Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Mustika Naga Putih

Pewaris Mustika Naga Putih

Wisteria | Bersambung
Jumlah kata
56.2K
Popular
327
Subscribe
57
Novel / Pewaris Mustika Naga Putih
Pewaris Mustika Naga Putih

Pewaris Mustika Naga Putih

Wisteria| Bersambung
Jumlah Kata
56.2K
Popular
327
Subscribe
57
Sinopsis
FantasiFantasi TimurNagaPedangUrban
Ibunya dibunuh, desanya dibantai. Hanya Cakra yang selamat. Tujuh tahun kemudian, dia bangkit mencari pembunuh ibunya. Namun fakta mengejutkan terungkap, dia berdarah campuran sekaligus Pewaris Mustika Naga Putih yang menjadi incaran para siluman. Perburuan dimulai. Cakra adalah kunci dari segalanya.
Bab 1

Di usianya yang keempat belas tahun, Cakra tinggal di Desa Tanah bersama Pak Ganta, seorang petani tua yang menemukannya di tengah reruntuhan Desa Sayur tujuh tahun lalu. Pak Ganta tidak pernah bertanya banyak tentang masa lalu Cakra. Dia hanya membawa anak itu pulang, memberinya tempat tinggal, dan memperlakukannya seperti anak sendiri.

Setiap pagi, Cakra membantu Pak Ganta menggarap sawah, membawa air dari sungai, dan merawat ternak. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, matahari bersinar hangat, burung-burung berkicau di pohon-pohon besar, dan udara dipenuhi aroma tanah basah dan rumput segar.

"Apa kamu sudah selesai?" tanya Pak Ganta sambil menyeka keringat di dahinya.

"Hampir selesai, Pak," jawab Cakra sambil menuangkan pakan ke dalam ember untuk hewan ternak.

Setelah pekerjaan selesai, Cakra terduduk di samping kandang, napasnya terengah. Tubuhnya lelah, tetapi ada kepuasan tersendiri dalam bekerja keras. Pak Ganta berjalan mendekat, wajahnya tersenyum lembut.

"Istirahatlah dulu, aku sudah...uhuk! Uhuk!"

"Pak Ganta!" Cakra langsung bangkit, panik melihat Pak Ganta terbatuk keras. Darah segar keluar dari mulutnya, membasahi tangannya yang gemetar.

Cakra sangat tahu kondisi ini bukan karena usia. Dua hari yang lalu, di malam hari, siluman kelabang raksasa menyerang desa mereka. Pak Ganta berusaha melawan untuk melindungi warga, tetapi dia terkena serangan racun siluman itu. Racun itu menjalar perlahan di tubuhnya, melemahkan dari dalam.

"Sebaiknya Pak Ganta istirahat saja. Biar aku yang selesaikan semuanya," kata Cakra sambil memapah Pak Ganta keluar dari kandang.

Cakra membawa Pak Ganta ke tempat peristirahatan dan memberikan obat yang baru saja dibelinya di pasar. Obat itu seharusnya membantu menetralkan racun, tetapi Cakra tahu itu tidak cukup. Racun siluman tidak bisa diobati dengan ramuan biasa.

Angin siang hari terasa sejuk, penuh ketenangan. Pak Ganta mulai membaik, napasnya lebih teratur. Tetapi berbeda dengan Cakra. Ketenangan suasana tidak mampu membungkam pikirannya yang berisik. Ada banyak pertanyaan tentang dirinya yang terus mengganggu.

"Apa aku tanyakan saja ke Pak Ganta?" batin Cakra sambil menatap langit yang cerah.

Pak Ganta merasakan kegelisahan Cakra. Dia menatap anak itu dengan tatapan penasaran.

"Ada apa, Cakra?"

"Tidak ada, Pak. Aku hanya memikirkan kejadian sebelumnya," jawab Cakra sambil memegang kalung mutiara di lehernya.

"Kejadian apa?"

Cakra menjelaskan tentang penyerangan siluman kelabang tempo hari. Saat itu, dia sangat marah dan takut. Tubuhnya memanas seperti terbakar dari dalam, matanya bersinar redup, dan kuku-kukunya memanjang seperti cakar. Yang paling aneh adalah ada semacam panggilan yang menginginkannya, seolah ada sesuatu di luar sana yang menariknya.

"Sebenarnya ada apa denganku? Aku merasa diriku berbeda dari yang lain," tanya Cakra dengan suara pelan.

Pak Ganta tahu pertanyaan itu akan muncul. Cakra selalu menanyakan hal yang sama sejak setahun terakhir. Tentu, Pak Ganta tidak pernah menjawabnya dengan jelas. Dia hanya tersenyum lembut dan berkata dengan nada menenangkan.

"Kau anak baik, Cakra. Itulah yang penting."

Tetapi Cakra tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. Dia hanya terdiam, menatap tangannya yang gemetar.

"Sebaiknya kita selesaikan pekerjaan kita, dan uhuk! Uhuk!" Pak Ganta terbatuk lagi.

"Pak, Bapak istirahat saja. Biar aku saja yang selesaikan semuanya," kata Cakra sambil bangkit dan kembali bekerja.

Malam itu, Cakra duduk sendirian di halaman belakang rumah Pak Ganta. Bulan purnama bersinar terang di langit, menerangi desa dengan cahaya keperakan. Udara dingin, angin bertiup pelan membawa aroma tanah dan rumput basah. Cakra menggenggam kalung mutiara di lehernya, merasakan kehangatannya yang menenangkan. Ingatannya kembali ke tujuh tahun yang lalu.

Tujuh tahun sudah berlalu sejak malam mengerikan itu. Malam ketika Desa Sayur, tempat kelahirannya dibantai oleh makhluk-makhluk misterius yang datang dari kegelapan. Cakra masih mengingat dengan jelas bagaimana ibunya, Dewi, memeluknya erat di tengah kobaran api dan teriakan kematian.

Wajah lembut ibunya yang selalu tersenyum kini basah oleh air mata dan darah. Tangannya yang gemetar mengalungkan sebuah kalung mutiara putih di leher Cakra. Kalung yang hangat, berdenyut seperti jantung yang hidup.

"Jangan lepaskan kalung ini, apapun yang terjadi," bisik Dewi dengan suara lemah. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan susah payah. "Kau akan mengerti suatu hari nanti, anakku. Kau… akan mengerti…"

Kemudian, tubuh ibunya melemas. Senyum terakhir terukir di wajahnya, seolah dia melihat sesuatu yang indah di balik gerbang kematian. Cakra berteriak, memanggil ibunya berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Hanya dinginnya tubuh ibunya yang memeluknya kembali.

Setelah itu, semuanya menjadi kabur. Cakra hanya ingat cahaya putih yang meledak dari tubuhnya, kehancuran yang mengikuti, dan keheningan yang mencekam setelahnya. Semua itu masih dia ingat, bahkan sampai detik ini.

"Ibu, jangan khawatir. Aku pasti akan mencari tahu siapa yang membunuhmu, dan mencari tahu apa yang terjadi. Aku tidak akan diam!" bisik Cakra pelan.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Dedaunan beterbangan, dan Cakra merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia bangkit berdiri, mata birunya menyapu sekeliling dengan waspada.

Dari balik bayangan pohon besar, seorang pria bertopeng muncul. Topengnya berwarna hitam dengan ukiran merah menyerupai wajah siluman. Tubuhnya tinggi besar, mengenakan jubah gelap yang berkibar tertiup angin. Matanya yang terlihat dari balik topeng bersinar merah menyala.

"Akhirnya… aku menemukanmu," kata pria itu dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Cakra berdiri.

"Siapa kau?" tanya Cakra sambil mundur beberapa langkah.

"Hahahaha… kau memang anak bodoh!" Pria bertopeng itu tertawa pelan, suara tawanya dingin dan menyeramkan. "Aku adalah pemburu. Dan kau, Anak Naga Putih, adalah buruan paling berharga yang pernah kumiliki."

Cakra terkejut. Jantungnya berdegup kencang.

"Anak Naga Putih? Apa maksudmu?"

Pria itu melangkah lebih dekat, matanya menatap tajam pada kalung mutiara di leher Cakra.

"Kau tidak tahu, rupanya. Darah yang mengalir di tubuhmu bukan darah manusia biasa. Ayahmu adalah Naga Putih terkuat yang pernah ada. Dan kau, anak kecil, mewarisi kekuatan itu."

Cakra merasakan dunianya runtuh. Ayahnya? Naga Putih? Semua ini terasa seperti mimpi buruk.

"Kau berbohong!"

Pria bertopeng itu menggeleng pelan.

"Kau akan segera tahu kebenarannya. Darah campuranmu menjadi incaran seluruh siluman."

Sebelum Cakra bisa menjawab, pria itu menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan kata-kata terakhir yang bergema di malam sunyi.

"Kau tidak bisa bersembunyi selamanya, Anak Naga Putih. Cepat atau lambat, takdirmu akan menemukanmu."

Cakra terduduk lemas, napasnya tersengal. Tangannya naik ke lehernya, menggenggam kalung mutiara dengan erat. Pikirannya berkecamuk.

"Ayahku? Darah campuran?" semua terasa terlalu berat untuk dipahami.

Tetapi satu hal yang dia tahu dengan pasti, dia tidak bisa terus bersembunyi. Dia harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Dia harus menemukan pembunuh ibunya.

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?! Apa kau terlibat dengan penyerangan desa tujuh tahun yang lalu?!" teriak Cakra.

Pria bertopeng itu mendekat perlahan sambil mengeluarkan senjata yang tersembunyi di balik jubahnya, sebilah pedang hitam yang memancarkan aura gelap.

"Kau akan tahu, setelah kau mati!"

Cakra ketakutan, tubuhnya sedikit gemetar. Tetapi di tengah ketakutan itu, sesuatu bangkit di dalam dirinya.

"Aku tidak akan mati!"

Tubuhnya mulai memanas. Kuku-kukunya memanjang perlahan, berubah menjadi cakar tajam. Pria bertopeng itu terdiam sesaat, lalu tertawa keras.

"Hahahaha! Dengan menunjukkan wujud aslimu seperti ini, aku tidak mungkin salah lagi! Kau memang anak itu! Hahaha!"

"Diam!!" Cakra sedikit mundur. Matanya mulai memancarkan cahaya redup, gigi taringnya memanjang.

"Nah, sekarang, kau ingin menyerahkan diri, atau mati?" tanya pria itu sambil mengacungkan pedangnya. "Aku beri kamu satu detik, atau orang yang ada di dalam sana akan ikut mati juga!"

"Jangan berani-berani mengganggu Pak Ganta!!"

Seketika, pria misterius itu menghilang di hadapan Cakra. Suara yang menggema di telinganya membuat darahnya membeku.

"Kau terlambat!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca