
- Jumlah kata
- 117.8K
- Popular
- 731
- Subscribe
- 158
Sinopsis
Irina adalah wanita muda yang telah menikah selama dua tahun dengan seorang pria mapan kaya raya, namun belum memiliki keturunan. Seiring berjalannya waktu pernikahan Irina terasa semakin hambar, suaminya adalah tipe pria yang membosankan dan hanya gila bekerja. Bahkan pria itu sama sekali tidak memperdulikan ulang tahun Irina dan ulang tahun pernikahan dimana momen itu sangat Irina tunggu. Sampai pada akhirnya, Irina memutuskan untuk bercerai. Suatu hari, Irina menemukan seorang pria di kantor tempat dimana ia bekerja setelah perceraian. Pria dengan tutur kata sopan dan selalu tersenyum menawan, berwibawa serta sangat rapi. Irina yang terpesona akhirnya jatuh ke pelukan pria itu, yang ternyata sangat berbanding terbalik dengan mantan suaminya. Selalu penuh kejutan dan romantis, sampai pada akhirnya satu per satu rahasia gelap pria itu muncul dan membuat hidup Irina berubah menjadi mengerikan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Prologue
Irina masih berusia delapan tahun saat itu..
Tinggal di sebuah perumahan yang mana para tetangganya sangat ramah, bersepeda di sore hari bersama teman-teman sebayanya. Mengenakan dress berwarna putih dengan motif bunga-bunga di bagian bawahnya, rambut pirang lurus dihiasi dengan bando bermotif bunga-bunga senada dengan dress yang ia kenakan.
Beberapa orang dewasa melakukan aktivitasnya di sore hari seperti bersepeda atau pun lari sore, bercengkrama sesama tetangga, atau bahkan makan-makan bersama di halaman rumah. Semua orang terlihat bahagia dan ramah, tapi tidak dengan satu rumah yang selalu tertutup seolah tak berpenghuni. Rumah itu tepat berada di samping rumah Irina. Irina pun terkadang bertanya-tanya, apa masih ada orang yang tinggal di rumah itu atau tidak?
Namun terkadang Irina melihat seorang wanita dengan anak lelakinya keluar menunggunakan mobil, hanya berdua, tidak ada Ayah maupun Adik atau Kakak. Hanya seorang Ibu dan anak laki-laki yang lumayan tinggi, yang usianya sekitar beberapa tahun di atas Irina.
Sesekali Irina menoleh ke rumah itu dan mendapati pemilik rumah yaitu seorang wanita yang memiliki anak laki-laki tadi, tapi tatapannya kepada Irina terlihat datar dan cenderung mengerikan. Sampai-sampai Irina tak berani lagi menoleh ke rumah itu, hingga saat ini. Tiba-tiba terdengar suara Ibu Irina memanggil dari kejauhan, Irina segera melajukan sepedanya cukup kencang melihat sang Ibu sudah masuk kembali ke dalam rumah.
Biasanya sang Ibu akan meminta bantuan Irina untuk mengerjakan pekerjaan rumah jika ada panggilan seperti ini, saking lajunya ia mengayuh sepedanya. Sampai-sampai Irina kehilangan kendali dan tak sempat menarik rem tangan, hingga menabrak lampu jalanan yang tepat berada di depan rumah Irina.
Irina tidak menangis, hanya terduduk diam setelah jatuh dari sepeda melihat lutut dan kakinya terdapat luka gesekan terkena aspal. Gadis kecil itu hanya mendesah mengetahui Ibunya akan mengomel karena ia tak berhati-hati, Irina berusaha bangkit meski terasa sakit di kakinya sembari mendorong sepedanya.
Namun sebuah bayangan membuat Irina berhenti dan menoleh ke arah kanan, dimana ada rumah selalu tertutup itu. Irina terkejut, anak laki-laki yang sering keluar bersama Ibunya berdiri tak jauh dari Irina. Lelaki itu berdiri di rumput halamannya, tepatnya di ujung rumput yang berbatasan dengan rumput halaman rumah Irina.
Seolah lelaki itu tak ingin keluar dari zona rumahnya..
Lelaki itu hanya berdiri memerhatikan Irina, Irina yang bingung hanya bisa terdiam tepat di tempatnya berdiri saat ini memegang sepedanya. Tidak seperti tetangga lainnya yang akan membantu ketika Irina terjatuh dari sepeda, lelaki itu hanya diam.
Berdiri di sana layaknya sebuah patung, mengenakan setelan serba hitam dengan rambut hitam legam yang ditata serapih mungkin. Seakan-akan ia baru saja pulang dari acara resmi seperti sebuah pemakaman.
Tapi tak heran, wanita pemilik rumah dan anak laki-lakinya itu memang selalu mengenakan setelan berwarna hitam. Seperti, mereka berkabung di setiap harinya.
Irina tak ingin berlama-lama berdiri di sana dan melihat orang aneh, karena Ibunya di dalam sana pasti menunggunya. Tapi baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba suara lelaki itu mulai terdengar. Untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun terakhir, semenjak Irina dan kedua Orang Tuanya pindah ke rumah ini. Irina mendengar suara anak laki-laki itu..
"Kau Irina?" Tanya anak laki-laki itu, ekspresinya hanya datar. Seperti tak ingin mengajak bermain tapi hanya sekedar bertanya, namun arah badan anak lelaki itu mengikuti Irina. Seperti ingin mengajak Irina berbicara atau bercengkrama, batin Irina mungkin anak lelaki itu ingin mencoba berteman dengannya.
Dengan senang hati Irina akan melakukannya, karena sedari kecil gadis itu selalu dididik dengan baik oleh kedua Orang Tuanya. Bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik, bagaimana berlaku baik pada sekitar, tanpa membedakan siapapun yang ada di hadapannya.
"Ya, bagaimana kau tahu namaku?" Balas Irina, terlihat ada gurat senyuman di bibir lelaki itu.
Seolah begitu senang mendapat tanggapan dari Irina dan mendengar suara merdu dari gadis kecil itu.
"Hanya tahu saja." Balasnya singkat, Irina meletakan sepedanya di atas rumput halaman rumah. Berjalan menuju lelaki itu yang sepertinya sudah bisa membuka diri dengan orang lain, pikir Irina begitu.
"Berapa usiamu?" Tanya Irina, berhenti tepat di hadapan pria yang tingginya melebihi Irina. Dengan alis tajam yang tebal dan kedua netra sebiru laut, indah, namun terasa misterius.
"Lima belas." Jawab lelaki itu, lima belas tahun rasanya tidak mungkin untuk bermain sepeda bersama dengan Irina. Pikir gadis itu lagi.
"Kau?" Lelaki itu balik bertanya.
"Delapan." Jawab Irina, lelaki itu mengangguk.
Irina ingin sekali bertanya mengapa mereka selalu menutup diri, namun ia takut untuk bertanya hal-hal yang tidak sopan dan bersifat pribadi seperti itu karena kedua Orang Tuanya mendidiknya demikian. Jadi hanya ada momen yang canggung di antara mereka berdua ketika beberapa detik berlalu dengan kediaman.
"Ini untukmu!" Tiba-tiba lelaki itu menyodorkan sekuntum bunga mawar, berwarna merah, lengkap dengan tangkainya yang masih berduri. Diberi bunga secara tiba-tiba tentu saja membuat Irina terkejut, perlahan jemari mungilnya mengambil bunga mawar tersebut dan berterimakasih kepada lelaki itu.
"Terimakasih." Ucap Irina, laki-laki itu hanya mengangguk.
"Apa cita-citamu?" Tanya lelaki itu kepada Irina, ditanya seperti itu membuat Irina berpikir sembari memutar kedua bola matanya ke atas.
"Mungkin, menjadi seorang putri." Kata Irina sembari bercanda, mereka berdua tahu bahwa itu bukan sebuah cita-cita yang nyata melainkan hanya sebuah khayalan belaka. Namun jawaban Irina ternyata mampu membuatnya tertawa dan lelaki itu tersenyum seolah ingin tertawa juga.
"Ku harap cita-citamu tercapai, tapi jika kau tidak diperlakukan sebagai seorang Putri. Kelak kau bisa mendatangiku." Kata Lelaki itu, Irina yang masih belia menganggap hal itu juga sebagai khayalan semata. Irina hanya mengangguk meng-iyakan tanpa tahu bahwa Lelaki itu menganggapnya serius.
"Kalau kau, bagaimana dengan cita-citamu?" Irina balik bertanya.
"Aku tidak punya cita-cita, semua sudah diatur oleh Ibuku." Jawabnya, Irina bingung. Tak heran jika mereka selalu pergi kemana pun berdua, ternyata Lelaki itu selalu diatur oleh Ibunya dan pantas saja ia tak pernah keluar bermain dengan anak lelaki seusianya.
"Apa kau tahu cita-cita Ibumu untukmu?" Tanya Irina berusaha membuat lelaki itu tak berkecil hati karena tak memiliki cita-cita.
"Ya. Ibuku ingin aku menghancurkan tatanan dunia, menghilangkan keyakinan manusia dan menjerumuskan manusia dalam kesesatan!" Jawabnya dengan nada tegas, seketika Irina terdiam.
Sungguh, di sekolah maupun di rumah, Irina tak pernah diajarkan seperti itu. Sontak Irina memundurkan langkahnya satu langkah dari lelaki itu.
"Ku harap cita-citamu terwujud, kau lebih dari pantas menjadi seorang Putri!" Ujar lelaki itu, nada bicara lelaki itu sangatlah menenangkan dengan sedikit senyuman di bibirnya. Padahal, Irina sempat takut padanya dengan jawaban tentang cita-citanya yang mengerikan tadi.
Daftar bab
116 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
116 bab








