
Sup Daging Tetangga Nyinyir
Wira1306|Tamat
- Jumlah kata
- 142.6K
- Popular
- 2.4K
- Subscribe
- 344
- Jumlah kata
- 142.6K
- Popular
- 2.4K
- Subscribe
- 344
Sinopsis
Namaku Ome, pria biasa yang menjalani hidup penuh tekanan di lingkunganku. Sejak aku kehilangan pekerjaan, Bu Lilis, tetangga sebelah yang mulutnya tak pernah lelah mencibir, menjadi mimpi buruk dalam keseharianku. Setiap hinaannya merayap masuk dalam pikiranku, menciptakan rasa sakit yang tak pernah usai.Aku mencoba mengabaikan dan menutup telinga. Namun, ketika nyinyirannya mulai menghancurkan harga diriku sepenuhnya, aku harus mengambil kendali.Malam itu, saat semua orang tertidur lelap, aku memutuskan untuk bertindak. Pisau di tanganku menjadi teman setia, sementara suara-suara di kepalaku berbisik untuk melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.Apa yang terjadi ketika rasa sakit dan dendam menguasai seseorang? Akankah aku menemukan kedamaian, atau justru semakin tenggelam dalam kegelapan yang kuciptakan sendiri?
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
10/7/25 17:50
Halo kak keren lho idenya🙏❤️😍. Kalau berkenan mampir balik dan subscribe di ceritaku "Rumah Laba-laba" ya Kak terima kasih sebelumnya 🙏
Tetangga Nyinyir
Aku tak pernah menyangka hidupku akan menjadi seperti ini, dihina, direndahkan, dan dianggap sampah di lingkungan tempatku tinggal. Sejak aku kehilangan pekerjaan enam bulan lalu, tetangga-tetanggaku seakan mendapat bahan bakar baru untuk menyalakan api nyinyiran mereka. Tapi tak ada yang sekejam Bu Lilis, wanita tua yang mulutnya lebih tajam daripada pisau dapurku.
Pagi ini, suara Bu Lilis sudah terdengar dari balik pagar rumahku. Aku yang baru saja menyapu halaman depan hanya bisa menghela napas panjang.
"Masih nganggur, ya, Ome?" suara serak Bu Lilis menggema, diiringi tawa kecil yang menjengkelkan. "Laki-laki kok malas. Apa nggak malu sama tetangga?"
Aku diam, berpura-pura tak mendengar. Namun, Bu Lilis tak pernah tahu kapan harus berhenti. Ia melangkah mendekat, membawa ember penuh cucian basah. Matanya menyipit, menatapku seperti binatang terlantar yang pantas dikasihani.
"Kalau terus-terusan begini, rumahmu dijual aja, Ome. Lumayan kan, buat bayar utang? Eh, jangan-jangan listriknya udah nunggak juga, ya?"
Tanganku yang memegang sapu gemetar. Aku ingin membalas, ingin menjerit di wajahnya dan memintanya berhenti. Tapi aku tahu, melawan Bu Lilis hanya akan membuatnya semakin puas. Jadi aku memilih mundur ke dalam rumah, menutup pintu, dan membiarkan suara tertawanya menggema di udara.
Di dalam rumah, aku duduk di kursi tua ruang tamu, menatap foto almarhum ibuku di dinding. "Ma, kenapa semua orang seperti ini ke aku? Apa aku seburuk itu?" tanyaku pada foto itu, meskipun aku tahu jawabannya tak akan pernah datang.
Sejak ibuku meninggal, aku hidup sendirian di rumah ini. Rumah kecil yang sederhana, tetapi menjadi tempat pelampiasan segala gosip dan ejekan tetangga. Mereka tak tahu bagaimana aku berjuang, bagaimana aku mencoba bangkit meskipun dunia terus menjatuhkanku.
Namun, Bu Lilis berbeda. Wanita itu bukan hanya nyinyir, tetapi juga licik. Ia suka memutarbalikkan fakta, menyebarkan gosip yang memperburuk reputasiku. Beberapa bulan lalu, aku mendengar dari tetangga lain bahwa Bu Lilis mengatakan aku sering mencuri listrik dari rumahnya. Padahal itu semua bohong!
Malam itu, aku duduk di dapur, menatap pisau dapurku yang mengkilap. Pikiranku melayang jauh, membayangkan apa yang akan terjadi jika Bu Lilis tidak lagi ada. Bagaimana jika aku bisa menghentikan suara nyinyirnya untuk selamanya?
Bayangan itu membuatku tersenyum kecil, senyum yang tak pernah kutunjukkan di depan orang lain. Aku tahu itu salah, tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki kendali atas hidupku sendiri.
Saat aku berbaring di tempat tidur malam itu, suara Bu Lilis masih terngiang di kepalaku. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Aku tak lagi merasa takut atau marah. Aku hanya merasa... tenang. Seolah-olah aku tahu apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan kembali kedamaian.
"Bu Lilis," bisikku pelan sambil menatap langit-langit kamar. "Kamu akan menyesali semua yang telah kamu lakukan padaku."
---
Aku terbangun tengah malam, dengan dada yang berdegup kencang. Ada suara dari luar, samar-samar, seperti langkah kaki di atas kerikil. Mataku menyapu ruangan, mencoba memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Perlahan, aku turun dari tempat tidur dan membuka gorden sedikit. Di luar, tak ada siapa pun. Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang mengawasi dari balik gelapnya malam.
Aku duduk di meja makan dengan secangkir kopi instan yang sudah dingin. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit. Pikiranku melayang kembali pada Bu Lilis. Wajah menyebalkan itu terus muncul di kepalaku, seolah sedang tertawa di atas penderitaanku.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku benar-benar merasa bahagia. Rasanya sudah lama sekali. Mungkin ketika aku masih kecil, saat ibu masih ada. Hidup waktu itu begitu sederhana. Tak ada tetangga nyinyir, tak ada rasa malu karena dianggap gagal. Tapi sekarang? Hidup ini lebih mirip neraka.
Tanganku tanpa sadar mencengkeram cangkir kopi di depanku hingga retak. Pecahan kecilnya menusuk telapak tanganku, tapi aku tak peduli. Rasanya sakit, tapi sakit itu justru membuatku merasa lebih hidup. Aku menatap darah yang menetes dari tanganku dengan perasaan aneh.
"Aku akan menunjukkan pada mereka," gumamku pelan. "Aku bukan orang lemah seperti yang mereka pikirkan."
Aku mematikan lampu ruang tamu dan berjalan ke dapur. Pisau dapur itu masih ada di tempatnya, mengkilap di bawah cahaya remang-remang. Aku mengangkatnya, merasakan dinginnya logam di tanganku. Rasanya begitu familiar, seperti perpanjangan dari tubuhku sendiri.
Namun, sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, suara keras dari luar membuatku terkejut. Aku meletakkan pisau itu dan bergegas ke jendela. Di sana, kulihat bayangan seseorang yang berlari melewati halaman rumahku. Aku mencoba memperhatikan lebih seksama, tapi orang itu sudah menghilang dalam kegelapan.
"Siapa itu?" tanyaku pada diri sendiri. Apakah aku mulai paranoid? Atau apakah ada yang benar-benar mengawasiku?
Aku mengunci pintu dengan rapat, memastikan bahwa semua jendela sudah terkunci. Tapi meskipun begitu, rasa tidak nyaman itu tidak hilang. Malam itu, aku terjaga di kursi ruang tamu dengan pisau dapur di tangan, menunggu pagi datang.
Ketika matahari akhirnya terbit, aku merasa lebih tenang. Tapi rasa lelah menguasai tubuhku. Aku hampir tertidur ketika suara ketukan di pintu depan membangunkanku.
Dengan rasa enggan, aku membuka pintu. Bu Lilis berdiri di sana, dengan senyum sinis yang sudah kuhapal di luar kepala.
"Masih tidur, Ome? Wah, begini terus kapan suksesnya? Hahaha," katanya sambil tertawa kecil.
Aku hanya memandangnya, mencoba menahan diri. Tapi dalam hati, aku sudah mulai merencanakan sesuatu.
"Santai saja, Bu. Saya belum dapat kerja yang cocok," jawabku datar.
"Hmmm," gumam Bu Lilis, matanya menatapku dari atas sampai bawah. "Ya sudah, semoga cepat dapat kerja. Jangan lupa bayar iuran sampah bulan ini, ya. Jangan nunggak lagi."
Ia pergi sambil tertawa kecil, meninggalkan aroma parfum murah yang membuatku mual. Aku berdiri di sana, memandang punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya, aku merasa tak ada jalan lain kecuali melawan.
Malam itu, aku kembali duduk di meja makan, menatap pisau di tanganku. Ada rasa damai yang aneh setiap kali aku memegang benda itu. Aku tahu, semuanya akan berakhir. Tapi kali ini, aku yang memutuskan bagaimana akhirnya.
---
Saat malam menjelang, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya rasa lelah yang menumpuk, tetapi juga dorongan kuat yang tak bisa kuabaikan. Bayangan Bu Lilis, dengan senyum sinis dan suara nyaringnya, terus terngiang. Ia telah melewati batas.
Aku berjalan pelan ke dapur, membiarkan kegelapan menyelimuti tubuhku. Kulihat pisau dapur itu, berkilauan di bawah sinar bulan yang masuk melalui celah jendela.
"Mungkin ini waktunya," bisikku pelan.
Bayangan rencana itu semakin jelas di pikiranku. Sebuah ide yang lahir dari rasa sakit dan penghinaan. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang. Malam ini, semua akan dimulai.
Daftar bab
132 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
132 bab








