
Dokter Si Menantu Kampungan
Awan Kinton|Tamat
- Jumlah kata
- 1.7M
- Popular
- 1.9M
- Subscribe
- 15.6K
- Jumlah kata
- 1.7M
- Popular
- 1.9M
- Subscribe
- 15.6K
Sinopsis
Arga, si pemuda dengan baju compang-camping, ternyata adalah Raja Neraka. Konglomerat dan keluarga bangsawan ingin menjodohkan anak mereka dengannya. Namun, Arga malah ditolak oleh tunangannya sendiri, bahkan sampai dihina-hina di depan umum! Arga yang kecewa mulai membuka identitasnya secara perlahan dan membuat orang yang menghinanya tunduk di bawah kakinya!
Ulasan
79 ulasan
Cinta Mit 2018 khatimacinta
18/11/25 13:14
Aduh cerita ini yang ku nanti-nanti kan. Min tolong lah update kan panjang''aku malah ngak kesabaran menantikan lanjut ceritanya.
PILIHANSam Xxx
9/9/26 16:15
min belum ada lanjutan ka ...knapa tamat.min tiada sambungan ka... tolong update min tolong kalau ada sambungan
Bab 1
"Aku sudah mengajarkan semua ilmuku kepadamu, sudah saatnya kamu turun gunung. Tidak ada gunanya lagi kamu untuk menetap di gunung ini." tanya tetua berambut putih tersebut dengan kesal. Dia adalah Endaru Prawira.
Arga adalah muridnya, dia sebenarnya memiliki kakak perempuan, namun karena si gurunya melihatnya berbakat dan memang perlu mencari seseorang untuk mewarisi seluruh ilmunya. Ia meminta izin pada kakak Arga dan membawa Arga pergi.
Arga sudah hidup lama bersama gurunya, mempelajari semua ilmu dari gurunya dan bahkan sudah lebih jago dari gurunya. Meskipun gitu, ia tidak terbiasa untuk berpisah dengan gurunya, karena gurunya sudah bagaikan ayahnya.
Ia terdiam sejenak, dia memikirkan jawaban yang tepat untuk diutarakan kepada tetua yang menjadi gurunya itu. "Aku tidak ingin pergi. Biarkan saja aku di sini," jawab Arga pada akhirnya.
"Tidak mau katamu? Arga! Apa kau masih waras?" tegur Endaru dengan kesal.
Arga diam saja.
Dia sedikit menundukkan kepalanya sambil memegangi pipinya.
"Yakin kamu tak mau pergi? padahal aku sudah menyiapkan perjodohan untukmu." ucap Endaru.
"Apa? Aku tidak mau! aku masih kecil kok guru sudah menjodohkan aku tanpa perizinanku?!" balas Arga yang semakin kesal.
Endaru tiba-tiba menyeringai, berbisik di samping teling Arga, "Yakin nih? Dia cantik loh, seksi lagi!"
Arga berpikir-pikir, sebenarnya bagus juga kalau ada istri cantik apalagi seksi lagi. Kemudian ia terbatuk ringan dan bilang, "Baiklah kalau begitu, aku terpaksa menuruti kemauanmu, bukan karena aku ingin istri cantik dan seksi."
"Bagus! Dan ingat, Arga..." Endaru melemparkan sebuah hadiah kunjungan kepada Arga, "…bawa ini kepada mereka. Itu adalah hadiah kunjunganmu."
Arga menerimanya.
Hadiah kunjungan itu adalah daging rusa langit tangkapan Endaru di Desa Samasuka. Daging rusa langit ini sangat langka ditemui, bagi yang sakit, semua penyakit mereka dapat terobati, sedangkan bagi yang sehat, daging tersebut dapat memperkuat tubuh mereka.
"Baiklah, aku akan menjalankan amanahmu," ucap Arga.
Tiga hari kemudian, Arga tiba di Provinsi Kosari, Noaloka.
...
"Apa? Kau ingin menikahiku? Memangnya kau siapa?" tanya Sena begitu mendengar maksud dari kedatangan Arga ke kediaman Keluarga Sartono. Ia melihat dari kepala hingga ujung kaki. Sena berpikir dia hanya orang gila yang lepas dari rumah sakit.
Arga mengangguk kaku. "Guruku mengatakan kalau kau adalah jodoh yang sudah ia tentukan. Sebelumnya ada seseorang yang datang menemuimu. Seharusnya ia sudah bicarakan tujuanku ke sini."
Sena mengingat lagi kejadian itu. Memang benar ada seorang kenalan kakeknya yang datang berkunjung. Tapi orang itu hanya bilang ada seseorang yang hebat akan datang berkunjung. Dia tak mengatakan apa maksud dan tujuan dari orang hebat tersebut. Ia sungguh tak menyangka orang yang dianggap hebat itu adalah seorang gembel dan pengemis jalanan.
Sena menunjukkan ekspresi tidak percaya begitu mendapatkan anggukan dari Arga sebagai jawaban dari pertanyaannya. Dia benar-benar tidak menyangka kejadian lucu ini akan datang kepadanya.
"Hei, kamu gila ya?! Dengar baik-baik, aku ini cantik, terlahir di keluarga kaya, bahkan ada banyak pria yang mengejarku, sedangkan kamu? Sudah kampungan, berpenampilan begini..." ujar Sena sambil melihat penampilan Arga dari atas sampai bawah, "...miskin pula. Mau menikahiku? Mimpi saja sana!"
Arga tidak menyangka akan mendengar perkataan itu keluar dari mulut Sena.
"Begini Sena, dulu… guru Arga pernah membantu kakekmu. Sebab itu ketika teman kakek datang, nenek mengiyakan permintaannya. Nenek tahu itu permintaan dari guru Arga, dan nenek harap kamu mau menerima permintaanya," jelas Nenek Sena yang sedari tadi juga ada di sana.
"Nek, aku menerima permintaan ini karena teman Kakek bilang yang datang adalah orang hebat. Tapi nyatanya yang datang adalah pemulung! Apakah Nenek sudah tidak waras jika masih ingin menikahkanku dengan gembel sepertinya?!" bentak Sena.
Arga dan Nenek Sena pun terkejut dengan reaksi Sena.
"Aku bersumpah, sampai mati pun aku tidak akan pernah menikah dengannya! Memangnya dari mana kau melihat dirimu pantas untuk menikah denganku?!" ucap Sena dengan murka.
Saat itu, muncul seorang wanita dengan kondisi memprihatinkan dari dalam rumah, duduk di kursi roda yang didorong perlahan oleh ibunya.
Tampaknya wanita itu mengalami stroke, hanya mata dan mulutnya yang masih bisa bergerak, sementara tubuhnya tampak kaku dan lemah.
Ia penasaran ada keributan apa di luar, matanya berusaha menatap ke arah suara, bibirnya sedikit bergetar seolah ingin bertanya tapi tak mampu mengeluarkan suara.
Ia hanya diam melihat pada pemandangan diluar, mungkin hatinya yang sepi sedang menunggu sesuatu juga.
Wanita yang ada di depan Arga adalah kakak sepupu perempuan Sena. Dia sangat elegan, manis, dan cantik jika strokenya tidak mengubah syaraf-syarafnya.
Dalam pandangan Arga, jika wanita ini sehat-sehat saja, ia akan terlihat sangat cantik, manis, dan nyaman untuk dilihat. Selama ini, Arga tidak pernah menemui wanita secantik dirinya, ia pun merasa kasihan terhadap peri cantik ini.
Sena yang melihat Arga yang melihat Wendy terus menerus, dia kepikiran sesuatu kemudian tersenyum dengan licik.
"Kalau kau merasa Arga ganteng, gimana kalau kau saja yang menikah dengan Arga," ucap Sena kepada Wendy.
Kemudian Sena berbalik ke arah Arga, dia berkata, "Hei sampah, kakakku ini cantik loh, mau tak kau dijodohin sama dia?"
Semua orang di sana pun terkejut.
"Bukankah kalian sangat cocok? Satu gembel dan miskin, satu lagi memiliki simpati yang tinggi tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Aku yakin tak akan ada yang tersakiti di antara kalian," lanjut Sena.
"Bahkan juga… kalau Keluarga Sartono harus membalas budi kepada gurunya Arga, kita memang harus melakukannya, bukan? Kalau aku tidak ingin membalas budi yang diutang oleh kakekku kepada gurunya Arga, ya... kau saja yang membayarnya. Kau, 'kan, juga cucu Kakek." imbuh Sena.
Wendy tampak bingung. Dia lalu menoleh dan menatap Arga.
"Bagaimana, Arga? Ide yang bagus, 'kan?" tanya Sena.
Daftar bab
1544 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
1544 bab








