Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pembalasan Sang Pangeran Buangan

Pembalasan Sang Pangeran Buangan

GoodLucks | Bersambung
Jumlah kata
104.7K
Popular
6.9K
Subscribe
528
Novel / Pembalasan Sang Pangeran Buangan
Pembalasan Sang Pangeran Buangan

Pembalasan Sang Pangeran Buangan

GoodLucks| Bersambung
Jumlah Kata
104.7K
Popular
6.9K
Subscribe
528
Sinopsis
FantasiFantasi TimurBalas DendamPendekarKultivasi
Namun di jurang itulah Han Tian menemukan sebuah keberuntungan bertemu seorang guru yang membantu diri nya sampai bisa ber kultivasi dan memberikan semua warisan nya kepada Han Tian, Mengisahkan seorang pangeran yang di usir karna di fitnah oleh saudara tiri nya dan di hina karna tidak bisa ber kultivasi ,setelah di usir Han Tian di kejar untuk di bunuh namun saat pengejaran Han Tian melompat ke dalam jurang.
Fitnah di Balik Tahta

Di sebuah sel bawah tanah yang lembap dan berbau besi karat, seorang pemuda berusia lima belas tahun duduk bersandar pada dinding batu.

Kedua tangannya yang kurus terikat rantai, dan matanya yang merah meneteskan air mata tanpa henti. Dialah Han Tian, pangeran muda Kerajaan Han, yang kini terjebak dalam jeratan fitnah yang belum pernah ia bayangkan.

Suara langkah berat seorang penjaga mendekat, kunci beradu dengan terali besi. Pintu berderit terbuka.

“Pangeran Mulia Han Tian,” ucap sang penjaga dengan nada datar, “Yang Mulia Raja Han memanggilmu. Sidang akan segera dimulai, untuk mengadili kesalahanmu.”

Han Tian menunduk, tanpa sepatah kata. Ia tahu, apa pun yang ia katakan, fitnah itu sudah menutup telinganya ayahnya. Dengan langkah berat, ia mengikuti prajurit menuju aula istana.

---

Sidang Fitnah

Aula kerajaan penuh dengan para menteri, penasihat, dan bangsawan. Di atas takhta emas yang menjulang, Raja Han duduk dengan wajah tegas namun tanpa ekspresi. Mata Han Tian sempat bertemu dengan ayahnya, namun tatapan itu dingin, seakan tembok pemisah telah berdiri di antara mereka.

“Pangeran Han Tian,” suara Raja Han bergema, berat dan penuh wibawa, “apa alasanmu ingin meracuni adikmu, Han Kong?”

Han Tian tertegun, dadanya sesak. Dengan suara parau ia menjawab, “Yang Mulia… Ayahanda, hamba tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk meracuni adinda Han Kong.”

Seketika, terdengar suara nyaring dari sisi aula. Feng Jiling, selir favorit Raja sekaligus ibu dari Han Kong, berdiri dengan wajah penuh amarah.

“Yang Mulia! Bukti sudah jelas. Pelaku yang tertangkap mengaku bahwa Pangeran Han Tian-lah yang memerintahkannya! Semua orang tahu siapa dalangnya!”

Han Kong, yang duduk di sisi ibunya, tersenyum sinis. Dengan nada penuh kebencian ia menambahkan, “Yang Mulia, hamba mohon hukum pangeran sampah ini! Berani-beraninya ia mencoba meracuni darah dagingmu sendiri.”

Aula bergemuruh dengan bisikan, sementara Han Tian hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan gejolak dalam hati.

Raja Han tampak bimbang. Ia menoleh kepada penasihat tua yang bijak, Hu Dong.

“Menurutmu, hukuman apa yang pantas, Hu Dong?”

Hu Dong menghela napas panjang. “Yang Mulia, meskipun beliau seorang pangeran, kesalahan sebesar ini tidak bisa ditoleransi. Namun keputusan ada di tangan Anda. Jangan lupakan bahwa ia tetap darah daging Anda sendiri.”

Suasana semakin tegang ketika Feng Ji, paman Han Kong, menyelipkan senyum licik. “Yang Mulia, keadilan tetaplah keadilan. Terlepas siapa pun pelakunya, hukum harus ditegakkan.”

Raja Han terdiam lama. Dalam hatinya, ia tahu putra sulungnya difitnah. Namun tekanan istana dan rasa sayangnya pada selir membuatnya goyah. Akhirnya, dengan suara berat ia berkata,

“Han Tian, meski aku tak tahu alasanmu, namun perbuatanmu tidak bisa dimaafkan. Aku mencabut gelarmu sebagai pangeran dan mengusirmu dari istana.”

Han Tian terdiam. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia menunduk dalam, menelan getirnya kenyataan. Di sudut ruangan, Han Kong tersenyum puas, sementara Feng Jiling menatapnya dengan sorot kemenangan.

Raja Han sendiri, meski berusaha keras menyembunyikan perasaannya, tak kuasa menahan setetes air mata yang jatuh. Ia sadar, ia baru saja menghukum anak yang tidak bersalah.

---

Awal Pembuangan

Han Tian meninggalkan istana dengan langkah gontai. Malam itu ia duduk seorang diri di kamarnya untuk terakhir kali, menatap kalung peninggalan ibunya yang telah lama tiada. Kalung itu menjadi satu-satunya pengingat kasih sayang yang tulus dalam hidupnya.

“Adinda Han Kong, Feng Jiling… suatu hari nanti kebenaran akan terungkap. Aku bersumpah, aku akan kembali untuk menuntut keadilan,” bisiknya.

Di balik dinding istana, Han Kong dan ibunya tengah merencanakan langkah selanjutnya.

“Anakku, aku telah memerintahkan prajurit keluarga Feng untuk melenyapkan Han Tian sebelum ia sempat bangkit kembali,” kata Feng Jiling dengan tatapan dingin.

Han Kong tersenyum puas. “Ibu memang yang terbaik.”

Keesokan harinya, di depan gerbang istana, Han Tian bersiap melangkah keluar tanpa membawa apa pun selain kalung ibunya. Saat itulah, penasihat kerajaan Hu Dong menghampirinya dengan wajah sendu.

“Pangeran Han Tian… bawalah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantong berisi emas. “Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan. Ini titipan Yang Mulia. Meski beliau tak bisa melindungimu, jangan sangka beliau tidak peduli.”

Han Tian terdiam, air matanya hampir jatuh. “Ayahanda…” gumamnya lirih. Ia lalu menunduk hormat. “Terima kasih, Penasehat Hu Dong. Maafkan aku bila pernah berbuat salah padamu.”

Hu Dong menghela napas panjang. “Justru akulah yang harus meminta maaf, Pangeran. Karena aku tidak bisa berbuat lebih banyak untukmu.”

Dengan hati yang berat, Han Tian pun melangkah meninggalkan ibu kota.

---

Hutan Kematian

Hari menjelang sore ketika Han Tian tiba di tepian sebuah hutan lebat. Langkahnya terhenti. Rasa takut bercampur dengan rasa putus asa. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, empat orang berpakaian hitam menghadangnya.

“Hahaha… jadi ini pangeran malang yang dibuang itu?” ejek salah satu dari mereka.

Han Tian menatap dengan waspada. “Siapa kalian? Apa maumu?”

“Kau tak perlu tahu,” jawab yang lain dengan tawa dingin. “Yang jelas, hidupmu berakhir di sini.”

Mereka serentak menyerang. Han Tian, yang hanya mengandalkan latihan fisik karena meridian dan dantiannya cacat, berusaha menangkis sebisanya. Tubuhnya terluka di sana-sini, namun tekadnya membuatnya terus bertahan.

Melihat celah kecil, Han Tian melesat kabur sekuat tenaga. Nafasnya memburu, kakinya berlari tanpa arah. Hingga tanpa sadar, ia masuk semakin dalam ke hutan yang disebut orang-orang sebagai Hutan Kematian—tempat di mana bahkan para kultivator pun enggan masuk terlalu jauh.

Di balik bayangan pepohonan, suara auman binatang buas menggema. Cahaya matahari meredup di antara rimbunnya dedaunan. Han Tian terus berlari, tubuhnya penuh luka goresan akibat ranting tajam.

Sementara itu, para pembunuh berhenti di tepi hutan, enggan melangkah lebih jauh.

“Biar saja dia mati di dalam. Tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup dari inti Hutan Kematian,” ucap salah seorang dengan tawa mengejek.

Han Tian, dengan tubuh penuh luka, terus melangkah masuk, tanpa menyadari bahwa nasibnya baru saja berubah.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca