

Hujan tidak turun malam itu.
Satya selalu ingat detail itu bahwa langit bersih, bahwa bintang-bintang ada di tempatnya, bahwa angin bertiup cukup untuk menggerakkan tirai tipis di j3ndela kamar. Segala sesuatunya terasa normal. Bahkan terlalu normal untuk sebuah malam yang akan mengubah segalanya.
Ia pulang lebih awal dari biasanya.
Tidak ada alasan khusus. Urusan dagang di p3labuhan beres lebih cepat, perahu pengiriman tepat waktu, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Satya merasa tidak ada yang perlu ia kejar. Ia berjalan pulang dengan langkah santai, m3lewati gang-gang sempit yang sudah hafal di luar kepala, membeli dua potong kue dari pedagang tua di ujung jalan karena isterinya suka manis-manis, dan tiba di depan pintu rumahnya dengan perasaan biasa yang menyenangkan.
Rumah yang ia bangun s3ndiri selama delapan tahun. Bukan dari warisan, bukan dari pinjaman. Dari kerja, dari hitung-hitungan yang tepat, dari kepercayaan yang ia rawat seperti tanaman perlahan, sabar, konsisten.
Ia buka pintu.
Dan di situlah semuanya mulai berubah.
Bukan kar3na ia melihat sesuatu yang dramatis. Tidak ada tangisan, tidak ada perkelahian, tidak ada pria lain yang berdiri di tengah ruangan. Yang ada hanya istrinya. P3rempuan yang ia nikahi empat tahun lalu di bawah pohon beringin besar dekat rumah orang tuanya, sedang duduk di meja dengan beberapa lembar kertas di depannya. Tangannya bergerak cepat. Penanya sibuk.
Satya berdiri di ambang pintu.
Sesuatu di dalam dadanya bergerak. Bukan detak jantung yang kencang, bukan panas di leher seperti ketika marah. L3bih seperti tarikan halus insting pedagang yang sudah belasan tahun membaca situasi sebelum bicara.
Ada yang tidak beres.
Ia tidak masuk langsung. Ia berdiri di sana, diam, dan m3ngamati. Cara istrinya menulis terlalu cepat untuk sekadar surat biasa. Cara tangannya sesekali berhenti, menghitung sesuatu, lalu menulis lagi. Cara ia tidak mendengar langkah Satya sama sekali, atau mungkin tidak mengira ia akan pulang secepat ini.
Satya m3letakkan dua potong kue di rak dekat pintu dengan sangat pelan.
Lalu ia berjalan ke samping, mengambil jalan memutar menuju ruang penyimpanan di belakang, di mana ia tahu. Karena ia yang membangun rumah ini, ada celah sempit di antara dinding kayu yang t3mbus pandang ke ruang tengah.
Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Mungkin karena instingnya sudah bicara lebih keras dari akalnya.
Yang ia lihat dari c3lah itu membuatnya berdiri sangat diam selama beberapa menit.
Bukan surat biasa. Bukan catatan belanja, bukan daftar utang pedagang langganan. Yang ada di meja itu adalah dokumen yang Satya kenali betu. Ia yang membuat sistemnya, ia yang mengajarkan istrinya cara membacanya dua tahun lalu ketika ia mulai melibatkannya dalam urusan dagang.
Catatan as3t. Daftar rekening. Surat kuasa yang belum ditandatangani.
Dan di sudut meja, tersembunyi di bawah tumpukan kertas lain yang sengaja ditaruh di atasnya. Amplop tebal dengan tulisan tangan yang bukan tulisan istrinya.
Satya tidak perlu melihat lebih jauh.
Ia sudah tahu.
Ia kembali ke pintu depan. Ia ambil dua potong kue dari rak. Ia masuk ke ruang tengah dengan langkah normal, d3ngan senyum yang ia pasang seperti biasa, dan ia letakkan kue itu di sisi meja tempat istrinya duduk.
"Pulang cepat," katanya.
Istrinya terkejut, cepat menyembunyikan amplop itu di bawah setumpuk kertas. Wajahnya ters3nyum, senyum yang sudah empat tahun Satya hafal betul, senyum yang pernah ia pikir adalah hal paling tulus yang pernah ia lihat.
"Iya, tadi urusan apa sudah beres?"
"Beres." Satya duduk di kursi seberang. "Kamu lagi ngerjain apa?"
"Catatan p3ngeluaran bulan ini." Tangannya ringan menekan tumpukan kertas itu, merapikannya seolah tidak ada yang disembunyikan. "Kamu mau makan dulu?"
Satya menatapnya.
Bukan tatapan marah. Bukan tatapan curiga yang berapi-api. Hanya tatapan yang mengamati seperti yang selalu ia lakukan ketika membaca orang di meja n3gosiasi. Pelan, sabar, tidak terburu-buru.
"Belum lapar," katanya. "Duduk dulu."
Ia tidak konfrontasi malam itu.
Bukan karena ia tidak tahu caranya. Bukan kar3na ia takut. Tapi karena Satya adalah pedagang, dan pedagang yang baik tidak pernah membuka semua kartu di tangan pertama. Ia perlu tahu lebih banyak. Ia perlu yakin. Ia perlu memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan kesalahan bacanya sendiri.
Malam itu ia tidur di sisi kanannya seperti biasa. Istrinya tidur di kirinya s3perti biasa. Lampu dipadamkan. Suara jangkrik dari halaman belakang masuk pelan.
Tapi mata Satya tidak terpejam.
Di dalam kepalanya, ia sedang bekerja.
Tiga hari berikutnya ia habiskan dengan sangat hati-hati.
Ia tidak mengubah apapun dari rutinitasnya. Pergi pagi, pulang sor3, bicara seperlunya, makan bersama, tidur di sisi yang sama. Tapi di sela-sela itu, dengan cara yang tidak menimbulkan kecurigaan, ia mulai memeriksa.
Buku catatan dagang yang biasa ia simpan di laci meja kerja. Neberapa halaman sudah difotokopi, ia bisa melihat bekas lipatan. Stempel resmi yang ia simpan di kotak kayu kecil, ada bekas tinta segar di pinggirannya yang tidak cocok dengan tanggal terakhir ia gunakan. Rekening di p3labuhan ketika ia mampir dengan alasan urusan biasa, juru tulis di sana menatapnya dengan ekspresi aneh sebelum cepat memalingkan muka.
Ada yang sudah berjalan. Mungkin sudah lama.
Malam ketiga, setelah istrinya tidur, Satya duduk s3ndiri di ruang depan dalam gelap. Tidak menyalakan lampu. Hanya duduk, dengan secangkir teh yang sudah dingin di tangannya, dan membiarkan semua kepingan itu menyusun dirinya sendiri di dalam kepalanya.
Pola itu jelas. Terlalu jelas untuk ia sangkal.
Istrinya, dengan bantuan seseorang yang Satya belum tahu siapa. Sedang mempersiapkan pemindahan aset. Perlahan, sistematis, tanpa jejak yang kasar. Cara yang terlalu rapi untuk s3seorang yang tidak paham sistem. Cara yang ia sendiri yang ajarkan.
Satya minum tehnya yang sudah dingin sampai habis.
Lalu ia letakkan cangkir itu di atas meja dengan sangat pelan. Tidak membanting, tidak melempar, dan ia duduk diam lagi untuk waktu yang cukup lama.
Di dalam dadanya ada sesuatu yang sakit. Bukan amarah, amarah itu panas dan cepat. Ini lebih dingin. Lebih dalam. Seperti air yang masuk perlahan ke dalam kapal yang retak, tidak terasa sampai tiba-tiba sudah terlalu banyak.
Empat tahun.
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu bahkan di dalam kepalanya sendiri.
Malam keempat, ia pulang dengan membawa satu lembar surat.
Ia tulis sendiri siang itu di warung kopi dekat pelabuhan, dengan tangan yang tidak gemetar, d3ngan kalimat yang singkat dan tepat. Ia sudah tahu apa yang ingin ia katakan. Ia sudah tahu apa yang tidak perlu ia katakan.
To be continued...