

Prak.
Selembar foto mengkilap mendarat kasar di atas meja kaca.
Dipta menunduk. Matanya menatap gambar seorang wanita berbalut gaun merah ketat yang tercetak sangat jelas di sana.
"Nilai dia!" perintah Victor.
Suara berat pria berjas rapi itu terdengar dominan dari balik meja kerja mahoni. Jemarinya yang dihiasi cincin emas mengetuk pinggiran asbak kristal dengan tempo lambat.
Dipta berdiri kaku. Kemeja kusamnya yang berbau debu pabrik terasa sangat salah tempat di ruang VVIP lantai empat puluh Gedung Aryaguna.
"Maksud Bapak?" Dipta bertanya pelan.
Dia mengusap telapak tangannya yang kasar ke ujung celana jeans. Ada sisa oli mesin pemotong yang belum sepenuhnya hilang dari sela kukunya.
"Beri penilaian. Wajah, dada, pinggul, sampai ke kakinya. Semuanya," balas Victor santai.
Dipta mengerutkan kening. Dia memiringkan kepala, memastikan telinganya tidak salah dengar.
Bos besarnya ini memang terkenal punya banyak mau. Tapi perintah kali ini benar-benar tidak masuk akal. Apalagi, Dipta sangat mengenali siapa wanita di foto tersebut.
"Maaf, Pak. Tapi ini nyonya Giselle, kan?" tanya Dipta sambil menelan ludah. "Istri Bapak sendiri."
Dia pernah melihat wanita itu turun dari sedan mewah di lobi utama perusahaan. Wajah sendunya juga sering terpampang di sampul majalah bisnis maupun rubrik sosialita di Kota Westford.
"Aku menyuruhmu menilai fisik wanita di foto itu, Dipta. Bukan menyebutkan nama dan identitasnya."
Victor bersandar pada bantalan kursi kulitnya. Kedua matanya menatap lurus, menelusuri wajah lelah pemuda di depannya dari atas sampai bawah.
Ada tekanan berat dari sorot mata itu. Dipta sadar diri, dia hanya karyawan kelas bawah yang bisa ditendang keluar kapan saja tanpa pesangon.
"Cepat!" seru Victor.
Dipta menarik napas pendek. Dia kembali menunduk, menatap lekat-lekat foto di atas meja kaca tersebut.
Wanita di dalam foto itu memiliki rambut hitam panjang yang tergerai indah melewati bahu. Kulitnya putih bersih, sangat kontras dengan gaun merah darah yang membalut ketat tubuhnya.
"Dia... cantik, Pak," ucap Dipta ragu-ragu.
"Lebih spesifik. Aku tidak membayar gajimu untuk jawaban anak sekolahan."
Dipta mengepalkan tangannya di samping paha. Dia merasa sedang dijebak, tapi dia tidak punya kemampuan apapun untuk melawan.
"Bentuk wajahnya indah. Rahangnya tegas tapi bibirnya… penuh," kata Dipta.
"Teruskan."
"Bentuk tubuhnya sangat bagus. Dadanya berisi, pinggangnya kecil, dan pinggulnya padat. Lekuk tubuh bawahnya… sempurna bagiku."
Dipta memaksakan kata-kata itu keluar tanpa berani menatap mata Victor. Jantungnya berdebar kencang, bersiap menerima makian keras atau bahkan surat pemecatan detik ini juga.
Kelancangan menilai lekuk tubuh istri bos besar adalah tindakan bunuh diri bagi pekerja rendahan sepertinya. Namun, yang terdengar selanjutnya justru suara kekehan ringan.
Victor tersenyum puas. Pria berusia 35 tahun itu berdiri dari kursi kulitnya dan berjalan ke arah lemari besi yang tertanam kokoh di dinding ruangan.
Dipta hanya diam mengamati. Suara putaran tuas kunci kombinasi terdengar jelas.
Pintu brankas baja itu terbuka. Victor mengeluarkan tiga tumpuk tebal uang kertas pecahan seratus ribu dan melemparnya tepat di sebelah foto Giselle.
"Tiga ratus juta tunai. Dan posisi Manajer Operasional wilayah barat akan menjadi milikmu."
Mata Dipta terpaku pada tumpukan uang merah tersebut. Napasnya tertahan selama beberapa detik.
Jumlah itu sangat fantastis baginya. Uang tunai itu bisa langsung melunasi seluruh biaya operasi ibunya hari ini juga, sekaligus membayar tunggakan sekolah adiknya yang sudah lama menunggak.
"B-bisa menjadi milik saya? Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkannya, Pak?" tanya Dipta.
Dia butuh uang itu untuk keluarganya. Untuk kesembuhan ibunya dan juga keberlanjutan sekola adiknya.
"Dekati istriku. Rayu dia. Tiduri dia." Victor menjeda kalimatnya sejenak. "Sampai dia hamil."
Ruangan VVIP itu mendadak hening total. Dipta mengangkat wajahnya perlahan, menatap langsung ke arah Victor dengan kening yang berkerut.
"Apa? Bapak lagi bercanda?" suara Dipta terdengar serak.
"Apa aku terlihat seperti pelawak yang sedang melucu?" Victor membalas dengan raut wajah datar.
Dipta mundur satu langkah secara refleks. Otot rahangnya menegang keras.
Melawan preman terminal sepertinya lebih baik daripada meniduri istri bos besarnya.
"Ini tidak masuk akal, Pak." Dipta menggeleng tegas.
"Apanya yang tidak masuk akal?"
"Dia istri Bapak. Nyonya Giselle Danuarta. Berasal dari keluarga konglomerat." Dipta menunjuk foto di atas meja. "Sedangkan saya cuma karyawan miskin."
Victor melipat kedua tangannya di depan dada. Dia menatap Dipta dengan postur santai namun meremehkan.
"Lalu kenapa?" tanya Victor.
"Jelas ini tidak mungkin berhasil, Pak! Ini ibarat langit dan bumi. Wanita seperti dia tidak akan pernah melirik pria yang kerjanya berpanas-panasan seperti saya."
Dipta berbicara cepat. Logika pragmatisnya menolak mentah-mentah ide gila bosnya ini.
"Kamu meremehkan dirimu sendiri, Dipta." Victor berjalan memutari meja kerjanya, mendekati posisi Dipta berdiri.
Pria berjas itu mengamati postur tubuh karyawan rendahannya.
"Kamu punya wajah yang sangat bagus. Tampan. Tubuhmu kekar. Dan kamu juga tinggi."
Victor menepuk pundak Dipta yang keras. Ada bekas luka goresan panjang yang mengintip dari balik kerah kemeja lusuh pemuda itu.
"Giselle itu wanita normal. Dia bisa tergoda oleh fisik pria sepertimu." Victor berbisik pelan. "Semua tergantung bagaimana caramu merayunya sampai kalian berdua berada di atas ranjang yang sama nanti."
Dipta menepis tangan Victor dari pundaknya. Insting petarung jalanannya meronta, tapi akal sehatnya masih menahan tangannya agar tidak memukul wajah pria di depannya itu.
"Bapak mau menjebak saya? Apa salah saya, Pak?" tanya Dipta bingung.
Victor menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak ada. Kenapa berpikir seperti itu?"
"Ini sudah jelas, Pak. Saat saya menyentuh istri Bapak nanti, orang-orang Pak Victor pasti langsung menghabisi saya," kata Dipta.
Victor menyeringai. "Orang-orangku bekerja atas perintah dariku. Tidak akan ada yang berani bertindak atas izin saya. Kamera pengawas di rumah pribadiku juga ada di bawah kendali penuhku. Kamu bisa masuk dan keluar tanpa ada yang tahu."
Dipta mendengus pelan. Matanya melirik ke arah tumpukan uang di atas meja, lalu kembali menatap Victor.
"Tapi kenapa saya? Bapak punya ratusan pegawai lain, staff yang kerjanya di AC, lebih rapi dan lebih pintar."
"Hahaha… mereka semua tidak ada yang menarik. Hanya kamu orang yang ada di perusahaanku yang layak menerima pekerjaan ini."
Victor menunjuk dada Dipta dengan telunjuknya.
"Dan yang paling penting, Giselle sangat benci pria rapi yang suka berbasa-basi. Dia butuh sesuatu yang... kasar dan kuat."
Dipta terdiam. Kata-kata bosnya itu terdengar sangat manipulatif dan penuh perhitungan kotor.
"Pak Victor. Saya memang butuh banyak uang. Tapi saya tidak akan melakukan pekerjaan semacam ini," ucap Dipta tajam.
Dia memutar tubuhnya. Uang tiga ratus juta di atas meja itu sangat menggoda, tapi resikonya adalah nyawa dan hukuman penjara.
Dipta tidak mau ibunya mati jantungan karena melihat anak sulungnya ditangkap polisi atas tuduhan pelecehan atau perzinahan dengan istri bosnya sendiri.
"Permisi, Pak. Saya anggap pembicaraan gila ini tidak pernah terjadi."
Dipta melangkah cepat menuju pintu kayu berukir ganda di ujung ruangan. Tangannya baru saja menyentuh gagang kuningan ketika sebuah benda kecil melayang dari belakang dan mendarat di lantai karpet, tepat di samping kakinya.
Dipta menoleh ke bawah. Sebuah kartu akses elektronik berwarna hitam tebal tergeletak tepat di dekat ujung sepatunya.
"Itu kartu akses rumah pribadiku di kawasan elit Westford Hill."
Victor kembali duduk santai di kursinya. Dia meraih pemantik dan menyalakan sebatang cerutu impor, lalu mengisapnya perlahan.
"Ambil kartu itu. Ini satu-satunya kesempatanmu, Dipta."
"Saya sudah bilang tidak—"
"Satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan nyawa ibumu yang sedang kritis di ruang ICU Rumah Sakit Harapan."
Tangan Dipta yang sedang memegang gagang pintu langsung terkunci rapat. Tubuhnya kaku seolah baru saja disengat aliran listrik tegangan tinggi.
"Dan satu-satunya cara agar adik perempuanmu tidak dikeluarkan dengan tidak hormat dari SMA Westford besok pagi," lanjut Victor mematikan.
Dipta memutar tubuhnya dengan cepat. Matanya kini menatap Victor dengan kewaspadaan penuh.
"Dari mana Bapak tahu kondisi keluarga saya?" nada suara Dipta turun satu oktaf, berubah berat dan penuh ancaman.