
- Jumlah kata
- 37.9K
- Popular
- 164
- Subscribe
- 39
Sinopsis
Hidup modern mengajarkan kita untuk berlari, mengejar, dan bersuara. Tapi siapa yang mengajarkan kita untuk diam? Untuk mendengar detak hati sendiri? Buku ini lahir dari keresahan itu—tentang kebisingan yang tidak selalu berasal dari luar, tapi juga dari dalam diri kita sendiri. Lewat perjalanan Madin, saya ingin mengajak pembaca merenung, mengendapkan, dan mungkin, menemukan heningnya masing-masing.
Ulasan
1 ulasan
Pak Abu
9/9/26 00:40
Ini tentang kaum homo??? agung dan madin??? kenapa kayak gini di publish ya? merusak keindahan alam dan penulisan
BAB 1-Hening di Tengah BISING
Bagian 1
Langit jogja menjelang senja adalah lukisan yang kacau—gradasi jingga yang ditelan asap, diselingi kerlap-kerlip lampu mobil yang tak sabar menunggu. Di tengah jantung kota yang tak pernah berhenti bergerak, Madin berdiri di balkon rumahnya, menatap jalanan macet di bawah seolah bisa menemukan makna dalam kekacauan itu.
Ia menggenggam secangkir kopi yang mulai mendingin. Bukan karena lupa, tapi karena pikirannya terlalu jauh. Beberapa minggu terakhir, waktu tidak terasa seperti teman. Ia lebih seperti tali yang menyeret paksa, menuntut langkah meski jiwa tertinggal jauh di belakang.
Hari ini tepat seminggu sejak Madin dipecat.
Satu kalimat yang terucap dari mulut atasannya telah mengubah peta hidup yang ia susun selama bertahun-tahun: "Maaf, Madin, klien kehilangan kepercayaan karena laporanmu bocor ke publik. Ini keputusan dari manajemen pusat."
Ia tidak membocorkan apapun. Tapi bukti, saksi, dan narasi telah dibangun rapi. Dan di dunia korporat, kebenaran bukan soal kenyataan, tapi soal siapa yang lebih dulu menyusun argumen.
Ia tidak marah. Setidaknya, tidak lagi. Yang tertinggal hanya kekosongan. Ia bahkan tidak tahu harus merasa apa.
Telepon di meja bergetar. Nama itu muncul lagi: Agung.
Ia menatapnya, tidak menjawab. Sudah hari kelima Agung mencoba menghubungi. Tunangannya. Mantan. Entahlah.
Ia memalingkan wajah, berjalan masuk ke ruang tamu yang temaram. Di dinding tergantung lukisan sederhana pemberian almarhum ayahnya: seekor burung kecil bertengger di ranting rapuh di tengah badai.
Di bawah lukisan itu, sebuah rak kayu tua memuat beberapa buku peninggalan ayahnya. Ia jarang menyentuhnya. Tapi entah mengapa, malam itu ia mendekat, mengusap debunya, dan mengambil salah satu yang paling tipis. Sampulnya lusuh, tapi judulnya masih terbaca: Meditations – Marcus Aurelius.
Madin tertawa kecil. Buku tua tentang kaisar Romawi yang jadi filsuf? Serius, Pah? Tapi saat ia membuka halaman pertama, sebuah kertas kecil terlipat rapi di dalamnya. Tulisan tangan ayahnya, tegas dan rapi:
> "Kau tak bisa mengendalikan angin, Madin. Tapi kau bisa belajar mengatur layar."
Ia terdiam. Tiba-tiba, suara klakson, berita TV yang menggema dari Rumah sebelah, dan notifikasi HP terasa jauh. Hanya kalimat itu yang tinggal.
Ia duduk, membuka lembar demi lembar. Bukan karena ingin, tapi karena merasa perlu. Setiap kata terasa seperti suara asing yang sekaligus familiar.
> "You have power over your mind – not outside events. Realize this, and you will find strength."
Ia membaca ulang kalimat itu, pelan. Lalu berulang-ulang.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, hatinya tidak merasa dipaksa untuk bergerak. Ia hanya... diam. Dan diam itu tidak menyakitkan.
Bagian 2
Keesokan harinya, Madin memutuskan keluar rumah untuk pertama kalinya sejak pemecatan. Bukan untuk mencari kerja atau menemui siapa pun. Ia hanya butuh udara yang berbeda. Meski Jogja dan kesegaran jarang berdampingan, pagi itu ia berjalan kaki menyusuri kawasan kaliurang, berharap menemukan sesuatu yang belum ia tahu apa.
Langkahnya membawanya ke sebuah sudut pasar yang tak asing, tapi sudah lama tak ia datangi—Pasar gentan. Dulu, waktu masih sekolah, ia sering datang ke sini mencari buku bekas dengan harga miring. Tapi seiring waktu dan kesibukan, tempat itu menghilang dari ingatannya, seperti teman lama yang tidak sengaja dijumpai di kereta.
Mata Madin menangkap kios kecil dengan papan usang bertuliskan “Diah’s Book Corner”. Ia tak ingat apakah kios itu ada sebelumnya. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi ada sesuatu dari rak-rak kayunya, dari cara buku-buku tua ditumpuk tanpa urutan jelas, yang menariknya untuk mendekat.
Di balik meja kayu sederhana, duduk seorang perempuan tua dengan rambut disanggul rapi dan senyum tenang yang seperti tidak terpengaruh oleh waktu.
“Cari apa, nak?” tanyanya lembut.
Madin mengangguk sopan. “Saya cuma lihat-lihat, Bu. Sudah lama nggak mampir ke sini.”
Perempuan itu memerhatikan wajahnya sejenak, seperti menilai tanpa menghakimi. “Kadang yang kita cari bukan buku, tapi tenang.”
Madin tersenyum kaku. Tidak menjawab.
Tangannya menyentuh buku kecil berjudul On the Shortness of Life karya Seneca. Ia membuka lembar pertamanya, dan sekali lagi merasa terhubung dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Bu Diah memperhatikan, lalu berkata pelan, “Seneca itu sahabat penderitaan. Tulisannya bukan untuk dibaca saat bahagia.”
Madin tertawa kecil, sinis. “Cocok, Bu. Saya sedang tidak bahagia.”
“Saya bisa lihat itu. Dari caramu menatap buku, bukan dari wajahmu,” jawabnya sambil berdiri dan mengambil secangkir teh dari termos di sampingnya. “Mau duduk sebentar?”
Madin terdiam. Tapi lalu duduk juga. Ada sesuatu dalam cara Bu Diah bicara yang membuatnya tidak ingin pergi.
“Apa kamu pernah merasa dunia berjalan tanpa kamu?” tanya Madin tiba-tiba. “Semua orang sibuk mengejar sesuatu... dan kamu malah mandek. Berhenti di tengah jalan.”
Bu Diah tidak langsung menjawab. Ia menyeruput tehnya, lalu menatap Madin. “Semua orang pernah merasa begitu. Tapi tak semua orang berani mengakuinya.”
Madin menatap meja. “Saya kehilangan pekerjaan. Dituduh melakukan hal yang nggak saya lakukan. Dan orang yang harusnya percaya, malah diam.”
“Orang akan mengkhianatimu. Dunia akan menjatuhkanmu. Itu hal biasa,” ucap Bu Diah. “Tapi bagaimana kamu bereaksi—itu pilihan.”
Madin teringat kalimat di buku Marcus Aurelius semalam.
You have power over your mind…
Ia menghela napas.
“Kamu tahu kenapa Stoikisme mulai populer lagi?” tanya Bu Diah.
“Karena kita makin stres?” jawab Madin asal.
“Karena kita semakin lupa cara diam. Padahal dalam diam, ada kekuatan,” ucap Bu Diah sambil tersenyum. “Dan filsafat kuno itu bukan buat jadi kutipan motivasi di Instagram. Ia untuk dijalani.”
Madin tertunduk. Ada yang merembes dalam dirinya. Bukan air mata. Bukan juga emosi. Tapi semacam penerimaan yang lambat dan pelan, seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Ia membeli buku Seneca itu, lalu pamit. Tapi sebelum ia pergi, Bu Diah memberinya selembar kertas kecil.
“Kalau kamu butuh bicara, atau sekadar ingin duduk tenang... datanglah. Tidak semua orang butuh psikolog. Kadang, kita cuma butuh mendengar ulang suara hati sendiri.”
Madin menyimpan kertas itu. Tulisannya hanya satu kalimat:
> “Tak ada yang menghancurkan manusia kecuali pikirannya sendiri.”
Bagian 3
Malam itu, dirumah Madin kembali sunyi. Tapi kali ini, kesunyian itu tak lagi terasa menyesakkan. Setelah pertemuan singkat dengan Bu Diah, pikirannya tidak langsung tenang, tapi ada sesuatu yang berubah. Seperti ombak yang tadinya menghantam bertubi-tubi, kini mulai mengendur. Masih ada gelombang, tapi tidak lagi mengguncang dari dalam.
Ia menyalakan lampu kuning redup di ruang baca, meletakkan buku On the Shortness of Life di atas meja. Tak langsung dibuka. Ia hanya menatapnya lama, seolah ingin memastikan bahwa kata-kata di dalamnya memang nyata.
Lalu teleponnya kembali berdering. Agung.
Kali ini, entah mengapa, Madin mengangkat.
“Halo,” suaranya pelan.
“Madin…” suara Agung terdengar ragu. “Akhirnya kamu angkat juga.”
Madin tidak menjawab. Ia hanya menunggu.
“Aku… aku nggak tahu harus mulai dari mana. Aku dengar kamu dipecat. Aku minta maaf karena nggak langsung menghubungi, tapi—”
“Kenapa kamu pergi, gung?” potong Madin. “Saat semuanya mulai runtuh, kamu malah menjauh.”
Keheningan di seberang. Lama.
“Aku takut, din. Aku juga bingung. Aku pikir… kita butuh waktu.”
“Kita? Atau kamu?”
Agung menarik napas. “Aku bingung menghadapi semua ini. Aku nggak tahu harus bagaimana.”
Madin menatap langit-langit. Dulu, ia akan marah. Dulu, ia akan menuntut penjelasan, meminta janji, memohon kejelasan. Tapi sekarang, ia hanya mendengarkan. Dan mendengar itu cukup.
“Kamu tidak salah, ndik. Kamu hanya memilih melindungi dirimu,” ucapnya akhirnya.
“Jadi… kamu marah?”
“Tidak. Tapi aku kecewa. Beda, kan?”
Agung terdiam. “Kamu… kamu masih mau bertemu?”
Madin tersenyum kecil, walau ia tahu Andika tak bisa melihatnya. “Mungkin nanti. Saat aku sudah bisa bertemu tanpa berharap apa-apa.”
Mereka bicara sebentar lagi, lalu telepon ditutup dengan hening yang lebih damai daripada perbincangan. Madin menaruh ponsel di meja, lalu membuka halaman pertama buku Seneca yang baru ia beli:
> “Bukan waktu kita yang singkat, melainkan kita yang banyak menyia-nyiakannya.”
Ia mengangguk pelan. “Aku sudah menyia-nyiakan terlalu banyak,” bisiknya.
Malam semakin larut. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai terang. Ia tidak lagi takut pada keheningan. Ia mulai menyukainya.
---
Bab 1 – Selesai
Daftar bab
21 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








