Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SANG PENJAGA GERBANG NUSANTARA

SANG PENJAGA GERBANG NUSANTARA

Sena Naraya | Bersambung
Jumlah kata
49.0K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / SANG PENJAGA GERBANG NUSANTARA
SANG PENJAGA GERBANG NUSANTARA

SANG PENJAGA GERBANG NUSANTARA

Sena Naraya| Bersambung
Jumlah Kata
49.0K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalDunia GaibSupernaturalPewaris
Raka, mahasiswa biasa di Jogja. Hidupnya damai, sampai malam itu. Kematian mendadak kakeknya meninggalkan warisan aneh: sebuah keris tua berdenyut. Tanpa sengaja, Raka membuka Gerbang Pertama Nusantara. Sejak itu, tuyul, kuntilanak, dan siluman bangkit dari tidur panjangnya. Mereka mengincar Raka. Kini Raka harus memilih. Bersembunyi, atau menjadi "Sang Penjaga" yang ditakdirkan untuk menutup gerbang neraka itu. Padahal dia bahkan belum bisa mengendalikan keris di tangannya.
BAB 1: KERIS DI PETI TUA

Hujan deras mengguyur Jogja malam itu.

Air menghantam genteng seng kamar kos Raka dengan suara berisik. Angin dari arah Gunung Merapi membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Lampu jalan di luar berkedip, lalu mati. Satu-satunya penerangan di kamar itu hanyalah lampu neon kuning yang mendengung pelan. Sesekali terdengar suara adzan dari masjid jauh yang tenggelam oleh gemuruh hujan.

Raka duduk di depan peti kayu tua peninggalan kakeknya. Peti itu sudah ada sejak Raka kecil. Dulu kakek selalu bilang, "Jangan dibuka sebelum waktunya, Rak."

Sekarang kakek sudah tiada.

Bau kemenyan dan debu bercampur di kamar kos sempitnya. Bau itu membuat dada Raka sesak. Sudah tiga hari sejak pemakaman kakek. Tiga hari sejak kalimat terakhirnya yang aneh, diucapkan dengan napas terakhir di rumah sakit: "Jaga gerbangnya, Rak..."

Raka masih ingat jelas malam itu. Ruang ICU yang dingin, bau antiseptik yang menusuk hidung, suara alat medis yang berdetak pelan, dan genggaman tangan kakek yang tiba-tiba mengerat. Kulit tangan kakek keriput, dingin, tapi genggamannya kuat. Mata kakek yang sudah sayu itu menatapnya dalam-dalam. "Dunia ini tidak sesederhana yang kamu lihat, Rak. Ada gerbang. Ada penjaga. Dan sekarang... giliranmu." Setelah itu napasnya berhenti. Detak di monitor berubah jadi garis lurus panjang.

Sejak saat itu Raka tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam ia bermimpi tentang pintu-pintu besar dari batu, dijaga oleh bayangan-bayangan hitam. Pintunya ada sembilan. Di tengah mimpinya selalu ada keris ini. Keris yang sama yang ada di peti. Keris itu selalu berdenyut memanggil namanya.

Raka mengusap tutup peti itu. Kayunya kasar, dingin, dan ada ukiran samar yang sudah termakan waktu. Ukiran itu berbentuk lingkaran dengan 9 titik di dalamnya. Kakek pernah bilang itu simbol "Sembilan Gerbang Nusantara". Gerbang yang menghubungkan dunia manusia dan dunia lain. Dulu Raka mengira itu cuma dongeng pengantar tidur. Cerita buat nakut-nakutin biar dia nurut.

Tangannya gemetar saat membuka gembok yang sudah berkarat. Krek. Gembok itu lepas dan jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Debu beterbangan, membuat Raka batuk kecil. Di dalam peti ada lapisan kain beludru merah yang sudah lapuk. Wangi cendana dan kemenyan keluar dari sana.

Di dalamnya, hanya ada satu benda. Sebuah keris.

Bukan keris biasa.

Bilahnya memancarkan cahaya biru redup, seperti bernafas. Terang-redup. Terang-redup. Panjangnya sekitar 30cm, dengan sarung kayu jati yang ukiran naganya sudah memudar. Di gagangnya terukir aksara Jawa yang Raka tidak mengerti. Tulisan itu seperti bergerak kalau dilihat lama-lama. Tapi entah kenapa, dadanya terasa hangat saat melihatnya. Seperti ada yang memanggil dari dalam bilah itu. Seperti suara kakek yang berbisik dari kejauhan. "Akhirnya..."

"Keris apaan ini..." gumam Raka. Suaranya bergetar.

Ia teringat masa kecilnya. Bagaimana kakek mengajarinya mencuci keris setiap Jumat Kliwon. Bagaimana kakek bercerita tentang kerajaan gaib di bawah Tanah Jawa. Tentang Leak, Tuyul, Genderuwo, dan para Penjaga Gerbang. Dulu Raka hanya tertawa sambil main HP. Sekarang semua cerita itu terasa nyata. Terlalu nyata. Dan dia adalah bagian dari cerita itu.

Ia mengangkat keris itu perlahan. Begitu ujung jarinya menyentuh gagang, seketika angin dingin masuk dari celah jendela. Padahal semua jendela sudah tertutup rapat. Tirai putih bergerak-gerak sendiri. Suhu di kamar turun drastis. Napas Raka keluar seperti asap.

Lampu neon di atasnya berkedip dua kali. Kret-kret. Lalu padam.

Gelap.

Hanya cahaya biru dari keris yang menerangi kamar. Cahaya itu memantul di dinding, membuat bayangan Raka memanjang dan aneh. Jantungnya berdegup kencang. Bau kemenyan tadi tiba-tiba berubah menjadi bau tanah basah dan besi. Bau darah.

Tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara.

Kletek... kletek...

Seperti kuku kecil mencakar genteng seng.

Disusul tawa kecil. Cekikikan. Suaranya melengking, memecah suara hujan.

Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia berjalan pelan ke jendela dan membuka gorden dengan satu tangan. Tangan satunya masih menggenggam keris erat-erat. Jari-jarinya sampai memutih.

Di atas pohon mangga depan kos, duduk sesosok makhluk.

Tingginya tidak sampai 1 meter. Tubuhnya kurus kerempeng, tulang rusuknya kelihatan. Kulitnya pucat seperti mayat yang direndam air. Kepalanya botak mengkilat kena hujan. Matanya merah menyala, menatap lurus ke arah Raka tanpa berkedip. Di tangannya menjuntai kantong kain kecil berwarna hitam. Dari kantong itu keluar suara gemerincing koin.

Tuyul.

Darah Raka serasa berhenti mengalir. Kakeknya dulu sering cerita tentang makhluk seperti ini. Pencuri. Penghisap sari. Penjaga pintu gerbang. Makhluk itu bekerja untuk "mereka" yang ada di balik gerbang. Mereka yang ingin masuk ke dunia manusia.

"Tidak mungkin..." bisik Raka.

Tuyul itu menyeringai, memperlihatkan gigi runcing yang kotor. Lidahnya menjilat bibir. Lalu ia melompat turun dari dahan dan berlari cepat ke arah pintu kos Raka. Gerakannya tidak wajar, seperti merangkak tapi cepat. Meninggalkan jejak air di tanah.

Brak!

Pintu digedor dari luar. Tiga kali. Kuat. Kayu pintu bergetar.

Raka refleks mundur. Keris di tangannya tiba-tiba bergetar. Semakin kuat. Garis-garis biru di bilahnya menyala terang, menjalar seperti urat nadi. Panas. Hangat itu menjalar ke telapak tangan Raka sampai ke lengan. Sampai ke dadanya. Sampai ke jantung.

"Apa-apaan ini!" Raka hampir menjatuhkan keris itu.

Gedoran berhenti. Diganti suara bisikan. Banyak suara. Bertumpuk-tumpuk. Berbisik dalam bahasa yang tidak Raka mengerti. Kadang Jawa Kuno, kadang seperti desis ular.

Dari arah dapur. Dari bawah tempat tidur. Dari balik lemari. Dari dalam tembok.

Kamar kosnya yang biasanya sepi, kini terasa penuh. Dindingnya seperti menyempit. Udara menjadi berat. Sulit bernafas.

Raka ingat pesan kakek. "Kalau kerisnya panas, berarti gerbangnya terbuka."

Gerbang apa?

Lantai kayu di bawah kakinya bergetar. Debu beterbangan. Dari tengah kamar, muncul retakan. Retakan hitam. Tidak ada cahaya, tidak ada suara. Hanya kegelapan pekat yang menghisap. Seperti sobekan di udara. Udaranya berputar pelan, menarik kertas-kertas di meja Raka. Buku catatan terbang dan tersedot masuk.

Dan dari dalam sobekan itu, keluar tangan. Tangan kurus, berkuku panjang dan hitam, dengan kulit yang mengelupas. Jari-jarinya meraba-raba udara, mencari.

Raka berteriak. Tanpa sadar ia mengayunkan keris ke depan.

Wuuus!

Cahaya biru menyambar dari ujung keris. Menghantam tangan itu. Terdengar jeritan melengking yang membuat telinga Raka berdengung. Jeritan itu bukan suara manusia. Tangan itu menghilang, ditarik kembali ke dalam retakan dengan paksa.

Retakan itu menutup dengan suara seperti kain disobek. Meninggalkan bekas hangus berbentuk lingkaran di lantai. Di tengah lingkaran itu ada simbol yang sama dengan di peti. 9 titik.

Sunyi.

Hanya suara hujan yang kembali terdengar. Cisss... cisss... Lampu menyala lagi. Berkedip sekali, lalu terang.

Raka terengah. Keringat dingin membasahi punggungnya sampai basah. Kakinya lemas. Keris di tangannya sudah tidak bergetar lagi. Cahayanya padam. Kini hanya terlihat seperti keris tua biasa.

Pintunya masih tertutup. Tapi di luar, suara cekikikan tuyul itu sudah tidak ada.

"Jaga gerbangnya..."

Kata-kata kakek terngiang lagi di kepala Raka. Lebih jelas sekarang. Bukan bisikan orang sekarat. Tapi perintah. Sebuah takdir.

Ia melihat ke keris. Di bilahnya kini muncul satu goresan baru. Seperti tanda. Satu garis lurus bercahaya redup.

HP Raka bergetar di atas meja. Layarnya menyala sendiri. Pesan dari nomor tidak dikenal.

GERBANG PERTAMA: TERBUKA.

SISA WAKTU: 100 HARI.

PENJAGA: RAKA WIJAYA.

Raka melempar HP nya. Buk! "Ini gila. Ini mimpi," katanya sambil memegangi kepala. "Aku mahasiswa biasa. Aku cuma mau lulus."

Tapi bekas hangus di lantai itu nyata. Dan keris ini nyata. Beratnya di tangan terasa nyata.

Tiba-tiba ada ketukan pelan di pintu.

Tok... tok...

"Raka? Kamu di dalam?" Suara perempuan. Teman kampusnya. Sinta.

Raka menarik napas panjang. Ia menyembunyikan keris di balik baju, di pinggangnya. Tangannya masih gemetar.

"Iya, Sin. Tunggu sebentar."

Saat membuka pintu, Raka melihat Sinta berdiri dengan payung basah. Rambutnya basah kuyup. Di belakangnya, lorong kos gelap. Lampu lorong mati.

Tapi di ujung lorong, sekilas Raka melihat bayangan hitam tinggi besar mengintip dari balik tembok. Tingginya sampai ke langit-langit.

Matanya merah.

Bayangan itu mundur ke dalam gelap sebelum Sinta sempat menoleh.

Sinta mengerutkan dahi. "Kamu kenapa? Pucat banget. Dan... bau apa ini? Bau kemenyan?"

Raka memaksakan senyum. "Enggak apa-apa. Masuk dulu. Hujan deres banget ya."

Saat pintu ditutup, Raka melirik ke keris di pinggangnya. Goresan pertama di bilah itu berdenyut pelan.

Dalam hati Raka berkata: Aku tidak siap. Tapi sepertinya... dunia tidak akan tanya aku siap atau tidak.

Perjalanan "Sang Penjaga Gerbang Nusantara" baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca