
Aku Mendapatkan Sistem Pengganda Uang
Author Ap|Bersambung
- Jumlah kata
- 90.7K
- Popular
- 317
- Subscribe
- 57
- Jumlah kata
- 90.7K
- Popular
- 317
- Subscribe
- 57
Sinopsis
Hidup Arga benar-benar berantakan. Dipecat dari pekerjaan, ditagih utang ke mana-mana, bahkan orang yang paling ia percaya ikut mengkhianatinya. Saat merasa semuanya sudah selesai, sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya. Selamat, Anda berhasil mengaktifkan Sistem Pengganda Uang. Setiap uang yang didapat secara jujur bisa berlipat ganda, asalkan Arga mampu menyelesaikan misi yang diberikan sistem. Semakin sulit misinya, semakin besar pula uang yang akan ia dapatkan. Dari seorang pria miskin yang selalu diremehkan, Arga perlahan membangun hidupnya hingga membuat semua orang yang pernah memandang rendah dirinya hanya bisa terdiam. Namun, semakin besar kekayaan yang ia miliki, semakin banyak pula orang yang mengincar rahasia di balik kesuksesannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Dipecat dan Dipermalukan
"Arga, mulai hari ini kamu tidak usah masuk kerja lagi." Kalimat itu membuat Arga membeku di tempat.
Ia menatap pria berkemeja putih yang duduk di balik meja kaca. Manajer cabang itu bahkan tak sudi menatapnya lama. Seketika tatapannya kembali tertuju pada tumpukan berkas di atas meja, seolah memecat seorang karyawan yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun hanyalah rutinitas sepele baginya.
"Maaf, Pak... apa kesalahan saya?" tanyanya, dengan alis yang menaut erat. Tak ada angin dan hujan. Tiba-tiba saja ia diberhentikan dari pekerjaan yang selama ini ia perjuangkan setengah mati.
"Bukan soal salah atau benar. Perusahaan sedang melakukan efisiensi." Manager itu berkata dengan santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Arga mengepalkan tangannya erat, menahan amarah yang meluap. "Kalau benar efisiensi, kenapa hanya saya satu-satunya yang dikeluarkan?" Ia berusaha protes, mempertahankan pekerjaan itu.
Manajer menghela napas panjang, seolah lelah menjawab pertanyaan sederhana. "Kamu mau jawaban jujur?" tanyanya, menatap Arga malas. Seolah ingin semua pertemuan ini selesai.
Arga mengangguk pelan. Tentu saja ia membutuhkan jawaban itu. Karena setahunya, ia tidak pernah membuat kesalahan. Selalu mengerjakan tugas dengan benar, selalu datang tepat waktu.
"Kursi kamu sudah ada yang mengisi," kata manajer itu akhirnya.
"Siapa?" Kening Arga makin mengkerut. Penasaran siapa yang menggeser posisinya.
"Rio."
Mata Arga langsung membulat tak percaya.
Rio adalah sahabat karibnya sendiri. Mereka masuk perusahaan di hari yang sama, berbagi beban lembur, bahkan sering saling menolong saat kesulitan.
"Tidak mungkin..." gumam Arga tak percaya, kepalanya spontan menggeleng kecil. Benar-benar tak percaya dengan nama yang dilontarkan manager itu.
Manajer kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi empuk. "Dia direkomendasikan langsung oleh pemegang saham baru. Kamu sendiri tahu bagaimana kerasnya dunia kerja ini."
Hati Arga terasa seperti dihantam palu besi seketika. Tak heran beberapa hari terakhir Rio selalu menghindar, sering berbohong soal kesibukan, dan enggan bertemu dengannya. Ternyata sejak awal, sahabat yang selama ini ia percaya sepenuh hati sedang menunggu momen tepat untuk menyingkirkannya.
"Silakan tanda tangani surat pengunduran diri ini." Manajer itu menyerahkan selembar kertas pernyataan pengunduran diri atas nama Arga. Untuk sesaat ia terpaku, diam tak berniat untuk menandatangani surat itu.
"Kalau tidak mau, silakan saja. Tapi ingat, pesangon tidak akan saya keluarkan sepeser pun." Manajer itu kembali bersuara, Arga kembali mengangkat kepalanya.
Arga tertawa hambar. Lucu sekali. Orang yang tak punya kuasa dan uang memang tidak pernah punya pilihan.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengambil pulpen, lalu menandatangani surat itu tanpa membacanya lagi.
Beberapa menit kemudian, ia melangkah keluar dari gedung perusahaan megah itu hanya membawa sebuah kardus berisi barang-barang pribadinya. Langkahnya terasa seberat memikul beban dunia.
Tepat di luar gerbang, Rio sudah menunggu. Ia bersandar santai pada mobil barunya, sambil memainkan gantungan kunci dengan senyum canggung.
"Ga..."
"Maaf ya," ucap Rio pelan. Tanpa rasa bersalah sedikitpun. Bahkan wajahnya terlihat lebih pongah dari biasanya. Itu bukan Rio yang ia kenal.
Arga menatapnya datar, tanpa percikan emosi sedikit pun. "Sejak kapan?" tanyanya, dengan suara nyaris seperti bisikan.
"Apa maksudmu?"
"Sejak kapan kamu mulai menusukku dari belakang?" Arga langsung berkata to the point. Ia ingin mendengar langsung alasan Rio.
Rio terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangkat bahu dengan sikap tak bersalah.
"Coba lihat dari sisi lain. Aku cuma memanfaatkan kesempatan yang ada," ucapnya santai, tanpa beban.
"Kesempatan untuk merebut pekerjaan teman sendiri?" Kali ini Arga berkata tanpa ekspresi. Menatap Rio lekat.
"Dunia ini keras, Arga. Yang lemah memang harus tersingkir."
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada surat pemecatan yang baru saja ia terima. Rio membuka pintu mobil dan hendak masuk, lalu menurunkan kaca jendela sesaat sebelum menyalakan mesin.
"Oh iya, lupa bilang. Utang lima puluh juta kamu, jangan lupa dilunasi bulan ini. Aku juga sedang butuh uang mendadak."
Mobil melaju pelan, lalu menjauh meninggalkan Arga yang masih terpaku di trotoar. Sahabatnya mengambil pekerjaannya. Lalu masih sempat menagih utang.
"Hahaha..."
Tawa kecil keluar dari bibirnya, kering dan getir. Entah ia sedang menertawakan nasib buruknya, atau kebodohannya sendiri terlalu mudah mempercayai orang lain.
Tiba-tiba ponsel di saku kemejanya bergetar. Nama yang tertera di layar membuat napasnya tercekat. Ya, itu panggilan dari ibunya di kampung.
Arga segera mengangkat panggilan itu. Sebelum bersuara ia sedikit berdeham agar suaranya tidak terdengar serak.
"Halo, Bu?"
"Arga, kamu sedang kerja kan, Nak?" Suara ibunya terdengar dari seberang sana.
"Iya, Bu." Ia berbohong. Tak tega jika harus membuat ibunya yang sedang sakit khawatir.
"Maaf ya mengganggu. Tadi Ibu ke Puskesmas, kata dokter obat Ibu sudah habis dan harus beli stok baru."
Arga memejamkan mata rapat. "Berapa biayanya, Bu?" tanyanya, pelan. Karena ia tahu, untuk saat ini jangankan untuk beli obat, untuk makan saja susah.
"Kata dokter sekitar delapan ratus ribu rupiah."
Jantungnya serasa diremas kuat. Ia tahu, di rekening banknya saat ini bahkan belum sampai seratus ribu rupiah.
"Nanti Arga transfer secepatnya." Arga berkata mantap, agar ibunya percaya dan tidak khawatir. Meskipun ia sendiri tahu, entah dari mana mendapatkan uang sebanyak itu.
"Ibu tidak memaksa kok. Kalau belum ada uang, tidak apa-apa ditunda dulu." Ibunya berkata lirih diseberang saja, bahkan terdengar sesekali terbatuk kecil.
"Iya, Bu. Nanti dikirim." Arga kembali meyakinkan. Dengan begitu, panggilan pun berakhir. Matanya masih tertuju pada layar ponselnya yang mulai redup.
Arga perlahan duduk di bangku halte terdekat. Tatapannya kosong menatap aspal jalanan.
Dipecat tanpa alasan jujur. Ditinggalkan dan dikhianati sahabat. Memiliki utang yang harus segera dilunasi. Ibunya butuh biaya pengobatan. Dan uang yang ia miliki nyaris tak ada artinya.
Arga masuk ke akun bank, melihat jumlah saldo yang ia miliki. Dan Yap, Arga terpaku melihat total saldo yang tertera di layar ponselnya.
Saldo Anda saat ini: Rp73.428
Arga tersenyum pahit. "Bahkan untuk bertahan hidup seminggu saja ini tidak cukup."
Saat itulah, langit seolah bergemuruh. Bukan karena awan mendung, melainkan suara lantang dan asing yang menggema tepat di dalam kepalanya sendiri.
'Memindai kecocokan pengguna...'
Arga langsung berdiri kaget, menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Apa itu? Siapa bicara?" Arga terlihat terkejut sekaligus panik.
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan tegas.
'Kecocokan mencapai 100%'
'Selamat. Anda terpilih sebagai pengguna Sistem Pengganda Uang.'
Arga membeku seketika. Kakinya lemas, napasnya tertahan. Matanya liar ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada siapa-siapa di sana.
"Apa... aku mulai halusinasi karena kelaparan dan stres?"
Daftar bab
82 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








