
Ternyata Suamiku Babi Ngepet
Selina|Bersambung
- Jumlah kata
- 43.0K
- Popular
- 348
- Subscribe
- 45
- Jumlah kata
- 43.0K
- Popular
- 348
- Subscribe
- 45
Sinopsis
Mulyono, seorang pria paruh baya dengan tubuh kurus dan wajah penuh keletihan, hidup bersama keluarganya di sebuah rumah reyot di pinggiran kota. Setiap hari, ia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan berjualan gulali di sekolah, namun penghasilannya tidak pernah cukup. Keadaan ekonominya semakin sulit, dan istrinya, Surti, kerap mengeluh tentang kekurangan mereka. Suatu hari, teman lama Mulyono, Supri, menawarkan jalan keluar yang tampaknya menggiurkan: pesugihan babi ngepet di Gunung Karang. Terdesak oleh kebutuhan dan dorongan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya, Mulyono memutuskan untuk mengikuti saran Supri meski penuh keraguan. Perjalanan Mulyono menuju Gunung Karang tak semudah yang dibayangkannya. Ia harus melewati rintangan yang berat, salah satunya sebuah sungai lebar yang dipenuhi buaya besar. Setelah hampir putus asa, Mulyono menemukan sebuah getek rapuh untuk menyeberang. Meski dihadang bahaya, ia berjuang sekuat tenaga, mengatasi ketakutan dan rasa cemas, hingga akhirnya berhasil menyeberang dengan selamat. Perjalanan Mulyono baru saja dimulai. Dengan tekad yang semakin kuat, ia melanjutkan langkahnya menuju Gunung Karang, penuh harapan dan ketakutan akan apa yang akan ia hadapi. Namun, di balik perjalanan berat ini, Mulyono tahu bahwa ia harus siap menghadapi konsekuensi dari pilihan yang telah ia buat
Ulasan
1 ulasan
Nesyah Afifah
22/1/25 23:29
wow seru lanjutkan update yang banyak thor cerita mistis ini update yang banyak bila perlu langsung 5 bab
Bab 1. Mulyono Dan Pilihan Berat
Mulyono, seorang pria paruh baya dengan tubuh kurus dan wajah penuh lelah, hidup bersama keluarganya di sebuah rumah reyot di pinggiran kota. Setiap hari, ia berjuang untuk memberi makan istri dan kedua anak kembarnya. Pekerjaan utama Mulyono adalah sebagai tukang gulali permen di sekolah. Setiap hari, ia membawa gerobak berisi bahan-bahan sederhana—gula, pewarna, dan perasa—untuk membuat gulali yang dijual kepada anak-anak sekolah. Namun, hasil yang ia peroleh tidak pernah lebih dari lima belas ribu rupiah dalam sehari. Penjualannya yang jarang laris membuat Mulyono merasa semakin frustasi, dan kondisi ekonomi yang serba kekurangan semakin memperburuk suasana hatinya.
Setiap kali Mulyono pulang ke rumah, ia melihat wajah istrinya, Surti, yang tampak lelah dan kecewa. "Makan singkong lagi? Hari ini kita makan singkong lagi?!" keluh Surti, sambil menyentuh perutnya yang kosong. Ia tak pernah puas dengan kehidupan mereka yang serba kekurangan. Pekerjaan suaminya yang tidak menghasilkan banyak uang membuatnya merasa frustrasi dan sering kali mengomel tanpa henti. Mulyono hanya bisa menunduk, merasa tak berdaya.
Anak-anak kembar mereka, Yusra dan Yusri, juga mulai menunjukkan tanda-tanda kebosanan. Setiap hari, mereka hanya makan singkong rebus, yang rasanya sudah sangat familiar bagi mereka. "Bosen, Pa, makan singkong terus," kata Yusri sambil menatap piring yang berisi singkong rebus dengan rasa malas. Yusra hanya mengangguk setuju. Mereka berdua masih kecil, namun sudah bisa merasakan betapa beratnya hidup dalam kemiskinan.
Di tengah kebuntuan itu, datanglah Supri, seorang teman lama Mulyono yang sudah lama tak ditemui. Supri adalah pria yang terkenal dengan cara hidupnya yang serba praktis. Ia pernah mengungkapkan banyak hal yang dianggap aneh oleh orang-orang, namun Mulyono tahu bahwa Supri sering kali memberi saran yang jarang terduga.
Suatu sore, setelah berbincang-bincang di warung kopi, Supri mendekatkan wajahnya dan berkata dengan suara pelan, "Mulyono, aku punya solusi buatmu. Kenapa kamu tidak coba pesugihan di Gunung Karang?" Mulyono memandang Supri dengan penuh rasa ingin tahu. "Pesugihan? Pesugihan apa, Supri?" tanya Mulyono, sedikit bingung.
Supri tersenyum lebar. "Pesugihan babi ngepet," jawabnya dengan suara yang terdengar misterius. "Ini bisa mengubah hidupmu, Mulyono. Kamu akan bisa mendapatkan uang dalam sekejap. Cobalah, jangan ragu."
Mulyono terdiam sejenak, mencoba memahami kata-kata Supri. Di satu sisi, ia merasa curiga dan takut, namun di sisi lain, hidupnya yang semakin sulit membuatnya tergoda. Tuntutan hidup yang semakin besar, istri yang selalu mengomel, dan anak-anak yang bosan dengan kehidupan yang monoton—semua itu membuat Mulyono berpikir apakah cara yang ditawarkan Supri bisa menjadi jalan keluar.
"Mungkin ini satu-satunya jalan, Supri," gumam Mulyono dalam hati. Tetapi benarkah pesugihan itu akan memberinya kebahagiaan yang diinginkan, atau justru menjerumuskannya lebih dalam dalam kesulitan yang lebih besar?
Dengan langkah ragu, Mulyono memutuskan untuk mengikuti saran Supri dan mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang pesugihan yang katanya bisa mengubah hidupnya. Namun, tanpa disadari, perjalanan yang ia pilih mungkin akan membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
*****
Pagi itu, Mulyono memutuskan untuk memulai perjalanan yang mungkin akan mengubah hidupnya. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk mengikuti saran Supri yang terdengar begitu menggoda. Dengan hati penuh keraguan, ia melangkahkan kaki meninggalkan rumah dan berjalan menyusuri jalanan kecil yang penuh dengan tumbuhan lebat menuju Gunung Karang. Udara pagi yang segar tak mampu mengusir kekhawatiran yang menggelayuti pikirannya.
"Jika aku harus menghadapi segala rintangan dalam perjalanan ini, aku tak peduli," gumam Mulyono dalam hati, membenarkan tekad yang sudah ia tetapkan. "Hidup ini terlalu berat, aku harus mencoba."
Di sepanjang jalan, ucapan Supri terus terngiang di telinganya. "Pesugihan babi ngepet itu akan memberimu segalanya, Mulyono. Uang, kekayaan, bahkan kekuasaan. Cobalah, percayalah pada apa yang aku katakan." Mulyono mengingat itu, dan semakin mantap ia melangkah. Perjalanan yang penuh ketidakpastian ini adalah kesempatan terakhir yang ia punya. Tidak ada yang bisa menghalanginya.
Jalan setapak yang ia lalui semakin terjal dan sempit. Pepohonan besar menjulang tinggi di kedua sisi jalan, merintangi cahaya matahari untuk menyinari jalan yang licin dan penuh akar-akar pohon. Mulyono terus melangkah, meskipun keringat mulai membasahi wajahnya. Keinginan untuk keluar dari kemiskinan mendorongnya untuk terus maju.
Namun, perjalanan ini tak semudah yang ia bayangkan. Setelah beberapa jam berjalan, Mulyono tiba di sebuah sungai yang sangat lebar. Aliran sungai yang deras dan gelap menambah ketegangan dalam dirinya. Di kejauhan, ia bisa melihat buaya-buaya besar yang berenang perlahan di permukaan air. Mulyono tahu bahwa di tempat itu, bahaya mengintai. Buaya-buaya itu menunggu mangsa yang lengah.
Mulyono berhenti, menatap sungai yang luas dengan perasaan cemas. "Bagaimana aku bisa melewati ini?" pikirnya. Ia mulai berjalan menyusuri pinggir sungai, mencari jalan alternatif, namun semakin ia berjalan, semakin sulit rasanya menemukan jalan yang aman. Buaya-buaya itu tampak mengawasi setiap gerakannya, seolah tahu bahwa ia adalah mangsa yang sempurna.
Ketika ia hampir menyerah, matanya tertumbuk pada sebuah getek kecil yang terikat di tepi sungai. Getek itu tampak rapuh, tetapi mungkin bisa membantunya menyeberang. Mulyono mendekat dan melihat lebih teliti. Getek itu terdiri dari beberapa batang bambu yang diikat bersama, namun beberapa bagian tampak longgar dan tidak kokoh. Tanpa berpikir panjang, Mulyono mulai memperbaiki getek tersebut, mencoba memperkuat ikatannya dengan seutas tali yang ia temukan di dalam tasnya. Setiap gerakan dipenuhi kecemasan, tetapi tekadnya untuk melewati sungai itu jauh lebih kuat.
Ketika getek sudah cukup kuat, Mulyono mulai menaikinya dengan hati-hati. Ia menarik tali pengikat getek, menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh. Dengan napas yang terengah-engah, ia mendorong getek itu menuju aliran sungai yang ganas.
Di saat itulah, salah satu buaya besar mendekat, berenang cepat menuju geteknya. Mulyono bisa melihat mata buaya itu yang tajam, penuh kebuasan. Suara gerakan air yang berdebur semakin keras saat buaya itu menghampiri. "Jangan takut, jangan takut," bisik Mulyono pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Aku harus melewati ini."
Mulyono terus mendayung dengan hati-hati, menggunakan tongkat kecil yang ia temukan di sekitar sungai. Tiba-tiba, buaya itu meloncat, menghantam getek dengan tubuh besar dan kuat. Getek itu hampir terbalik, namun Mulyono berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keseimbangannya. "Ayo, sedikit lagi," desahnya, hampir kehilangan harapan. Setiap kali ia merasa hampir jatuh, ia menguatkan diri, bertekad untuk tidak menyerah.
Buaya itu semakin mendekat, namun Mulyono terus bergerak maju. Ia bisa merasakan getek itu semakin tidak stabil, namun ia tak punya pilihan lain. "Aku harus sampai di seberang," bisiknya, sambil menggenggam erat tongkat dayung dan mendorong getek itu lebih cepat. Dalam hatinya, ia berdoa agar tidak jatuh ke dalam air yang dipenuhi buaya lapar itu.
Tiba-tiba, setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, getek itu sampai ke tepian lain. Mulyono melompat dengan cepat, merasakan tubuhnya lemas karena ketegangan yang baru saja ia alami. Buaya itu, yang tadi hampir menerkam, kini menjauh, kecewa karena mangsanya berhasil meloloskan diri. Mulyono berdiri, menggigil, namun rasa lega mulai mengalir dalam dirinya.
"Selamat, Mulyono. Kamu berhasil," kata-kata itu muncul dalam benaknya, meskipun tubuhnya masih terasa gemetar. Ia menyadari bahwa perjalanan ini belum selesai, namun ia tahu bahwa ia sudah melewati ujian pertama. Dengan hati-hati, ia melanjutkan langkahnya menuju Gunung Karang, tidak peduli apa lagi yang akan menghadangnya. Perjuangannya baru saja dimulai.
Daftar bab
36 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








