
Membangun Kerajaan Harta dan Wanita
Ta_Hin|Bersambung
- Jumlah kata
- 37.2K
- Popular
- 241
- Subscribe
- 47
- Jumlah kata
- 37.2K
- Popular
- 241
- Subscribe
- 47

Ta_Hin|Bersambung
"Miskin, yatim piatu, dan diremehkan." Arka hidup dalam hinaan, bekerja serabutan hanya untuk bertahan hidup. Puncaknya, gadis yang ia puja setengah mati justru membuangnya dan memilih pria kaya yang sombong. Namun, roda nasibnya berputar 180 derajat saat Arka menemukan sebuah kacamata canggih yang terintegrasi dengan Sistem AI Masa Depan. Tiba-tiba, ia bisa melihat nilai investasi segala benda, meretas data rahasia, dan memprediksi masa depan! Harta dengan mudah ia dapat, dan mereka yang dulu menginjak-injak harga dirinya kini harus merangkak memohon ampun. Di puncak kekayaannya, Arka tidak lagi sendirian. Gadis yang dulu menolaknya kini menangis meminta untuk kembali; seorang CEO wanita super dingin justru rela menyerahkan seluruh asetnya demi Arka; dan sebuah AI cantik kini menjelma menjadi sosok pelayan yang memanggilnya 'Tuan'. Di antara semua wanita itu, hanya ada satu gadis cuek dari masa lalunya yang selalu mendapat tempat paling spesial di hati Arka. Ini bukan sekadar kisah tentang orang miskin yang mendadak kaya. Ini adalah langkah Arka menguasai dunia dan membangun kerajaan haremnya sendiri! Yuks, kita simak bersama novel ini. DISCLAIMER: Novel ini sepenuhnya merupakan karya fiktif. Seluruh nama tokoh, karakter, tempat, organisasi, serta insiden yang terjadi di dalamnya adalah hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan nama, tempat, atau peristiwa di dunia nyata adalah murni kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.
"Bruk!"
Sebundel amplop cokelat dilempar begitu saja ke atas meja kasir yang berdebu.
"Nih gaji mu dua minggu. Ambil, terus angkat kaki dari sini!" bentak Pak Yanto, pemilik rumah makan tempat Arka bekerja sebagai tukang cuci piring sekaligus kurir antaran.
Arka menatap amplop itu, lalu beralih menatap Pak Yanto. Tangannya gemetar saat mengambil amplop yang terasa sangat tipis tersebut.
"Pak, ini cuma tiga ratus ribu. Harusnya kan satu setengah juta?" tanya Arka.
"Banyak protes! Kemarin ada tiga piring pecah, terus kamu terlambat ngantar pesanan lima menit. Saya potong sisanya buat ganti rugi! Enak aja, mau gaji full, kerja mu aja nggak becus. Udah terima aja" sahut Pak Yanto tanpa rasa bersalah sambil menyalakan rokoknya.
"Tapi piring itu pecah gara-gara koki yang nyenggol saya, Pak! Dan pesanan itu lambat karena motor toko yang mogok bukan..."
"Saya nggak mau dengar alasan! Kamu tuh bocah yatim piatu, jadi saya kasihan! Udah bagus saya kasih kerjaan. Kalau nggak suka, keluar! Kamu pikir tempat ini panti asuhan?" Ucap Pak Yanto penuh emosi.
Arka mengepalkan tangannya, ada rasa sakit di dadanya, tapi ia tahu jika ia nekat bertindak kasar, dia tidak akan membawa pulang uang sepeser pun malam ini. Tanpa bersuara lagi, Arka mengambil amplop itu dan berjalan keluar lewat pintu belakang.
"Begini banget hidup ku, seperti suram massa depanku, hah" Arka bergumam sendiri.
Hujan gerimis mulai turun membasahi jalanan kota yang ramai. Udara dingin merasuk hingga ke tulang, tapi Arka terus berjalan dengan kaos kusamnya yang basah kuyup. Tiga ratus ribu rupiah. Uang itu bahkan tidak cukup untuk membayar sewa kamar kos ukuran dua kali tiga meter miliknya yang sudah menunggak dua bulan.
Di tengah jalan utama, Arka melewati sebuah kafe mewah dengan dinding kaca transparan. Di dalam sana, lampu-lampu gantung memancarkan cahaya terang, memperlihatkan mobil-mobil mahal yang terparkir rapi di halamannya.
Langkahnya terhenti tiba-tiba saat matanya menangkap sosok wanita yang sangat familiar di dekat pintu keluar kafe.
Itu Bella, teman satu kampus yang selama setahun terakhir ini dekat dengannya. Gadis yang selalu Arka belikan minuman dan makanan setiap kali mereka belajar bersama, dan gadis yang diam-diam Arka sukai, namun perasaannya itu masih tersimpan di dalam hati.
Malam ini, Bella tidak sedang memegang buku kuliah. Ia mengenakan gaun merah pendek yang tampak mahal, tersenyum manja sambil merangkul lengan seorang pria yang memakai pakaian bermerek dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Pria itu adalah Roy, anak salah satu pengusaha properti terkenal di kota ini.
Pintu kaca kafe terbuka. Bella dan Roy berjalan keluar menuju mobil sport yang terparkir di depan.
"Bella?" panggil Arka spontan.
Langkah Bella terhenti. Ia menoleh dan terkejut melihat Arka berdiri beberapa meter darinya dengan kondisi basah kuyup dan pakaian lusuh. Wajah cantik gadis itu langsung berubah dingin, bercampur rasa malu.
"Arka? Kamu ngapain di sini?" tanya Bella dengan nada risih.
Matanya terus melirik ke sekeliling seolah takut ada orang lain yang melihat mereka sedang bicara.
"Bel, kamu... pacaran sama dia?" Arka menunjuk Roy dengan bingung.
"Bukannya kemarin kamu bilang mau fokus kuliah dan nggak mau pacaran dulu?" Tanya Arka.
Roy tersenyum miring. Ia merangkul pinggang Bella lebih erat, menarik tubuh gadis itu menempel padanya.
"Haha! Kamu denger kan, sayang? gembel ini nanya begitu ke kamu dengan sok polos." ucap Roy.
Bella memutar matanya, lalu menatap Arka dengan tatapan jijik.
"Arka, tolong ya, jangan bikin malu aku di depan umum. Kamu tuh siapa sih nanya-nanya begitu?"
"Tapi Bel, selama ini kita..."
"Selama ini apa?" potong Bella cepat.
"Aku tuh cuma kasihan sama kamu! Kamu pikir aku beneran suka sama cowok miskin, yatim piatu, yang buat makan besok aja bingung? Buka mata mu, Arka! Jangan halusinasi!" Jelas Bella.
"Tapi Bel, ucapan mu dan perhatian mu selama ini nggak kayak kamu benar-benar risih atau jijik sama aku." Lanjut Arka.
"Hey, Arka, dengar ya sekali lagi. Aku tuh cuma kasihan...KASIHAN...lagi pula kamu di kampus nggak punya banyak teman, jadi perhatian ku selama ini cum sekedar kasihan aja, paham?" Ucap Bella.
Kata-kata itu membuat sakit dada Arka. Ia benar-benar tidak menyangka semua perkataan Bella tadi. Baginya, itu semua hanya kebohongan di depan Roy, namun dari sorot mata Bella seolah tidak ada kebohongan dan keraguan saat tadi dia berbicara.
Roy terkekeh puas melihatnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompet kulitnya, lalu melemparkannya tepat ke dada Arka hingga uang itu jatuh ke genangan air hujan di tanah.
"Nih, buat ongkos mu pulang. Jangan ganggu cewek ku lagi, dasar gembel," cemooh Roy sambil tertawa menghina.
Bella sama sekali tidak melarang tindakan Roy. Ia justru tersenyum manis pada Roy dan berkata, "Udah yuk, Roy, pegel berdiri di sini dekat orang bau."
Mereka berdua masuk ke dalam mobil sport itu, meninggalkan Arka yang berdiri mematung di tengah gerimis. Deru mesin mobil melaju kencang, menyipratkan air kotor tepat ke celana jeans Arka yang sudah robek di bagian lutut.
Arka tidak mengambil uang yang tercecer di tanah itu. Ia menunduk, mengepalkan tangan bagi nya hati, harga diri, dan harapannya hancur berkeping-keping malam itu.
Dengan langkah lesu, ia berjalan pulang ke arah panti asuhan tua tempat ia dibesarkan dulu, tempat itu adalah satu-satunya tempat berteduh saat ia merasa dunia tidak menyisakan ruang baginya.
* * *
Di teras panti yang remang-remang, seorang pria tua bersarung, Pak Karta namanya, ia adalah seorang pengurus panti, terlihat sedang duduk menunggu sambil memegang sebuah kotak kayu kusam berdebu.
"Arka? Kamu baru pulang, Nak?" panggil Pak Karta dengan suara serak saat melihat Arka yang basah kuyup.
Arka mendekat, mencoba tersenyum meskipun matanya sembap.
"Iya, Pak Karta. Ada apa malam-malam begini belum tidur?" Tanya Arka.
Pak Karta menghela napas panjang. Ia menyodorkan kotak kayu kecil berdebu itu ke pangkuan Arka.
"Ada barang tua yang ditinggalkan almarhum ayahmu sebelum beliau meninggal belasan tahun lalu. Dulu bapak lupa menaruhnya di mana, tapi tadi sore waktu beres-beres gudang, bapak ketemu kotak ini," kata Pak Karta pelan.
Arka menatap kotak kayu itu dengan kening berkerut. "Barang dari Almarhum Ayah?"
Pak Karta mengangguk pelan, lalu menatap mata Arka dengan raut wajah sangat serius.
"Buka kotaknya, Arka. Ayahmu dulu bilang... kalau hidupmu sudah berada di titik paling rendah dan kamu merasa dunia ini tidak adil, baru barang di dalam kotak ini boleh kamu pakai."
**bersambung**
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







