
Sumpah Darah di Bawah Rembulan
Sumpah Darah di Bawah Rembulan|Bersambung
- Jumlah kata
- 171.7K
- Popular
- 128
- Subscribe
- 56
- Jumlah kata
- 171.7K
- Popular
- 128
- Subscribe
- 56
Sinopsis
"Sumpah Darah di Bawah Rembulan" Seumur hidupnya, Raka merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya. Sejak kecil, ia sering mengalami mimpi aneh tentang tempat-tempat asing dan suara-suara yang memanggil namanya. Bekas luka muncul di tubuhnya tanpa sebab, dan setiap kali bulan purnama tiba, ia merasakan sakit yang tak bisa dijelaskan. Namun, semuanya masih bisa ia anggap sebagai kebetulan—hingga ia jatuh cinta pada Arlina. Setiap kali Raka mendekati Arlina, sesuatu yang mengerikan terjadi. Kilasan masa lalu muncul di benaknya, memperlihatkan tragedi yang tidak ia mengerti. Tangannya gemetar, tubuhnya melemah, dan ada saat-saat di mana ia merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin kuat kutukan itu mengikatnya. Dalam pencariannya akan kebenaran, Raka menemukan sejarah kelam keluarganya—sebuah perjanjian berdarah yang dibuat leluhurnya dengan makhluk gaib di masa lalu. Sebuah sumpah yang menjadikan setiap keturunan sebagai korban dari sesuatu yang tak terlihat, tetapi nyata dalam efeknya. Kini, giliran Raka untuk menanggung akibatnya. Dengan waktu yang semakin menipis dan bahaya yang terus mengintai, Raka harus memilih: menyerah pada kutukan yang mengancam hidupnya dan orang yang ia cintai, atau melawan takdir meski nyawanya menjadi taruhannya. Di bawah cahaya rembulan, kisah cinta dan tragedi terjalin dalam sumpah yang tak bisa dihapus.
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
20/7/25 01:34
Hai kak semangat terus nulisnya ya 🙏 kalau berkenan boleh mampir ke novelku "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik terima kasih banyak kak 🙏
BAB 1: Bisikan Dalam Gelap
Raka terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meski udara malam di kamarnya terasa menusuk tulang. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara matanya mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan yang melingkupinya. Mimpi itu lagi.
Mimpi yang sama, berulang tanpa henti sejak sebulan terakhir.
Di dalam mimpi itu, ia berdiri di tengah hutan yang asing, di bawah sinar rembulan yang pucat. Udara terasa berat, seolah dipenuhi bisikan yang tidak dapat ia pahami. Di depan matanya, sesosok pria berdiri membelakanginya, mengenakan jubah hitam panjang yang berkibar ditiup angin. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan, tetapi aura yang dipancarkannya membuat bulu kuduk Raka berdiri.
Dan lalu, suara itu.
“Darahmu… adalah sumpahku.”
Suara serak yang terasa begitu dekat, seakan berbisik langsung di telinganya. Detik berikutnya, pria itu berbalik. Mata hitam legamnya menatap langsung ke arah Raka, dan dalam sekejap, dunia seolah runtuh.
Raka merasakan tekanan di dadanya, seperti ditarik ke dalam kegelapan yang tak berujung. Ia ingin berteriak, ingin bergerak, tapi tubuhnya terasa terbelenggu oleh kekuatan tak kasatmata. Dan tepat sebelum semuanya menghilang, suara lain bergaung dalam pikirannya.
“Jangan cari aku.”
Lalu ia terbangun.
---
Pagi itu, Raka duduk di meja makan sambil menatap kosong ke secangkir kopi yang mengepul di hadapannya. Kepalanya masih berdenyut akibat kurang tidur, tetapi ia tidak berusaha untuk kembali ke ranjang. Tidur hanya akan membawanya kembali ke mimpi itu, dan ia sudah cukup lelah berhadapan dengannya.
“Ibumu menelepon tadi pagi,” suara berat ayahnya membuyarkan lamunannya. Pria itu duduk di seberang meja, menyesap kopinya dengan ekspresi tenang yang sudah biasa Raka lihat. “Dia ingin kau pulang ke rumah.”
Raka menghela napas. “Untuk apa?”
“Kau tahu untuk apa.”
Raka tidak menjawab. Ia tahu betul alasan ibunya memintanya kembali. Keluarganya—keluarga Aryasatya—selalu mempercayai takhayul yang turun-temurun diwariskan. Dan sekarang, mereka pasti menganggap bahwa apa yang terjadi padanya adalah tanda bahwa kutukan itu kembali aktif.
Kutukan.
Dulu, Raka hanya menganggapnya sebagai cerita lama yang diceritakan turun-temurun oleh keluarganya. Sebuah dongeng gelap tentang sumpah darah yang dibuat oleh leluhurnya dengan makhluk gaib. Cerita yang katanya menyebabkan setiap keturunan mereka mengalami nasib yang berbeda-beda, tergantung pada apa yang telah ditakdirkan untuk mereka.
Tetapi belakangan ini…
Ia mulai merasa bahwa mungkin, cerita itu bukan sekadar mitos.
“Kau tidak bisa menghindarinya selamanya, Raka.” Ayahnya meletakkan cangkir kopinya. “Jika memang ada sesuatu yang mengikatmu, kau harus menghadapinya.”
Raka menatap wajah ayahnya, mencari sesuatu di sana. Keyakinan? Ketakutan? Atau mungkin keduanya? Tapi ia tidak ingin membahasnya lebih lanjut.
“Aku ada kuliah siang ini,” katanya akhirnya, mengakhiri percakapan.
Ayahnya tidak memaksa, tetapi Raka bisa merasakan tatapannya mengikuti punggungnya saat ia beranjak pergi.
---
Di kampus, Raka mencoba mengabaikan pikirannya yang terusik dengan berbagai pertanyaan. Ia sibuk mencatat materi di kelas, berusaha memusatkan perhatian pada dosennya, tetapi di sudut pikirannya, suara bisikan dalam mimpinya masih menggema.
Sampai kemudian, dia melihatnya.
Arlina.
Gadis itu duduk di sudut ruangan, tersenyum kecil saat bercakap-cakap dengan teman-temannya. Rambut panjangnya jatuh dengan sempurna di bahunya, dan ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Raka sulit mengalihkan pandangan. Ia tidak tahu kenapa, tetapi sejak pertama kali melihat Arlina, ia merasa ada sesuatu yang familiar pada gadis itu.
Dan anehnya, setiap kali ia mendekati Arlina, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan selalu terjadi.
Saat pertama kali mereka bertemu, jari-jarinya tiba-tiba mati rasa. Lalu malam itu, ia mengalami mimpi yang lebih jelas dari biasanya.
Saat mereka berbicara untuk pertama kalinya, dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menariknya ke dalam jurang yang dalam.
Dan kali ini…
Saat Arlina menoleh dan tatapan mereka bertemu, tubuh Raka menegang. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena gugup, tetapi karena rasa dingin yang tiba-tiba menjalari punggungnya. Seperti ada sesuatu yang merayap dalam darahnya, menuntut untuk keluar.
“Raka?”
Ia terlonjak. Arlina sudah berdiri di depannya, menatapnya dengan bingung. “Kau baik-baik saja?”
Raka menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. “Aku… Aku baik.”
Arlina masih menatapnya curiga, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. “Aku mau ke perpustakaan, mau ikut?”
Raka ingin menolak. Ia ingin menjaga jarak. Tetapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya.
Sebagai gantinya, ia mengangguk.
Dan dalam hatinya, ia tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang tidak bisa ia hentikan.
---
Perpustakaan selalu menjadi tempat yang tenang bagi Raka. Tapi siang itu, ketenangan terasa seperti jebakan.
Ia duduk di seberang Arlina, memperhatikan gadis itu yang asyik membaca buku. Cahaya matahari yang menembus jendela besar di belakang mereka menerangi wajahnya, menciptakan bayangan lembut yang membuatnya terlihat hampir tidak nyata.
Lalu, tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi.
Dari sudut matanya, Raka melihat bayangan di belakang Arlina bergerak. Sejenak, ia mengira itu hanyalah permainan cahaya. Tetapi semakin lama ia memperhatikannya, semakin nyata pergerakan itu. Seolah ada sesuatu—atau seseorang—berdiri di belakang Arlina, menatapnya dengan intens.
Jantungnya mencelos.
“Arlina…” suaranya hampir tidak terdengar.
Gadis itu mengangkat wajahnya. “Hmm?”
Raka menelan ludah, berusaha tetap tenang. “Kau… Kau merasa ada seseorang di belakangmu?”
Arlina menoleh, melihat ke belakangnya. Tidak ada siapa-siapa. Hanya rak-rak buku yang berderet rapi.
“Kau kenapa, sih?” Arlina tersenyum, tetapi ada sedikit kegelisahan dalam tatapannya. “Kau terlihat pucat.”
Raka menggeleng. Ia tidak ingin membuat Arlina khawatir. Tapi dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Apapun yang menghantuinya selama ini, kini mulai menunjukkan wujudnya....
Langit senja memancarkan warna jingga kemerahan saat Raka melangkah keluar dari gedung kampus. Udara sore yang sejuk seharusnya memberinya ketenangan, tetapi pikirannya masih penuh dengan bayangan-bayangan yang mengganggunya.
Mimpi-mimpi aneh yang terus menghantuinya. Suara bisikan yang terdengar begitu nyata. Dan Arlina… gadis itu bukan sekadar seseorang yang kebetulan ditemuinya. Ada sesuatu yang menghubungkan mereka, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebetulan.
“Raka!”
Suara itu membuatnya tersadar. Arlina berlari kecil mendekatinya, napasnya sedikit memburu. “Aku sudah mencarimu. Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Raka mengernyit. “Menunjukkan apa?”
Arlina tersenyum misterius. “Ikut saja.”
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan mulai berjalan menuju jalan setapak yang mengarah ke taman belakang kampus. Raka ragu sejenak, tetapi entah kenapa, kakinya bergerak mengikuti.
---
Taman belakang kampus ini tidak terlalu ramai. Sebagian besar mahasiswa lebih suka menghabiskan waktu di kafe atau perpustakaan. Tetapi bagi Raka, tempat ini memiliki daya tarik tersendiri—tenang, sunyi, dan penuh dengan pepohonan tua yang seakan menyimpan sejarahnya sendiri.
Arlina berhenti di depan sebuah pohon besar dengan batang yang melingkar aneh. Ia menoleh ke Raka, matanya berbinar. “Pohon ini sudah ada di sini selama ratusan tahun.”
Raka menatapnya dengan penuh tanya. “Lalu?”
Arlina menempelkan tangannya pada batang pohon itu. “Aku pernah membaca bahwa di zaman dahulu, pohon ini sering digunakan sebagai tempat ritual.”
Jantung Raka berdetak lebih cepat. Ritual? Kenapa tiba-tiba pembicaraan ini mengarah ke hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu?
“Dan kau tahu?” Arlina melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. “Beberapa malam yang lalu, aku bermimpi tentang tempat ini. Dalam mimpi itu, aku melihat seseorang berdiri di bawah pohon ini… menungguku.”
Darah Raka berdesir. Mimpi? Tempat ini? Ada sesuatu yang aneh dalam kisah ini, sesuatu yang terasa terlalu kebetulan.
“Orang itu…” Raka menelan ludah. “Bagaimana rupanya?”
Arlina menggeleng pelan. “Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku merasa… dia mengenalku.”
Raka merasakan tengkuknya meremang. Ia hampir ingin mengatakan sesuatu, tetapi sebelum sempat membuka mulut, angin berembus lebih kencang. Daun-daun kering berputar di sekitar mereka, dan suhu udara tiba-tiba turun drastis.
Arlina merapatkan jaketnya. “Apa kau merasakan itu?”
Raka mengangguk perlahan. Ada sesuatu yang berubah di sekitar mereka, sesuatu yang tidak kasat mata tetapi begitu nyata.
Tiba-tiba, terdengar suara bisikan.
Pelan. Samar. Tetapi cukup jelas bagi mereka berdua.
“Kalian sudah terlalu dekat….”
Arlina membelalak, tangannya mencengkeram lengan Raka dengan erat. “Raka… kau mendengarnya, kan?”
Raka tidak menjawab. Matanya terpaku pada bayangan yang perlahan muncul di antara pepohonan di seberang mereka.
Sebuah siluet. Tinggi, berjubah hitam, dan tanpa wajah.
Ketakutan mencengkeram Raka. Ia ingin lari, tetapi tubuhnya terasa kaku.
Arlina mencengkeram tangannya lebih erat. “Kita harus pergi dari sini.”
Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Raka menarik Arlina dan berlari secepat mungkin meninggalkan taman. Namun, sebelum mereka benar-benar keluar, suara itu kembali terdengar—lebih jelas, lebih mengancam.
“Jangan cari aku… atau kalian akan menyesal.”
---
Malam itu, Raka tidak bisa tidur.
Pikirannya terus memutar ulang kejadian di taman. Suara itu. Bayangan itu. Arlina yang juga mengalami mimpi yang aneh…
Apakah ini semua kebetulan? Atau ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi?
Ia menatap bayangan bulan di luar jendela.
Satu hal yang pasti, misteri ini belum selesai. Dan ia tahu, semakin dalam ia mencari jawabannya, semakin besar bahaya yang akan ia hadapi.
Daftar bab
119 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
119 bab








