

Suara tawa pecah di sudut kelas.
"Gue yakin C cup."
"Apaan, jelas E lah. Liat itu blazer-nya sampai ketarik banget."
"Serius, gue berani taruhan. Satu juta. Yang bener menang." Rian yang terkenal kaya membuat suasana menjadi riuh.
Tawa mereka makin menjadi. Bisik-bisik yang seharusnya pelan justru terdengar jelas di telinga siapa pun yang cukup dekat.
Di antara mereka, duduk seorang siswa dengan tubuh sedikit membungkuk, seragamnya kusut, dan wajahnya terlihat begitu lelah.
Namanya Arga. Ia tidak ikut tertawa.
Sejak awal, ia hanya diam, berharap tidak dilibatkan.
"Eh, Cupu, lo kenapa diem aja." Siku seseorang menyenggol lengannya. "Ayo tebak." Itu bukan ajakan, tapi perintah.
Arga menggeleng cepat. "Gue nggak.."
"Halah, sok suci." Yang lain menyeringai. "Lo udah merhatiin melon Bu Ratna dari tadi kan."
"Jelas iya lah. Joninya udah berdiri tegak tuh." Yang lain menimpali sambil menunjuk ke antara dua pahanya. Arga reflek merapatkan kakinya.
Tawa kembali meledak.
"Cepetan. Kalau menang, lo dapet sejuta. Lumayan kan buat siswa miskin kayak lo."
Sejuta.
Angka itu bergaung di kepalanya. Cukup untuk bayar sebagian utang listrik. Atau setidaknya beli beras untuk beberapa hari ke depan. Sudah satu minggu dia hanya bisa makan roti.
Sempat tergoda, ia melirik singkat ke dada Bu Ratna. Uangnya lumayan untuk beli beras. Sayangnya, ia tetap tidak tahu ukuran bra Bu Ratna. Alasan lainnya, dia tidak ingin cari perkara dengan guru.
"Gue nggak—"
"Berisik sekali kalian di sana!"
Suara itu memotong. Seluruh kelas langsung terdiam. Di depan, Bu Ratna berdiri dengan wajah tegas. Tatapannya menyapu kelas, lalu berhenti tepat di arah mereka.
"Kalian, berdiri."
Empat siswa langsung bangkit, termasuk Arga yang ikut terseret. Padahal ia bahkan belum mengatakan apa-apa. Nasib apes memang tidak ada di kalender. Tapi bagi Arga, hidupnya selalu dipenuhi dengan kesialan.
"Kalian pikir ini tempat apa?" suara Bu Ratna dingin. "Pasar?"
Tidak ada yang menjawab. Arga sendiri semakin menundukkan kepala.
"Siapa yang mulai?" suara itu menggelegar marah.
Semua saling pandang. Dan seperti sudah menjadi kebiasaan yang tak tertulis, semua mata perlahan tertuju padanya.
"Arga, Bu."
Satu kalimat pendek. Jantungnya serasa berhenti sesaat. Ia menoleh. Teman di sebelahnya bahkan tidak berusaha menghindari tatapannya. Justru tersenyum tipis.
Seperti biasa, ia selalu dijadikan kambing hitam.
"Arga?" Nada suara Bu Ratna berubah. "Kamu lagi?"
Beberapa siswa mulai berbisik. Ada yang terkekeh pelan.
Arga membuka mulut, ingin menjelaskan, tapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Karena ia tahu tidak akan ada yang percaya pada ucapannya. Tepatnya, suaranya tidak akan didengar. Ia benci keadaannya, tapi ia lebih benci pada dirinya yang tidak bisa mengubah keadaan ini.
"Ke depan."
Mau tidak mau, dia berjalan menuju papan tulis. Ia tahu ia akan dihukum. Itu sudah pasti.
"Jawab soal nomor tiga."
Arga menatap deretan angka di papan. Simbol-simbol itu seperti bahasa asing. Ia pernah melihatnya, tapi tidak pernah benar-benar mengerti.
Jadi yang ia lakukan hanya menatap papan di depannya tanpa harus tahu menulis apa. Ia merutuki kebodohannya yang memalukan.
"Cepat." Suara Bu Ratna tidak lagi sabar. "Jawab, bukan jadi batu!"
Arga menggenggam spidol lebih erat. Namun tetap tidak ada jawaban. Otaknya benar-benar kosong.
"Tidak bisa?" Nada itu tajam, hampir sinis. "Memangnya apa yang bisa diharapkan dari peringkat terakhir. Harusnya kamu sadar diri, Arga, sudah bodoh jangan lagi banyak tingkah. Di sini, kamu diterima hanya karena sekolah ini menganggapmu manusia. Harusnya kamu juga bertingkah layaknya manusia. Jangan buat ulah. Kapan pintarnya kamu kalau bisanya cuma buat gara-gara."
Tawa pecah lebih keras kali ini. Wajah Arga memanas karena malu. Ini bukan kali pertama dia dipermalukan seperti ini. Bahkan ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.
"Sudah sana kamu keluar saja sampai jam pelajaran saya selesai."
Arga menunduk, mengembalikan spidol. Ia berjalan keluar kelas diiringi suara tawa yang tidak lagi ditahan. Ia hanya bisa mengepalkan tangan tanpa bisa berbuat apa-apa.
Pintu tertutup di belakangnya.
Koridor sekolah lengang. Jam pelajaran masih berlangsung. Tidak ada siapa pun di luar.
Arga berjalan tanpa tujuan, langkahnya pelan, hingga akhirnya berhenti di belakang gedung sekolah tempat yang jarang didatangi siapa pun.
Ia duduk di tanah yang masih lembap, bersandar pada tembok dingin.
Tangannya gemetar, bukan karena kedinginan, melainkan karena marah dan lelah.
"Sial banget…" Suara itu nyaris seperti bisikan.
Selalu menjadi kambing hitam. Bahan tertawaan. Sampah kelas. Semua label itu seolah sudah menempel permanen padanya.
Tapi itu bukan tanpa alasan, karena untuk makan sehari-hari, ia harus kerja serabutan sampai malam hingga tidak punya waktu untuk belajar.
Ia masih memiliki ayah, tapi ayahnya kabur entah kemana, meninggalkan hutang puluhan juta.
Kalau saja hidupnya sedikit saja berbeda.
Saat ia merenungi nasibnya yang malang. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Arga mengangkat pandangannya, seketika wajahnya pucat pasi.
Dua pria berdiri tidak jauh darinya. Penampilan mereka kasar dengan tatapan tak bersahabat.
"Lo anaknya si Rudi, kan?"
Arga seketika membeku. Jangan-jangan mereka adalah penagih hutang, batinnya. Jadi Arga langsung berbohong, "Bukan."
"Jangan bohong." Salah satu dari mereka mendekat, menarik kerah bajunya kasar.
"Bapakmu kabur. Hutangnya numpuk. Sekarang lo mau ikut-ikutan ngibul, hah? Bayar hutang bapakmu!!"
"Sa-saya nggak tahu apa-apa—"
BUK!
Sebuah pukulan menghantam wajahnya. Dunia seakan berputar.
"NGGAK TAHU?" pria itu mencengkram rambutnya, memaksa kepalanya terangkat. "Mau pura-pura bego juga?"
Tinjunya kembali melayang secara bertubi-tubi.
Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuh. Darah mulai mengalir dari bibirnya dan penglihatannya mulai kabur.
Sebuah tendangan membuat tubuhnya terhempas ke tanah basah.
"Bilang ke bapakmu—" Tendangan lain menghantam perutnya. "Utang harus dibayar!"
Arga meringkuk, mencoba melindungi diri. Namun tidak ada yang bisa dilindungi. Tubuhnya lemas dan kalah kecil dari kedua pria itu.
"Hei! Siapa kalian? Saya laporin polisi ya." Arga samar-samar mendengar suara pria yang membuat pukulan preman di depannya terhenti. Tak lama kemudian Arga merasakan bahwa mereka kabur meninggalkannya.
"Nak, kamu gapapa?" Arga tak mampu menjawab pertanyaan itu, karena pandangannya mulai terasa kabur.
Dalam benaknya Arga menertawakan hidupnya sendiri, "Hidup gak berguna, mati pun sia-sia."
"Kalau saja…" suaranya nyaris tidak terdengar. "Ada satu kesempatan…"
Kesempatan untuk membalik semuanya. Untuk tidak lagi diinjak. Untuk tidak lagi jadi pecundang. Untuk mengubah hidupnya.
Seketika pandangannya gelap total. Rasa dingin menjalar dari tulang belakang hingga ke ujung jari.
Dan kemudian sebuah suara dingin bergema jelas di dalam kepalanya.
Ding Dong : Sistem Pengamat Kepribadian telah terikat dengan Host
Ding Dong : Inisiasi dimulai…