunyai sesuatu yang istimewa, Adelio. Kakek merasa kamu adalah orang yang tepat untuk berlatih. Dan… mungkin bisa menjadi dewa. Itulah kenapa kakek membawamu ke sini."
"Setiap kali latihan begitu melelahkan dan menyiksa, waktu aku berlutut memohon kepada kakek, apakah kakek pernah mendengar?" Wajah Adelio memerah, tatapan matanya tajam dan dia juga lanjut berseru dengan nada tinggi, "Aku sudah berkali-kali ingin kabur dari sini, sudah berkali-kali menabrak perbatasan buatan kakek yang bahkan membuatku luka parah! Tapi sekarang kakek malah tinggal menyuruhku pergi dengan begitu mudah? Lalu bagaimana dengan waktu sepuluh tahunku? Kakek mau mengembalikannya dengan apa?!"
Adelio masih ingat betapa terkejutnya dia saat pertama kali bertemu dengannya. Saat pulang dari kampus untuk mengambil ijazah, Adelio dihadang sang kakek. Tanpa berkata apa-apa, kakek tua itu langsung membawa Adelio pergi ke Gunung Suryalaya. Adelio belum sempat bertanya apa yang kakek tua itu lakukan. Dia lalu melatih Adelio dan menyuruhnya untuk berkultivasi.
Kakek tua itu masih terdiam. Dia masih menatap Adelio. Tatapan itu mulai meneduh, sepertinya tubuh sang kakek semakin lemah.
"Aku sangat membenci semua ini, kek!" ucap Adelio dengan marah.
Sang kakek membisu dan hanya menghela nafas ringan, "Waktuku tidak banyak lagi, Adelio. Tapi untungnya aku sudah mengajarkan semua kemampuan kepadamu. Aku juga tidak berharap kamu akan memaafkanku, jadi kamu segera turun gunung sana." Adelio tahu kakek itu tidak ingin memberikan bantahan apapun dengan apa yang Adelio ucapkan. Beberapa saat kemudian, sang kakek menghilang begitu saja.
Adelio tahu betul bahwa kakek tua itu sudah meninggal. Dia memang marah dan membenci sang kakek. Akan tetapi, setelah sepuluh tahun berlalu dan mereka hidup bersama, Adelio mendadak merasa agak kosong setelah sang kakek pergi. Bagaimanapun juga, kakek tua itu sudah mengajarkan Adelio banyak pengetahuan.
Setelah beberapa saat, Adelio pun sudah membuat keputusan. Dia melihat sekeliling Gunung Suryalaya untuk terakhir kalinya. Adelio memutuskan untuk kembali pulang dan meninggalkan tempat itu.
"Selamat tinggal," ucap Adelio.
Dia kemudian terbang menggunakan pedangnya. Energinya yang masih kuat membuat kepergian Adelio sangat terasa hingga di kaki Gunung Suryalaya. Lansia yang ada di sana pun terkejut dan heran saat melihat Adelio terbang pada zaman di mana energi spiritual sudah habis.
"Bagaimana bisa anak muda itu terbang penuh dengan energi?" ucapnya.
Setelah sekian lama, akhirnya Adelio bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia juga sangat merindukan tunangannya.
*
Tiba di sebuah rumah. Di balik pintu, seorang wanita ditarik oleh dua pria bertubuh kekar. Kedua pria itu sedang merobek pakaian wanita tersebut dengan mata menyipit dan seringai.
"Diam, Lilyana! Berhenti melawan kita berdua! Hutang calon mertuamu itu sangat banyak. Memangnya kamu bisa melunasinya?" ucap salah satu pria kekar.
"Tolong! Jangan lakukan ini! Berikan aku waktu beberapa minggu lagi, aku akan berusaha mencari uang melunasinya!" rintih wanita yang tengah dilecehkan itu.
"Kamu? Namamu sudah buruk di mana-mana, mana mungkin kamu bisa mendapatkan pekerjaan? Bayarlah dengan tubuhmu!" ujar pria kekar lainnya sambil melancarkan aksinya.
"Tolong! Tolong aku!" raung Lilyana. Keputusasaan melanda Lilyana, air bening juga menetes dari ujung matanya, mengetahui tidak akan ada yang datang menyelamatkan dirinya.
Duarr!
Tiba-tiba pintu didobrak dari luar.
"Hentikan!" teriak seorang pria.
Kedua pria kekar itu terkejut karena kedatangan pria itu. Begitu juga dengan Lilyana yang mendengar suara familiar ini. Dia memandang ke arah pintu, dia masih mengenali wajah pria itu, tunangannya yang sudah sepuluh tahun tidak bertemu dengannya.
"Adelio! Tolong aku!" rintih Lilyana meminta pertolongan.
"Oh! Jadi, kamu Adelio?" tanya salah satu pria kekar tersebut setelah mendengar nama yang diucapkan oleh Lilyana. Mereka tahu bahwa Adelio adalah tunangan Lilyana yang sudah menghilang sepuluh tahun.
"Iya. Aku Adelio. Siapa kalian?! Kenapa kalian ada di sini?!" Adelio sangat geram kepada kedua pria bertubuh kekar di sana.
"Oh ternyata Adelio yang sudah hilang sepuluh tahun. Ke mana saja kamu, pecundang? Lilyana sudah berhutang sepuluh miliar rupiah kepada kami, dan dia harus membayarnya hari ini!" Salah satu pria kekar itu menoleh ke arah Adelio, sambil memandangnya dari atas ke bawah, sambil menyeringai.
"Aku lihat kamu sepertinya juga tidak mampu membayarnya, gimana hutangnya dilunasi dengan tubuh Lilyana dan ginjalmu itu? Ah, kamu juga boleh menonton kami bermain-main dengan tunanganmu kok," ujar pria kekar lainnya sambil menyentuh tubuh Lilyana dengan mesum, yang membuat Adelio semakin geram.
"Jangan macam-macam denganku! Atau aku habisi kalian berdua!"
Kedua pria kekar itu merasa tersulut emosinya. Salah satu di antara mereka pun langsung melepaskan tangannya dari Lilyana dan berkata, "Kami tidak takut denganmu, Adelio!"
Mereka pun berjalan ke arah Adelio. Tentu saja mereka ingin menangkapnya dan memberikan pelajaran kepada Adelio yang sudah menantang mereka. Namun, sebelum mereka sempat menyentuh Adelio, keduanya mendadak terguling dan jatuh ke bawah mobil yang ada di depan rumah Adelio.
Adelio langsung menghajar salah satu dari mereka dalam sekali tendangan. Setelah selesai, Adelio mendongakkan kepalanya, bersiap untuk menghajar pria selanjutnya.
Pria itu pun mulai merasa ketakutan saat Adelio berjalan ke arahnya. Dia membatin, apa yang sebenarnya terjadi pada Adelio?
Daftar bab
172 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
172 bab








