

Tirtaswara membuka matanya perlahan.
Pandangan matanya buram. Tangan dan kakinya terikat kuat. Bajunya compang-camping, berlumur darah dan lumpur. Dinginnya udara malam membuat memar bekas pembantaian di tubuhnya semakin nyeri.
Sementara itu, dua prajurit menyeret tubuhnya yang lunglai dengan sembrono, mengira dia masih pingsan. Sesekali kakinya terantuk batu dan akar pohon di jalan setapak itu.
"Keluargaku pedagang, lebih mulia daripada anak petani bau tanah ini. Raja pasti halu waktu mengangkatnya. Jelas-jelas dia cuma cocok jadi panglima di kandang sapi!" Prajurit pertama mencemooh dengan nada sinis.
"Pantas saja Putri Anindya sampai muntah karena jijik. Mana ada bangsawan yang sudi punya menantu sampah sawah begini?" balas prajurit lainnya sambil tertawa menghina.
Tirtaswara menggertakkan gigi mendengarnya!
Betapa ironisnya.
Dia, panglima perang Lestara yang berjasa melindungi kerajaan dari serangan bangsa Barbar, kini diseret seperti bangkai!
Terlahir dari keluarga petani, jalannya menggapai posisi ini di usia sembilan belas tahun adalah proses yang penuh luka dan perjuangan.
Berkali-kali dia diperlakukan tidak adil, menerima latihan paling keras di gelanggang militer, bahkan diusir dari perguruan bela diri karena tidak mampu membayar.
Beruntung dia diberkati kejeniusan sehingga menguasai ilmu militer dan berbagai jurus bela diri hanya dengan sekali lihat.
Atas jasa besarnya, raja menganugerahinya gelar bangsawan dan menikahkannya dengan Anindya, putri Adipati Mahendra, penasihat utama kerajaan.
Namun, bagi keluarga Mahendra, menikahkan putri mereka dengan keturunan petani adalah aib memalukan!
Jadi, di sinilah dia berakhir?
Mereka menjebaknya dengan dalih mengundangnya menghadiri jamuan kehormatan, tapi dia justru dibius, diikat, dan disiksa dengan kejam.
"Tinggal buang ke laut, selesai urusan," kata seorang prajurit dengan nada meremehkan.
Tirtaswara bisa merasakan mereka mendekati tepi tebing begitu mendengar suara ombak menghantam karang.
Saat aroma garam bercampur darah dari tubuhnya tercium tajam, kepalanya yang pening segera bekerja keras mencari cara bertahan hidup.
Namun, tiba-tiba sebuah batu besar diikatkan ke kakinya, memastikan dia mati tenggelam setelah dilempar ke laut.
"Kamu sudah sadar rupanya?"
Melihatnya memberontak sekuat tenaga, para prajurit tertawa bengis menikmati penderitaannya.
"Tamat riwayatmu, Panglima. Nikmatilah lautan ini!"
Bugh!
Tubuhnya dijatuhkan. Batu-batu tajam dan dingin di sisi tebing menghantamnya berkali-kali sebelum akhirnya dia terhempas ke lautan. Tulangnya remuk redam. Pemberat di kakinya segera menariknya tenggelam.
Tirtaswara mengetatkan rahangnya, amarah menjalar di seluruh nadinya.
Yang mengkhianatinya bukan musuh, melainkan istrinya sendiri! Dia disingkirkan dan dianggap tidak pantas oleh orang-orang yang seharusnya menghormatinya!
"Beginikah akhirnya? Aku yang sudah bertarung berdarah-darah demi kerajaan ini, ... kenapa ... kenapa kalian membunuhku seperti ini!"
Dia menahan napas, berusaha bergerak meski terikat erat. Namun, dinginnya lautan membuat tubuhnya kaku dan kejang. Luka-lukanya terasa perih tersiram garam, sementara paru-parunya seperti terbakar, kekurangan udara dan tertekan air.
Semua perjuangan dan pengorbanannya selama ini terasa sia-sia. Kini dia bahkan tidak berdaya menyelamatkan hidupnya sendiri!
Menyesal tiada guna. Dia sudah pasrah menerima takdirnya.
Namun, tiba-tiba sesuatu menyentaknya sehingga matanya terbuka lebar seketika.
"Apa ... aku ... sudah mati?"
Tubuhnya tidak lagi berada di kegelapan laut yang dingin, tapi pemandangan di hadapannya membuat jiwanya gemetar hebat!
Sebuah bangunan besar menyerupai perpustakaan menjulang megah dengan pilar-pilar tinggi penuh ukiran arcaik. Dindingnya bertatah mosaik emas yang memantulkan cahaya samar dari entah mana. Rak-rak raksasa berjajar rapi dipenuhi kitab tebal yang memancarkan aura misteri.
"A-apa ini halusinasi menjelang kematian?"
Tirtaswara menelan ludahnya susah payah.
Di ambang maut, ketakutan akan mati masih kalah menyakitkan dibanding kenyataan bahwa istrinya sendiri yang telah mendorongnya ke titik ini!
Selain dirinya, tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti ikan ataupun makhluk laut lainnya. Hanya sunyi yang menekan dada, membuat perpustakaan ini terasa memukau dan mengancam di saat yang bersamaan.
"Akh ... a-apa yang terjadi?"
Telinganya berdengung kuat. Kepanikan seketika menyelimutinya kala merasakan getaran kuat yang mengguncang laut. Waktu seakan melambat ketika air di sekitarnya mendadak membentuk gelombang raksasa yang sangat mengerikan.
Arus ganas menyeretnya dengan sangat gila hingga seluruh ikatan di tubuhnya terlepas begitu saja.
"Ughh! Uhuk ...!"
Dia terbatuk keras merasakan air asin mengalir dari sudut bibirnya, meninggalkan rasa pahit yang melekat di lidah. Entah berapa lama terombang ambing di lautan, yang jelas kini dia sudah terbaring di atas permukaan pasir pantai yang kasar dan lembab.
Perlahan, dia membuka mata.
Secercah cahaya matahari menyilaukan, laut terhampar di hadapannya, dan ombak terdengar tenang. Sisa air laut lengket di kulitnya, angin asin berembus mengeringkan luka-lukanya.
"Shh ..." ringisnya merasakan kepalanya berdenyut dan pandangannya bergoyang.
Hangat mentari pagi menjalar di tubuhnya, terasa kontras dengan dinginnya lautan.
"Di mana ini?" bisiknya kepada diri sendiri, mencoba bangkit duduk meski tubuhnya terasa sangat berat. Dadanya perih setiap menarik napas.
Saat menoleh ke sekitar, dia tertegun menemukan ada tujuh kitab yang sangat tebal tergeletak mengitari tubuhnya, masing-masing tampak setebal ribuan halaman.
"Kitab apa ini?" gumamnya serak merasa tenggorokannya tidak nyaman.
Ketujuh kitab itu kokoh dan warnanya masih sangat cerah.
"Jangan-jangan ini dari perpustakaan bawah laut tadi? Artinya semua yang aku lihat itu nyata ... bukan mimpi?"
Pupil matanya membesar akibat keterkejutan, lalu segera meraih satu yang terdekat dari jangkauannya.
Kitab itu terasa hangat, keras, licin, dan berat. Ukiran emas bertuliskan 'Medika Corpus' di sampulnya berpendar saat terkena sinar matahari.
"Kertasnya tipis, tapi sangat kuat dan tahan air. Sudah tenggelam entah berapa lama, tintanya nggak luntur, nggak ada yang robek atau pudar."
Ditatapnya ketujuh kitab itu penuh kekaguman cukup lama.
"Aku belum tahu kitab apa semua ini, tapi aku harus menyimpannya dengan baik. Firasatku mengatakan, ini akan sangat membantuku."
Mendadak kemungkinan liar melintas di benaknya!
"Mungkinkah ini ... warisan peradaban modern? Sebuah peninggalan dari masa yang disebut-sebut legenda?"
Dia menelan ludah. Perasaan gugup menderanya.
Siapa yang tidak pernah mendengar kisah tentang peradaban modern ribuan tahun silam?
Konon manusia saat itu hidup dengan keajaiban di luar nalar. Mereka terbang melintasi langit menggunakan burung besi raksasa, bahkan mengobrol dari jarak jauh hanya lewat benda pipih kecil bercahaya.
Namun, akibat ketamakan manusia, perang besar terjadi hingga memusnahkan segalanya
"Kalau kitab ini benar-benar peninggalan peradaban yang hilang, artinya kehidupan manusia modern pasti jauh lebih mudah, bahkan melampaui kaisar zaman ini."
Jantungnya berdegup kencang memikirkan semua itu.
Bayangkan saja, alat terbaik sekarang hanyalah pedang baja tempa, busur kayu, dan kuda cepat. Manusia hidup dengan bertani, berburu, dan berperang menggunakan senjata yang kasar. Tidak ada cahaya buatan, bangunan tinggi pencakar langit, maupun perangkat canggih.
Maka tidak heran banyak orang menganggap cerita peradaban modern hanyalah dongeng khayalan para pengembara. Karena dalam kerasnya kehidupan sekarang, siapa yang bisa percaya semua itu nyata?
Namun, kini pandangannya sudah berbeda. Matanya menyala hingga suaranya bergetar karena ambisi yang begitu besar.
"Kalau aku menguasai kitab-kitab ini, artinya membangun kembali peradaban bukan hal mustahil!"
Hidup sulit sejak kecil menempa mentalnya menjadi tangguh. Meskipun baru saja nyaris mati, dia tidak akan berlama-lama terpuruk!
Tuhan memberinya kesempatan bangkit dengan memberkahinya serpihan ilmu para leluhur modern.
Mana mungkin dia menyia-nyiakannya?