
The Next King of Dramokar
Mona Cim|Tamat
- Jumlah kata
- 116.7K
- Popular
- 1.2K
- Subscribe
- 76
- Jumlah kata
- 116.7K
- Popular
- 1.2K
- Subscribe
- 76
Sinopsis
Persaingan ketat empat pangeran Dramokar untuk memperebutkan gelar putra mahkota digegerkan kedatangan cucu angkat seorang guru raja sebelumnya yaitu Bin Woo. Awalnya Bin Woo hanyalah pelayan khusus merawat tanaman mending ratu. Namun, sebuah mimpi aneh yang dialami raja tentang Bin Woo, membuat Bin Woo diangkat menjadi Pangeran kelima.Persaingan yang semakin memanas bertambah buruk ketika sebuah fenomena aneh terjadi di Dramokar. Sebuah serangan gaib yang membuat wabah mengerikan menyebar di seluruh pelosok negeri. Untuk menghadapi keadaan negeri yang nyaris di ambang kehancuran, Raja Gong Woo Il mengeluarkan maklumat bahwa siapa saja yang mampu mengatasi keadaan buruk tersebut, dia pantas menjadi Raja Dramokar selanjutnya. Siapakah dari lima Pangeran yang mampu mendapatkan gelar raja Dramokar selanjutnya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Berburu Panah Raja
Seorang pemuda berpakaian lusuh mengendap-endap di balik semak-semak. Kedua mata sipitnya menelisik sekitar untuk memastikan tak ada seorang pun berada di sana. Senyumnya tersungging ketika wilayah sekitar dirasa aman. Pemuda itu pun keluar dari persembunyiannya.
"Saatnya berburu panah!" ucapnya semangat berlari menuju sebuah pohon. Tangan kirinya segera mencabut panah yang tertancap di sana, lalu memasukkan pada wadah panah yang tersampir di punggungnya.
Pemuda tampan dengan gerakan lincah itu bernama Bin Woo. Seorang anak angkat kakek tua yang tinggal di kaki gunung Garha. Kesehariannya hanya menangkap ikan, berburu panah bekas prajurit kerajaan, dan bersantai di bawah pohon rindang di atas gunung.
Bin Woo berjalan menuju aliran air yang sangat jernih. Ia melepaskan tas panah di punggungnya, lalu mulai mencuci panah-panah itu hingga bersih. Kakeknya yang bernama Arom senantiasa memperingati Bin Woo, untuk membersihkan panah terlebih dahulu. Boleh jadi panah-panah tersebut mengandung racun yang berbahaya. Oleh sebab itu Bin Woo selalu membersihkannya sebelum dibawa pulang.
Usai membersihkannya, Bin Woo berlari dengan cepat menuju tempat tinggalnya di kaki gunung.
Sebuah gubuk kecil menjadi tempat tinggalnya bersama kakek Arom terlihat dari kejauhan. Halaman yang bersih dan cukup luas itu ditanami berbagai jenis tanaman yang bermanfaat untuk kehidupan mereka. Kakek Arom tampak sedang memasak sesuatu dengan api tungku. Meski Bin Woo belum sampai di gubuk itu, tetapi Kakek Arom sudah mencium aroma anak angkatnya.
"Aroma Bin Woo tak pernah berubah sejak aku menemukannya di dalam gua keramat. Aroma itu akan membuat bergetar orang-orang terdekatnya dan orang-orang berdosa di masa lalunya."
Bin Woo menghentikan laju larinya ketika sampai di halaman rumah. Ia tersenyum lebar pada kakeknya yang duduk di atas pelatar kayu di tengah-tengah halaman.
"Tebak panah apa yang kali ini aku dapatkan, Kek!" pinta Bin Woo bersemangat.
Kakek Arom tertawa kecil sambil menoleh ke arah punggung Bin Woo, tetapi pemuda itu langsung menghindari tatapan Kakek Arom.
"Jangan mengintip! Tebak saja," protes Bin Woo. Ia mendekatkan dirinya sambil berbisik dengan nada menggoda. "Ini sangat menakjubkan," ujarnya cekikikan.
"Tunjukkan padaku langsung, Anak nakal! Aku sudah tua tak mampu menebak apapun dengan tepat."
Bin Woo langsung melepaskan tas panahnya, lalu meraih satu panah yang terlihat lebih besar dari panah lainnya. Pada pangkal panah tersebut terdapat manik berwarna merah yang berarti panah milik raja.
"Tara! Aku menemukan panah Raja! Woah ... coba Kakek lihat betapa menakjubkannya panah ini. Raja Dramokar pasti sangat menakjubkan. Betulkan, Kek?"
Kakek Arom mengangguk sambil tersenyum. "Ya. Raja Gong Woo Il memang sangat menakjubkan. Dia mampu menembakkan panah tepat pada sasarannya meski dengan jarak yang jauh. Pendengarannya sangat tajam, bahkan ia mampu mendengar detak jantung orang di sekitarnya. Soal ilmu bela diri tak dapat diragukan lagi. Oleh karenanya ia langsung dipilih menjadi raja selanjutnya oleh ayahnya sendiri. Padahal saat itu gelarnya hanyalah seorang pangeran, bukan seorang Putra makhota," tuturnya panjang lebar.
Bin Woo mendengarkan dengan saksama hingga membuat mulutnya sedikit terbuka. Ia menutup mulut itu ketika kakeknya melirik. "Hehe. Mendengar kisahnya saja aku begitu bersemangat. Bagaimana jika suatu hari aku bertemu dengannya? Tapi apa mungkin itu terjadi padaku? Rakyat jelata bahkan tak boleh mengangkat kepalanya ketika seorang raja lewat di depannya."
Bin Woo cemberut ketika mengingat kenyataan itu. Ia sudah lama ingin bertemu raja secara langsung. Dulu, tepat dua tahun yang lalu Bin Woo sempat bertemu dengan seseorang yang menggunakan panah Raja. Saat itu pria yang Bin Woo duga seorang raja tengah berkuda di hutan menghindari kejaran orang di belakangnya. Saat kuda sang raja nyaris tergelincir ke jurang, Bin Woo datang menahan tubuh pria itu. Seseorang yang mengejarnya dengan kuda hitam pun berlalu melewati mereka. Rupanya ia tak ingin membuat keributan di hadapan warga.
Bin Woo menatap lekat sosok yang ia tolong. Sebagian wajah pria itu tertutup oleh topeng hitam. Namun, tak mampu menutupi betapa tegas dan berwibawanya pria itu. Sayangnya, pria itu terburu-buru. Ia menyerahkan satu anak panahnya pada Bin Woo sebagai hadiah, lalu naik ke atas kuda yang baru saja di bawa oleh pengawalnya. Sejak saat itulah Bin Woo gemar mengumpulkan panah.
"Jika Kakek mengatakan kau bukan rakyat jelata, bagaimana?"
Pertanyaan Kakek Arom membuat Bin Woo tertawa pelan. Ia menggeleng dengan ringan. "Kakek tak perlu menghiburku seperti itu. Tak apa jika aku tak bertemu dengan raja. Aku akan menganggap orang yang bertemu denganku dua tahun yang lalu adalah dirinya," ucapnya tersenyum tipis.
Kakek Arom menatap anak angkatnya dengan tatapan penuh arti. Tanpa mengatakan apapun Kakek Arom berjalan menuju kuali besar tempat ia memasak sup ayam.
"Bin Woo, kau siapkan mangkuk besar untuk kita berdua. Kita makan banyak hari ini!"
"Benarkah? Makan banyak? Baiklah aku akan mengambil tiga mangkuk besar. Satu mangkuk untuk menampung tambahan nasi!"
Kakek Arom menghidangkan tiga ekor ayam di hadapan Bin Woo. Aroma sup ayam itu sungguh sangat menggugah selera. Bin Woo mengambil nasi hangat yang banyak, lalu memakannya dengan lahap. Tangan kirinya dengan lihai merobek daging ayam dan menjejalnya ke dalam mulut.
Kakek Arom sangat senang melihatnya. Ada rasa haru dari tatapan tua itu. Melihat Bin Woo makan dengan lahap adalah sebuah kebahagiaan baginya.
"Tumben sekali Kakek memasang banyak seperti ini. Biasanya Kakek akan sangat pelit. Satu ekor ayam untuk makan berdua. Jika tidak, Kakek akan menyuruhku menangkap ikan terlebih dahulu. Ada apa ini?" sindir Bin Woo.
"Memangnya mengapa? Kau tak senang Kakek berbuat baik untukmu sekali saja?"
Bin Woo menunjukkan cengirannya sambil menggeleng. "Tolong bersikap baiklah selalu. Jika aku tumbuh menjadi lelaki yang perkasa, aku akan melindungi kakek dari siapapun dan apapun itu. Siluman? Aku akan melenyapkannya. Orang jahat? Aku akan memanahnya. Hantu? A-aku ... akan berdoa agar arwahnya lekas tenang dan tidak mengganggu Kakek lagi. Aku sungguh akan melindungi Kakek. Jadi berilah aku makan yang banyak tiap hari. Bisa bukan, Kek? Hehe."
Kakek Arom berdecih pelan mendengar ucapan penuh percaya diri Bin Woo. Anak itu selalu melakukannya untuk mencairkan suasana.
"Gunakan tangan kananmu ketika makan, Bin Woo. Kakek sudah mengajarimu tentang itu," tegur Kakek Arom lembut.
Bin Wo langsung melepas sendok di tangan kirinya, lalu mencoba memegang dengan tangan kanan. "Maafkan aku, Kek. Aku terlalu bersemangat dan melupakannya," ujarnya tertawa.
"Kau harus makan yang banyak sebelum ikut dengan Kakek ke tempat yang bagus."
Bin Woo menghentikan sejenak kegiatannya merobek dada ayam. Ia menatap lekat Kakek Arom dengan sarat akan kebingungan.
"Memangnya letaknya sangat jauh? Kakek ingin membawaku ke mana?"
"Bertemu raja," sahut Kakek Arom membuat Bin Woo terkejut bukan main.
Daftar bab
110 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
110 bab








