
- Jumlah kata
- 165.6K
- Popular
- 9.4K
- Subscribe
- 953
Sinopsis
Terlahir dari keluarga terpandang yang di sebut dengan Marga Atas, tidak lantas membuat Xiao Lian menjadi anak yang di beri kasih sayang secara utuh. Faktanya, Xiao Lian kerap menjadi bulan-bulanan ketua marga Xiao karena di anggap sebagai anak yang gagal di bandingkan dengan 4 saudaranya yang lain. Bahkan suatu ketika Xiao Lian hendak di bunuh oleh saudaranya sendiri atas perintah ketua marga yang tidak lain adalah ayahnya sendiri, untung saja saat itu masih ada kepedulian dari seorang penasihat sekaligus guru tingkat dasar di kediaman marga Xiao. Demi mencegah terjadinya hal buruk dengan marga tersebut, si penasihat memilih untuk mengasingkan Xiao Lian ketempat yang jauh dan melepas identitasnya sebagai putra dari Marga Atas. Bagaimana dengan nasib Xiao Lian selanjutnya? Simak kelanjutannya di novel Kesatria Langit! cover by ; google Editor ; Nayin_ar
Ulasan
2 ulasan
Nayin_Ar
3/10/24 03:08
terima kasih untuk semua yang sudah mau mampir di Novel ini. semoga bisa menemani waktu dikala senggang
Desti@02
2/10/24 15:47
Bakalan seru cerita ini mah, sumpah gak nyesel bacanya bagus banget, di tunggu bab bab selanjutnya Thor semangat terus Thor
KABAR SELEKSI
Suatu hari di kediaman marga Xiao seseorang pengantar surat memberikan bingkisan terhadap ketua marga bernama Xiao Shu, dalam secarik surat di dalamnya tertulis kabar mengenai keputusan para dewan guru yang hendak mengadakan sebuah seleksi.
“Kumpulkan mereka di aula!” Seru sang ketua marga berniat memberitahu para putranya prihal kabar tersebut.
Dengan segera seorang penasihat sekaligus juru latih tingkat dasar di marga Xiao langsung pamit seraya mengatakan,”Saya akan melakukannya.”
Tidak lama kemudian 5 putra dari marga Xiao berkumpul di aula sesuai permintaan Xiao Shu, tidak terkecuali Xiao Lian yang merupakan putra bungsu dari marga atas tersebut yang konon memiliki kemampuan lebih rendah dibanding 4 saudaranya.
Namun demikian Xiao Lian sangat berharap dirinya di ikut sertakan dalam seleksi tersebut, karena dengan cara demikian dia bisa menunjukan kalau kemampuannya tidak jauh berbeda dengan 4 putra yang lain.
Apalagi selama ini dia selalu di anak tirikan dalam setiap hal termasuk latihan, padahal sedari dulu Xiao Lian sangat ingin ikut berlatih bersama 4 kakaknya untuk meningkatkan kemampuan yang dia miliki.
Sayangnya sang ketua marga melarang hal tersebut, karena dia menganggap kehadiran Xiao Lian hanya akan menghambat proses latihan 4 saudaranya yang sudah jauh berkembang melebihi harapan.
Karena itulah selama ini Xiao Lian memutuskan untuk berlatih seorang diri, kemudian sesekali meminta juru latih untuk melihat sejauh mana dia bisa mengembangkan setiap kemampuan dasar yang selalu di latih secara sembunyi-sembunyi.
“Seperti yang sudah kalian ketahui, 7 hari dari sekarang kalian harus bersiap untuk mengikuti seleksi, karena itu adalah jalan untuk mengangkat martabat kita sebagai marga atas negeri ini!” Tutur Xiao Shu sebagai ketua marga sekaligus penentu keputusan mutlak yang tidak bisa di ubah oleh siapapun.
“Bagus, hari ini sudah kami tunggu sejak lama Ayah. Aku sendiri berjanji akan membuat marga kita semakin terpandang dibanding dengan marga atas yang lain,” Ucap Xiao Fang yang merupakan putra pertama marga Xiao.
Pernyataan itupun di dukung oleh 4 adiknya yang lain termasuk Xiao Lian, hanya saja tepat setelah itu sang ketua langsung mengatakan kalau Xiao Lian tidak di perkenankan untuk mengikuti seleksi tersebut.
Dengan sedikit memberanikan diri Xiao Lian mempertanyakan alasan mengapa dirinya tidak bisa ikut seperti 4 kakaknya yang lain, padahal dia juga merupakan putra asli dari marga Xiao yang tentunya memiliki hak yang sama.
Lantas Xiao Shu menjelaskan kalau Xiao Lian tidak layak mengikuti seleksi yang cukup ketat itu, apalagi dia dianggap hanya akan mempermalukan marga Xiao selaku salah satu marga atas dengan kemampuan yang sama sekali tidak berkembang seperti 4 kakaknya.
“Maaf Ayah. Izinkan aku menunjukan kemampuanku di tempat latihan,” Pinta Xiao Lian belum menyerah meski sang ketua marga sudah melarangnya.
Mendengar hal itu sang ketua marga hanya tertawa bersama 4 putranya yang lain, seolah menganggap apa yang di katakan Xiao Lian hanyalah bualan dan membuang-buang waktu saja.
Sampai-sampai Xiao Shu mengatakan,”Lebih baik kau tetap di rumah dan tidak perlu menampakkan diri, karena itu jauh lebih baik untuk mu juga marga ini.”
“Hahah. Anak lemah sepertimu hanya cocok sebagai pembawa makanan untuk kami!” Umpat Xiao Sun si anak kedua marga tersebut.
Melihat putra-putranya terus mendebatkan hal yang menurutnya tidak perlu, sang ketua marga segera menghentikan mereka dan mengatakan dia akan memutuskannya dalam waktu dekat.
Sebenarnya hal itu hanyalah upaya ketua marga untuk membuat Xiao Lian tidak merengek memaksa ikut serta, karena sang ketua marga sendiri sudah pasti tidak akan mengizinkannya.
Malam hari setelah ketua marga mengumpulkan kelima putranya, dia kembali memanggil penasihat marga sekaligus juru latih tingkat dasar untuk merundingkan prihal Xiao Lian yang bersikeras mengikuti seleksi yang di adakan.
“Saya menghadap. Apakah yang kiranya dapat saya bantu?” Tutur si juru latih bernama Suo Yangsi yang terlahir dari kalangan bawah namun memiliki kemampuan yang cukup mumpuni.
Kalangan bawah sendiri tidak di perbolehkan untuk membawa marga di dalam namanya, karena hal itu dianggap bisa menciptakan konflik besar antara Marga Atas dan Marga Bawah itu sendiri.
Padahal sampai saat ini intimidasi atas kalangan bawah tidak ada bedanya, terkecuali bagi orang seperti Suo Yangsi yang memiliki kemampuan cukup hebat hingga di pandang dapat menyaingi golongan Marga Atas sekalipun.
Namun dengan liciknya himpunan Marga Atas, mereka mengeluarkan sebuah aturan yang mana orang-orang seperti Suo Yangsi dapat menjadi juru latih bagi kalangan Marga Atas dengan upah besar dan tunjangan keselamatan bagi keluarga sewaktu-waktu terjadi konflik diantara dua kalangan tersebut.
“Seperti yang sudah kau ketahui, semua ini tentang Xiao Lian,” Buka Xiao Shu yang merupakan ketua marga sekaligus pemegang keputusan paling mutlak.
“Lalu, apa yang bisa saya lakukan?”
“Seperti yang sudah aku katakan, sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat.”
Maksud dari apa yang di katakan Xiao Shu tidak lain adalah tentang Xiao Lian yang tidak bisa di ikut sertakan dalam seleksi, bahkan sejak satu tahun sebelumnya dia memiliki rencana untuk mengasingkan Xiao Lian dengan menyebar kabar kematian karena penyakit yang di deritanya.
Sebenarnya hati kecil Suo Yangsi tidak tega melakukan apa yang diminta oleh sang ketua marga, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti segala keinginan ketua marga demi kebaikan keluarganya.
“Lakukan malam ini juga!” Perintah Xiao Shu berharap Suo Yangsi segera membuang Xiao Lian ketempat yang jauh hingga dia tidak bisa kembali atau lebih baik mati.
Tepat pertengahan malam yang begitu gelap tanpa sinar rembulan, Suo Yangsi di bantu dua bawahannya membawa Xiao Lian yang sudah di bius atas perintah ayahnya sendiri ketempat yang entah dimana itu.
Di tengah perjalanan dua orang yang membantu Suo Yangsi terus bertanya mengapa mereka melakukan hal itu terhadap salah satu tuan mudanya, namun Suo Yangsi tidak bisa menjelaskan situasi sebenarnya selain meminta keduanya untuk mempercepat langkah mereka.
“Bagaimana kalau Tuan Muda sadar di tengah perjalanan?” Tanya Yu Rao yang begitu mengenal Xiao Lian karena dia juga di perbantukan sejak usia 10 tahun.
Sementara usianya saat ini sama seperti Xiao Lian yakni lima belas tahun, sehingga keduanya dapat berbagi cerita layaknya seorang teman bersama satu orang lagi bernama Su Jao Jin.
Karena itulah dia tidak enak hati melakukan hal buruk terhadap Xiao Lian, mengingat sikap Xiao Lian tidak pernah membedakan mereka sekalipun dari latar belakang yang tentunya berbeda.
“Tenang saja, obat bius yang di berikan Tuan Ketua akan membuatnya tidak sadar selama tiga hari tiga malam,” Balas Suo Yangsi.
Suo Yangsi juga tidak lupa memberi keduanya pesan supaya menjaga rahasia tentang apapun yang terjadi nanti, apalagi dari ketua marga yang mungkin saja akan langsung bertanya bagaimana mereka melakukannya.
“Baik, Paman. Aku berjanji akan merahasiakan semuanya sekalipun harus mati,” Sanggup Su Jao Jin dengan sedikit air mata berlinang karena tahu betul bagaimana Xiao Lian di perlakukan di keluarganya sendiri.
Setelah dua hari belalu ketiganya sampai di sebuah tempat yang di sebut Lembah Dewa, di tempat itulah Xiao Lian di baringkan dengan sangat hati-hati oleh kedua pembantu Suo Yangsi.
“Dengarkan aku baik-baik! Kita tidak akan membunuhnya seperti apa yang di inginkan Tuan Ketua, tetapi kalian harus mengatakan kalau dia sudah di hanyutkan kesungai dari tebing yang cukup tinggi,” Pinta Suo Yangsi agar kedua orang yang selama ini membantunya menjaga rahasia terhadap ketua marga.
“Tidak mungkin, tidak mungkin Tuan Ketua berniat membunuh putranya sendiri!” Ujar Su Jao Jin tidak menduga dan cukup terkejut mendengarnya.
Lantas Suo Yangsi menjelaskan sebenarnya ketua marga meminta dia memberikan racun terhadap Xiao Lian, tetapi dia tidak kuasa dan hanya memberikan obat bius tanpa sepengetahuan ketua marga.
“Kalau begitu, biarkan aku tinggal bersamanya!” Sahut Yu Rao tidak tega meninggalkan Xiao Lian seorang diri di tempat yang begitu sunyi itu.
“Aku juga,” Sambung Su Jao Jin.
“Kalau itu pilihan kalian, aku tidak akan menyanggahnya. Tapi ingat, kalian harus mengatakan kalau Tuan Ketua hanya menguji kemampuan Tuan Muda di tempat ini,” Tutup Suo Yangsi seraya pamit undur diri meninggalkan ketiga pemuda berusia lima belas tahun itu.
Dalam hatinya Suo Yangsi bergumam,” Suatu saat kau lah yang akan menjadi Kesatria Langit yang sebenarnya!”
Bersambung ….
Daftar bab
156 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
156 bab








